Menu

Rabu, 10 Juli 2019

/
Assalammualaikum. Wr.Wb

www.mildaini.com_ Beberapa bulan ini saya tidak berkunjung ke toko Gramedia, sebab sejak kebakaran yang menimpa Mega Mall Bengkulu. Toko Gramedia tutup. Meski tidak mengalami kebakaran secara langsung. Namun Gramedia mendapat imbas yang cukup parah dari gedung sebelahnya yang kebakaran. Apalagi isi Gramedia sudah bisa dipastikan adalah buku-buku dan barang-barang yang mudah sekali terbakar.

Jadi untuk sementara toko Gramedia tutup. Namun namanya bisnis, tidak butuh waktu terlalu lama untuk buka lagi. Akhirnya Gramedia beroperasi lagi. Namun, kali ini lokasinya pindah ke lantai atas. Berdekatan dengan bioskop 21.


Asyik juga nih, bisa baca buku dulu sembari jadwal tayang filmnya tiba. Lebih baik dihabiskan dengan cuci mata ke toko buku. Apalagi ada banyak buku yang sudah dilepas plastiknya. Jadi kita bisa nebang untuk membacanya.

Pertama Kali ke Gramedia Bengkulu Usai Kebakaran

Si kakak pengen banget membeli diary di Gramedia. Diary ini sudah dia lihat bersama teman-teman sekolahnya waktu SD itu. Hari itu mereka janjian untuk nonton bareng, Sekalian mampir ke Gramedia. Makanya kakak pengen banget beli diary itu. Sudah dilihatnya sebelumnya.

Saya diray hampir setiap hari, untuk ke Gramedian. Akhirnya saya luluh. Jadilah kami ke sana, untuk membeli diary dan ingin membeli beberapa buku bacaan untuk dedek Annasya dan kanga Athifah .

Oh, ya sebelum saya setuju untuk membeli diary tersebut. Saya bertanya sekaligus meminta komitmen si kakak untuk rajin menulis. Jawaban dia, di luar yang saya pikirkan.

Jadi begini Me, kan kami anak pondok. Gak ada main hape. Jadi kalo ada apa-apa kami menuliskan di diary. Jadi diary ini akan menjadi tempat kami untuk juga saling curhat
Saya setuju dengan pendapat itu. Namun, si kakak saya berikan tugas tambahan untuk rajin menuliskan pengalaman atau kegiatannya di pondok apa saja. Sebab di awal mau masuk pondok dulu, dia bertekat ingin kalo mau tamat sekolah nanti terbit bukunya mengenai pengalaman selama di pondok, Hal ini selalu saya ingatkan  saya tagih.

Kami sudah membeli buku khusus untuk kakak menulis apa saja tentang kegiatannya di pondok. Sepertinya buku tersebut belum penuh diisi. Memang buku yang Abahnya belikan bukan buku Diary sih, tapi buku tulis khusus. Berbeda dengan buku sekolahnya.

Harga Buku Anak Mahal

Begitu sampai, kami langsung menuju ke rak buku anak-anak. Sedangkan si kakak, langsung menuju ke konter buku diary yang dia incar. Saya bebaskans aja, silakan dia memilih.

Namun, saya hanya berpatok dengan info harga yang kakak beri tahu sebelumnya. Buku Diary tersebut dibandrol dengan harga sekitar delapan puluh ribu. Jika harga berbeda apalagi naik, maka kekurangannya si kakak yang menambah.

Dan...kami deal !

Kanga Athifah dan Dedek Nasya langsung girang begitu sampai di rak buku anak. Langsung tertawa girang dan dengan semangat langsung membolak - balik buku-buku.

Mereka berdua langsung mengincar buku dengan gambar Little Pony dan Princess. Buku anak-anak memang selalu menarik. Mereka berdua asik berbincang mengenai buku yang barusan mereka liat. Gonta-ganti buku . Bahkan saling berebutan. 

Kanga Athifah sudah memegang beberapa buku pilihan. Dedek Nasya juga tidak mau ketinggal, dia juga sibuk memilih. Tanpa melihat isi bukunya apa. Yang penting kovernya Little Pony atau Princess diambilnya.

Saya senyum, senyum sendiri. Mereka sudah terbiasa, setiap diajak ke toko buku selalu saya bebaskan untuk memilih beberapa buku yang mereka sukai. Nanti boleh dipilih hanya tiga buku yang diinginkan saja yang dibeli.


Sekali Lagi Harga Buku Anak Mahal

Saya mengecek satu persatu harga buku yang dipilih oleh mereka.Waduh, tidak ada harga di bawah tiga puluh ribu. Bahkan untuk buku mewarnai saja sudah di atas empat puluh ribu. Buku tematik apalagi, harganya bisa sampai di atas seratur ribu. 

Dasar Emak Baper ( Banyak Peritungan) saya pun kemudian membuat alasan. Agar tidak jadi membeli bukunya. Sebab kalo dihitung-hitung, bisa limaratusan lebih nih nanti kantong saya bolong.

Jadi, saya ijinkan anak-anak untuk berlama-lama melihat-lihat, membaca dan mengelus buku-buku tersebut. Hampir semua rak mereka datangi. Saya pun mengikuti mereka sembari mengecek harga buku dengan paket hemat.

Sampai akhirnya saya ketemu paket diskon, dengan potongan sebesar tiga puluh lima ribu, dengan belanja minimal seratus lima puluh ribu. Nah, ini cukup menarik. Beli paket diskon saja. 

Saya pun memastikan hal tersebut dengan betanya dengan karyawan toko. Ternyata hanya buku-buku anak dengan judul tertentu. Setelah diamati dengan teliti, ternyata buku-buku yang masuk daftar buku diskon tidak ada buku-buku yang dipilih oleh Athifah dan Nasya. Jadi batal deh beli bukunya, sebab buku diskonan tersebut belum dibutuhkan oleh mereka berdua.

Saya kembali membujuk, untuk membeli buku mewarnai di toko lain saja. Mereka berdua juga setuju, asalkan diijinkan untuk melihat-lihat mainan.

Saya tersenyum lebar...

Kakak Membeli Diary

Menunggu kakak memilih buku diary yang akan kakak beli, saya kembali mengelilingi toko sambil cuci mata. Melihat apakah bukus saya stoknya masih ada atau bagaimana. Kemudian saya juga membaca banyak informasi dan brosur-brosur.


Mengandalkan Cashback Untuk Beli Buku

Ternyata ada potongan tertentu dan cashback jika belanja dengan menggunakan aplikasi tertentu. Aha, ini yang menarik untuk dicoba. Saya langsung memberitahu si kakak. Untuk stay dan menjaga adik-adiknya. Saya mau turn dulu, saya ingin ke ATM untuk top – up. Lumayan untuk cashabacknya bisa digunakan untuk yang lain.

Tidak begitu lama, saya sudah kembali ke Gramedia. Si kakak langsung menyerahkan resi pembayaran. Saya pun kaget. Kakak langsung bilang

Ada potongan harga Me, jadi buku ini hanya enampuluh empat ribu saja. Dari harga Delapan puluh satu ribu. Sikakakn tersenyum manis, dia senang sekali bukunya diskon, jadi dia ngak perlu menambah.

Setelah itu kami masih keliling Gramedia. Namun, luas tokonya sudah berkurang banyak sekali. Untuk rak dan koleksi bukunya juga makin sedikit. Bayangkan saja. Setengah ruangan toko ini dipenuhi dengan barang-barang selain buku. Untuk rak bukunya hanya hampir setengahnya saja. Itu pun tidak memuat banyak kategori atau jenis buku. Yang paling banyak itu adalah buku anak-anak. Memang menurt info beberapa teman, kalo penjualan buku anak lumayan stabil. Sedangkan kategoti buku lainnya hanpir semuanya mengalami penurunan. Bahkan banyak buku-buku yang terpaksa dijual dengan harga yang sangat murah. Biasanya Gramedia Bengkulu, membuat lokasi bazar buku di lantai bawah. Barang yang dijual masih bagus semuanya. Hanya saja buku-buku lama. 

Saya betah berlama-lama di bazzar buku Gramedia. Biasanya saya akan borong banyak sekali. Yah, gimana ngak borong, satu buku saja ada yang dijual dengan harga sepuluh ribu saja. Kalo belanja seratus ribu, sudah dapat sepuluh buku, bukan.

Waktu awal-awal sempat begong dan heran juga, kok bisa buku-buku tersebut dijual dengan harga yang sangat murah. Apa tidak rugi?

Pertanyaan saya belum ada jawabannya waktu itu. Namun, setelah beberapa kali Grameda menggelar bazar dan banyak informasi toko buku bahkan Gramedia tutup. Saya mulai paham. Bahwa dunia perbukuan  dan penerbitan di tanah air hampir saja mati suri. Penrbit juga banyak yang kolep. Yang amsih bertahan kebanyakan adlah penerbit yang memproduksi buku-buku pelajaran sekolah. Para penerbit biasanya juga langsung bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Buku-buku tersebut wajib dibeli oleh peserta didik.

Saya beharap toko Gramedia Bengkulu ini tetap buka, sebab nanti mau nyari buku dimana lagi. Meski ada banyak yang jual beli buku secara online. Membeli buku dengan melihat, memegang dan membeli langsung sangat seru. Apalagi kalo berburu buku murah, pas rebutan, ngubek-ngubek, menghitung harga. Semua adalah pengalaman yang berharga. Belum lag kita juga bisa memegang secara langsung buku-buku yang lainnya.

Nah, kalo di kota kamu, bagaimana kabar toko bukunya? Lalu kenapa harga buku anak mahal, ada yang mau bantu jawab?

Diberdayakan oleh Blogger.