Menu

Sabtu, 22 November 2014

/ /
Hari ini, adalah kegiatan mabit ( Malam bina iman dan takwa) pertama kali yang diikuti oleh kakak Nawra di sekolahnya. Yang diwajibkan untuk hadir adalah siswa laki-laki dan perempuan kelas 3 – 6 SDIT Rabbani Tanah Patah.

Di surat pemberitahuannya diharapkan sudah datang jam 17.00 wib. Namun karena kakak Nawra harus les renang dulu, terpaksa datang tadi jam 18.00 wib. Pas kak Nawra datang teman-temannya sudah siap  hendak melakukan salat maghrib. Teman-temannya menyambut kak Nawra dengan riang gembira.

Yah, untuk keterlambatan datang hari ini sudah saya konfirmasi sebelumnya dengan ustad Rusman, sebagai wlai kelasnya karena meski ada kegiatan di sekolah. Jadwal les renangnya harus tetap berjalan seperti biasa. Sayang waktunya dan kegiatannya sudah terjadwal.

Sebelumnya juga setelah salat Dzuhur, kak Nawra tidur siang dulu supaya tidak terlalu capek untuk mengikuti rangkaian kegiatan mabitnya nanti. Mana Abahnya sedang dinas keluar kota, di Bekasi, jadi ya terpaksa saya bolak balik mengantar dan mengurusi keperluannya sendiri. Menjemput dan mengantar. Semoga menjadi ladang amalan kebaikan dan ibadah. Aamiin

Apa sih, persiapan kak Nawra mabit yang pertama kali ini. Wuih, banyak sekali yang perlu dipersiapkan. Diantaranya adalah membawa bantal (ini harus memilih, apa mau membawa bantai atau boneka  : Kak Nawra memilih bantal) selimut atau kain, senter (kebetulan ada senter kepala cik sum), terus membawa sikat gigi dan pasta giginya, membawa autan atau lotion anti nyamuk, membawa pakaian tidur, mukena, dan yang pasti membawa bekal makan malan dan sneknya. Pokoknya banyak amat dan komplit, ckckck

Untuk persiapan mabit ini, kak Nawra heboh banget. Tasnya di bawa kemana-mana, perlengkapannya juga dicek berkali-kali, kuatir ada yang tertinggal atau lupa. Adek Athifah tidak boleh memegang tasnya, hehehe. Padahal dedek Athifah pengen tau dan mau cari tahu. Semua ingin dia pegang dan liat. 

Melihat beitu banyak persiapan yang harus dibawa, terpaksa kak Nawra mengeluarkan tas dorong strawbery shortcake yang jarang sekali dia pergunakan kecuali akan berpergian jauh ke luar kota. “ada gunanya juga tas ini ya Mi,” seloroh kak Nawra

Salah satu permintaannya malam ini adalah membawa makan ayam fried chicken. Jadi tadi seusai renang dari teluk benoal di Hibrida, kami langsung menuju ayam Labaik di daerah Lingkar Barat, tak jauh dari tempat ojek mangkal. Namun sayang nasinya sedang habis, jadi cuma membeli ayam fried chicken bagian dada saja. Nasinya terpaksa beli nasi uduk di Tanah Patah.  Modal makannya malam ini ayam sepuluh ribu dan nasi lima ribu, hehehe. Lumayan hemat daripada beli di saimen ya.

Alhamdulillah, akhirnya hari ini semua dapat dijalani, renang tetap jalan dan sekarang mabit. Semoga kak kuat dan sehat ya. Tadi sebelum pulang, saya sempat berpamitan dan menitipkan kak Nawra kepada ustadzah-ustadzahnya. 

Besok, in sha Allah akan saya jemput sekitar jam 07.30 wib sesuai dengan jadwal yang sudah ada di surat pemberitahuan. 

Semoga malam ini kak Nawra mendapatkan pencerahan, ilmu bermanfaat dan bisa mengikuti semua kegiatan dengan baik. Menjadi muslimah dan pelajar yang sholeha. Aamiin.

Kamis, 20 November 2014

/ /
Senin, 17 November 2014. Anak saya Nawra Izzah Muthmainnah , yang baru kelas tiga sekolah dasar berkesempatan hadir memenuhi undangan menonton fim sais di hotel Santika Bengkulu. Acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama Hotel Santika, Harian Kompas. Kegiatan tersebut bertajuk The Friendly Technologies. Dari sekolah Nawra, mengirim utusan sembilan orang dan Nawra adalah satu-satunya siswa kelas tiga, selebihnya siswa kelas empat, lima dan enam.

Acara ini dilaksanakan dari tanggal 17-19 November 2014. Mulai pukul 08.00 - 14.00 wib setiap harinya. Selain menonton film, undangan yang sebagian besar adalah para pelajar tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti eksperimen dan lomba-lomba yang melibatkan para peserta secara langsung.

Setiap peserta mendapatkan goodie bag yang berisikan, satu buah kaos, alat tulis, buku panduan kegiatan, majalah, botol minuman dengan logo kegiatan. Tentu saja hal ini membuat Nawra sangat girang.

Kegiatan ini sangat mengisnpirasi terutama bagi para pelajar untuk lebih mencintai sains dan teknologi. Mereka diajak untuk mengenal sains dan teknologi sejak dini. mengajak mereka memahami bahwa sain dan teknologi tersebut sangat berguna dan mudah untuk dipelajari

kegiatan seperti ini hendaknya dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan sehingga akan menumbuhkan kecintaan serta minat para pelajar untuk mempelajari dan memperdalam ilmu sain dan taknologi

Kamis, 13 November 2014

/ /
Pakaian hitam atau gelap bisa bikin langsing
Benar gak sih, katanya kalo pake pakaian warna hitam atau gelap bisa bikin badan keliatan agak langsing, hehehe. kalo diliatliat bener juga kayaknya, difoto ini saya keliatan agak kurusan ya. Ini foto bangun tidur terus mau sarapan pagi, belum mandi, liat tuh muka bangun tidur. Tapi gakpapa ya yang penting bisa narsis dulu, terus soal pakaian hitam bisa bikin langsing difoto ini kayaknya berlaku ya, hehehe

/ /
Aku dan Emak

Alhamdulillah, semoga emak selalu sehat dan sempat selalu dengan sabar kurawat dan kujaga, meski terkadang sebagai manusia yang pelupa, sering kali tidak sabaran. Semoga emak selalu rajin ibadah dan meninggal nanti dalam keadaan khusnul khatimah dan bisa berkumpul dengan kami anakanaknya di surga. aamiin

/ /
Athifah doyan makan
Alhamdulillah, ini foto baby Athifah saat usia 9 bulan, gendut ya. jadi gemes liatnya. Pengen nyubit pipi tembemnya deh, hehehe.

Ni, usai jalanjalan pake sepeda kata nenek Salma :). aslinya stoler merk Pliko. Habis mandi terus keliling komplek bersama nenek. menyapa tetangga kiri kanan dan refresinglah buat nenek

Ya, itu dulu, saat ini nenek tak kuat lagi. Jantungnya masih sering berdenyit dan berdebar-debar. nenek semakin lemah dari hari ke hari, namun tetap semangat. Apalagi kalo udah bersama baby Athifah, nenek selalu kuat dan berasa sehat

Sekarang usia baby Athifah hampir masuk setahun setengah atau 18 bulan, Sedang doyandoyannya makan, kayaknya setelah hampir 10 hari minum obata. Ya, karena sakit batuk dan pilek yang tak kunjung sembuh akhirnya terpaksa minum obat dokter. Alhamdulillah sudah baikan, namun akibatnya pengen makan terus. Di rumah juga harus selalu disiapkan snack atau cemilan. Duh, emaknya takut gendut ni, hehee. Soalnya selalu ada dan siap makanan.

Jadi, lebih baik uangnya dibelikan makanan ya daripada buat biaya berobat ke dokter.
Semoga sellau sehat ya nak, biar kita bisa selalu makanmakan, hehehe

Minggu, 12 Oktober 2014

/ /
Airport Tax Terpisah Dari Harga Tiket
Dear MILDAINI MILDAINI,
Berhubung dengan kontrak kerjasama Garuda Indonesia dan Angkasa Pura berakhir pada tanggal 30 September lalu, per tanggal 1 Oktober 2014, Para penumpang Garuda Indonesia akan membayar "Passenger Service Charge" (PSC) atau Airport tax terpisah dengan harga tiket yang sudah dibeli sebelumnya dan membayarnya pada saat keberangkatan.
Garuda Indonesia, selama ini merupakan salah satu airline yang paling mendukung kebijakan pemerintah, dan keinginan pengguna jasa untuk menyatukan PSC pada tiket. Kontrak Kerja sama penggabungan PSC pada tiket antara Garuda, PT. Angkasa Pura I dan PT. Angkasa Pura II ditandatangani pada tanggal 1 Oktober 2012 dengan periode masa berlaku dua tahun atau sampai dengan 30 September 2014. Hanya berlaku untuk penerbangan sektor domestik Garuda.
Penerapan PSC pada tiket merupakan standar yang telah diterapkan dalam industri penerbangan secara internasional saat ini. Menurut "International Air Transport Association" (IATA), 95 persen Negara di dunia sudah menerapkan PSC pada tiket kecuali Indonesia, satu Negara Asia lainnya dan beberapa Negara di Afrika.
Garuda Indonesia

Senin, 08 September 2014

/ /
I am Scoat. Nawra adalah Pramuka

Ini adalahsabtu perdana Kak Nawra memakai seragam Pramuka lengkap dengan atributnya. Tanggal 1 September 2014
 Semangat. Salam Pramuka

Minggu, 30 Maret 2014

/ /
Yah, sesuai dengan prediksi Abi, Kakak Nawra kali ini mendapatkan peringkat 13 dari 18 siswa yang ada di kelasnya, Beuh, lima dari bawah. Yups, kelas dua Anbiya, Hehehe, mau bagaimana lagi. Di sana tercatat 9 hari ijin sekolah. Satu hari tidak sekolah karena sakit. Total sepuluh hari. Iya, itu saat kakek Yahuni sakit dan akhirnya meninggal. Jadi ya, bolak balik Palembang, lumayan waktunya. Banyak ijin sekolahnya.

Belum lagi hasil ujian UTS kemarin Nawra mendapatkan tiga sekaligus remedial. Pelajaran  Penjas, Bahasa Inggris dan TIK. Semua hasil ujiannya di bawah KKM.

Saat melihat hasil rapotnya, secara keseluruhan nilainya naik dan rata rata delapan koma. Hanya nilai bahasa Inggris yang mendapatkan angka 6,5. Saya heran bagaimana ini namun mau bagaimana lagi. Di semester depan, Nawra harus belajar dan berusaha lebih kiat lagi. Dia harus dibimbing dengan disiplin dan serius supaya berhasil.

Semester depan Abi juga sudah menjanjikan, jiak Nawra masuk peringkat 7 besar saja akan dibelikan Note Book. Sebagai dukungan untuk dia lebih semangat dan mahir belajar TIK. Apalagi memang sudah zamannya semua anak anak sekarang  harus tau dan pandai menggunakan komputer atau laptop

Syaratnya bahwa note booknya tidak hanya dipergunakan untuk bermain game, Nawra disiplin dan tekun belajar selepas maghrib setelah mengaji. Belajar dan mempersiapkan diri akan materi pelajaran hari esoknya. kamar Nawra juga akan disetting senyaman mungkin dan dibuat agar dia betah untuk belajar. Memang jiak disiplin dan tekun saya yakin Nawra akan berhasil

Sekarang sampai dengan tanggal dua April dia libur, saya perbolehkan untuk menonton dan tidak belajar. Dia sik menonton DVD film Boy Before Flowers, film korea yang legendaris dan film anak muslim serial Syaamil.  Namun setelah masuk sekolah nanti, peraturan baru akan segera diberlakukan. Semangat ya kakak Nawra, hadiah telah menanti dan yang lebih utama agar engkau pintar dan berguna ya Nak, aamiin.

Sabtu, 22 Maret 2014

/ /
Haiya, hari ini adalah kali pertama selama kakak Nawra bersekolah, yups kelas dua. Dia mengalami remedial nilai pelajaran Penjas. Hahaha, saya cuma tersenyum saja ketika mendapati lembar jawaban Nawra yang bertitel angka tiga puluh. Wuih, kok bisa ya.

Padahal malam itu, dia sudah belajar keras membaca dan menjawab soal-soal yang ada di buku cetak penjasnya dengan serius. Semua pertanyaan dia lahap, jika tak tahu jawabbya dia kembali membaaca ulang dengan seksama buku cetaknya. Tapi, tetap saja tak bisa sukses.

Lucunya lagi, menurut Nawra, bukan dia saja yang mendapatkan nilai segitu, malah ada beberapa temannya yang mendapatkan nilainya lebih rendah dari dia, hehehe. membela diri ya Kak ^^

Entahlah, saya jadi pensaran seperti apa sih soal ujiannya, kok sedemikian sulitnya. Kata Nawra lebih sulit dari pelajaran Matematika lah. Benar juga soh, nilai pelajaran berhitung yang biasanya jadi momok bagi anak. Nawra malah mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari penjas.  Kenapa begitu ya,,,

Lalu, saya minta Nawra membaca dan memperlajari kembali soal penjas yang telah dibagikan oleh ustad/ustadzahnya hari kamis yang lalu setelah ujian. Barangkali, hanya soal itu yang akan diujikan kembali, jadi lebih mudah. Meski begitu saya tetap meminta Nawra untuk belajar dengan sungguh-sungguh meskipun remedian dan kemungkinan besar soalnya yang lama .

Cukup ya Kak, sekali ini saja remedial nilai penjas dan pelajaran yang lain. Semoga di kelas tiga nanti, kamu lebih semangat ;lagi belajar dan tekun mempelajari apa saja.

Malam ini, masih boleh kok Kak, nonton film kesukaanmu. Habis itu boleh sedikit santai bermain game, kan ini malam minggu ya, hihihi

Rabu, 19 Maret 2014

/ /
Alhamdulillah, sudah tiga hari ini saya selalu membawa bayi Athifah ke toko untuk berdagang. Ya, usiannya yag memasuki sepuluh bulan. Ku pikir sudah tepat jika diajak berdagang. Hasilnya, setiap pagi aku membuka toko dengan dibantu oleh Athifah.

keputusan untuk tidak memperkerjakan karyawan di saat ini adalah pilihan yang tepat. soalnya gaji karyawan lumayan mahal.
/ /
12 Nasihat Ray Bradbury untuk Penulis Muda (bisa jadi pemula maksudnya)



1. Jangan langsung menulis novel. Tulis cerpen dulu saja


2. Kamu boleh suka mereka (penulis favoritmu), tapi kamu tidak mungkin menjadi mereka. 


3. Cermati cerpen yang berkualitas. (Roald Dahl, Guy deMaupassant, Nigel Kneale dan John Collier)


4. Beri asupan untuk kepalamu. (Baca satu cerpen, satu puisi dan satu esai sebelum tidur). Esai harus beragam, mulai dari arkeologi, zoologi, filsafat, politik dan literature. Lakukan ini selama seratus hari.


5. Enyahkan teman-teman yang tidak percaya denganmu. (Unfriend saja orang-orang yang menertawakan ambisimu untuk jadi penulis)


6. Hiduplah di perpustakaan. Bradbury tidak kuliah, tetapi hobi membaca


7. Jatuh cintalah pada film. Terutama film lama.


8. Menulislah dengan bahagia. Jika tulisan terasa seperti ‘pekerjaan’, buang saja dan tulis yang baru.


9. Jangan berencana untuk dapat uang. 


10. Buatlah Daftar 10 hal yang kamu sukai dan 10 hal yangkamu benci. Kemudian tulis tentang 10 hal tersebut, dan ‘bunuh’ sisanya dengan cara menulis tentang hal tersebut. Lakukan hal yang sama dengan ‘rasa takut’ kamu.


11. Tulis saja apa yang muncul di benakmu. Cara untuk mengurangi ‘writer’s block’.


12. Ingatlah, yang perlu kamu lakukan adalah mencari satu orang saja yang muncul dan berkata, “Aku senang tulisanmu.


Semangat Kawan, teruslah menulis, menuliskan apa saja

Sumber 
Ini saya dapatkan informasinya dari teman satu kepengurusan di Forum Lingkar Pena (FLP) si Koko Nata yang baik hati. Agar infonya awet saya simpan saja di blog. Barangkali nanti ada juga yang membutuhkannya :)
 http://goo.gl/A1CXtC

Selasa, 11 Maret 2014

/ /
Saat ada urusan di bank, aku menitipkan baby Athifah kepada neneknya. Ya, sekitar dua jam lebih. Berangkat dari rumah sekitar jam sepuluh pagi menuju sebuah bank. Alhamdulillah urusan hari itu kelar.

Sorenya kami pulang ke rumah Sopo Indah, malam sudah menunjukkan kelam. ya, beanjak menuju pukul sembilan malam. Kakak Nawra sudah tidur pulas setelah sebelumnya membaca buku cerita tiga buah, ya, buku Lupi si Pelupa itu sudah berulang kali dia baca. Rupanya buku itu sangat menarik perhatiannya sehingga harus berkali-kali diulang, hehehe.

Abi juga sudah tertidur pulas setelah sebelumnya diiinjak oleh kakak Nawra. Nah, sekarang adik Athifah belum juga menunjukkan tanda-tanda ingin tidur. Menguap saja tidak. Bola matanya kian membesar dan membulat. Dia menggapai dan menyentuh bneda apa saja yang ada di dekatnya. Ya, diajaknya bermain dan bercerita. Kian asik bermain sendiri. waktu sudah berlalu, sampai akhirnya ke angka sepuluh malam. Baby Athifah belum juga mengantuk. Teringatlah olehku, barangkali tadi siang nenek memberikan dia kopi. Meski sedikit namun kopi tetap saja akan memberikan efek bagi bayi. Ah, nenek ada-ada saja. Padahal sudah diingatkan berkali-kali jangan pernah memberi kopi. Setelah ditunggui tak juga ada tanda mengantuk. Akhirnya aku ajak adek bermain di atas kasur saja, agar dia akhirnya tertidur. Rupanya hal itu berhasil, menjelang pukul dua belas malam, adik Athifah mulai terlihat menguap dan setelah diberikan mimik, akhirnya dia tertidur. lega sekali rasanya.

keesokkan harinya, kutanyakan dan kupastikan kepada nenek,
"Nek, kemarin adik Athifah diberikan kopi ya?
Nenek tersenyum
Aku sudah menebak dan memang begitulah adanya
"Ah, cuma sedikit, baik juga buat bayi" ujar nenek, membela

Memang sesekali baik mungkin buat bayi, namun tak baik bagi yang menjaga bayinya terutama di malam hai. Gak kuat menahan kantuk nek. 

Jumat, 07 Maret 2014

/ /
Sejak anak keduaku baby Athifah dilahirkan dan saat ini sudah berusia sembilan bulan. Sejak Juni 2013 itu aku tak pernah pulang ke rumah kami. Hari itu, ahad 2 Maret 2014 aku pulang dengan membawa anak-anak. Ya, meski selama ini suami acap kali pulang bahkan menginap. namun, namanya juga lelaki kalau sudah pulang, mana sempat dia bersih-bersih. Apalagi kalau datang ke rumah pas malam hari, ya pastinya begitu nyampe ya tidur donk. Mana mau beberes. capek pastinya ya , hehehe.

Jadilah hari ini, aku pulang dengan agenda untuk membereskan dan membersihkan rumah. Tak begitu repot. Rumah mungil kami itu tak banyak menyisahkan barang sampah. Memang sejak awal sudah kutanamkan, semua perlengkapan dan perabotan adalah yang usefull dan endfull. bukan buat pajangan apalagi cuma pengisi lemari hias. Jadi barangnya memang yang dipakai dan untuk mendukung aktivitas kami sehari-hari baik di dalam atau di luar rumah.

Tahap pertama yang kulakukan adalah membersihkan membereskan satu buah kamar dahulu. Ya, tempat untuk Nawra dan Athifah bermain dan tiduran. Pilihannya jatuh ke kamar Nawra. Kamar mungil itu setelah disapu dan dipel beberapa kali , akhirnya kinclong juga. Jadilah anak-anak bermain di ruangan itu dulu.

Alhamdulillah , Nawra mau menjaga dan mengasuh adiknya. Meski terkadang adiknya juga yang diganggu sampai menangis, hehehe. Maklumlah namanya juga anak-anak. Rumah mungil ini seharusnya cuma butuh waktu sedikit untuk membersihkannya dan membuatnya rapi namun karena sudah lama tak dibersihkan, jadi butuh waktu yang agak lama. lantainya harus disapu dan dipel berkali-kali. Agar debu tebal dan kotoran yang menempel mau hilang. Lumayan olahraga wara-wiri , goyangkan badan yuks!

Untuk lantai yang berdebu tebal itu, ketika mengepelnya aku langsung menyiramkan super pel yang masih kental untuk segera diratakan dengan kain pel. Tak perlu air, hanya butuh kain pel yang basah. Bau wanginya segera menyebar dan tercium kemana-mana. Wangi bunga, cocok sekali buat lantai rumahku. Ini, yang beli superpell siapa ya? Paling suami yang beli, namun tak sempat digunakan untuk megepel.Pantas saja kemasannya, sudah sedikit lecet. Tapi isinya masih baik dan layak pakai. Gakpapa ya, kan bukan makanan, kadaluarsa dikit juga dimaklumin, hehehe

Jumat, 28 Februari 2014

/ /
Cerita Milad kakak Nawra di pantai panjang yang ketujuh
Hari itu, kakak Nawra berusia genap tujuh tahun. Sedangkan abinya sedang berada di Jakarta karena ada dinas luar kota dari kantor. Ya, hari itu ahad, 9 februari 2014. masih bingung acara apa yang akan dilakukan untuk mengenang milad kakak Nawra ini. Malam sebelumnya abi sms, bahwa Wak Syarifah yang tinggal di Bukit, Palembang meninggal dunia. Dan ini sudah masuk hari yang kedua. Belum ada rencana ingin melayat ke Palembang. Namun keluarga besarku di Bengkulu sudah kukabari akan musibah tersebut.
"Jadi, tidak ada acara buat ulang tahun Nawra ? " tanya dodo Shela
Aku hanya tersenyum, belum bisa menjawab pasti
"Tunggu, nanti Pak cik pulang, Kalo pun ada acara sore saja setelah Ashar. "
Lagi pula sekarang bertepatan dengan diadakannya, peringatan Hari Pers Nasional yang digelar di Pantai Panjang. Jika jadi nanti, kita makan-makan saja di pangsit Tris sekalian liat pameran media di pantai. lagipula nenek  belum ada diajal melihat keramaian tersebut.

Aku menjemput Abi Nawra bersama dengan kakak Nawra. Belum ada keputusan apakah akan berangkat ke Palembang atau bagaimana . Hanya malam tadi, di sms sempat kubilang. Jika akan ke Palembang, aku dan anak-anak akan ikut juga.

Waktu berlalu, akhirnya keputusannya makan bersama di pangsit Tris di acc. Dihadiri, mama dan dodo shela. Ayah andi, bunda santi, zaki, nailah dan nenek. Kue ultahnya dibeli oleh dodo sela dan abi. alhamdulillah smeua berjalan lancar termasuk acara melihat pamerannya. hanya saja jalanan sedikit macet dari arah pantai panjang. karena semua orang juga ingin melihat pameran di sport center tersebut.

kami akhirnya memilih, makan bersama dan bercerita serta berfoto bersama dalam kondisi yang sangat sederhana. kakak Nawra, alhamdulillah sudah mendapatkan hadiah sepeda baru dari kami. semoga lebih lancar deh, naik sepedanya. semoga menjadi anak yang sholeha ya nak, aamiin


Rabu, 29 Januari 2014

/ /


Assalammu'alaikum Wr. Wb

Hello teman-teman, sedang marak soal imunisasi dan vaksin ya. Saya mau berbagi cerita dari sebuah tulisan yang saya baca. Isinya banyak informasi. Barangkali bisa mendatangkan inspirasi. Kita belajar bersama yuk!

Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.
Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.

Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.

Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

“Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.

Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:


“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.

She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”


Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.

Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin modern yang dipergunakan saat ini memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :

- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/
- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm
- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari dilanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.

Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.

*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”


Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah informasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”

Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar langsung dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”

Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?

Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wilayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:

“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”


Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah MEYAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kewajiban untuk mengkaji dan telaah.

Saya dan barisan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

Pada bagian akhir penulis menyampaikan, “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab, “Betul sekali. Mari silakan menilai, megkaji dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun bahan kimia didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.


sumber

http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

Minggu, 26 Januari 2014

/ /
 Arti Maskot Hari Pers Nasional (HPN) di Bengkulu 2014


Maskot HPN 2014 menggambarkan bunga Rafflesia yang tangan kanannya sedang memegang sebuah pena yang terbuat dari tangkai bunga dan tangan kirinya mengacungkan jempol. Warna maskot oranye kecoklatan menyesuaikan dengan warna bunga Rafflesia. Selain itu, di bawah maskot juga dilekatkan tulisan “Pers Sehat Rakyat Berdaulat”, yang menjadi semboyan HPN 2014.



Bunga Rafflesia dipilih menjadi maskot HPN 2014, karena bunga Rafflesia identik dengan Provinsi Bengkulu juga untuk mempromosikan bunga ini sebagai puspa langka yang keberadaannya masih dapat ditemui di Provinsi ini.



Simbol pena pada maskot HPN 2014 melambangkan eksistensi dari insan pers yang senantiasa berupaya menjadi insan pers yang sehat untuk mewujudkan rakyat yang berdaulat. 


Bunga Rafflesia dan tatakan emas didaulat oleh pemerintah Provinsi Bengkulu menjadi maskot Hari Pers Nasional (HPN) pada tanggal 9 Februari 2014. Kedua lambang ini dianggap sangat mewakili dari ciri khas lokalitas provinsi Bengkulu sebagai tuan rumah. 

Selain itu bunga Rafflesia sangat identik dengan Bengkulu. Sedangkan tatakan dari emas melambangkan bahwa Bengkulu pada dahulu kala merupakan penghasil emas. Hal ini dapat kita lihat pada puncak monumen Nasional (Monas) yang ada di Jakarta, emas dari Bengkulu menghiasi puncak Monas tersebut. (Milda Ini)
 






/ /
Makna Logo Hari Pers Nasional



Untuk mendukung suksesnya acara, Logo dan maskot HPN 2014 . Yang akan dilaksanakan di provinsi Bengkulu. Pada tanggal 1 - 10 Februari 2014. Pun akan diluncurkan. Logo HPN 2013 berupa tulisan besar HPN dengan warna pelangi dan dibawahnya ada tulisan Hari Pers Nasional serta Bengkulu 2014.
Diberdayakan oleh Blogger.