Menu

Minggu, 30 Juni 2019

/
Assalammualaikum.Wr.Wb

       www.mildaini.com_Pentingnya Kecakapan Literasi Baca Tulis Abad Ke 21.Pada sebuah pertemuan kepenulisan yang dihadiri para pelajar dan mahasiswa, saya sempat bertanya. Berapa jumah buku yang selesai dibaca dalam satu hari, satu pekan, satu bulan hingga satu tahun. Jawaban peserta bermacam-macam. Sebagian besar peserta menjawab, mereka membaca buku setiap hari. Namun hanya pada bagian-bagian tetentu atau hanya  pokok bahasan tertentu. Sesuai dengan tema pada mata pelajaran atau bahan kuliah mereka masing-masing. Apalagi jika sedang masa ujian sekolah atau kuliah. Intensitas membaca semakin meningkat.

Lalu saya bertanya kembali, siapa saja yang suka membaca selain buku sekolah. Hanya sebagian kecil yang menjawab, bahwa mereka membaca buku novel, majalah dan lan sebagainya. Namun buku tersebut tidak selesai dibaca dalam waktu dekat,ada yang butuh beberapa hari, hingga beberapa bulan untuk hanya bisa menyelesaikan satu buah novel. Bahkan ada yang tidak pernah selesai dibaca.

Hanya beberapa orang saja yang memang menyukai membaca buku novel atau karya sastra. Mereka mengkoleksi beberapa jenis buku tertentu dari karya penulis yang sama. Misalnya karya Novel Tere Leye, Habbiburrahman, Asma Nadia dan lain sebagainya.

Ada yang juga dari peserta yang senang membeli buku dengan harapan untuk dibaca , jika ada waktu luang. Namun tenyata sampai batas waktu yang lama, buku yang sudah dibeli tadi, belum juga dibaca. Masih tebungkus rapi.

Pada kegiatan simulasi, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta dalam durasi tertentu. Pertanyaan pertama, saya meminta peserta menuliskan 10 judul buku yang pernah dibaca dalam waktu 10 menit. Pertanyaan kedua, saya meminta peserta untuk menuliskan 10 nama penulis Indonesia dan pertanyaan ketiga, saya meminta peserta untuk menuliskan nama penerbit buku dan nama media massa dan majalah atau tabloid.

Pada simulasi ini, banyak peserta yang bisa saya katakan tidak lolos, mereka hanya mampu menuliskan paling banyak 3-6 nama yang diminta pada setiap pertanyaan. Ada yang belum bisa membedakan bentuk majalah, tabliod, koran. Apalagi sejak zamn digital saat ini. Banyak yang lebih menyukai membaca secara online. Ingin mencari informasi mengenai segala sesuatu. Hanya dengan mengetik kata kunci di google, maka informasi tersebut dengan cepat muncul.

Itu beberapa cara yangs angat mudah dan sederhana untuk sekedar mengetahui minat baca dan pengetahui seseorang mengenai dunia buku dan minat baca. Hampir selalu kita dihadapkan dengan kenyataan dan data, bahwa orang Indonesia sangat rendah minat bacanya. Hal ini tentu saja membuat kita seolah berpikir mencari cara lain , bagaimana untuk menambah pengetahuan, mendorong potensi pengetahuan dan meningkatkan wawasan seseorang dengan cara yang menyenangkan dan disukai. Maka muncullah istilah Literasi yang mulai diterapkan di berbagai negara.

Saya dan teman-teman saat bimtek fasilitator baca tulis di Pekanbaru


Mengenalkan Istilah Literasi Sejak Dini

Buku adalah jendela dunia dan membuka wawasan dan cakrawala manusia. Betul, hal ini tidak bisa kita pungkiri. Dengan membaca kita akan memperoleh begitu banyak pengetauan. Masalahnya, saat ini banyak anak-anak kita yang tidak begitu suka membaca buku. Namun sangat senang berjam-jam membaca handphone. Membaca secara digital jauh lebih menarik.

Oleh karena itu sebagai orang tua, guru dan masyarakat secara umum, Kita harus bisa memperkenalkan cara lain untuk menambah wawasan anak. Dengan kegiatan literasi. Dengan melakukan kegiatan literasi, anak-anak, orang dewasa temasuk lanjut usia. Bisa menambah banyak pengetahuan dan informasi mengenai apa saja. Dalam sudut pandang yang berbeda. Serta dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan.

Pengertian Literasi

·         Kecakapan dasar seseorang menggunakan segenap potensinya dalam kehidupan.
·         Pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu.

·         Kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup
·         Baca dan tulis, (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) finansial, (6) budaya dan kewargaan

Ada 6 Dasar Kegiatan Literasi, yaitu :

1.      Baca Tulis
2.      Numerasi
3.      Sains
4.      Digital
5.      Finansial
6.      Budaya dan Kewargaan.

Keenam jenis literasi tersebut, bisa kita kenalkan sejak dini kepada anak-anak di rumah, anak didik dan masyarakat secara umum. Setiap anak pasti memiliki kecenderungan tertentu. Mereka akan memilih sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki.

Kita juga bisa memberikan pengetahuan, ilmu, wawasan dan informasi kepada anak sesuai dengan minta dan bakatnya. Jika mereka menyukai jenis literasi tertentu, maka kita bisa mendorong mereka untuk bisa menguasasi dengan baik, mendorong agar mereka berprestasi dan profesional di bidang yang mereka sukai.


Pentingnya Menguasai Literasi

Di banyak negara kegiatan literasi sudah dikembangkan dengan secara baik dan profesional. Dengan harapan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Terutama untuk menjawab tantangan kemajuan abad 21 yang membutuhkan begitu banyak orang pintar, cerdas dan ahli di bdang-bidang tertentu.  Untuk menguasai berbagai dunia kerja dan menjawab berbagai kebutuhan revolusi industri 4.0. Penambahan pengetahuan tidak hanya lewat baca tulis saja. Namun pemahaman mengenai dunia serta isinya juga menjadi hal yang sangat penting untuk langsung diketahui secara khsuus. Misalnya, ada anak yang menyukai dunia sains, maka kita bisa mendorong dirinya untuk maju dan menguasai dunia sains dengan baik.

Mengapa sekarang penguasaan literasi telah diyakini sebagai episentrum perkembangan dan kemajuan berbagai lapangan kebudayaan dan peradaban? Beberapa alasannya saat ini sedang tumbuh-berkembang

1.      Masyarakat jaringan informasi (network society)
2.      Masyarakat berpengetahuan (knowledge society)
3.      Masyarakat kreatif-inovatif (creative society)

Tujuan Gerakan Literasi Nasional

1.      Membangun Budaya Literasi
2.      Membangun budaya literasi
3.      Menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045

4.      Menguatkan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik)
5.      Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan

6.      Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)

Dengan kegiatan literasi diharapkan, masyarakat Indonesia semakin tinggi tingkat pengetauan, penguasaan teknologi dan tentu saja akan menjadi maju untuk dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat serta bangsa dan negara.
1 komentar:

Pengaruh gadget dan internet memberikan dampak besar kurangnya minat baca. Saya sendiri sangat merasakannya. Dulu waktu kecil buku adalah hiburan saya. Ketika bosan dan jenuh saya akan baca buku. Tapi sekarang tiap bosan bukanya smartphone. Bersyukur karena ngeblog minimal saya jadi rajin baca artikel temansesama blogger. Ah, artikel ini mengingatkan saya pentingnya kembali kepada minat literasi.

Reply

Terima kasih sudah mampir dan komen di blog saya. Mohon tidak komentar SARA, Link Hidup. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.