Menu

Jumat, 15 Mei 2015

/ /
{BukuKu} Pujangga Kedurang



Pujangga Kedurang
Milda Ini

Tepat jam sembilan pagi aku sampai di terminal Pasar Atas kota Manna, yang merupakan ibu kota kabupaten Bengkulu Selatan.  Udara pagi menyapaku. Aku bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke arah timur kota ini dengan menggunakan angkutan desa menuju Kedurang. Pulang ke kampung halaman di dusun Nanti Agung. Kuperkirakan akan memakan waktu sekitar satu jam lagi, baru bisa rehat di rumah.

Kali ini kepulanganku tak  tak lama, hanya ingin  mencari udara segar sejenak di sela-sela sibuk mengejar skripsi. Ya, mumet aku dibuatnya. Mobil mulai melaju, memasuki  daerah Kedurang. Dari awal perjalanan tersaji pemandangan yang sangat indah, di sepanjang jalan terlihat pantai yang elok dengan batu-batuan yang indah. Itu loh, batu hias yang sering digunakan  orang untuk membuat taman, bentuknya bulat bewarna putih ada bintik-bintik hitam. Orang  menyebutnya batu telur puyuh. Banyak terdapat di pantai Muare Kedurang.

 Dulu sewaktu sekolah dan belum merantau. Maklum di Kedurang hanya terdapat satu sekolah setingkat SMA. Aku juga suka ikut mengambil batu ini di pantai. Lumayan untuk nambahin uang jajan. Kerjanya cuma saat liburan sekolah saja. Batu tersebut dijual bukan saja di  Bengkulu dan sekitarnya bahkan  sampai ke  pulau  Jawa. Harganya menjadi mahal setelah sampai di sana.

Angdes begerak perlahan memasuki dusun , melewati dusun Durian Sebatang baru dusun Nanti Agung. Entahlah dari kecil dulu aku sering bertanya kenapa dinamakan dusun  Nanti Agung.  .  
 “ Nanti dusun ini bakal Agung “ jelas Bak, suatu hari.

Angdes berhenti  tepat di depan rumahku. Ini adalah ciri perkampungan khas Indonesia. Rumah penduduk berjejer di sepanjang aliran sungai. Pemukiman penduduk di Kedurang juga mengikuti pola tersebut, rumah kami bebaris menghadap jalan.  

Aku tiba di rumah, lega rasanya. Memang di antara sekian banyak rumah, hanya rumah kami yang agak berbeda. Itu karena bapak adalah ketua adat atau sekelas kepala dusunlah. Gelar kepala adat ini sudah turun temurun disandang keluarga besarku. Mungkin nanti akan diturunkan juga kepadaku, jika aku menetap di dusun ini, hehehe!

Aku disambut dengan suka cita, seperti sudah lama tak berjumpa denganku. Setelah bercengkrama tak terasa sudah masuk waktu Zuhur, aku bergegas salat di musholah. Masih seperti dulu, hanya beberapa orang saja yang sempat berjama’ah . 

“Kapan pulang Kang?” tanya seorang Datuk

“Sudah selesai kau kuliah?” lanjutnya lagi

Aku menoleh meraih sumber suara, aku salami Datuk dengan lembut.

 “ Baru datang tadi sebelum zuhur. Belum wisuda aku Tuk, mohon do’anya ya “

Terlihat wajah mendung di wajah Datuk tadi. Namun aku tak sempat bertanya-tanya. Kenapa dia yang bersedih.

@@@.
Alhamdulilah meski ini dusun, listrik sudah masuk  , hanya dusun Batu Ampar yang  masih menggunakan listrik tenaga surya akibat belum terhubungnya jaringan listrik antara dusun Rantau Sialang dengan dusun Batu Ampar. Siaran televisi pun mulai beragam kebanyakkan memang masih menggunakan antena parabola.

Usai Maghrib, Emak menyiapkan kami gulai ikan Mungkus, bau sedapnya menjalar-jalar di urat saraf hidungku, mengais-ngais. Ini merupakan makanan kesukaanku. Selalu rindu dengan masakan ini. Tak ada duanya, di tempat lain pun tak kutemukan. Bahkan di belahan dunia sana. Ikan air tawar yang hanya ditemukan di sungai Kedurang. 

Mamang Alim datang, ikut makan bersama kami, dia datang bersama dengan Ibung Sami dan dua anakknya.

“ La, belum juga selesai Kakang ni kuliah. Kapan lagi. La delapan orang sarjana yang ada di dusun kita ini. Walau tidak semua dari mereka  mengabdi di dusun ini. Maklum lapangan kerja tak ada yang cocok dengan ijazah mereka. Tak apa asalkan tetap mengharumkan desa ini. “ Urai adik Bak yang satu ini berpanjangan. Mengetahui kalau aku belum wisuda. 

Kulihat Bak mengusap mukanya yang penuh keriput, desah napas berbau tembakau itu terlihat sangat letih. Aku pun tak tau mengapa Bak sangat mencemaskan skripsiku. Padahal insya Allah bulan Juni aku wisuda. Kenapa Bak sangat mengkuatirkan semua ini. Secara usia aku juga masih muda. Belum terlalu tua untuk disebut mahasiswa abadi. Jangan-jangan Bak sudah mau mengambil menantu ya, pikirku sambil terkekeh sendiri.

Mulai tak terasa sedap gulai ikan Mungkus di lidahku kali ini,  melihat gelagat Bak. Aku menyomot sepotong kue Bipang. Campuran beras ketan dan gula arennya membuat kue ini terasa nikmat di santap. Tak terasa sudah tiga potong kue  ini kumakan. Namun tiba-tiba perutku mules, aku segera belari ke dapur. Mengamankan pencernaanku.

Tak lama aku mendengar ocehan mereka, sayup-sayup aku mendekat , nguping dari balik bilik dapur. 

“Bagaimana ini , Julis belum tamat  juga. Bisa kacau urusan kita. Cuma menungu dia saja lagi. Sudah bertahun-tahun ini , Kak!“ ucap Mamang Alim

Aku tercekat, maksudnya apa ya, menunggu bertahun-tahun dan itu semua dialamatkan kepadaku. Aku mulai merapatkan dan membersihkan daun telingaku, agar bisa menyerap informasi lebih banyak. Mereka menunggu aku.  Aha, sepertinya ada yang mulai  tak beres, tapi karena apa. Aku belum menemukan jawabannya.

Agaknya kepulangaku kali ini menjadi hot topik di dusun ini, kulirik Emak yang duduk di pojok beranda. Sambil berbincang dengan Ibung. Mereka  makan sirih dengan asik,  terlihat mulut mereka kemerahan akibat campuran sirih, kapur dan ramuan lainnya.  Tapi gigi mereka kuat meski sudah tua, masih kuat untuk makan daging dan yang keras-keras. Kalah dengan gigi odol kepunyaanku, hehehe!

                                                                        @@@

Malam ini cuaca Kedurang terasa makin panas, bukan karena lokasi dusun ini yang berdekatan dengan pantai. Tapi karena pikiranku yang kalut. Aku membuka jendela kamar. Terlihat bulan seolah menyapa. Rumah panggung ini menjadi sangat berguna untuk melihat situasi keadaan di bawah sana. Jalan-jalan sudah mulai sepi. Sebagian lampu rumah penduduk mulai dimatikan. Hari hampir berganti waktu. Aku tak bisa tidur. Percakapan Bak dan Mamang tadi mengusik tubuh letihku. Aku seolah usai minum dua gelas kopi. Adrenalinku mendadak meningkat dan hasilnya, sudah berbolak-balik aku tak bisa tidur. Ucapan Bak dengan Mamang Alim terngiang selalu. Dan, semua itu semakin membuat cuaca di malam ini bertambah panas.

“ Kapan lagi , ini la terlalu lama, jangan sampai leluhur kita nanti marah. Bujuklah Kakang Julis tuh supaya cepat selesai kuliahnya. Biar aman desa kita ini. “ serang Mamang Alim.

“Menunggu yang lain masih terlalu lama , paling rendah di bawah Julis itu mereka baru kuliah semester empat. Itu artinya kita akan menunggu lama lagi. Iya kalo Kakak ada kesempatan  waktu dan umur”  lanjut Mamang Alim.

Sebenarnya apa yang disembunyikan mereka , aku semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Aku mencoba menganalisa dan mengkait-kaitkan. Lama aku tertegun di kamar, matahari fajar segera datang, usai salat subuh di musholah. Aku berjalan-jalan mengitari kampung, tak ingin segera pulang. Aku ingin bertandang ke rumah Datuk. Dalam perjalanan aku di sapa banyak orang, mereka semua bertanya hal yang sama kapan aku di wisuda.  Waduh! Pertanyaan biasa namun menjadi luar biasa di tengah situasi aku seperti saat ini. Ingin rasanya segera mengubur badan ke dalam bumi, saking penaknya!

“ Do’akan ya, secepatnya! Insya Allah , dua bulan lagi “ jawabku sambil tersenyum mendengar sapaan dan pertanyaan mereka.

Sampai di rumah Datuk, tak kujumpai lelaki tua itu. “ Datuk sudah ke sawah Kang, susul saja jikalau perlu. Masih ingatkan jalan menuju sawah” jawab Niniak ramah.

“ Kau kemari mau memberi kabar kapan kau wisuda bukan?” Aduh Niniak pertanyaan itu lagi. Apakah persoalan kapan aku wisuda sudah menjadi pertanyaan wajib setiap orang di dusun ini. Tidak tua, muda, bahkan anak kecil pun ketika pertama kali aku pulang ke sini, menaiki Angdes. 

 “Kakang Julis, kapan wisudanya?” . Aaarrrrrggghh, pusing aku dibuatnya, makiku pada diri sendiri. 

Ingin sekali aku menuju sawah ,menyusul Datuk. Curhat dengan Datuk! Namun rasa lapar yang melilit membuat aku mengurungkan niat. Matahari mulai tampak.  Usai pamitan dengan Niniak aku bergegas pulang . Ketika sampai di rumah, aku berpapasan dengan Mamang Alim, rupanya beliau usai berbincang-bincang dengan Bak. Kedatanganku sepertinya membuat mereka terpaksa untuk berhenti ngobrol. Aku berlalu, menuju ruang tengah. 

“Makanlah Kang, ini beras Seginim baru petang semalam Mak beli. Masih hangat keluar dari heler padi. “ 

Iya beras  daerah Seginim  sangatlah terkenal di wilayah Bengkulu Selatan ini bahkan sampai ke kota Bengkulu.  Letaknya sangat dekat dengan Kedurang di perbatasan barat dengan kecamatan Air Napis. Berasnya bersih, kalau ditanak menjadi sangat harum. Rasanya gurih. Cukup dimakan dengan sambal caluk saja, makan bertambah lahap, apalagi kalau dimakan di pondok sawah, dihembus angin sepoi-sepoi.  Wah, dunia berasa indah. Pekerjaan mengusir burung di sawah menjadi sangat ringan. 

Aku nyeruput kopi hitam buatan Mak, rasanya mendadak pahit. Apakah aku sakit, apa memang kopi ini lupa berikan gula. Aku menelan ludah lalu  berlari ke dapur.

“Ada apa Kang, kok kepulangan kau kali ini tidak seperti biasanya. Kau  terlihat gelisah. Seperti ada yang kau sembunyikan. Ceritalah dengan Mak, duhai anak Mak yang gagah”

Aku mendekat, duduk persis di sebelah Mak, jika tak malu dengan usia, rasanya ingin sekali aku merebahkan tubuhku di pangkuan Mak. Sembari Mak mengusap rambutku dengan lembut. Ya, seperti aku kanak-kanak dulu.

“Mak, aku malu , semua orang tengah membicarakanku “

“Soal apa? “ tanya Mak

“Kapan aku wisuda? “

 “ Lalu, apa masalahmu” tanya Mak lagi

Sekonyong-konyong terdengar suara serak Bak mendekat

“Kapan kita ke Bengkulu, Bak mau bertemu dengan dosen kau. “

“ Untuk apa Bak” tanyaku cepat

“ Mempertanyakan bagian mana yang sulit dari skripsimu dan mengapa kau lambat sekali wisuda. Biar Bak selesaikan dengan beliau. Jikalau perlu kita kasihlah dia buah tangan “

“ Apa! Menyogok maksud Bak!” Aku terperancat. Oh, ini tidak bisa dibiarkan. Bakal gawat urusannya nanti.

 “ Biasa aja itu , zaman sekarang dosen membantu skripsi anak didiknya. Malah ada yang memang dosennya yang mengerjakan. Nanti tinggal dibayar jasanya “ terang Bak.

Haduh, apa yang sedang merasuki pikiran Bak . Aku harus segera bertindak sebelum semuanya menjadi tambah sulit. Aku harus segera pulang ke kampus , desisku.

“Wah, kalau dengan cara begitu Kakang tidak setuju Bak, bagaimana pun juga skripsi itu adalah tugas dan tanggujawab mahasiswa”

“Tapi sampai kapan kami menunggumu, kalau ada cara pintas kenapa harus menggunakan cara lambat. Yang penting kamu wisuda dapat gelar sarjana’ suara Bak mulai meninggi.

Aku istiqfar berkali, kali.  Bak meninggalkan kami sejenak lalu datang lagi.

“Ini uang untuk kau berikan kepada dosenmu, pastikan dia yang menerima langsung sehingga urusan skripsimu cepat selesai. Bak tak mau tahu lagi urusan skripsimu ini.  ” suara Bak kian meninggi.

“Jangan Bak, jangan lakukan itu. Biar semua urusan ini aku yang selesaikan. Lagipula tak lama lagi, insya Allah masih ada waktu. Mana mau dosennya Bak, menyuap itu perbuatan dosa!” jelasku hati-hati, badanku gemetaran. Takut Bak marah.

“Uang ini sudah lama Bak siapkan sejak 6 bulan lalu kau pulang terakhir kali. Bak pikir kepulangan kau kali ini akan mengabarkan kapan kau di wisuda, tapi sekali lagi kau mengecewakan kami. “ gerutu Bak.

Aku tertunduk, melirik Mak yang cuma diam. Tak ada pembelaan.

“ Kalau begitu, Kau harus berusaha dan berjanji!” suara Bak kian meninggi.

Aku menggeleng kuat. Bak meminta aku berjanji, itu yang berat. Aku mendadak anemia, badanku lunglai. Apa! Aku telah mengecewakan Bak. Skripsiku yang jadi tumbal kemarahan Bak.  Tapi tak ada jalan lain. Perjanjian adalah satu-satunya solusi saat ini, urusan yang lain nantilah kita pikirkan. Aku tak mau Bak berdosa dengan urusan sogok - menyogok ini, lagipula aku malu  masa urusan skripsi saja mesti orang tua yang turun tangan.

“ Baiklah Bak, dua bulan lagi Insya Allah, aku di wisuda. Aku berjanji Bak!” ucapku mantap.  

“ Pegang janji kau Julis!! Besok lusa kau balik ke Bengkulu biar Mamang Alim  yang ngantar “ Aku tak bisa berkata apa.
                                                                        ####
Dua bulan aku berjuang untuk skripsiku. Janji dengan Bak segera ingin aku tunaikan. Ya, hari ini Alhamdulillah aku berlepas diri dari soalan skripsi. Aku bisa memenuhi ucapanku dengan Bak. Masa wisuda akan segera datang. Kabar baik ini sudah aku kirimkan ke dusun. Hari ini adalah kepulanganku untuk menjemput mereka mendampingi aku menggunakan toga sekitar sepekan lagi. 

            Aku sampai di rumah, namun kulihat orang-orang sangat ramai berkunjung ke rumah. Apa ada pesta yang akan digelar Bak dan Mak di rumah. Tapi kenapa mereka tidak memberitahuku tentang ini semua. Lagipula jika hanya untuk menyambut keberhasilanku diwisuda, rasanya acara ini sangatlah berlebihan. Semua mata memandangiku, melayangkan senyum atas kedatanganku. Aku membalas semua senyum dan tatapan mereka dengan ramah sekaligus risih. 

            Aku lihat orang-orang ada yang memasang tabir, menggantung tirai, membelah kayu api, sebagian lagi menegakkan bubungan. Rupanya akan ada pesta besar, pikirku. Di samping rumah kulihat para wanita sedang menyiapkan priuk belanga. Mulai bertanak-memasak. Mengukus-membakar aneka juadah penyaram sejenis makanan yang terbuat dari adonan pisang dan gandum, kue Bajik sudah tercetak di talam dengan rapi. 

Aku semakin bingung, segera kutemui Bak . Kulihat ada sembilan ekor sapi tertambat di halaman samping. Wah, rupanya akan diadakan pesta besar-besarn, pikirku. Tapi darimana Bak menyiapkan dana ini semua. Ini butuh modal besar, harga sapi saja sekarang sudah sangat mahal.

            “ Acara apa ini Bak, Mak! Acara wisudaku masih sepekan lagi,” tanyaku bingung
Bak menyeringai, 

          “ Kau tak perlu gusar. Biasa saja acara ini, untuk menyambut keberhasilan wisudamu. Besok acara puncaknya. Kau ikuti saja. Inilah adat kita “ jelas Bak santai

                                                            ####

Ghumah Panggung kami penuh sesak, tamu sudah mulai berdatangan. Berhimpitan, bercampur baur lelaki dan perempuan. Kanak-kanak, berlarian bermain tanpa hirau. Aku duduk berdiam diri tak mengerti. Sesekali berdiri dan menyalami para tetamu yang datang. Mereka hangat sekali menyapaku, aku jadi sangat tersanjung tapi tetap saja bingung. Barisan dayang belai, sudah berbaris di kursi bagian depan. Mereka tampak rapi dan indah, memakai pakaian yang tidak biasanya. Begitu terasa sangat istimewa wisudaku kali ini, gumamku.

“Selamat ya Kang, akhirnya tertunai sudah hari ini. Semoga semua berjalan  lancar” Salam Datuk menjabat erat tanganku dan memelukku kuat. Aku membalas semuanya dengan tadzim.

 “ Iya Atuk, tapi ini rasanya sangat berlebihan. Masa hanya untuk wisudaku” serangku

Datuk tersenyum, terpapar gigi merah menyirihnya, “ Kau patut bersyukur, hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu Bak dan keluarga besar kita Kang”. 

Tiba-tiba terdengar suara Mang Alim dari alat pengeras suara, tanda acara akan segera dimulai.

Mamang Alim, naik ke panggung, “ Alhamdulillah, hari yang telah kita tunggu selama hampir 30 tahun ini. Akan segera kita tunaikan sebentar lagi, “ Ucapnya lantang sembari disambut tepukan dan suara gemuruh para tetamu.

“Depati Reslan dan Kang Julis yang akan memimpin langsung acara ini, bersiaplah segera alat perkakas kita untuk dibawa ke kawah” Mendengar itu aku terperanjat, apa yang harus aku pimpin, dan kenapa harus ke kawah. Bukankah itu daerah pemakaman para nenek moyang kami. Tak sempat berpikir lagi, Datuk telah menyeretku berjalan dan diikuti oleh Bak dan keluarga yang lain. Aku terpaksa, meski bingung.

Lalu orang-orang membawa sembilan ekor sapi dan alat perkakas untuk memotong sapi. Semua tamu serentak berjalan mengikuti kami dari belakang. Setelah berjalan sekitar lima belas menit. Sampailah kami ke kawasan kawah, tanah kuburan. Rupanya di sana juga sudah menunggu beberapa orang yang sudah siap dengan perlengkapan hendak memotong hewan, ya, seperti layaknya perayaan kurban. Aku tercenggang.

Rombongan kami siap sedia, acara akan dilanjutkan, semua pasang mata sudah siap dengan tugas mereka masing-masing, aku menunggu tahapan selanjutnya dengan perasaan campur aduk. 

“ Saksikan wahai kau nenek moyang kami. Hari ini akan kami tunaikan janji anak cucu ini kepada engkau. Kami pastikan bahwa desa ini akan Agung seperti namanya Nanti Agung. Sesuai sumpah leluhur kami, akan ada banyak pujangga dari dusun Nanti  Agung ini akan meraih gelar sarjana. Maka pada hari ini sudah harusnya kami tunaikan janji ini. Sudah ada sembilan pujangga dusun ini yang menjadi sarjana. Dan pada hari ini kami persembahkan sembilan sapi ini untuk janji tersebut “ mendengar penjelasan Bak, kepalaku semakin berdenyit. 

Oh, inikah alasan mendesak Bak memaksa aku untuk diwisuda, karena ingin segera menunaikan janji ini kepada para leluhurnya. Oh, apakah bak tidak tau hukum menyembelih binatang di kuburan, ini dosa, mengapa ini bisa terjadi, pikirku. Aku menggamit tangan Datuk

“ Tuk, mengapa harus menyembelih sapi ini di kuburan, bukankah ini perbuatan syirik. Dosa besar tuk “

Datuk menggeleng, ‘” Ini dilakukan untuk memunaikan janji, agar para leluhur kita tidak marah. Dulu dusun kita selalu dihina dilecehkan oleh dusun seberang, oleh karena itu ketika terjadi perang mulut, terucaplah sumpah itu, jika nanti sudah terdapat sembilan orang sarjana di dusun kita, maka kita akan memotong sapi sembilan ekor.”

“ Tapi mengapa harus di kuburan Tuk memotongnya “ aku pusing melihat kondisi ini, apalah artinya wisudaku jika dirayakan dengan acara syirik seperti ini. Pikiranku berkecamuk, rasanya ingin berlari, namun entah kemana. Aku sebagai anak yang berpendidikan tak bisa mengajak dan memberitahu Bak, apalagi mencegah perbuatan ini.

Sembilan sapi tersebut, sudah siap akan dipotong. Mereka terikat terpaksa mengikuti tali tambatan. Tiba-tiba hapeku berdering, kulihat semua nomer yang sangat dikenal dan ada dua sms yang masuk. Kuangkat di tengah riuh suara tetamu . Mendengar kabar di seberang luluh lantaklah badanku. Tak kuasa aku menjawab dan bertanya lebih banyak lagi. Dengan tangan gemetar kutunjukkan isi pesan singkat itu kepada datuk. Segera dia membacanya.

“ Julis, ini kabar buruk . Kau tidak jadi di wisuda minggu depan karena kau ketahuan menyogok dosen pada saat sidang seminar. Skripsimu dibatalkan.” 

Aku terpekik kencang , “ Tidaaaaaaaaaaaaaaaak, apakah ini hukuman darimu ya Allah aku tersungkur!” 

Siapa yang tega  melakukan hal ini kepadaku, Bak , Mang Alim atau siapa?

Dan semua mata terperanjat langsung melihatku. Dan sms di hapeku bergiliran dibaca oleh semua orang. Langit mendung menyelimuti Kedurang, semua orang berkata “ Tak jadi Julis di Wisuda?”

Aku tersungkur, berpelukan dengan tanah. Kedurang semakin terasa panas.


Kamis, 14 Mei 2015

/ /
{BukuKu} Beauty Of Lajang



Beauty Of Lajang
Milda ini

          Angin pantai Panjang menyibak dedaunan di depan rumahku. Pagi ini tidak ada yang istimewa, selain dua potong kue Tat, kuliner asli Bengkulu yang disajikan Ibu untukku. Kue yang berbahan baku gandum dan di tengahnya diberikan inti selai nanas, lalu dipanggang di atas api tempurung kelapa. Namun aku yakin ini bukan ibu yang membuatnya tapi Cik Raya yang menjualkannya kepada ibu. Di sampingnya masih ada setengah gelas kopi hitam yang sudah dingin. Aku duduk berdiam diri di samping ibu yang tengah menyiapkan menu yang akan dimasak hari ini.

          “ Inga, ada undangan tuh dari si Johan. Dia mau menikah minggu depan!” jelas ibu memecah kebisuan kami

          “ Acara muda-mudi ya Bu? Tanyaku. Ibu tersenyum sambil mengangguk.

       Aku menyeruput kopi dan mencomot sepotong kue, seketika diam dan menggeleng, “Malas ah,  Bu! Datang. Acaranya pasti begitu-begitu!” lanjutku sambil mengunyah kue. Yummy!

          “ La, kalo kamu malas datang memenuhi undangan orang, jangan harap nanti kalo kamu nikah banyak yang mau datang” seru ibu

          “ Emang, Inga sudah punya calon Bu, “ tanya Ayah yang tiba-tiba muncul

          “ Tau deh, cowok aja yang datang main ke rumah kita aja gak ada!” seru ibu membenarkan.

          “ Masa sih Bu, kan sering juga ada cowok datang ke rumah kita” Aku nyengir ngeles.

          “ Halah, itu kan gak jelas statusnya, soalnya dia juga datangnya gak jelas, kapan saja dan gak pernah ada yang spesial!”

Oh, alah aku mengerti maksud ibu sekarang. Memang kalo mau diliat setiap malam minggu, mana ada yang emang datang rutin alias ngapel. Kayak apaan gitu, mungkin maksud ibu kayak orang pacaran, hehehe. Yang punya jadwal rutin bertamu. Hadai!

          “ Iya Bu, ntar juga ada waktunya. Sekarang Inga mau berangkat kerja dulu ya, biar gak telat. Dada ibu...” ucapku sembari berlalu meninggalkan mereka. Dalam perjalanan menuju ke sekolah, ucapan ibu masih terngiang di benakku. Hmmm, rupanya ibu ingin aku punya cowok ya. Dan itu bukanlah sesuatu yang menarik bagiku. Banyak ruginya buatku. 

          Di sekolah setelah bel istirahat, seperti biasa aku berkumpul ngobrol-ngobrol dengan teman kerja yang juga masih lajang. Kami duduk di perpustakaan sambil membaca koran. Tak lama datang seorang teman membawakan beberapa undangan untuk kami termasuk untukku. Membaca nama di sana, aku berucap syukur. Alhamdulillah , akhirnya teman kerjaku segera akan menikah.

          “ Kalian berdua, bagaimana?” tanya  seorang guru.

           Kami terdiam tak ada yang berniat untuk menjawab karena kami tau kemana arah pertanyaan itu. “ Iya Bu, ni mungkin Asih yang mau segera menyusul” jawabku sekenanya daripada gak

          “ Sudah punya calon kamu Asih” tanya bu guru lagi. Si Asih cuma menggeleng pelan. Tersenyum manis, semanis coklat kesukaanku. Lalu Bu guru tadi mengambil kursi dan duduk dengan serius di antara kami berdua. Rupanya ada yang ingin dia sampaikan. 

“ Gimana kalo kamu saya kenalkan sama seseorang, mau gak?” Oh, ini maksud Bu guru mendekati kami. Asih tersenyum simpul, “Boleh bu, kalo cocok kenapa gak. Saya mah, oke-oke aja”

Aku tersenyum getir, selalu begitu jika aku sedang bersama Asih, ngobrol soal jodoh tak pernah pihak ketiga itu menawarkan jodoh itu kepadaku. Belum tentu juga aku mau kok, ya paling gak basa-basi gitu. Ini sudah yang kesekian kali kejadian kayak gini. Kali ini aku tak segera meninggalkan mereka berdua, tetap duduk,  tapi aku cuek saja seolah tak tau apa yang sedang mereka perbincangkan.

 Dalam lamunanku, aku berpikir , sedemikiannya aku,  sehingga hanya dalam bentuk tawaran pun tak ada yang mau menawarkannya kepadaku. Memang jika dibandingan dengan Asih , kami ibarat langit dan bumi. Setiap cowok pasti akan memilih Asih. Dia cantik, bisa menjaga penampilan, sedang berdandan sedang aku. Kemana-mana jilbabku melambai-lambai, huhuhu. Gayanya juga sederhana malah terkesan gak bergaya. Tapi aku suka gayaku.

 Ah, gak di rumah gak di sekolah semua orang menganggap aku tak layak punya jodoh cepat, bagus dan mapan. Hanya karena aku berjilbab panjang dan tampangku yang ngepas. Padahal usiaku sudah mau pergi dari dua puluh lima sekitar dua bulan lagi. Mulai masuk ranah rawan jodoh. Aku juga butuh menikah, jeritku!

Sejak  pertemuan kami bertiga di perpus itu, si ibu jadi sering banget nyamperin kami, apalagi ngobrol dengan Asih. Biasa proyek jodoh. Kali ini obrolan mereka serius sekali. Aku akhirnya menepi memberikan jarak diantara mereka berdua agar lebih leluasa. Buku yang sedari tadi kupegang serasa sangat menarik untuk diselesaikan dibaca.

“Asih, napa sih mereka gak pernah nawarin jodoh sama aku? “ tanyaku suatu pagi kepada Asih ketika kami makan di kantin. Asih cuma tersenyum mendengar pertanyaan polosku. “ Kata mereka sih, kuatir gak cocok sama kamu. Mereka menilai kamu orangnya pilih-pilih dan stelannya tinggi!” Hampir meloncat aku mendengar penuturan Asih yang jujur. Apa yang mau dipilih atau seleraku tinggi. Yang mau dipilih itu aja gak ada, belum pernah ada malah. Ada-ada aja mereka , hardikku dalam hati. 

Malam hari sebelum tidur, aku teringat perkataan Asih di kantin sekolah tadi . Aku mendadak dilanda insomia. Kumanfaatkan waktu untuk membaca, merapikan buku-buku bacaanku. Kuperhatikan hampir semua koleksi buku yang memenuhi rak di kamarku ini genrenya adalah buku pernikahan dan keluarga. Mulai dari tips memilih jodoh, melayani suami, merawat anak sampai dengan buku-buku yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Komplit dah , kalau buku dan ilmunya tentang pernikahan. Hampir tiap bulan aku menyisihkan uang untuk membeli buku. Katanya membaca buku, menambah wawasan adalah bagian dari persiapan untuk menuju pernikahan termasuk membaca soal kehamilan, perawatan dan pendidikan anak. Termasuk soal seluk - beluk mertua.

Istilah kata kalau persiapannya matang, insya Allah semua akan berjalan mudah dan lancar. Menurutku , membaca dan belajar tentang ilmu berumahtangga itu perlu dilakukan jauh-jauh hari sebelum masa menikah datang. Karena jika sudah menikah, hamil dan punya anak niscaya tak banyak waktu lagi untuk membaca atau mencari tau lewat berbagai referensi. Masa mau baca buku dulu atau googling di internet pas ada masalah. Ribet juga kan, ya sudah karena telah dapat ilmunya, tinggal praktik saja. Betul tidak, pemikiranku ini.

Nah, masalahnya sekarang adalah soal  calonnya ini yang belum ada. Mau kemana aku mencarinya. Dimanakah dirimu berada, wahai Arjunaku, desisku dalam hati. Hayolah, yang jauh mendekat, yang dekat yuk, merapat. Ya, Allah jika jodohku masih di atas langit bantu turunkan dia ke bumi dan beritahu dengan dia alamat rumahku. Alamat yang lengkap ya Allah, jangan sampai dia malah datangnya ke rumah Asih atau ke tempat lain, gumamku terkekeh.

“Bu, surat undangan yang kemarin ada dimana ya? Tanyaku pada Ibu yang sedang merapikan pakaian yang sudah disetrika di ruang keluarga.

Ibu monyong, “ Itu, ada di atas TV. Lagian buat apa kamu ngumpulin undangan. Ibu lihat koleksi kamu sudah banyak. Yang penting itu calonnya Dek, soal undangan gampang itu!”

“ Ya, Ibu ini kan juga bagian dari persiapan, kalau aku nikah nanti gak repot lagi. Soal konsep undangan beres...res! jawabku optimis. Tak lama terdengar suara mobil Ayah, memasuki pekarangan rumah. Berderemmm mesinnya , lalu mati. Ayah memasuki rumah.

“ Bu, nanti malam ada keluarga teman Ayah yang mau datang ke sini, siapkan makanan kecil ya Bu. Selepas Isya mereka katanya datang!” jelas Ayah, sambil melepas baju kantor.

“ Dalam rangka apa Yah, mereka datang ke rumah kita!” tanya ibu, penuh selidik.
Ayah duduk di antara kami, sembari minum air putih yang telah disiapkan ibu, “ Anak bujangnya mau dikenalin sama Inga. Barangkali mereka cocok!” jelas Ayah tanpa beban terutama tanpa meminta persetujuan aku terlebih dahulu, ini gak adil. Masa main langsungan aja. Harusnya konfirmasi dulu sama aku. Aku cemberut mendengarkan penuturan Ayah.

“ Napa kamu, gak suka ya? “ tanya Ayah sok tahu. Aku makin cemberut dan menggeleng lesu. Merapatkan badan duduk di sebelah Ayah. Bermanja-manjaan.

“ Selagi orang tua masih ada, soalan jodoh anak itu juga menjadi tanggungjawab orang tuanya. Itu lebih baik jika orang tua yang mencarikan dan mengusahakan  agar terhindar dari fitnah” 

“ Tapi Inga berhak untuk menolak kan Ayah gak selalu harus setuju kan!” belaku. Ayah dan Ibu cuma tersenyum, “ Iya donk, masa gak boleh menolak. Namun menolak juga harus ada alasannya. Jangan sampai Inga nanti kena mudharatnya jika menolak pinangan lelaki yang sholeh yang gak ada alasan syariat untuk Inga menolak lamaran dia” Aku tersenyum malu mendengar penjelasan Ayah. Dalam hati aku berharap, semoga anak teman Ayah ini sholeh , ganteng dan layak jadi Arjunaku. 

Singkat cerita pertemuan dua keluarga malam ini menghasilkan suatu keputusan yang menurutku tidak jelas. Namun, apa boleh buat itu cuma bahasa negosiasi dari Ayah. Apa! jodoh kok pake negosiasi segala. Gimana gak negosiasi, pihak laki-lakinya minta keputusan jadi atau tidaknya setelah pengumuman kelulusan tes pegawai negeri. Intinya sih begini, dia mau jadi PNS dulu ntar baru nikah. Jadi aku diboking dulu, begitulah bahasa sekarang. Ya, kalau dia lulus kalau gak, rugi donk aku.  Bukaan lowongan PNS itu aja masih dua bulan lagi, belum pengumumannya. Haiya, lamanya awak menunggu kepastiannya. Aku sudah berkecil hati duluan, tak akan aku mengharapkan dia menjadi Arjunaku. “ Kita lihat saja nanti Ayah, semua masih belum jelas kan. Jika memang kami berjodoh, maka Insya Allah pasti akan dimudahkan. Sekarang jalani aja dulu aktivitas masing-masing” Jelasku mewakili ketidakmauanku untuk ikut negosiasi mereka. Semua yang hadir mengangguk tanda setuju. 

Di sekolah hubungan si Asih dengan Mak comblang makin mesra, udah jalan dua bulan. Tampaknya wajah mereka kian berseri-seri! Aku yang gigit jari. Di sekolah selain kami para gadis, ada juga kok yang bujangan. Tapi lagi-lagi mereka tidak mau memilih aku. alasannya kata mereka aku cewek ribet. Entahlah, maksud dari perkataan itu apa. Aku aja gak paham. Intinya, aku tak masuk kriteria dua cowok bujangan di sekolahku. Titik!

Sekarang usiaku sudah masuk angka dua enam, belum juga ada tanda-tanda jodoh mau datang. Undangan dari kaum kerabat entah dari mana-mana ada saja saban minggunya. Bahkan mereka yang usianya jauh lebih muda dariku sudah berlabuh duluan ke pelaminan. Alahmdulillah, belum ada ponakanku yang melangkahiku untuk nikah, kalau ada benar-benar gawat ini urusannya. Aku seakan mulai masuk ranah gadis tua. Haduh, membayangkannya saja aku ogah, apalagi jika harus menjalaninya. Ya, Allah apa ada yang kurang dari ikhtiarku selama ini, keluhku. 

Sampai suatu saat aku diperkenalkan dengan seorang teman. Setelah beberapa kali berinteraksi bersama-sama akhirnya kami sepakat untuk mengajukan proposal menikah kepada orang tua masing-masing. Aku segera mengabarkan berita ini kepada Ibu terlebih dahulu. Hampir melotot mata Ibu mendengarkan penjelasanku. “ Apa! Mau makan apa kalian nanti. Emangnya cukup cuma mengandalkan bisnis rental komputer . Apalagi dia masih kuliah! Ah, Ibu gak mau kamu cuma dimanfaatin aja sama dia.” berang ibu sore itu kepadaku. Ah, Ibu aja semarah ini apalagi Ayah, akhirnya kuurungkan menyampaikan berita tersebut kepada Ayah. Gagal lagi ya gagal lagi, makiku!

Setelah kejadian itu, aku seolah ingin menenggelamkan diriku pada segudang aktivitas. Tak ada sedikitpun dari waktuku yang tak terisi oleh kegiatan. Aku tak mau memikirkan soal jodoh lagi. Lebih baik bekerja dan bekerja. Aku mulai fokus untuk merintis bisnis. Membuka toko pakaian. Menghabiskan waktu tanpa harus dicekoki dengan urusan jodoh. Namun satu hal yang masih aku lakukan adalah, jika bertemu dengan orang baik dan lebih tua dariku apalagi yang sudah berumah tangga. Aku selalu mengatakan kepada mereka keinginanku untuk menikah dan meminta mereka agar mendo’akanku. Hal ini sangat kuyakini jika kita tidak mengutarakan isi dan maksud hati kita, bagaimana orang lain akan membantu kita. 

Oleh karena itu sangat perlu aku menyampaikan keinginan menikah ini kepada mereka yang amanah, agar mereka bisa membantu mencari solusinya. Siapa yang tau, antah berantahnya si Arjunaku akan datang lewat siapa. Iya, kan!. Satu lagi yang selalu aku lakukan adalah berdo’a agar setelah menikah aku langsung dikarunia anak. Oleh karena itu aku sangat suka mengkonsumsi touge dan bubur kacang hijau. Makanan ini dipercaya bisa meningkatkan kesuburan dan membuat awet muda. Percaya deh, sama aku!  

Di rumahpun tak banyak waktu aku untuk bercengkrama dengan ayah dan ibu. Sampai di rumah biasanya aku langsung masuk kamar, istirahat. Terkadang hanya untuk urusan makan saja, masih sering diingatkan sama ibu. Aku seolah menjauh dari kehidupan mereka. Aku keluar kamar, jika ada keperluan saja. Tamu cowokpun juga sudah jarang datang ke rumah. Aku seolah menjelma menjadi satu sosok yang super sibuk dan asing bagi mereka. Sampai suatu sore. Ayah mengajakku ngobrol.

“Besok kita akan ke dusun, menghadiri pesta pernikahan anak Uwak Madi. Kamu harus ikut ya,  ketemu dengan sanak keluarga, sudah lama juga kita tidak pulang kampung” 

Acara pesta di dusun, penuh sesak. Biasalah namanya juga di dusun, acara pernikahan itu sangat istimewa. Acara yang dianggap oleh mereka sebagai ajang silaturahim, refresing dan bahkan acara mencari jodoh. Aku diperkenalkan dengan keluarga besar Ayah, baik yang masih satu zuriat langsung ataupun yang masih keluarga jauh. Istri Uwak mendekatiku, aku menyalami tangannya lembut. Duduk manis di sebelahnya. Sepertinya dia ingin bercerita kepadaku. “Inga, cobalah berjilbab itu yang biasa-biasa saja. Kalau begini siapa juga yang berani mendekatimu. Jauh jodoh” terang Uwak serius. Aku terpana, kenapa Uwak berpikiran seperti ini. Aku saja yang menjalaninya asik-asik aja. Aku tersenyum.

“ Mana ada laki-laki yang mau dengan cewek yang semuanya tertutup seperti ini. Tak ada yang menarik bagi mereka “ lanjut Uwak tanpa merasa bersalah.

“ Iya Wak,  mungkin belum datang saja jodohnya. Do’akan ya agar Inga segera dapat jodoh. Liat si Titin, sudah seksi dan terbuka semua pun,  masih belum dapat juga jodohnya. Sudah kepala tiga dia , Wak! “ balasku. Uwak terkejut sembari matanya mengalihkan pandangannya terhadapku. Berlari ekor matanya menatap saudara sepupuku yang dikenal seksi dan hobi dandan itu. Maaf Wak, bukan maksud hatiku membuat kau tercenggang, desisku!

Sepulang dari dusun, aku kembali menjalani rutinitas hidupku. Soal jodoh meliuk-liuk dalam benakku. Entah akan berlabuh kapan. Aku terus berdo’a dan berupaya untuk memperbaiki diri, menambah wawasan, skill , agar nanti dapat jodoh yang sholeh. Label perempuan tua atau jomblo tak laku-laku memang membuat kening berdenyit. Meski belum ada yang memberikan cap itu semua secara langsung kepadaku. Hanya perasaanku saja. Rasa kuatir seorang perempuan yang berlebihan. Perempuan yang belum pernah berpacaran dan belum juga dilamar oleh seorang Arjuna. Memikirkan itu semua, sangatlah menyiksaku. Pusing!!

Saat ini banyak agenda kebaikan yang akan aku tuntaskan. Melakukan banyak hal untuk diriku, keluarga dan orang lain. Memikirkan jodoh adalah hal yang pelik untuk segera ditamatkan. Sesuatu yang sangat mustahil untuk kita pikirkan sendiri. Yang sudah begitu lama pacaran, menjalin kesepakatan untuk mengikat janji suci pernikahanpun sewaktu-waktu bisa saja batal. Bahkan mereka yang sudah menetapkan tanggal, menyebarkan undangan saja, bisa saja pernikahannya batal. Apalagi aku yang notabene belum ada secuil pun mendekati ke arah sana. 

Tadi pagi Asih menelpon, dia menanggis tersedu-sedu. Mengabarkan rencana pernikahan dia yang  batal. Padahal pertemuan dan kesepakatan kedua keluarga sudah sangat jauh. Asih, shock mendengar kabar bahwa sang cowok membatalkan rencana pernikahan itu hanya karena sempat melihat Asih pergi dengan seorang cowok ke sebuah mol. Tanpa mau mendengarkan penjelasan Asih, sang cowok memutuskan hubungan dengan Asih. Rencana pernikahan yang sudah diambang pintupun terancam tidak jadi. Ah, itulah hidup penuh misteri, pikirku. Yang sudah dalam genggamanpun sangat mudah terlepas.

Berkaca dengan pengalamanku selama ini menjalani proses perjodohan dan pernikahan dan dari masalah yang menimpa Asih. Aku semakin memantapkan keyakinan bahwa, tak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan dan tanpa pertimbangan soal jodoh. Aku akan menjalani hari-hari lajangku dengan sebaik-baiknya. Mengisi masa kesendirianku dengan hal yang bermanfaat. Hal-hal kecil yang mungkin nanti setelah menikah dan punya anak tak sempat aku lakukan lagi karena kesibukkanku mengurusi rumah tangga. 

Aku yakini, jika memang persiapanku sudah cukup baik dari segi ilmu, fisik dan metal. Inya Allah jodoh itu akan datang kepadaku dengan cara – cara yang tak terduga. Allah tak akan pernah salah menitipkan amanahnya kepada hamba-Nya. Lagipula aku tak ingin tergesa-gesa. Aku harus tetap punya pendirian, bukan artinya karena menunggu jodoh datang itu sudah lama. Setiap ada yang datang kepadaku langsung aku terima. Nanti sudah menunggu lama, eh ketika masuk pernikahan baru timbul banyak  masalah. Aku tak ingin memasuki gerbang pernikahan hanya karena ingin melepaskan masa lajangku dan dianggap laku oleh semua orang. Aku tidak mau begitu, rugi dunia akhirat hidupku kelak. Aku harus menjadi layang yang cantik luar dalam.

Angin pantai kembali menyibak dedaunan di depan rumahku, hape berdenyit memecah sunyi. Terdengar suara lembut dari seberang. “ Apa kabar Inga, minggu depan ada seseorang yang ingin datang berkenalan denganmu. Dia sekarang sudah di Jakarta, baru selesai kuliah dari Jepang dan akan balik menetap kembali di Bengkulu...” bla bla, suara seorang perempuan baya yang aku kenal dalam suatu pengajian sekitar setahun yang lalu.  Dalam hati aku berdo’a. Ya, Allah semoga dialah Arjuna sholeh , yang kau kirimkan untukku , mengakhiri masa lajangku menuju pernikahan yang barokah.  Angin pantai yang berhembus sore ini terasa sangat istimewa menyibak mukaku seiring aku mengakhiri do’a dan wirid harianku , menunggu senja datang , menghabiskan pergantian waktu.
(TeruntukBuatSeseorangYang SangatBerkorbanMendapatkanku)







Diberdayakan oleh Blogger.