Menu

Kamis, 29 Oktober 2015

/ /
{BukuKu}  Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak Yang Terlupa


 

 




Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak Yang Terlupa

Milda Ini


Ruang tunggu bandara Adi Sucipto seolah menjadi sempit. Hmmm,  terasa lenggang karena hampir setiap jadwal penerbangan tidak ada yang delay, I love it . Tapi entah jadwal keberangkatanku kelak, kita liat saja nanti ya. Hampir semua ruang sudah aku datangi meski cuma cuci mata. Harga Barang-barang di bandara jauh lebih mahal, aku jarang sekali belanja kecuali kepepet. Oleh-oleh untuk anak dan suami sudah aku borong dua hari lalu di Malioboro  .

Waktu hanya kuhabiskan setengah jam masih ada sisa sembilan puluh menit lagi. Aku sengaja menunggu daripada terlambat. Bakpia Phatok saja hampir tertinggal di mobil. Masih lama Lion Air datang. Kakiku sudah berdenyut minta duduk. Aku mencari tempat yang nyaman di dekat TV. Mau online saja ah, gumamku. Sejenak terlihat batere lowbath. Batal deh.Aku beralih ke hape, setelah update status dan  mengunjungi beberapa lapak teman.

Masih juga bosan dan serasa sepi. Aku berhenti sejenak, celingak-celinguk melihat petugas bandara. Tak ada yang menyapaku, semua serasa semakin asing dan membosankan. Oh,iya aku punya buku yang belum dibaca. Kemarin dapat doorprize di acara kepenulisan di Wisma Eden , Kaliurang. Buku biru itu aku pandangi, mencari sudut yang menarik ada senyum Asma Nadia di sana, manis menyapaku. Jilbab pink dan stelan baju biru kotak-kotak dengan campuran sedikit corak pink, kuning dan hijau. Membuat senyumnya semakin manis semanis coklat Silverqueen kesukaanku.  Waduh, jadi kepengen makan coklat nih.

Aku membaca sebuah tulisan di kover depan ‘ Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak Yang Terlupa’. Kalimat yang indah, namun aku agak penasaran maksudnya apa ya? Penasaran, aku membuka halaman perhalaman mencari tahu. Semakin membaca seakan aku semakin merasa bahwa itu adalah aku yang sedang membaca tentang diriku sendiri. Aku mengharu .Sungguh lihai Asma Nadia mengolah kata, mengurai makna dengan penuh sopan santun. Sejalan lurus dengan fitrahnya sebagai perempuan yang dihadiahkan Allah sifat lemah lembut penuh kasih sayang.

Sejenak aku membalik buku biru itu, kebiasaanku kalau membaca selalu dimulai dari belakang. Aku meluncur ke baris endorsement. Membaca  biodata kontributornya siapa tahu ada yang kenal,hehehe.

Adalah dia Asma Nadia saudaranya Helvi Tiana Rosa. Membaca setiap karyanya mampu membuatku seolah sedang bersenda gurau bersamanya. Padahal belum pernah bertemu langsung loh, namun serasa dia berada duduk manis di sebelahku. Ah, sosok Asma Nadia memang telah mengisi hampir sebagian dari nadi impianku terutama untuk menulis dan bersyukur menjadi perempuan. Bagaimana tidak melalui tulisannya telah banyak orang yang merasakan manfaatnya. Banyak para ibu yang berubah prilaku dan tutur katanya dengan keluarga dan sesama setelah membaca tulisan beliau. Sebut saja tulisan seri catatan hati, seri La Tahzan dan banyak judul lainnya. Begitu banyak yang terinspirasi termasuk aku yang sangat menyukai tulisan dakwahnya.

Seorang Asma Nadia yang dulunya penyakitan dan divonis oleh dokter sakit jantung, paru-paru dan gegar otak ini. Mampu bangkit berkat perilaku maminya yang sering membelikan beliau buku. Walau untuk itu terkadang si Mami bisa menunda makan siang. Tinggal dan hidup di lingkungan rel kereta api, tidak membuat Asma Nadia miskin untuk berkarya.Hal ini sangat menjadi pelajaran berharga bagiku .Asma Nadia banyak berkarya lewat keterbatasannya. Asma Nadia juga menginspirasiku untuk menulis . Sejalan dengan misi beliau yaitu untuk menciptakan kader penulis terutama ibu rumah tangga. Hal ini menjadi semangatku juga. Meski dalam  keadaan sibuk aku sempatkan untuk menulis dan menulis.

Dari 43 Novel yang udah ditulisnya ada yang sudah difilmkan , buku yang berjudul Emak Ingin Naik Haji salah satunya sudah difilmkan, membuatku  menangis seharian setelah menontonnya. Aku semakin tadzim dengan orang tuaku yang cuma tinggal Emakku. Aku semakin sayang Emak. Alhamdulillah, film itu juga banyak mendapatkan banyak penghargaan. Semoga Film Rumah Tanpa Jendela juga mendapatkan kesempatan yang sama.Dulu aku juga suka menghabiskan serial Aisyah, duh jadi pengen baca lagi. Meski berulang tak pernah bosan, sekarang buku tersebut aku teruskan kepada anakku.

Banyak yang menarik dari sosok Asma Nadia, ternyata dia juga pandai bernyanyi.Pantasan saja tulisannya jadi indah karena ada unsur seni di dalamnya. Darah seni juga mengalir pada wanita memiliki segudang prestasi menulis itu. Aku juga suka menyanyi dan Asma Nadia mampu membiusku lewat lirik lagu yang dia ciptakan. Lagu Bestari dan Snada menjadi sahabat akrabku dalam hiruk pikuk kesibukanku. Mengalun mengisi ruang bosanku yang pitam. Lagu-lagu itu menguras lelahku berganti ceria.

Membaca buku Asma Nadia ini, tak terasa waktu bergulir habis menuju penerbanganku. Namun jangan kuatir aku akan melanjutkannya ketika menunggu di Soekarno Hatta nanti.

 Seperti biasa terminal bandara ini penuh sesak. Jadilah aku sementara seorang ‘gembel  bandara’ diantara penumpang yang lain. Susahnya mendapatkan tempat duduk, apalagi kenyamanan. Bagaimana tidak dalam satu gate ini ada tiga penerbangan yang di delay....Kebayang gak , penuh sesaknya.Waktu bergeser sedikit seiring dengan berkurangnya penumpang menuju Pekan Baru dan Medan. Masih ada enampuluh menit lagi melayang ke bandara Fatmawati. Buku Asma Nadia menyembul keluar minta dibaca.

Oh,iya aku belum selesai tadi. Kulanjutkan mencari makna. Tak terasa waktu beranjak pergi. Idih, ada orang India duduk di sebelahku. Suaranya yang tak ku mengerti membuat konsentrasiku sedikit buyar. Asyik mereka ngobol tanpa menghiraukanku yang berusaha untuk fokus. Dasar Lu...kuch-kuch ho thai, eit apa hubungannya ya!

Entah mengapa setelah tiga perempat halaman buku ini kubaca, membucah rindu yang sangat luar biasa terhadap anak dan suamiku. Awalnya aku sangat merindu dengan Nawra anak pertamaku. Tak berapa lama sosok suamiku pun hadir tersenyum kangen padaku. Biasanya aku tidak begitu merindu apalagi dengan suamiku. Sering juga aku pergi meninggalkannya untuk beberapa hari ke luar kota. Oh, ada apa dengan diriku. Ini bukan hal biasa. Aku segera menelpon, terdengar suara di seberang. Aku hanya bertanya apakah aku dijemput di bandara, apakah Nawra ikut menjemput. Kaku lidahku untuk berkata kalau aku merindukanmu wahai suamiku. Begitu dahsyatnya tulisan di buku biru ini, aku seolah mendapatkan sesuatu yang mewah untuk harga sebuah perkawinanku.

Di ruang kedatangan, aku langsung memeluk mesra suamiku. Mungkin dia heran tapi kubisikkan saja, “ Bi...Umi rindu...!” kontan suamiku langsung tertawa heran.  

“Napa Mi, ketemu siapa di Yogja?” Aku cuma tersenyum geli. Biarlah ini jadi rahasiaku sesaat. Kami pulang tergopong-gopoh dengan Smash meluncur ke peraduan melepas penat hidup.

Sehari dua hari aku semakin menunjukan rasa cinta dan perhatianku kepada suami dan anakku. Memang tipe suamiku sedikit manja karena anak bungsu dan dari keluarga mapan. Awalnya dia heran melihat perubahan sikapku. Aku tahu itu tapi aku cuek saja. Dengan Nawra aku juga semakin care, mendadak aku seolah menjelma sebagi seorang Ratu penyayang di dogeng buku Nawra. Aku menjelma menjadi seorang wanita yang pandai membagi waktu, pekerjaan rumah yang menumpuk segera bisa kuselesaikan. Rumah rapi, masakanku semakin dapat pujian , makin lezat kata belahan jiwaku.

 Amboy, semakin sering mendarat ciuman terima kasih dari anak dan suamiku. Itu memang suatu kebiasaan kami sekeluarga, mengucapkan terima kasih dibarengi dengan ciuman sayang. Semangat menulisku pun semakin membaik, ide fresh juga berhamburan datang. Dalam sekejap aku menang event lomba dan naskahku lolos untuk dibukukan.Dengan perubahan itu suamiku pun semakin mendukung kegiatanku menulis. Aku semakin disayang keluargaku. Aku seakan ingin memeluk sosok Asma Nadia berucap terima kasih. Ku pelajari dia. Si tokoh perubahan yang menginspirasi banyak perempuan untuk menulis. Menulis untuk perubahan, menulis untuk menggulirkan kebaikan kepada anak cucu kita. Menulis untuk membuat kita abadi. Menulis untuk mengisi ruang hidup dengan warna dan cara yang berbeda.

Asma Nadia sekarang adalah brand, laku dijual dan dipatenkan. Mahal untuk dihitung dengan harga bisnis. Sungguh Asma Nadia adalah merk dagang yang laku dipasar. Ini karena kualitas karyanya yang mumpuni dan berjiwa, sehingga mampu menyentuh hati orang lain yang mencari pengobatan. Namun pencapaian ini bukanlah hal yang mudah dan bersukacita. Aku yakin Asma Nadia juga pernah terseok memperjuangkan semua ini. Semua ini bukanlah mudah, butuh berlapis waktu untuk mengerjakannya.Wajar kalau sekarang ia  menikmati apa yang telah ia bangun dan impikan.

Ah, buku biru itu kini semakin menambah koleksi tulisannya dalam rak bukuku. Lebih bersinar dari buku yang lain. Memancarkan kekuatannya untukku. Apalagi tulisan dipembatas buku biru itu begitu memberikan energi untukku. Aku suka membacanya berulang-ulang. Tulisan itu kerap mengiang di telingan dan lobang penglihatanku.

 Cinta menurutku tak berwarna. Ia menjadi jingga sebagaimana engkau memaknainya. Ia pun menjadi kuning, biru dan merah sebagaimana kau menginginkannya . Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi tentang kejujuran dan keberanian. Tentang kemarahan dan kasih sayang. Cinta adalah lukisan yang unik dan tak terkatakan sebab ia menenggelamkan kita pada angan-angan dan mimpi yang abadi. Dan cintaku padamu adalah surga yang tak bisa kumasuki jika tanpamu.

 Aku baru bisa memberitahumu  kalau semua ini kulakukan karena usai membaca buku Muhasabah Cinta Seorang Istri  dalam perjalanan Yogyakarta menuju Bengkulu. Sungguh tulisan itu semakin memutar derajat perubahanku jauh melesat setelah begitu lama sosok itu menginspirasiku. (ILoveMyHusband)




Koleksi Foto Pribadi Pada Saat Acara On Air Sharing dalam acara ' Book List ' dengan tema 'Apa itu buku Antologi dan mengupas buku Antologi Asma Nadia Inspirasiku' di radio SWARA Universitas Bengkulu

Buku Antologi saya bersama teman-teman. Kisah tentang perjalanan saya sepulang menghadiri acara  kepenulisan di Kaliurang, Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat. Menceritakan perjalanan pulang dari Yogjakarta menuju Bengkulu, yang diwarnai dengan cerita lucu namun sarat makna.

Tulisan ini adalah termasuk 10 naskah  terbaik tentang Asma Nadia Inspirasiku. Dibukukan bersama 20 naskah lainnya.


Terinspirasi setelah membaca buku karangan Asma Nadia yang berjudul

 




















                           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 17 Oktober 2015

/ /
Kisah Sedihku dan Caraku Bangkit disaat Harus Kehilangan Buah Hati


Engkau Sejiwa Ragaku
Milda Ini


Aku mengenalmu sejak Februari dua tahun lalu, cukup lama namun sampai hari ini aku belum pernah bisa melihat wajahmu. Sungguh sesuatu yang menyedihkan dan menguras waktu, ketika kita begitu ingin melihat wajah seseorang yang  kita cintai. Namun harapan itu sudah sirna.Menunggu lama dalam pilu melara!
Menjadi temanmu adalah indah, sejak pertama engkau hadir hingga hari ini. Memuncak rinduku ingin melihatmu.Kini aku mengenangmu. Engkau selalu menyertaiku. Engkau selalu menjadi temanku dalam suka duka. Sungguh hadirmu membawa warna baru dalam ceriaku, dalam desahku, dalam penatku.Sungguh hidupku sangat berwarna-warni dengan kehadiranmu. Engkau banyak mengajarkan banyak hal dalam waktu sempit kita.
Kita biasanya selalu meluangkan waktu untuk berbicara, bersentuhan, membalas gerakan, membagi rasa, dan hal indah lainnya. Di setiap waktu dan kesempatan karna kau selalu ada di dekatku. Jika aku lelah engkau akan menyapaku dengan gerakmu. Engkau akan mengajakku bermain jika aku terdiam merenung.Engkau akan menarikku jika aku lengah tanpa hati-hati. Sungguh engkau selalu hadir untuk mengingatkanmu. Mengajakku mensyukuri hidup dan rejeki yang maha kuasa. Suatu nikmat untuk orang terpilih.
Aku kadang susah makan karnamu. Aku sering susah tidur karnamu. Aku acapkali sakit kepala karnamu. Aku selalu menginginkan sesuatu dan bergiat mendapatkannya karnamu. Aku lelah dan tak bertenaga hampir setiap hari karnamu. Susah tapi senang dengan adanya kamu. Atas dasar cinta, aku lewati semua itu dengan suka cita. Aku jalani semua itu dengan harap meluap. Hadirmu membawa perubahan yang luar biasa pada diriku. Aku banyak membaca dan mencari tahu tentang segala sesuatu yang mungkin nanti akan engkau perlukan. Aku bersemangat untuk menjaga kesehatanku karna aku ingin bisa menemanimu kemanapun engkau pergi. Aku lebih giat mencari rejeki yang halal untukmu, agar darah yang mengalir di tubuhmu adalah kebaikan. Aku bersemangat beribadah dan mendo’akan kita berdua. Iya ,karna kita nanti akan melewati masa nyeri itu bersama. Ya , hanya kita berdua yang tahu dan bisa merasakannya. Tak ada yang tahu bagaimana rasa ngiris itu. Bahkan sebelatipun tak bisa melukiskan rasanya.Aku yakin kita bisa melewati semua itu bersama.Sungguh denganmu aku akan kuat.
Lama sudah kita berteman dan berkasih-sayang, sampai pada suatu hari, di bulan Mei.Baru empat bulan pertemanan kita.Ada sesuatu yang sangat berbeda dari sikapmu. Engkau tak lagi menyapaku dengan lincah gerakanmu. Engkau tak lagi membuat aku selalu ingin memegangmu.Aku merasakan sesuatu yang hilang dari cumbu rayumu. Sungguh aku seolah merasa sangat kesepian tanpa desirmu. Aku mencarimu, merabamu di setiap tempat yang bisa kurasakan hadirmu. Engkau tak menjawab lambaian tanganku, sentuhanku engkau acuhkan. Elusanku engkau remehkan. Aku jadi penasaran, ada apa denganmu sobatku! Ada hal apa yang menimpamu? Sejuta pertanyaan ingin kuutarakan tentangnu. Penuh sesak otakku. Apa yang harus aku lakukan. Aku ingin tahu keadaanmu.Pada siapa ya, aku akan bertanya tentangmu, sebelum ini tak ada seorangpun yang menjadi saksi pertemanan kita. Ini pertemanan rahasia aku dan kamu. Aku kebingungan sendiri, luluh resah menjalar di sekujur tubuhku. Air peluh mengalir melerai panas jasadku.Aku tergopoh mencari alamat orang yang bisa kuhubungi untuk mencari tahu keadaanmu. Kuperiksa semua lipitan dompet, laci kamar, lembaran buku,aku mencari dan terus memeriksa. Siapa tahu terselip.Hampir putus asa aku melacak alamat itu. Hampir kering asaku, akhirnya kartu biru itu ketemu juga. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mendapati seseorang yang bisa membantuku mengetahui keberadaanmu.Terima kasih ya Allah.
Aku terhempas bagai di hamparan Gurun Pasir, panas, gersang, tandus, aku ingin setetes air melegakan laraku. Jantungku copot seketika, darah berhenti sejenak, otakku macet. Sekelebat semua senyap. Saat aku harus memastikan bahwa engkau tak bisa lagi dilacak keberadaanmu, saat engkau tak bisa lagi aku dendangkan, saat engkau hilang. Temanmu itu juga tak bisa banyak membantuku, aku tak bisa menanggis saat itu, tak ada satu bulirpun yang keluar dari lorong penglihatanku. Aku begitu terluka, aku begitu tersayat sehingga air mataku seketika mengering tak bisa ku alirkan. Aku harus melepasmu.
Walaupun aku harus kehilanganmu,aku inginkan jasadmu. Berbagai cara aku lakukan agar engkau tak hancur lebur, walau aku harus menahan rasa sakit yang lebih panjang dari biasanya .Aku menggunakan cara yang tak biasa, walau aku yang menahan tusukan jarum itu bertubi-tubi di tubuhku. Aku inginkan engkau utuh tak ada luka dan sakit sedikitpun. Aku ingin engkau tak tersakiti walau diujung napasmu Aku ingin menciummu untuk yang terakhir kali. Aku ingin menghangatkanmu dengan jilbab bersihku. Aku ingin memanjatkan do’a untukmu dan untuk kebersamaan kita. Aku ingin memelukmu. Aku ingin menghantarkanmu menghadap sang pencipta. Aku ingin melakukan semua hal untukmu yang terakhir kali. Berjanjilah  kita akan saling menyelamatkan jika ada aral melintang di hadapan kita.Walau aku tak pernah bisa melihat wajahmu, namun aku yakin aku akan mengenalimu kelak di surga untuk menjadi teman terindahku.(Teringat ucapan seorang sahabat....karena Milda suka berinvestasi, maka Allah memberikannya peluang investasi di akhirat. Semoga saja investasi untuk membantuku untuk meraih surga.Amien......Mengenang Kepergian Athillah Bi Qolbin Saliim)




Jumat, 16 Oktober 2015

/ /
Tips dan Triks  Agar Cepat Hamil


Sebelas  bulan setelah ijab kabul. Aku melahirkan bayi perempuan. Cepat ya! Alhamdulillah, satu bulan setelah menikah aku langsung hamil. Bayi mungil nan cantik itu kami beri nama Nawra. Memasuki dua tahun usia Nawra, kami berencana untuk menambah lagi momongan. Apa aja deh. Rasanya jaraknya pas nih, dua tahun,pikirku waktu itu. Jiaah,Ikut menyukseskan program BKKBN! Aku mulai mempersiapkan diri untuk  hamil . Mulai dari menjaga makanan, minum suplemen dan berpikir positif untuk  menjadikan diri siap untuk hamil. 
Alhamdulillah aku dinyatakan positif hamil. Namun sejak satu bulan kehamilan aku sudah sakit. Setiap pagi aku mencret dan itu membuat badan aku lemas. Aku dehidrasi. Aku kehilangan tenaga yang cukup banyak. Memasuki kehamilan ke empat bulan aku keguguran.Bayiku meninggal di dalam kandungan. Saat itu aku tak sempat menanggis karena yang ada di dalam pikiranku hanyalah bagaimanaa segera mengeluarkan janin ini tanpa harus menyakitinya atau membuat dia tidak utuh. Segala upaya aku usahakan, akhirnya janin itu bisa dikeluarkan utuh tanpa ada satupun bagian tubuhnya tersakiti. Janin bayi laki-laki yang aku sendiri tak pernah bisa membayangkan wajahnya. Aku berharap wajahnya mirip denganku dan suatu hari kelak aku bisa bertemu dan  memeluknya.
/ /
{BukuKU}  ' Obat Galau Masa Kini '


Neng, Korban Jimat Bapaknya

Milda Ini 

Siang ini kembali ruangan kelas dua IPS di sekolahku heboh. Si Neng sang ratu pingsan bin kesurupan kembali kumat. Saking seringnya aku lupa ini kasus yang ke berapa . Semua riwayat kesehatan dan data diri serta keluarga si Neng komplit tersedia di buku status pasien. Nomor kontak keluarga Neng juga terekam di buku itu. Maklum jika kami tak sanggup lagi menanganinya, kami segera menelpon pihak keluarga untuk menjemput.
Kali ini kasus Neng sedikit unik, kedua kakinya nyangkut di kaki kursi sekolah. Diantara keempat kaki kursi itu terdapat penyanggah keseimbangan yang dibuat saling mengait diantara satu tiang kaki ke kaki kursi yang lain. Nah, kaki Neng yang masih berbalut sepatu sekolah hitam masih nempel di sana. Kaki Neng keram dan tegang. Setiap akan dibantu untuk dilepaskan. Si Neng berteriak kesakitan. Lengkingan suaranya sampai terdengar di ruang kelas paling ujung . Dimana kelas si Neng terletak di baris terdepan masih ada empat kelas lagi di belakangnya. Ada teman Neng yang berusaha untuk menarik kaki tersebut, Neng semakin berteriak histeris. Kami menutup telingga setiap Neng berteriak. 
Dalam kondisi seperti ini ada lima  orang teman Neng yang selalu setia dan siap siaga saat Neng pingsan dan kesurupan . Mereka sudah paham tindakan apa saja yang mesti mereka lakukan. Mereka sudah tau harus berbuat apa. Seperti saat ini dari kelima teman Neng langsung ada yang membaca Al-Qur’an sambil memegang salah satu tangan Neng. Yang satu lagi membimbing Neng untuk membacakan asma Allah. Seorang lagi siap dengan tas Neng dan obat-obatannya dan terakhir sang juri kunci, hehehe. Kebagian untuk mengurusi hubungan ke pihak sekolah, wali kelas, suster sekolah sampai mengubungi keluarga Neng.
Neng masih berteriak. Kata Iteng teman sebangku Neng, barusan Neng melihat anak kecil seperti tuyul berlarian di ruang kelas. Sontak saja semua penghuni kelas ini langsung berteriak dan berhamburan ke luar. Mereka ketakutan. Penghuni kelas ini kebanyakan  perempuan , kebayang bukan gimana hebohnya. Suara ketakutan di sana-sini diikuti dengan ekspresi wajah bingung, kian menambah mencekamnya suasana. Si Neng masih setia dengan bangku sekolahnya. 
Tak berapa lama, datang  salah satu temannya yang tergopoh-gopoh. Membawa dua buah bawang putih, yang ia peroleh dari dari tukang lotek yang berdagang di kantin sekolah. Menurut dia setan yang sekarang bersarang di dalam tubuh Neng akan menjauh karena mencium bau bawang ini. Setan tidak suka bau bawang. Aku cuma tersenyum mendengar penuturannya yang serius. Lalu ia meneruskan bahwa hal itu juga biasa dia lihat di film-film horor . Wah, ada-ada saja anak-anak ini.
Neng masih belum bisa kami atasi meski tangan dan kakinya kini penuh dengan bau bawang. Kegiatan belajar di kelas mendadak dihentikan. Dua orang guru berusaha untuk menenangkan Neng. Belum ada hasil. Aku mengambil inisiatif biarlah Neng di bawa ke ruang UKS saja agar tidak menganggu kelas lain dan menjadi tontonan orang banyak.
Kami mengangkat Neng berikut kursi yang ia duduki. Kami tidak ingin memaksa apalagi menyakiti Neng. Beberapa teman sekelas Neng yang berbadan tinggi besar berusaha mengangkat Neng beserta kursinya.
Dalam perjalanan dari kelas menuju ruangan UKS  yang berjarak lima  puluh meter. Neng masih saja berteriak dan mengoceh tak karuan. Setiap orang yang melihat kejadian ini seolah kaget dan  merinding. Meski kasus pingan Neng sudah menjadi biasa saja saking seringnya. Namun kali ini agak berbeda. Neng pingsan disertai teriakan dan bangku sekolah yang menempel. Bulu kudukku terasa berdiri dan desir darahku kian kuat. Aku merinding di pagi menjelang tengah hari ini. Neng berbeda hari ini, desisku!
Di ruang kesehatan Neng hanya ditemani lima orang sahabat karibnya. Guru-guru yang tadi berupaya menenangkan Neng secara bergantian mulai terlihat kewalahan. Ibu Manak hampir saja kena semburan air yang dilabrak Neng. Cepat sekali tindakan Neng. Pada saat ia berusaha untuk memberikan air itu sebagai penawar sakit . Kasur seketika basah. Hampir saja wajah ibu Manak tertampar  air yang sudah diberi jampi-jampi itu. 
Tiba-tiba Neng berteriak histeris, kami semua kaget. Kata temannya Neng baru saja didatangi arwah kakaknya yang baru satu sebulan meninggal. Ini teriakan histeris ke dua Neng. Jadi setiap melihat mahluk ghaib Neng langsung berteriak. Bulu kuduk kami kembali merinding. Teman Neng yang lain semakin memperkuat membaca ayat Al-Qur’an, Neng semakin berteriak. Meraung-raung. Waduh, sepertinya mahluk aneh yang ada di tubuh Neng tidak suka mendengarkan ayat Al-Qur’an. Aku meminta untuk meneruskan membaca ayat suci tersebut meski Neng makin berteriak . Nanti juga akan berhenti berteriak, pikirku.
“jadi gmana Mi? Neng makin mengamuk nih. Gak kuat kami memegangnya, tenaganya kuat sekali”
Aku melihat dua orang teman Neng berkeringat. Mereka mulai menanggis melihat kondisi Neng yang semakin sulit untuk ditenangkan. Neng meronta-ronta. Bunyi kursi berdenyit-deyit  membuat nyilu. Bagaimana ini, aku bingung juga, apa yang harus dilakukan. Kuatir  nanti ada korban. Bisa tambah gawat. 
Tiba-tiba datang megap-megap teman Neng yang lain, menyerahkan sebuah botol yang setelah aku amati dengan seksama. Botol tersebut adalah botol bekas  minuman keras. Aku buka tutupnya. Bau khas arak menyeruak hadir. Bentuk botol yang unik . Bisa kutebak seketika meski tulisan dibotol tersebut sudah hilang. Tak salah lagi ini minuman keras.
“gosokan dengan air yang ada di dalam botol ini. Saya baru ingat kalau di kolong meja Neng ada botol ini,” jelas teman Neng 

. Tanpa menunggu lama mereka langsung mengosok kaki Neng dengan air dari botol tersebut, sejurus kemudian kaki Neng yang tadi kaku dan tegang tak berapa lama bisa sedikit lentur dan dilepaskan dari kursi tersebut. Seperti sulap saja, Neng dipindahkan ke kasur. Aku terpana aneh. Air apa sih,  yang ada di dalam botol ini kok begitu ampuh membuat lentur kaki Neng yang dari tadi sangat susah untuk dilemaskan apalagi dilepaskan.
Lalu teman Neng menjelaskan bahwa air itu berisi air syarat? Maksudnya air syarat?Itu loh, air  yang sudah dibacakan mantra-mantra oleh dukun. Hah, aku melotot tak percaya. Oh, aku jadi ingat sekarang,  setelah kejadian si Neng kumat dua minggu yang lalu ketika berbicara dengan Bapaknya Neng. Sempat aku sarankan agar Neng segera diobati. Bapaknya mengatakan akan  membawa berobat si Neng. Dan ini mungkin pengobatan yang dimaksud Bapaknya Neng . Pantas saja Neng hampir dua minggu tidak kumat rupanya sudah ada penangkalnya.
“iya Mi, Neng tadi seharusnya begitu merasa sakit  segera mengoleskan air ini ke bagian yang sakit itu. Tapi karena tadi Neng sibuk belajar mempersiapkan diri untuk ujian di jam pelajaran berikutnya. Neng  tak menghiraukan  rasa sakit yang datang. Begini nih jadinya.” Terang si Upik, teman Neng.
Aku diam terpana bersama dua orang guru lain yang sedari tadi membantu kami menanggani Neng. Kali ini terpaksa Neng kami tenangkan dulu karena orang tua Neng sedang tidak bisa dihubungi. Biasanya begitu kumat si Neng langsung dibawak pulang oleh orang tuanya. 
Neng sudah agak tenang. Kupandangi wajah si Neng dalam. Rupanya yang cantik, putih , ada tahi lalat di atas bibirnya. Sungguh malang kamu Neng. Mengapa orang tua kamu tega melakukan hal ini kepada kamu. Bagaimana masa depan kamu kalau setiap saat kamu bisa kumat begini. Kamu masih muda. Aku tidak bisa membayangkan  jika Neng kumat dan pada saat itu tidak ada sahabat atau keluarga di dekatnya. Pasti sangat repot dan bikin susah orang banyak. Dari informasi temannya aku tahu bahwa si Neng memang diberi jimat oleh Bapaknya dengan maksud untuk melindungi Neng, tapi ternyata jimat itu sendiri sekarang yang menyiksa si Neng. Sungguh kasihan.
Tak berapa lama kemudian karena Neng sudah agak tenang guru-guru yang tadinya berdatangan mulai meninggalkan rungan. Teman si Neng yang lain  mulai belajar lagi  seperti biasa, namun ruang belajar kini pindah ke ruang perpustakaan  karena teman si Neng masih trauma dan takut kalau- kalau tuyul yang dilihat si Neng tadi masih berkeliaran di kelas. Lucunya anak-anak ini!
Kepada lima teman Neng yang setia aku minta untuk tetap berada di ruangan. Aku kuatir juga kalau  Neng kembali kumat. Orang tua Neng belum juga bisa dihubungi. Hari hampir menjelang sholat zuhur. Neng tertidur mungkin capek setelah tadi berteriak dan meronta.
Tiba tiba Neng bangun. Kami semua terperanjat kaget. Neng langsung duduk. Teman-temannya sekejap langsung mengelilingi  Neng. Ada yang menawarkan minum. Setelah Neng minum seteguk. Kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal. Kami makin kaget , air minum yang dipegang teman  Neng hampir jatuh. Teman Neng berusaha untuk menanyakan tapi  Neng tidak menjawab,  malah semakin tertawa terpingkal-pingkal. Kami bertambah  kaget dan takut. Kami saling pandang dengan tatapan bingung. Sekaligus cemas.
Sedetik kemudian kami melihat Neng seolah berubah menjadi seorang  Nenek yang usianya sudah tua dan reyot. Pipinya seolah keriput dan mulutnya langsung dower seperti nenek-nenek kebanyakan yang kita ketemui. Kami saling pandang, menebak apa yang sedang terjadi dengan Neng. Semakin dilihat ke muka Neng semakin kami seolah melihat sosok Nenek-nenek yang yang sudah tua , penuh keriput. Mulut Neng monyong ke kiri dan ke kanan. Pipinya terlihat kempot. Geli melihatnya,  tapi juga bingung. Lebih tepatnya takut!
Tingkah laku Neng juga berubah seperti Nenek-nenek. Lalu temannya bertanya. Apa yang sedang terjadi Neng tidak menjawab.
“aku cantik kan?”
Kami saling pandang, bingung. Tidak tahu mesti berkata apa!
“iya cantik tapi lebih cantik lagi kalau kamu senyum” jawab salah satu teman Neng 
“eh, ini wajah aku memang cantik kok! Banyak yang suka dengan aku loh!”
Hah, kami semakin terperanjat. Mau tertawa, lucu tapi  takut,  merinding. Pertunjukan apa yang sedang  Neng pertontonkan kepada kami. Aku membaca istiqfar berkali-kali dalam hati. Sekali lagi, mau tertawa nanti salah, gak ketawa tapi ini kondisi lucu sekali.
Aku menyodorkn kaca kepada Neng. Dia kaget . Matanya melotot.  “Ih, jelek sekali kayak nenek lampir yang di film horor” Ucap Neng. Lalu berteriak kencang sekali. Kami hampir melompat mendengar teriakan Neng. Bulu kudukku kembali merinding di siang bolong begini.
“oh, tidak bisa! Kan aku udah pake pemutih kok wajahku jadi hitam dan keriput begini” Neng Ngoceh dengan logat seperti di Televisi.
Asli yang ini kami tidak kuat lagi menahan ketawa, melihat ekspresi Neng. Apalagi ketika Neng kaget  berteriak  melihat mukanya yang sebetulnya gak  hitam apalagi keriput. Neng kan masih 17 tahun. Masa keriput.
Buru-buru temannya  mengambil kaca tersebut, ternyata menyodorkan kaca itu bukan solusi yang  baik. Neng masih saja bertingkah seperti Nenek-nenek.  Tapi kali ini sudah sedikit tenang setelah temannya  mengeluarkan bedak dan dipakaikan ke wajah Neng. Mereka menyakinkan kepada Neng bahwa dia cantik dan tidak keriput. Bahwa Neng akan baik-baik  saja karena bedak yang diberikan tersebut sudah mengandung pemutih. 
Hampir satu jam Neng bertingkah seperti ini. Heboh dengan wajahnya yang hitam dan keriput. Kami melayani Neng sambil tersenyum geli. Lalu Neng kembali pingsan. Dioleskan lagi dengar air dalam botol minuman keras tadi Neng sadar. Ketika sadar itu Neng sama sekali tidak mengingat apa saja yang barusan ia alami. Kami hanya tersenyum. Teman Neng menjelaskan kronologisnya. Setelah Neng tenang , aku hanya memastikan kepada Neng mengapa dia sering kumat begitu ternyata memang Neng jarang sekali sholat dan suka melamun . Saat ini pun Neng sedang menstruasi dan otomatis tidak melakukan kegiatan ibadah apa pun. 
Ada – ada saja kejadian  siang ini. Ada rasa takut namun geli. Begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil dari si Neng yang menjadi korban Bapaknya sendiri karena jimat. Mengapa kita tidak mempercayai ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Bukankah syirik itu dosa besar. Hanya kapada Allah SWT tempat kita berserah diri. (Kisah Anak Muridku yang Menjadi Korban Jimat Bapaknya)


Diberdayakan oleh Blogger.