Menu

Rabu, 29 Januari 2014

/ /


Assalammu'alaikum Wr. Wb

Hello teman-teman, sedang marak soal imunisasi dan vaksin ya. Saya mau berbagi cerita dari sebuah tulisan yang saya baca. Isinya banyak informasi. Barangkali bisa mendatangkan inspirasi. Kita belajar bersama yuk!

Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.
Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.

Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.

Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

“Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.

Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:


“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.

She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”


Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.

Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin modern yang dipergunakan saat ini memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :

- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/
- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm
- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari dilanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.

Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.

*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”


Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah informasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”

Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar langsung dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”

Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?

Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wilayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:

“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”


Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah MEYAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kewajiban untuk mengkaji dan telaah.

Saya dan barisan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

Pada bagian akhir penulis menyampaikan, “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab, “Betul sekali. Mari silakan menilai, megkaji dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun bahan kimia didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.


sumber

http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

Minggu, 26 Januari 2014

/ /
 Arti Maskot Hari Pers Nasional (HPN) di Bengkulu 2014


Maskot HPN 2014 menggambarkan bunga Rafflesia yang tangan kanannya sedang memegang sebuah pena yang terbuat dari tangkai bunga dan tangan kirinya mengacungkan jempol. Warna maskot oranye kecoklatan menyesuaikan dengan warna bunga Rafflesia. Selain itu, di bawah maskot juga dilekatkan tulisan “Pers Sehat Rakyat Berdaulat”, yang menjadi semboyan HPN 2014.



Bunga Rafflesia dipilih menjadi maskot HPN 2014, karena bunga Rafflesia identik dengan Provinsi Bengkulu juga untuk mempromosikan bunga ini sebagai puspa langka yang keberadaannya masih dapat ditemui di Provinsi ini.



Simbol pena pada maskot HPN 2014 melambangkan eksistensi dari insan pers yang senantiasa berupaya menjadi insan pers yang sehat untuk mewujudkan rakyat yang berdaulat. 


Bunga Rafflesia dan tatakan emas didaulat oleh pemerintah Provinsi Bengkulu menjadi maskot Hari Pers Nasional (HPN) pada tanggal 9 Februari 2014. Kedua lambang ini dianggap sangat mewakili dari ciri khas lokalitas provinsi Bengkulu sebagai tuan rumah. 

Selain itu bunga Rafflesia sangat identik dengan Bengkulu. Sedangkan tatakan dari emas melambangkan bahwa Bengkulu pada dahulu kala merupakan penghasil emas. Hal ini dapat kita lihat pada puncak monumen Nasional (Monas) yang ada di Jakarta, emas dari Bengkulu menghiasi puncak Monas tersebut. (Milda Ini)
 






/ /
Makna Logo Hari Pers Nasional



Untuk mendukung suksesnya acara, Logo dan maskot HPN 2014 . Yang akan dilaksanakan di provinsi Bengkulu. Pada tanggal 1 - 10 Februari 2014. Pun akan diluncurkan. Logo HPN 2013 berupa tulisan besar HPN dengan warna pelangi dan dibawahnya ada tulisan Hari Pers Nasional serta Bengkulu 2014.
/ /
Cerpen Milda Ini. Pujangga Kedurang

  
                                        

 

 PujanggaKedurang

Milda Ini

Tepat jam sembilan pagi aku sampai di terminal Pasar Atas kota Manna, yang merupakan ibu kota kabupaten Bengkulu Selatan.  Udara pagi menyapaku. Aku bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke arah timur kota ini dengan menggunakan angkutan desa menuju Kedurang. Pulang ke kampung halaman di dusun Nanti Agung. Kuperkirakan akan memakan waktu sekitar satu jam lagi, baru bisa rehat di rumah.
Kali ini kepulanganku tak  tak lama, hanya ingin  mencari udara segar sejenak disela-sela sibuk mengejar skripsi. Ya, mumet aku dibuatnya. Mobil mulai melaju, memasuki  daerah Kedurang. Dari awal perjalanan tersaji pemandangan yang sangat indah, di sepanjang jalan terlihat pantai yang elok dengan batu-batuan yang indah. Itu loh, batu hias yang sering digunakan  orang untuk membuat taman, bentuknya bulat bewarna putih ada bintik-bintik hitam. Orang  menyebutnya batu telur puyuh. Banyak terdapat di pantai Muare Kedurang.
 Dulu sewaktu sekolah dan belum merantau. Maklum di Kedurang hanya terdapat satu sekolah setingkat SMA. Aku juga suka ikut mengambil batu ini di pantai. Lumayan untuk nambahin uang jajan. Kerjanya cuma saat liburan sekolah saja. Batu tersebut dijual bukan saja di  Bengkulu dan sekitarnya bahkan  sampai ke  pulau  Jawa. Harganya menjadi mahal setelah sampai di sana.
Angdes begerak perlahan memasuki dusun , melewati dusun Durian Sebatang baru dusun Nanti Agung. Entahlah dari kecil dulu aku sering bertanya kenapa dinamakan dusun  Nanti Agung.  .  “ Nanti dusun ini bakal Agung “ jelas Bak, suatu hari.
Angdes berhenti  tepat di depan rumahku. Ini adalah ciri perkampungan khas Indonesia. Rumah penduduk berjejer di sepanjang aliran sungai. Pemukiman penduduk di Kedurang juga mengikuti pola tersebut, rumah kami bebaris menghadap jalan.  
Aku tiba di rumah, lega rasanya. Memang di antara sekian banyak rumah, hanya rumah kami yang agak berbeda. Itu karena bapak adalah ketua adat atau sekelas kepala dusunlah. Gelar kepala adat ini sudah turun temurun disandang keluarga besarku. Mungkin nanti akan diturunkan juga kepadaku, jika aku menetap di dusun ini, hehehe!
Aku disambut dengan suka cita, seperti sudah lama tak berjumpa denganku. Setelah bercengkrama tak terasa sudah masuk waktu Zuhur, aku bergegas salat di musholah. Masih seperti dulu, hanya beberapa orang saja yang sempat berjama’ah .
“Kapan pulang Kang?” tanya seorang Datuk
“Sudah selesai kau kuliah?” lanjutnya lagi
Aku menoleh meraih sumber suara, aku salami Datuk dengan lembut.
 “ Baru datang tadi sebelum zuhur. Belum wisuda aku Tuk, mohon do’anya ya “
Terlihat wajah mendung di wajah Datuk tadi. Namun aku tak sempat bertanya-tanya. Kenapa dia yang bersedih.
@@@.
Alhamdulilah meski ini dusun, listrik sudah masuk  , hanya dusun  Batu Ampar yang  masih menggunakan listrik tenaga surya akibat belum terhubungnya jaringan listrik antara dusun Rantau Sialang dengan dusun Batu Ampar. Siaran televisi pun mulai beragam kebanyakkan memang masih menggunakan antena parabola.
Usai Maghrib, Emak menyiapkan kami gulai ikan Mungkus, bau sedapnya menjalar-jalar di urat saraf hidungku, mengais-ngais. Ini merupakan makanan kesukaanku. Selalu rindu dengan masakan ini. Tak ada duanya, di tempat lain pun tak kutemukan. Bahkan di belahan dunia sana. Ikan air tawar yanga hanya ditemukan di sungai Kedurang. Mamang Alim datang, ikut makan bersama kami, dia datang bersama dengan Ibung Sami dan dua anakknya.
“ La, belum juga selesai Kakang ni kuliah. Kapan lagi. La delapan orang sarjana yang ada di dusun kita ini. Walau tidak semua dari mereka  mengabdi di dusun ini. Maklum lapangan kerja tak ada yang cocok dengan ijazah mereka. Tak apa asalkan tetap mengharumkan desa ini. “ Urai adik Bak yang satu ini berpanjangan. Mengetahui kalau aku belum wisuda.
Kulihat Bak mengusap mukanya yang penuh keriput, desah napas berbau tembakau itu terlihat sangat letih. Aku pun tak tau mengapa Bak sangat mencemaskan skripsiku. Padahal insya Allah bulan Juni aku wisuda. Kenapa Bak sangat mengkuatirkan semua ini. Secara usia aku juga masih muda. Belum terlalu tua untuk disebut mahasiswa abadi. Jangan-jangan Bak sudah mau mengambil menantu ya, pikirku sambil terkekeh sendiri.
Mulai tak terasa sedap gulai ikan Mungkus di lidahku kali ini,  melihat gelagat Bak. Aku menyomot sepotong kue Bipang. Campuran beras ketan dan gula arennya membuat kue ini terasa nikmat di santap. Tak terasa sudah tiga potong kue  ini kumakan. Namun tiba-tiba perutku mules, aku segera belari ke dapur. Mengamankan pencernaanku.
Tak lama aku mendengar ocehan mereka, sayup-sayup aku mendekat , nguping dari balik bilik dapur.
“Bagaimana ini , Julis belum tamat  juga. Bisa kacau urusan kita. Cuma menungu dia saja lagi. Sudah bertahun-tahun ini , Kak!“ ucap Mamang Alim
Aku tercekat, maksudnya apa ya, menunggu bertahun-tahun dan itu semua dialamatkan kepadaku. Aku mulai merapatkan dan membersihkan daun telingaku, agar bisa menyerap informasi lebih banyak. Mereka menunggu aku.  Aha, sepertinya ada yang mulai  tak beres, tapi karena apa. Aku belum menemukan jawabannya.
Agaknya kepulangaku kali ini menjadi hot topik di dusun ini, kulirik Emak yang duduk di pojok beranda. Sambil berbincang dengan Ibung. Mereka  makan sirih dengan asik,  terlihat mulut mereka kemerahan akibat campuran sirih, kapur dan ramuan lainnya.  Tapi gigi mereka kuat meski sudah tua, masih kuat untuk makan daging dan yang keras-keras. Kalah dengan gigi odol kepunyaanku, hehehe!
                                                                        @@@
Malam ini cuaca Kedurang terasa makin panas, bukan karena lokasi dusun ini yang berdekatan dengan pantai. Tapi karena pikiranku yang kalut. Aku membuka jendela kamar. Terlihat bulan seolah menyapa. Rumah panggung ini menjadi sangat berguna untuk melihat situasi keadaan di bawah sana. Jalan-jalan sudah mulai sepi. Sebagian lampu rumah penduduk mulai dimatikan. Hari hampir berganti waktu. Aku tak bisa tidur. Percakapan Bak dan Mamang tadi mengusik tubuh letihku. Aku seolah usai minum dua gelas kopi. Adrenalinku mendadak meningkat dan hasilnya, sudah berbolak-balik aku tak bisa tidur. Ucapan Bak dengan Mamang Alim terngiang selalu. Dan, semua itu semakin membuat cuaca di malam ini bertambah panas.
“ Kapan lagi , ini la terlalu lama, jangan sampai leluhur kita nanti marah. Bujuklah Kakang Julis tuh supaya cepat selesai kuliahnya. Biar aman desa kita ini. “ serang Mamang Alim.
“Menunggu yang lain masih terlalu lama , paling rendah di bawah Julis itu mereka baru kuliah semester empat. Itu artinya kita akan menunggu lama lagi. Iya kalo Kakak ada kesempatan  waktu dan umur”  lanjut Mamang Alim.
Sebenarnya apa yang disembunyikan mereka , aku semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Aku mencoba menganalisa dan mengkait-kaitkan. Lama aku tertegun di kamar, matahari fajar segera datang, usai salat subuh di musholah. Aku berjalan-jalan mengitari kampung, tak ingin segera pulang. Aku ingin bertandang ke rumah Datuk. Dalam perjalanan aku di sapa banyak orang, mereka semua bertanya hal yang sama kapan aku di wisuda.  Waduh! Pertanyaan biasa namun menjadi luar biasa di tengah situasi aku seperti saat ini. Ingin rasanya segera mengubur badan ke dalam bumi, saking penaknya!
“ Do’akan ya, secepatnya! Insya Allah , dua bulan lagi “ jawabku sambil tersenyum mendengar sapaan dan pertanyaan mereka.
Sampai di rumah Datuk, tak kujumpai lelaki tua itu. “ Datuk sudah ke sawah Kang, susul saja jikalau perlu. Masih ingatkan jalan menuju sawah” jawab Niniak ramah.
“ Kau kemari mau memberi kabar kapan kau wisuda bukan?” Aduh Niniak pertanyaan itu lagi. Apakah persoalan kapan aku wisuda sudah menjadi pertanyaan wajib setiap orang di dusun ini. Tidak tua, muda, bahkan anak kecil pun ketika pertama kali aku pulang ke sini, menaiki Angdes.  “Kakang Julis, kapan wisudanya?” . Aaarrrrrggghh, pusing aku dibuatnya, makiku pada diri sendiri.
Ingin sekali aku menuju sawah ,menyusul Datuk. Curhat dengan Datuk! Namun rasa lapar yang melilit membuat aku mengurungkan niat. Matahari mulai tampak.  Usai pamitan dengan Niniak aku bergegas pulang . Ketika sampai di rumah, aku berpapasan dengan Mamang Alim, rupanya beliau usai berbincang-bincang dengan Bak. Kedatanganku sepertinya membuat mereka terpaksa untuk berhenti ngobrol. Aku berlalu, menuju ruang tengah.
“Makanlah Kang, ini beras Seginim baru petang semalam Mak beli. Masih hangat keluar dari heler padi. “
Iya beras  daerah Seginim  sangatlah terkenal di wilayah Bengkulu Selatan ini bahkan sampai ke kota Bengkulu.  Letaknya sangat dekat dengan Kedurang di perbatasan barat dengan kecamatan Air Napis. Berasnya bersih, kalau ditanak menjadi sangat harum. Rasanya gurih. Cukup dimakan dengan sambal caluk saja, makan bertambah lahap, apalagi kalau dimakan di pondok sawah, dihembus angin sepoi-sepoi.  Wah, dunia berasa indah. Pekerjaan mengusir burung di sawah menjadi sangat ringan.
Aku nyeruput kopi hitam buatan Mak, rasanya mendadak pahit. Apakah aku sakit, apa memang kopi ini lupa berikan gula. Aku menelan ludah lalu  berlari ke dapur.
“Ada apa Kang, kok kepulangan kau kali ini tidak seperti biasanya. Kau  terlihat gelisah. Seperti ada yang kau sembunyikan. Ceritalah dengan Mak, duhai anak Mak yang gagah”
Aku mendekat, duduk persis di sebelah Mak, jika tak malu dengan usia, rasanya ingin sekali aku merebahkan tubuhku di pangkuan Mak. Sembari Mak mengusap rambutku dengan lembut. Ya, seperti aku kanak-kanak dulu.
“Mak, aku malu , semua orang tengah membicarakanku “
“Soal apa? “ tanya Mak
“Kapan aku wisuda? “
 “ Lalu, apa masalahmu” tanya Mak lagi
Sekonyong-konyong terdengar suara serak Bak mendekat
“Kapan kita ke Bengkulu, Bak mau bertemu dengan dosen kau. “
“ Untuk apa Bak” tanyaku cepat
“ Mempertanyakan bagian mana yang sulit dari skripsimu dan mengapa kau lambat sekali wisuda. Biar Bak selesaikan dengan beliau. Jikalau perlu kita kasihlah dia buah tangan “
“ Apa! Menyogok maksud Bak!” Aku terperancat. Oh, ini tidak bisa dibiarkan. Bakal gawat urusannya nanti.
 “ Biasa aja itu , zaman sekarang dosen membantu skripsi anak didiknya. Malah ada yang memang dosennya yang mengerjakan. Nanti tinggal dibayar jasanya “ terang Bak.
Haduh, apa yang sedang merasuki pikiran Bak . Aku harus segera bertindak sebelum semuanya menjadi tambah sulit. Aku harus segera pulang ke kampus , desisku.
“Wah, kalau dengan cara begitu Kakang tidak setuju Bak, bagaimana pun juga skripsi itu adalah tugas dan tanggujawab mahasiswa”
“Tapi sampai kapan kami menunggumu, kalau ada cara pintas kenapa harus menggunakan cara lambat. Yang penting kamu wisuda dapat gelar sarjana’ suara Bak mulai meninggi.
Aku istiqfar berkali, kali.  Bak meninggalkan kami sejenak lalu datang lagi.
“Ini uang untuk kau berikan kepada dosenmu, pastikan dia yang menerima langsung sehingga urusan skripsimu cepat selesai. Bak tak mau tahu lagi urusan skripsimu ini.  ” suara Bak kian meninggi.
“Jangan Bak, jangan lakukan itu. Biar semua urusan ini aku yang selesaikan. Lagipula tak lama lagi, insya Allah masih ada waktu. Mana mau dosennya Bak, menyuap itu perbuatan dosa!” jelasku hati-hati, badanku gemetaran. Takut Bak marah.
“Uang ini sudah lama Bak siapkan sejak 6 bulan lalu kau pulang terakhir kali. Bak pikir kepulangan kau kali ini akan mengabarkan kapan kau di wisuda, tapi sekali lagi kau mengecewakan kami. “ gerutu Bak.
Aku tertunduk, melirik Mak yang cuma diam. Tak ada pembelaan.
“ Kalau begitu, Kau harus berusaha dan berjanji!” suara Bak kian meninggi.
Aku menggeleng kuat. Bak meminta aku berjanji, itu yang berat. Aku mendadak anemia, badanku lunglai. Apa! Aku telah mengecewakan Bak. Skripsiku yang jadi tumbal kemarahan Bak.  Tapi tak ada jalan lain. Perjanjian adalah satu-satunya solusi saat ini, urusan yang lain nantilah kita pikirkan. Aku tak mau Bak berdosa dengan urusan sogok - menyogok ini, lagipula aku malu  masa urusan skripsi saja mesti orang tua yang turun tangan.
“ Baiklah Bak, dua bulan lagi Insya Allah, aku di wisuda. Aku berjanji Bak!” ucapku mantap.  
“ Pegang janji kau Julis!! Besok lusa kau balik ke Bengkulu biar Mamang Alim  yang ngantar “ Aku tak bisa berkata apa.
                                                                        ####
Dua bulan aku berjuang untuk skripsiku. Janji dengan Bak segera ingin aku tunaikan. Ya, hari ini Alhamdulillah aku berlepas diri dari soalan skripsi. Aku bisa memenuhi ucapanku dengan Bak. Masa wisuda akan segera datang. Kabar baik ini sudah aku kirimkan ke dusun. Hari ini adalah kepulanganku untuk menjemput mereka mendampingi aku menggunakan toga sekitar sepekan lagi.
            Aku sampai di rumah, namun kulihat orang-orang sangat ramai berkunjung ke rumah. Apa ada pesta yang akan digelar Bak dan Mak di rumah. Tapi kenapa mereka tidak memberitahuku tentang ini semua. Lagipula jika hanya untuk menyambut keberhasilanku diwisuda, rasanya acara ini sangatlah berlebihan. Semua mata memandangiku, melayangkan senyum atas kedatanganku. Aku membalas semua senyum dan tatapan mereka dengan ramah sekaligus risih.
            Aku lihat orang-orang ada yang memasang tabir, menggantung tirai, membelah kayu api, sebagian lagi menegakkan bubungan. Rupanya akan ada pesta besar, pikirku. Di samping rumah kulihat para wanita sedang menyiapkan priuk belanga. Mulai bertanak-memasak. Mengukus-membakar aneka juadah penyaram sejenis makanan yang terbuat dari adonan pisang dan gandum, kue Bajik sudah tercetak di talam dengan rapi.
Aku semakin bingung, segera kutemui Bak . Kulihat ada sembilan ekor sapi tertambat di halaman samping. Wah, rupanya akan diadakan pesta besar-besarn, pikirku. Tapi darimana Bak menyiapkan dana ini semua. Ini butuh modal besar, harga sapi saja sekarang sudah sangat mahal.
            “ Acara apa ini Bak, Mak! Acara wisudaku masih sepekan lagi,” tanyaku bingung
Bak menyeringai, “ Kau tak perlu gusar. Biasa saja acara ini, untuk menyambut keberhasilan wisudamu. Besok acara puncaknya. Kau ikuti saja. Inilah adat kita “ jelas Bak santai
                                                            ####
Ghumah Panggung kami penuh sesak, tamu sudah mulai berdatangan. Berhimpitan, bercampur baur lelaki dan perempuan. Kanak-kanak, berlarian bermain tanpa hirau. Aku duduk berdiam diri tak mengerti. Sesekali berdiri dan menyalami para tetamu yang datang. Mereka hangat sekali menyapaku, aku jadi sangat tersanjung tapi tetap saja bingung. Barisan dayang belai, sudah berbaris di kursi bagian depan. Mereka tampak rapi dan indah, memakai pakaian yang tidak biasanya. Begitu terasa sangat istimewa wisudaku kali ini, gumamku.
“Selamat ya Kang, akhirnya tertunai sudah hari ini. Semoga semua berjalan  lancar” Salam Datuk menjabat erat tanganku dan memelukku kuat. Aku membalas semuanya dengan tadzim.
 “ Iya Atuk, tapi ini rasanya sangat berlebihan. Masa hanya untuk wisudaku” serangku
Datuk tersenyum, terpapar gigi merah menyirihnya, “ Kau patut bersyukur, hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu Bak dan keluarga besar kita Kang”.
Tiba-tiba terdengar suara Mang Alim dari alat pengeras suara, tanda acara akan segera dimulai.
Mamang Alim, naik ke panggung, “ Alhamdulillah, hari yang telah kita tunggu selama hampir 30 tahun ini. Akan segera kita tunaikan sebentar lagi, “ Ucapnya lantang sembari disambut tepukan dan suara gemuruh para tetamu.
“Depati Reslan dan Kang Julis yang akan memimpin langsung acara ini, bersiaplah segera alat perkakas kita untuk dibawa ke kawah” Mendengar itu aku terperanjat, apa yang harus aku pimpin, dan kenapa harus ke kawah. Bukankah itu daerah pemakaman para nenek moyang kami. Tak sempat berpikir lagi, Datuk telah menyeretku berjalan dan diikuti oleh Bak dan keluarga yang lain. Aku terpaksa, meski bingung.
Lalu orang-orang membawa sembilan ekor sapi dan alat perkakas untuk memotong sapi. Semua tamu serentak berjalan mengikuti kami dari belakang. Setelah berjalan sekitar lima belas menit. Sampailah kami ke kawasan kawah, tanah kuburan. Rupanya di sana juga sudah menunggu beberapa orang yang sudah siap dengan perlengkapan hendak memotong hewan, ya, seperti layaknya perayaan kurban. Aku tercenggang.
Rombongan kami siap sedia, acara akan dilanjutkan, semua pasang mata sudah siap dengan tugas mereka masing-masing, aku menunggu tahapan selanjutnya dengan perasaan campur aduk.
“ Saksikan wahai kau nenek moyang kami. Hari ini akan kami tunaikan janji anak cucu ini kepada engkau. Kami pastikan bahwa desa ini akan Agung seperti namanya Nanti Agung. Sesuai sumpah leluhur kami, akan ada banyak pujangga dari dusun Nanti  Agung ini akan meraih gelar sarjana. Maka pada hari ini sudah harusnya kami tunaikan janji ini. Sudah ada sembilan pujangga dusun ini yang menjadi sarjana. Dan pada hari ini kami persembahkan sembilan sapi ini untuk janji tersebut “ mendengar penjelasan Bak, kepalaku semakin berdenyit.
Oh, inikah alasan mendesak Bak memaksa aku untuk diwisuda, karena ingin segera menunaikan janji ini kepada para leluhurnya. Oh, apakah bak tidak tau hukum menyembelih binatang di kuburan, ini dosa, mengapa ini bisa terjadi, pikirku. Aku menggamit tangan Datuk
“ Tuk, mengapa harus menyembelih sapi ini di kuburan, bukankah ini perbuatan syirik. Dosa besar tuk “
Datuk menggeleng, ‘” Ini dilakukan untuk memunaikan janji, agar para leluhur kita tidak marah. Dulu dusun kita selalu dihina dilecehkan oleh dusun seberang, oleh karena itu ketika terjadi perang mulut, terucaplah sumpah itu, jika nanti sudah terdapat sembilan orang sarjana di dusun kita, maka kita akan memotong sapi sembilan ekor.”
“ Tapi mengapa harus di kuburan Tuk memotongnya “ aku pusing melihat kondisi ini, apalah artinya wisudaku jika dirayakan dengan acara syirik seperti ini. Pikiranku berkecamuk, rasanya ingin berlari, namun entah kemana. Aku sebagai anak yang berpendidikan tak bisa mengajak dan memberitahu Bak, apalagi mencegah perbuatan ini.
Sembilan sapi tersebut, sudah siap akan dipotong. Mereka terikat terpaksa mengikuti tali tambatan. Tiba-tiba hapeku berdering, kulihat semua nomer yang sangat dikenal dan ada dua sms yang masuk. Kuangkat di tengah riuh suara tetamu . Mendengar kabar di seberang luluh lantaklah badanku. Tak kuasa aku menjawab dan bertanya lebih banyak lagi. Dengan tangan gemetar kutunjukkan isi pesan singkat itu kepada datuk. Segera dia membacanya.
“ Julis, ini kabar buruk . Kau tidak jadi di wisuda minggu depan karena kau ketahuan menyogok dosen pada saat sidang seminar. Skripsimu dibatalkan.”
Aku terpekik kencang , “ Tidaaaaaaaaaaaaaaaak, apakah ini hukuman darimu ya Allah aku tersungkur!”
Siapa yang tega  melakukan hal ini kepadaku, Bak , Mang Alim atau siapa?
Dan semua mata terperanjat langsung melihatku. Dan sms di hapeku bergiliran dibaca oleh semua orang. Langit mendung menyelimuti Kedurang, semua orang berkata “ Tak jadi Julis di Wisuda?”
Aku tersungkur, berpelukan dengan tanah. Kedurang semakin terasa panas.

( Salah satu cerpen di dalam buku kumcer Sebait Kisah Dari Bengkulu, masih banyak cerpen menarik lainnya yang wajib kamu baca sebagai obat rindu terhadap Bengkulu)


Telah Terbit : Kumcer Sebait Kisah Dari Bengkulu


TELAH TERBIT

Kumpulan Cerpen Sebait Kisah Dari Bengkulu

ISBN: 978-602-225-786-8

Terbit: Januari 2014

Halaman : 142, BW : 142, Warna : 0

Harga: Rp. 33.800,00

Design Kover : Alam Terkembang

Penerbit : Leutika Prio

Penulis
1. Milda Ini
2. Vanie Muslimah
3. Junita Susanti
4. Eka Susmiati
5. Eka Afriani
6. Vivin Yoansyah
7. Arifatul Umyu
8. Arina Ilmah
9. Salawati Muchtar
10. Puspita Yudaningrum
11. Srihardiyanti
12. Rumasi Pasaribu


Apa kata mereka ...Endorsement

“Buku ini sebagai bentuk cinta FLP, bahwa Bengkulu itu kaya dan sangat indah. Alam yang menawan, kuliner, sosial budaya, sejarah, dan banyak hal yang tak bisa kau lupakan. Yang harus kita jaga dan lestarikan. Jika kau rindu akan Bumi Rafflesia, mari bergegas membaca buku ini, maka rindumu akan terurai. Jangan kau tahan rindu itu!” (Milda Ini, Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena, Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Bengkulu)

Di tengah kehidupan yang kian keras, penuh dengan kezaliman dan serba hedonis, cerpen-cerpen dalam buku ini sangat bagus untuk dibaca. Di samping sarat dengan sindiran akan fenomena buruk di atas, cerita-ceritanya sangat menyentuh jiwa, menghidupkan perasaan, membangun empati, dan melembutkan hati. (K.H. M. Syamlan, Penulis dan Tokoh Agama Bengkulu, Pembina FLP Wilayah Bengkulu)

Sebuah konstruksi dari kegelisahan rasa kembali dicetuskan oleh kawan-kawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Bengkulu mengawali perjalanan tahun 2013, yaitu dengan dilahirkannya sebuah antologi cerpen yang diberi judul: Sebait Kisah dari Bengkulu. Antologi cerpen yang sarat dengan nuansa kelokalan ini menandakan perasaan serta kesadaran yang mendalam tentang pentingnya arti sebuah kultuurgebundenheid (latar belakang kebudayaan) maupun zeitgebundenheid (latar belakang jiwa–semangat zaman) dari para penulisnya. (Agus Setiyanto, Dosen dan Sejarawan Bengkulu, Pembina FLP Wilayah Bengkulu)


Khazanah budaya dan kehidupan masyarakat Bengkulu begitu beragam. Melalui kumpulan cerpen ini, para penulis berhasil mengangkat kembali budaya dan sisi kehidupan yang ada. Semoga kumcer ini bisa menjadi pemicu bagi kita semua untuk terus menghidupkan budaya dan kepedulian di sekitar kita. (M. Firdaus, S.P., M.M., Wartawan Senior Bengkulu, Pembina FLP Wilayah Bengkulu)


Membaca tulisan-tulisan karya sastra berupa Antologi Cerpen Sebait Kisah dari Bengkulu ini memunculkan secercah harapan bahwa negeri ini, terkhusus Provinsi Bengkulu, masih memiliki harapan untuk memiliki generasi-generasi yang terbaik. Harapan itu masih ada. Tulisan ini menjadi simbol bahwa Bengkulu itu kaya dengan budaya dan sejarah. (H. Dani Hamdani, M.Pd., Praktisi Pendidikan Fungsional Dinas Diknas Kota Bengkulu, Pembina FLP Wilayah Bengkulu)

Bengkulu memiliki keragaman budaya. Ini terlihat dari cerita yang ditampilkan dalam buku Sebait Kisah dari Bengkulu. Ditata begitu apik dengan berbagai konflik dan permasalahan yang ada sehingga mewakili realitas masyarakat Bengkulu itu sendiri. Selayaknya dunia literasi mengangkat kisah tiap daerah untuk memperkenalkan budaya, yang tak semua orang mengetahuinya. Tulisan ini memberitahukan kepada kita tentang Bengkulu. Majulah penulis Bengkulu! Teruslah berkarya! (drh. Agnes Majestika, Penulis dan Birokrat, Pembina FLP Wilayah Bengkulu)

Yang Berminat, silakan hubungi
Milda Ini
Hp 082177993000/085758368578
Diberdayakan oleh Blogger.