Menu

Rabu, 24 Juli 2019

/
Assalammualaikum.Wr.Wb

www.mildaini.com_Memilih Sekolah Untuk Anak . Anak kedua kami Athifah tidak bersekolah di SDIT seperti kakak Nawra. Anak kedua kami ini, sekolah di MIN. Yah, sekolah dasar di bawah naungan kemenag. Pilihan sekolah untuk Athifah di MIN ini tentu ssaja dengan berbagai pertimbangan.

Bagi kami pendidikan adalah penting. Karen itu saat menentukan atau memilih sekolah, kami tidak hanya berfokus pada minat atau keinginan kami sebagai roang tua. Tapi juga mempertimbangkan keinginan anak juga. tentu saja ingin ini juga banyak petimbangannya juga.

Sebelumnya saya mau cerita dulu ya. Jadi si anak kedua ini lahir pada saat saya resign dari sekolah. Saya memilih berhenti bekerja untuk fokus dengan kehamilan dan merawat anak. Saat berhenti kerja, usia kehamilan saya hampir lima bulan.

Athifah si Anak MIN (foto Milda)


Kenapa saya berhenti bekerja, sebab saat itu kondisinya saya lama untuk hamil lagi. Jarang antara  Athifah dan kakaknya hampir enam tahun lebih. Cukup jauh, bukan.

Jadi keputusan untuk fokus dengan kehamilan dan kelahiran adalah sebuah pilihan saat itu. Dikarenakan sebelumnya di tahun 2009 saya sempat keguguran anak kedua. Jika dihitung dari tahun kelahiran si kakak maka jarak mereka enam tahun. tapi jika dihitung dari si kakak yang meninggal dalam kandungan ini, jarak mereka tiga tahun. Alhamdulillah anak kedua ini, berjenis kelamin laki-laki. Meski akhirnya meninggal di dalam kandungan pada usia lima bulan.

Nah, si Athifah ini tumbuh dan berkembang di bawah pengasuhan saya langsung. Saya benaran pegang dia secara langsung.

Jadi karena di bawah pengasuhan saya langsung. Bounding antara saya dan Athifah sangat dekat. Dia akan meminta berkali-kali dipeluk, diucapkan kata sayang dan cinta bahkan digendong

Sekarang aja bangun tidur masih harus digendong dulu dari kamara. Lalu dibawa ke ruang keluarga. Biasanya sambung tidur lagi, tapi tidak begitu pulas.
Kalo seharian saya lumayan sibuk. Maka sore atai malam menjelang tidur. Dia akan bercerita dan protes.

Apalagi sampai berhari-hari saya tidak melakukan aktivitas bersama. Dia akan protes dan berceloteh

Sudah lama Ummi , ngak main sama Apha

Apha itu panggilan sayang saya untuk Athifah.

Biasanya dalam sehari saya akan memanggil-manggil nama Apha berkali-kali meski hanya sekedar memanggil saja.

Apha juga akan ikutan tinggal jika hendak bepergian. Eh, saya ngak ikutan. Dia selalu punya alasan untuk menemani Ummi atau dia suka bilang, kasihan Ummi sendirian.


Di antara kakak dan adiknya Athifah lebih sensitif dan punya empati yang lebih besar kepada saya atau kepada Abahnya.

Nah, dengan alasan itu. Salah satunya yah. Maka kami tidak menyekolahkan Athifah di SDIT yang notabene. Pulangnya di sore hari.

Lalu, apa kegiatan Athifah sepulang sekolah

Sama halnya jika ia bersekolah di SDIT. Alam belajar lebih banyak ilmu agama.
Dengan bersekolah di MIN. Maka Athifah juga akan lebih banyak belajar agamanya.

Jadi sepulang sekolah. Jam sebelas siang. Athifah akan beristirahat sampai jam dua siang.

Setelah itu, jam dua siang. Maka Athifah akan belajar mengaji di masjid. Berbaur dan belajar dengan orang lain.

Athifah Mengaji di siang hingga sore hari (foto Milda)

Terus lanjut les baca tulis lagi. Sampai sore jam setengah enam.

Kalo diliat dari durasi waktu dia belajar bisa lebih lama dari anak SDIT ya. Tapi ini jedah waktunya bisa kami manfaatkan untuk yang lainnya.

Jadi jam sebelas saya jemput Athifah lalu istirahat sambil nunggu zuhur. Kami shalat berjamaah. Sebelum shalat tadi biasanya Athifah makan ditemani juga dengan Annasya.


Istirahat sambil bermain. Entah nonton televisi atau main hape sebentar. Sepanjang waktu itu kami sering ngobrol dan saling bercerita tentang apa saja. Kadang juga kami tertidur.

Pas di jam dua siang, saya mengantar Athifah ngaji saya lanjut ke kantor dulu sampai jam empat lewat. Kadang kalo lagi rewel. Ngajinya ditemani dulu. Nanti saya jemput sore. Baru lanjut les baca tulis.

Alasan Memilih Sekolah Anak

Jadi, kalo ingin memilih sekolah buat anak. Kita orang tua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak. Kondisi anak juga harus diutamakan sebab yang menjalani semua ini tentu saja anak. Dengan alasan  tersebut akhirnya kami memilih MIN sebagai sekolah dasar untuk Athifah bukan SDIT. Kenapa MIN seklai lagi, sebab sekolah ini jelas di bawah naungan Kemenag sehingga porsi dan kegiatan agama tentu saja akan  lebih banyak dibanding dengan sekolah negeri.


Satu hal lagi, yang juga perlu diperhatikan oleh orang tua. Anak kedua dan seterusnya belum tentu sama dan akan bisa menikmati bersekolah seperti anak sebelumnya. Sebab setiap anak itu istimewa dan unik. Jika kita sebagai orang tua bisa menemukan dengan cepat dan sejak dini potensi dan minat anak. Tentu hal ini akan lebih memudahkan kita untuk menentukan sekolah atau pendidikan seperti apa untuk anak kita. 
3 comments

Menjadi sebuah kebutuhan primer adalah pendidikan yang berkualitas bintik si buah hati tercinta, Apha pasti senang di sekolahnya.

Reply

Keren mbak milda memang perlu untuk memilih sekolah yang tepat dengan karakter anak, bukan sekedar meilihat kurikulum sama mungkin biaya sekolah yang penting anak merasa nyaman dengan demikian pendidikan bisa lebih maksimal di terima oleh nya

Reply

Athifa alias apha dekat bgt ya sama uminya .. Tumbuh cerdas ,sholehah dan cantik ya dekk. .

Reply

Terima kasih sudah mampir dan komen di blog saya. Mohon tidak komentar SARA, Link Hidup. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.