Menu

Selasa, 30 April 2013

/ /
Aku Rindu Kamu, Ayah
Aku Rindu Kamu, Ayah

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengurcur deras
Namun engkau tetap tabah
Meski napasmu kadang tersenggal
Memikul beban yang kian masih sarat
Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini,
Keriput tulang pipimu gambaran perjaungan,
Bahumu yangg dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

AYAH, dalam hening sepi kurindu
Untuk, menuai padi milik kita
Tapi kerinduan hanya tinggal kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban.
#Epiosde ini, aku persembahkan buat ayahku tercinta yang hanya sebentar hadir dalam hidupku. Ya , hanya sampai aku kelas lima SD. Lalu ayah meninggalkanku. Peluk cium dan do'a indahku buat Ayahanda Almarhum Muhammad Ta'ah.
 

Senin, 29 April 2013

/ /
Cerita Anak (Cernak) dimuat di Harian Rakyat Bengkulu


Alhamdulillah, meski nulisnya dadakan  karena baru ingat detlen terbitnya. Akhirnya tulisan cerita anak (cernak)  yang saya tulis hanya satu jam dan swasunting sendiri dibantu oleh suami, layak muat pada hari Ahad, 28 April 2013. di harian Rakyat Bengkulu (RB) . Rakyat Bengkulu merupakan koran terbesar di Bengkulu yang merupakan bagian dari grup Jawa Pos. Jadilah cerita anak yang berjudul Keasyikan Mandi Di Pantai ini diterbitkan.Tulisan ini, hanya sekitar 650 karakter. Diceritakan dalam bahasa yang lugas dan sederhana, khas bahasa anak-anak. maih dalam tahab belajar menulis juga terutama cerita bacaan anak.

Ide ceritanya adalah seorang anak yang ingin mandi di pantai, namun karena tidak mendengarkan nasihat Ibunya untuk makan dan tidur siang sebelum berangkat ke pantai, akhirnya masuk angin dan perutnya sakit. Sehingga tidak bisa menikmati waktu bermain dan mandi di pantai dengan baik. Ada pesan moral yang ingin saya sampaikan kepada anak-anak yang membaca tulisan ini yaitu, mempersiapkan kondisi fisik ketika hendak mandi di pantai.

Setting cerita ini adalah salah satu pantai yang ada di Bengkulu yaitu, pantai Jakat yang memang sangat ramai dikunjungi dan dijadikan tempat oleh orang-orang untuk mandi, karena ombak dan airnya sangat bersahabat.
Apalagi juga tersedia tempat penyewaan ban, banana boat dan rumahrumahan temapt beristirahat. Juga disediakan kamar mandi untuk bilas setelah mandi di pantai. Jaraknya yang sangat dekat dengan kota, membuat pantai Jakat ini sangat ramai dikunjungi orang , terutama pada hari libur.


berikut ini adalah petikan secara lengkap tulisannya cerita anak saya tersebut :)



Keasyikan Mandi Di Pantai Jakat
Milda ini

“Bu, boleh tidak besok kita mandi ke pantai?” tanya Aura sepulang sekolah
Ibu tersenyum, sambil mengangguk setuju.
“ Asik! Jam berapa kita berangkat besok Bu, pagi atau sore?” tanya Aura lagi
“ Sore aja ya! Tapi dengan syarat kamu sudah tidur siang dan makan yang banyak sebelumnya , biar badan gak capek dan gak masuk angin” Jelas ibu sambil mengusap-usap rambut Aura.
“Sip Bu” jawab Aura sambil menyodorkan jempolnya.
--- 0000 ---
Keesokkan harinya, seperti biasa Aura asyik menonton film anak-anak di televisi. Remote televisi selalu dipegang Aura. Habis satu film disalah satu channel Televisi langsung Aura mencari film lagi  di stasiun televisi yang lain. Dari jam tujuh sampai jam sepuluh pagi. Aura asyik saja menonton film. Sarapan yang telah disiapkan ibu tidak dihabiskannya. Susu juga hanya diminum setengah gelas. Film yang seru di televisi membuat Aura lupa untuk makan dan minum.
“Aura, jangan lupa habiskan sarapannya!” suara ibu mengingatkan.
“ Iya Bu, ini juga sedang makan. Sedikit lagi makanannya habis” jawab Aura
Tak berapa lama datang Ana, mengajak Aura untuk bermain Sepeda. Tanpa pikir panjang Aura langsung mengeluarkan sepedanya. Aura meninggalkan televisi dalam keadaan hidup dan makanan sarapannya begitu saja.
“ Aura, mau kemana?” tanya Ibu dari dapur
“ Main sepeda Bu, bersama Ana” jawab Aura
“Jangan lama-lama ya, nanti sore katanya mau mandi ke pantai “ ucap ibu
“ Iya Bu, sebentar saja lagi pula cuma keliling di sekitar rumah kita saja” jelas Aura.
Ibu akhirnya mematikan televisi dan membereskan sarapan Aura yang masih tersisa setengah piring lagi. Menyimpannya di lemari makanan. Mendekati adzan Zuhur Aura pulang dengan keringat yang bercucuran di badannya. Bajunya menjadi basah dengan keringat. Setelah meletakkan sepeda,  Aura langsung mandi dan salat. Akhirnya karena kecapekkan Aura tertidur. Aura terbangun ketika terdengar suara adzan salat Asar. Bergegas dia salat. Lalu menyiapkan diri.
“Bu, Aura sudah siap, yuk kita berangkat ke pantai” kata Aura sambil membawa tas berisi perlengkapan mandi dan baju ganti.  
“ Iya, tunggu di luar ya. Ibu mau menyiapkan minum dulu!”
Kami pergi ke pantai Jakat hanya berdua saja, kebetulan ayah sedang pergi ke luar kota karena ada urusan  kantor. Suasana pantai jakat di hari minggu terutama pada sore hari sangatlah ramai. Banyak sekali orang mandi di pantai. Apalagi anak-anaknya sangat senang sekali mandi di pantai. Ombaknya yang tenang dan bersih membuat orang tua tidak cemas melepaskan anak-anaknya untuk mandi. Selain mandi . Anak-anak juga suka bermain pasir. Ada yang membuat istana, rumah-rumahan, kolam atau apa saja yang mereka sukai dengan menggunakan pasir. Di sebelah sana ada juga tempat penyewaan banana boat. Itu adalah alat serupa perahu karet yang berbentuk pisang. Kita bisa berkeliling pantai dengan banana boat.  Setelah satu jam mandi di pantai, tiba-tiba perut Aura terasa sakit. Rasanya seperti melilit-lilit. Aura merintih kesakitan. Ibu segera mendatangi Aura dan mengajaknya ke tepian pantai.

“Ada apa Aura? Sakit perut ya?” tanya Ibu
“Aduh Bu, sakit sekali. Rasanya seperti ditusuk-tusuk duri” jelas Aura
Ibu menggeleng, tampak wajah ibu sangat cemas.
“ Kamu masuk angin kayaknya” kata Ibu
“ Mungkin Bu, Aura tidak tau. Sakitnya tiba-tiba saja”
“ Kamu tadi gak makan siang kan. Langsung tidur saja sepulang bermain sepeda. Sarapan pagi juga tidak dihabiskan” ucap Ibu
“ Iya Bu, Aura salah tidak mendengarkan nasihat ibu. Aura janji tidak akan melakukan hal ini lagi” ucap Aura penuh rasa bersalah.
“ Ya sudah,  oleskan dulu minyak kayu putih ini di perut Aura ya. Setelah ini kita  pulang. Aura harus makan  dan  istirahat dulu” jelas ibu sambil memeluk Aura.
Akibat lupa makan, membuat perut Aura kembung dan masuk angin.  Aura sangat menyesal tidak mengikuti nasihat ibu sehingga waktu dia bermain dan mandi di pantai hanya sebentar saja.
                                     

Mohon keritik dan masukannya ya teman-teman, untuk perbaikan di masa yang akan datang , salam ^^

Minggu, 28 April 2013

/ /
Why Self Publishing














                                                                     

Why self publishing, mengapa menerbitkan sendiri, dalam hal ini adalah mengapa penulis menerbitkan bukunya sendiri.Bukankah seharusnya dia mengirimkan tulisannya ke penerbit, kemudian oleh penerbit dibukukan, karena diterbitkan karyanya oleh penerbit. Maka penulis  akan mendapatkan honor/royalti dari hasi tulisannya. Lantas apa yang dicari bagi seorang penulis, kok mau menerbitkan buku sendiri, bukannya dapat uang malah mengeluarkan uang. Padahal salah satu motivasi penulis dalam menulis adalah ingin memperoleh untung dari apa yang telah ia tulis. Hmmm, memang iya namun untuk menembus dinding penerbit bukanlah pekara yang mudah, ada begitu banyak tahapan yang harus dilalui oleh penulis, bukan saja kualitas tulisan yang harus bagus, perlu lobi  dan koneksi ke penerbit, selain itu karya dan nama besar  juga sangat diperlukan.Bagaimana tidak, ini juga menyangkut soal pemasaran, ya keberlangsungan bisnis dari penerbitan tersebut. Susah bukan!

Lalu kalau begitu, akan sulit sekali bagi penulis untuk bisa masuk dapur penerbit, padahal penulis sangat memerlukan adanya terbitan hasil tulisan mereka dalam bentuk buku. Ide dan gagasan penulis baru atau pemula boleh jadi ada yang menarik dan tidak biasa, namun karena syarat menuju penerbit yang sudah tinggi. Pupuslah harapan untuk itu. Trus apakah penulis hanya menerima takdir , menanti sampai ada penerbit yang menawar tulisannya.Lama dong, bisa-bisa semangat menulisnya kendur. Menunggu saja tanpa melakukan suatu terobosan. Oh, tidak! Untuk itulah penulis akhirnya memilih jalan untuk menerbitkan sendiri karyanya. Menerbitkan buku sendiri, bagaimana caranya?

Menerbitkan buku sendiri adalah sebuah tren baru dikalangan penulis, hal ini lebih sering kita sebut atau yang populer dinamai penerbit indie. Penerbit indie adalah sebuah alternatif untuk menerbitkan buku bagi para penulis . Penerbit indie hadir menjadi salah satu solusi bagi penulis dan ini juga merupakan ladang bisnis baru yang mencerahkan pundi-pundi kita. Walaupun  hal ini pada awalnya memiliki persentase pasar yang masih kecil jika  dibandingkan dengan penerbit  umumnya dalam hal penjualan, tapi ini telah hadir menjadi sebuah bentuk baru. Banyak penulis yang memanfaatkan jasa ini. Seiring dengan perkembangan, penerbit indiepun menempati posisi yang membaik di dunia penerbitan bahkan  bersaing dengan penerbit yang berlabel major.Penerbitan indie mulai mengalami peningkatan seiring dengan kemajuan teknologi penerbitan, termasuk didalamnya xerografi (fotokopi), Print On demand/Publish On Demand (Mencetak atau menerbitkan sesuai permintaan) dan juga website.Apalagi kemajuan teknologi informasi  melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Saling Sapa.Hal ini sangat dimanfaatkan oleh penerbit indie sebagai salah satu cara untuk promosi dan mencari   penulis yang ingin menerbitkan karyanya.

Penerbit indie adalah jasa penerbitan  "self publishing solution". Yang merupakan partner bagi penulis pemula maupun profesional yang ingin menerbitkan buku secara sendiri. Penerbit indie bisa membantu penulis dari awal sampai  akhir,  mulai dari pra cetak sampai percetakan.Jasa yang ditawarkan oleh penerbit indie antara lain, penyuntingan naskah, layout / tata letak isi, pembuatan sampul (kover), pembuatan ilustrasi, pengurusan ISBN , pencetakan buku dan wrapping plastik sehingga siap dijual dipasar.

Bagaimana kualitas tulisan dari penulis tersebut.Dalam hal ini bukankah penerbit indie hanya yang memerlukan adanya sebuah naskah dan uang dari penulis. Tidak semudah itus. Artinya tidak melulu karena dia membayar, maka tulisannya akan  diterbitkan. Lagipula hanya penulis yang percaya diri dan mampu bersaing yang berani juga menghubungi penerbit indie . Apalagi menulis itu bukanlah hal yang mudah. Bagi saya ketika menulis kita harus mempunyai wawasan terhadap hal apa atau tema yang ingin kita tulis, agar tulisan tersebut ada gizinya bukan hanya rangkaian kata-kata yang tersambung membentuk kalimat yang tidak bisa dimengerti apalagi dimaknai. Saya sangat menghindari tulisan yang tidak ada referensi dan dasarnya dan  tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Penerbit indie juga memperhatikan kualitas tulisan, naskah yang masuk itu juga akan diseleksi dan mengalami proses editing jika memang sangat diperlukan. Untuk menghindari masalah tersebut, oleh karena itu penerbit indie melakukan berbagai cara kreatif untuk menarik minat dan mendorong penulis untuk terus menulis. Penerbit indie sering kali mengadakan berbagai event menulis. Membuat berbagai macam lomba.Menciptakan event dan moment. Selalu saja ada ide segar yang ditawarkan. Dari hasil berbagai kegiatan kepenulisan tersebut, diambilah oleh penerbit beberapa karya penulis yang terbaik dan memenuhi kriteria  akan dibukukan bersama. Nah, proses itu juga menjadi  salah satu cara penerbit untuk menyeleksi tulisan yang masuk. Jika hal ini berlangsung rutin maka tidak tertutup kemudian penulis akan semakin percaya diri dan memperbaiki tulisannya  dan pada akhirnya membuat buku sendiri. Bukan saja yang memang biasa menulis. Penulis  pemulapun terkena dampak yang baik dengan  adanya penerbit indie. Mereka semakin menjadi produktif dan  juga mampu bersaing dengan penulis handal. Hal ini disebabkan karena kemampuan menulis mereka yang semakin terasah, juga akibat kepercayaan diri yang semakin kuat.Pendorongnya juga karena ada tulisan mereka yang dibukukan. Adanya suatu karya yang dibukukan disadari atau tidak menjadi salah satu lecutan bagi penulis untuk terus berkarya.

Ada begitu banyak alasan mengapa penulis memilih jalur penerbit Indie. Bukan saja karena alasan kualitas tulisan yang masih jelek, berkali- kali ditolak penerbit atau karena memang belum punya link ke penerbit. Masalah kepercayaan diri yang masih kurang dan berbagai alasan lainnya. Memang itu mungkin menjadi salah satu alasan mengapa penulis menuju penerbit indie untuk membantu menerbitkan bukunya.  Namun saya berbeda. Alasan saya kenapa ingin menerbitkan buku dengan cara sendiri (indie)  bukan karena ingin mengejar prestise. Juga bukan untuk meraih keuntungan, namun saya ingin supaya ide dan gagasan saya bisa dibaca oleh banyak orang. Mungkin ide tulisan kita tersebut memang sudah ada duluan yang menuliskan. Saya juga menginginkan agar tulisan saya bisa disimpan dan jika sewaktu-waktu diperlukan bisa dibuka kembali. Saya mau berbagi dengan banyak orang. Mengungkapkan banyak rasa yang sudah saya pelajari  dan saya alami dengan semua orang. Menceritakan pengalaman baik saya untuk orang lain, semoga hal itu bisa menjadi sebuah pelajaran yang baik buat orang lain. Saya ingin orang lain bisa menjadi lebih baik dengan mengambil pelajaran yang sudah pernah saya tuai. Saya ingin menularkan semangat bertutur kata dengan semua orang melalui buku.Saya ingin orang lain tahu dan mengerti bagaimana cara saya mengekspresikan kehidupan yang saya alami secara indah dalam sebuah buku. Saya ingin bisa menyumbangkan karya saya untuk peradapan ini. Saya berharap melalui buku , saya bisa memberikan kontribusi pemecahan masalah yang ada di sekitar kita. Saya berkeinginan membagikan buku saya kepada orang lain secara gratis, sebagai ungkapan rasa syukur saya.  Saya ingin memberikan pengetahuan dan informasi serta masukan dengan cara yang santun dan lugas, memberikan pencerahan tanpa harus menggurui apalagi memerintah. Saya ingin agar karya saya bisa berguna untuk orang lain, apalagi jika diamalkan ke jalan yang baik. Ilmu atau pengetahuan yang  baik dan bermanfaat adalah merupakan amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir sampai nanti jika kita sudah meninggal. Saya ingin mewariskan dan mendorong anak cucu saya untuk gemar membaca dan menulis. Apalagi jika buku yang saya buat tersebut pada akhirnya bisa menjadi best seller, tentu saja hal ini bukan hanya buku yang bisa saya wariskan melainkan juga penghasilan bagi keluarga saya.

Tapi banyak  juga yang belum memahami hal itu, belum satu pemahaman dengan saya .Masih ada saja yang mencemooh. Tidak mendukung keputusan saya untuk menerbitkan buku sendiri.  Kok menerbitkan karya sendiri, terang aja bisa meskipun tulisannya jelek. Kan bayar. Mendengar komentar seperti itu membuat saya sedikit kecil hati. Kalau tulisannya bagus pastilah penerbit mau menerbitkannya, kalau tidak lolos, itu artinya tulisannya belum bagus atau menarik. Itu ungkapan mereka! Namun ucapan seperti itu bukan menjadi hambatan , malah menjadi penyemangat saya. Jika hal itu sampai terjadi, tidak masalah, itu bukanlah hal yang buruk. Maka menerbitkan buku sendiri adalah sesuatu yang baik. Apalagi dengan tujuan baik, semoga manfaatnya lebih banyak daripada  keburukannya. Self publishing adalah salah satu solusi untuk itu. Untuk biaya yang mesti dikeluarkan saya mengajak rekan dan sahabat yang mau diajak bekerjasama untuk menjadi panitia kepenulisan. Banyak yang bisa diajak bekerjasama.

Saat ini banyak sekali penerbit indie menawarkan jasa untuk membantu para penulis dalam menerbitkan karyanya. Ada yang sama persis penawarannya, ada yang berbeda dari segi penawaran jasa dan kemasan yang dibuat. Saya membanding antara dua penerbit indie, ada yang dari kover buku yang biasa mereka cetak saja sudah bisa menunjukkan kualitas dan kreatifitas penerbit. Melihat dari kover bukunya saja sudah bisa menunjukkan ciri khas dari penerbit itu sendiri. Hal ini justru menjadi salah satu daya tarik dan promosi mereka kepada penulis dan pembaca.

 Perlu juga sikap selektif dari penulis dalam menggandeng penerbit indie, karena mencari penerbit yang profesional dan jujur dalam memegang amanah dari karya penulis itu bukanlah hal yang mudah. Mencari tahu dan mempelajari dengan seksama keberadaan sebuah penerbit indie sangat diperlukan sebagai langkah awal untuk bekerjasama.Namun ada patokan saya juga dalam mencari penerbit indie, pengalaman mereka dalam mengelolah penerbitan , kualitas  kejujuran dari tim penerbit indie, kemudian kualitas dari terbitan baik dari kover, isi, lay-out sampai pembagian royalti yang juga menjadi titik acuan penulis.Semua itu hendaknya juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh penulis.

.           Jika hubungan  terjalin dengan manis tentu saja kegiatan ini akan berlangsung lama dan hubungan antara penulis dan penerbit akan semakin awet . Antara penulis dan penerbitpun akan tumbuh rasa saling membutuhkan. Ya, penulis membutuhkan penerbit untuk menerbitkan karyanya sedangkan penerbit membutuhkan penulis untuk menerbitkan bukunya. ( Milda Ini )
Diberdayakan oleh Blogger.