Menu

Sabtu, 20 Juli 2019

/
Assalammualaikum.Wr.Wb

www.mildaini.com_Aplikasi Face App Ancam Privasi Pengguna.Sore itu saat membuka Instagram, feed penuh dengan postingan teman-teman yang menggambarkan bagaimana wajah mereka jika tua nanti. Gambar tersebut hilir mudik di timeline. Saya scroll sampai bawah, ternyata banyak sekali postingan serupa.

Saya perhatikan dengan seksama pada postingan tersebut ada tulisan FaceApp. Gambar yang muncul ada yang membuat kolase, wajah masih muda sedangkan di sebelahnya wajah saat tua. Tapi banyak juga yang langsung menampilkan wajah mereka jika tua nanti seperti apa.

Kami, biarlah nanti menua apa adanya (foto Milda)
Pada postingan tersebut ada yang memberikan caption khusus disertai tagar atau hestek #AgeChallange tapi ada juga yang polos aja. Tanpa caption dan hestek. Namun dengan watermark FaceApp, maka orang lain akan mengerti dengan sendirinya. Seperti halnya dengan saya. 

Melihat postingan Instagram yang sama semua, saya pun pindah ke Facebook. Eh, ternyata sama saja. Sama isinya postingan foto  teman-teman yang terlihat tua. Benaran mereka ingin terlihat tua, bukan terlihat awet muda. Mungkin buat lucu-lucuan saja dan hiburan.

Saya masih penasaran, tapi belum ingin mencari tahu lebih banyak . Saya tidak mencari informasi atau membaca berbagai referensi atau berita terkait aplikasi yang membuat mendadak teman-teman saya terlihat tua. Cuma saya mmebatin dalam hati saja, apa sih pentingnya. 

Sampai suatu pagi, kebetulan saya sedang demam. Jadi tidak ngantor. Sambil ngetik, saya mendengarkan acara di televisi membahas mengenai aplikasi FaceApp. Saya pun tertarik untuk melihat dan mendengarkannya lebih jelas lagi. Untuk menjawab rasa penasaran saya sekaligus juga untuk menambah wawasan juga. Agar tidak latah.

Di acara yang disiarkan oleh CNN itu menghadirkan bintang tamu via Skype dengan CEO Digital Forensic Indonesia Ruby Alamsyah. Yang akan membahas mengenai Sampai sejauh mana Aplikasi FaceApp mengancam penggunanya, 
Mendengar pembahasannya seputar ini, saya kian semangat sekaligus heran. Masa sih aplikasi ini dianggap berbahaya. Apanya yang bahaya dan bagaimana sistem kerjanya hingga bisa membahayakan penggunanya. Saya jadi makin kepo. 

Ditambah lagi dengan penjelasan Bisnis.com, di balik populernya aplikasi tersebut, ada beberapa dampak yang akan mengganggu privasi pemakai. Meski terlibat cukup menghibur, namun foto pengguna berpotensi menjadi bahan marketing FaceApp.

Pada dasarnya, orang memberikan FaceApp akses untuk menggunakan, memodifikasi, mengadaptasi, dan mempublikasikan gambar pengguna. Perubahan wajah ini hasil dari kecerdasan buatan melalui artificial intelligence (AI).

Meski sudah berusia seratus tahun, nenk masih sehat (foto Milda)
FaceApp diizinkan untuk menggunakan nama, nama pengguna, atau rupa apa pun yang disediakan dalam format media apa pun yang disukainya tanpa kompensasi. Artinya pengguna tidak akan dibayar meski FaceApp menggunakan foto Anda sebagai bahan konten marketing.

Nah, ini masa hanya untuk melihat bagaimana nanti wajah atau foto kita saat tua. Kita harus menyetujui banyak hal terkait data ini dan itu. Meski tidak dalam bentuk tulisan atau kita tidak diminta untuk menuliskan. Hanya perlu meng-klik saja. Terlihat sangat sepele. Namun, itu berbahaya. Sekali klik, artinya kita setuju, kita agree. 

Sebab sekali klik, artinya kita langsung setuju. Ngeri ih. Segitunya nih aplikasi. Saya jadi kuatir juga.

Lalu disebutkan juga  pada bagian ini di aplikasinya,  gangguan privasi itu karena FaceApp mengunggah foto pengguna ke cloud untuk diproses. FaceApp telah menyampaikan ketentuan itu melalui disclaimer yang muncul sebelum menggunakan aplikasi.

Penyimpanan ini memungkinkan FaceApp mempertahankan gambar lama meskipun pengguna telah menghapus aplikasi dan beralih ke aplikasi lainnya. "Orang yang menggunakan aplikasi tidak dibuat sadar akan hal ini," tegas Standard, Kamis (18/7/2019).

Wow, jadi akan tetap ada meski kita sudah menghapus fotonya atau bahkan aplikasinya. Namun data kita sudah tersimpan oleh server mereka. Ingat saja dulu kasus data yang dicuri oleh Facebook. Secara tidak sadar kita juga sudah memberikan kemudahan dan ijin bagi facebook untuk mengakses data-data kita. Masih ingat ya, dengan kasus yang menghebohkan tersebut.

Bersama nyai yang awet muda (Foto Milda)

Jadi saran saya kita jangan suka latah soal apa pun yang berbau dunia internet dan digital ini. Babyak hal-hal di luar yang kita ketahui loh. Meski para artis atau banyak orang telah menggunakannya. Bukan artinya hal ini tidak berbahaya. Lalu, tanyakan saja dulu sama diri sendiri. Kita ikutan aplikasi ini untuk apa dulu. 

Kalo tidak terlalu penting, mungkin tidak menggunakannya juga lebih baik. Biarlah nanti menua pada waktunya. Itu pun jika sampai waktu kita tua. Mungkin juga ada di antara kita yang sudah pulang duluan dipanggil oleh Allah sebelum tua. 

Ada hal yang paling penting dari itu semua, adalah mengisi dan menyiapkan hari tua dengan banyak melakukan kebaikan dan memperbaiki diri agar menajdi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama. 

1 komentar:

Kalau aku pas ngebuka sosmed awalnya agak shock mbak, kok teman-teman pada jadi tua mendadak hahhahaaaaa...ternyata gara-gara aplikasi itu.

Eh tapi mbak ya ngomong-ngomong tentang data, seingatku kayaknya banyak aplikasi yang meminta data kita lho mbak memang. Tergantung kitanya lagi mau atau tidak

Reply

Terima kasih sudah mampir dan komen di blog saya. Mohon tidak komentar SARA, Link Hidup. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.