Menu

Rabu, 18 Maret 2020

/
Papua Surganya Burung Dunia

Apa yang akan kamu ingat jika ngomongin soal Papua, kalo saya segera ingatan melayang pada indahnya Raja Ampat, lalu saya ingat orang Papua yang khas, baik kulitnya dan juga rambutnya. Ini khas sekali. 


Sebagai orang Sumatera yang kalo dilihat dari peta saja sudah jauh, apalagi kalo dijalani menuju Papua. Jauh sekali, meski untuk transportasi sekarang sudah ada yang melintasi langit. Namun, harga tiketnya yang tinggi. Membuat kami orang Sumatera jika ingin ke Papua harus menabung banyak.


Kalo mau hemat sih, ikut perjalanan dinas, menang lomba atau diundang sebuah kegiatan. Tapi hal itu baik saya dan suami, belum diberi kesempatan. 


Meski demikian, di kota Bengkulu, tempat saya tinggal . Terutama di kampus Universitas Bengkulu, ada banyak mahasiswa dari Papua. Saya pernah beberapa kali menemani suami menemui mahasiswa Papua di  kampus. Mereka baik dan ramah, termasuk waktu itu ketika ada kerusuhan di Papua, suami menemui mahasiswa Papua untuk mengecek keberadaan dan sikap mereka. 


Seperti yang saya sampaikan di awal, jika ditanya tentang Papua. Yah, itu yang paling saya ingat. Orang Papu yang khas, sebut saja para artis  Ari  Sihasale, Edo Kondologit, Nowela Idol, Michael Idol dan lain sebagainya. Orang Papua asli itu khas dan mudah dikenali.


Padahal ada banyak hal menarik dari Papua. Yuk, kita cari tahu.


Mari Beradat Jaga Hutan Papua


Ada Beberapa Hal yang Khas Dari Papua

Pertama, suku asli di Papua terdiri dari 25 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Mereka ini khas sekali, bisa terlihat langsung dari fisiknya. Kita bisa langsung menebak, kalo mereka berasal dari Papua. Bukan karena mereka berkoteka ya!

Kedua adalah Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, khususnya Maluku dan Papua. Alat musik ini juga khas sekali dan memang menjadi salah satu alat hiburan di Papua.


Ketiga, Noken merupakan tas tradisional khas asli Papua. Tas ini juga khas sekali dan sudah terdaftar sebagai warisan budaya dunia oleh Lembaga Kebudayaan Dunia di Markas Unesco Paris, Perancis pada 4 Desember 2012. 





Keempat, Papeda adalah makanan berupa bubur sagu khas Maluku dan papua yang biasanya disajikan dengan ikan tongkol atau mubara yang dibumbui dengan kunyit.  Kalo bicara Papeda, saya langsung ingat lem. Papeda berwarna putih dan bertekstur lengket menyerupai lem dengan rasa yang tawar. Papeda ini khas sekali dan tidak semua orang bisa langsung memakannya apalagi untuk pertama kali. Pengalaman makan Papeda ini juga menjadi sesuatu yang seru.

Berkenalan dengan Papua

Papua adalah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur wilayah Papua milik Indonesia. Dulu Papua bernama  bernama Irian Jaya yang mencakup seluruh wilayah Papua Bagian barat. Papua itu Indonesia loh, bukan luar negeri. 

Provinsi Papua memiliki luas 316.553,07 km2 dan merupakan provinsi terbesar di Indonesia. Bisa dibayangkan luasnya Papua. 


Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan belantara. Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Luasnya mencapai 890.000 km2 


Lebih dari 71% wilayah Papua merupakan hamparan hutan hujan tropis yang sulit ditembus karena terdiri atas lembah-lembah yang curam dan pegunungan tinggi, dan sebagian dari pegunungan tersebut diliputi oleh salju. 


Belum puas ya cerita tentang Papua, soalnya ada banyak hal menarik lainnya yang ingin saya ceritakan. 


Ada hal lain yang menurut saya membuat Papua patut untuk dikunjungi adalah karena hutannya yang masih luas dan asli. Hutan Papua juga menjadi wilayah konservasi dunia.


Dengan hutan yang luas sebagai konservasi dunia, maka wajar kalo papua menyandang sebagai  Papua destinasi wisata hijau. 


Destinasi wisata hijau ini, bukan hanya karena kita bisa menikmati alam alami yang perawan dengan warna hijau. Akan tetapi kita juga bisa menikmati aneka flora dan fauna yang ada di hutan tersebut. Mereka adalah berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup secara bebas di hutan. Mereka mempunyai habitat yang alami. 


Di Papua kita akan banyak mendapatkan pengalaman ekowisata seru. Eksplore  berbagai tempat di Papua yang ingin kamu kunjungi.Namun, sebaiknya tidak sendiri, banyak destinasi wisata hijau di Papua yang belum terjamah manusia. Jadi sebaiknya bersama-sama. Bisa dengan pemandu wisata, baik penduduk setempat atau mereka yang memang sudah membidangi wisata Papua khususnya untuk destinasi wisata hijau, seperti menjelajah hutan, menjelajah satwa dan tumbuhan. Harus dengan ahlinya.


Salah satu pengalaman yang akan kamu dapatkan di hutan Papua adalah  melihat berbagai jenis spesies burung.


Mungkin selama ini kita hanya tahu dan kenal dengan destinasi wisata Raja Ampat. Ternyata Papua, banyak sekali destinasi hijau yang seru. Hutan yang luas dan murni, serta berbagai hewan dan tumbuhan di dalamnya.



Raja ampat, source Eco Nusa
Jadi sangat wajar kalo kita sematkan kata baru untuk ekowisata Papua yaitu Negeri surganya para penikmat dan pecinta burung. Papua pun cocok disematkan sebagai destinasi wisata hijau karena begitu banyak spesies burung yang ada di Papua.

Saya tertarik banget bahas ini loh, kenapa itu Papua kusebut sebagai surga para pencinta dan penikmat burung. Serta kaitannya Papua sebagai destinasi hijau. Hal ini tidak terlepas dari taman atau hutan Papua yang luas dan asri. Hal ini tentu saja menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai jenis burung. 


Burung-burung tersebut, tinggal menetap dan berkembang biak di taman-taman dan hutan yang ada di Papua. Hewan khususnya burung-burung tentu saja tidak akan bisa bertahan hidup dan berkembang biak, jika hutan di Papua tidak membuat mereka nyaman. 

Tersedia berbagai jenis makanan, banyak pohon dengan dahan dan ranting yang kuat, hijau untuk para burung bertengger. Pohon-pohon yang subur, sehat yang akan dijadikan para burung untuk membuat sangkar dan bertempat tinggal. Tersedia banyak air untuk burung minum, mandi dan mencari makan. Hutan yang lebat tentu saja akan menyimpan air yang banyak.

Jika hutan Papua tidak terjaga dengan baik, tentu saja habitat burung tidak akan bertahan dan berkembang biak di Papua.

Oleh karena itu saya sepakat jika dengan konsisi hutan yang terjaga dengan baik, maka di masa depan. Hutan Papua akan tetap menjadi konservasi dunia dan tempat para burung hidup dengan bahagia turun temurun. Seperti layaknya manusia. Yang terus berkembang biak.

Dimana saja burung-burung bisa hidup di Papua, Kita bahas dulu ya, dua taman besar yang ada di Papua. Di taman inilah para burung menetap. 

Taman Nasional Lorentz 

Taman Lorentz merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara. dengan luas wilayah sebesar 2,4 juta Ha.

Nama taman ini diambil dari nama penemunya yaitu  Hendrikus Albertus Lorentz seorang penjelajah dari Belanda pada tahun 1909.


Tahun 1978, pemerintah Indonesia menetapkan TN Lorentz sebagai Cagar Alam (Strict Nature Reserve).


Pada 1999 dengan didaftarkannnya TN Lorentz sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) dan pada 2003 menjadi Taman Warisan ASEAN (ASEAN Heritage Parks) melalui ASEAN Declaration on Heritage Parks


Source by Eco Nusa

Burung-burung yang  Hidup di Taman Lorentz

Di taman ini ada sekitar 630 spesies burung. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik di antaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx)

Para ilmuwan dan peneliti dunia cocok sekali kalo melakukan riset tentang burung atau hewan secara umum langsung di Papua. Terutama di Taman Lorentz ini.



Burung endemik Papua, source jalaksuren.net

Cara menuju Taman Lorenz

Menurut katadata.co.id, salah satu jalur yang bisa ditempuh adalah melalui Timika. Dari sana, kamu bisa menggunakan pesawat perints untuk menuju Kabupaten Panilia yang berada di bagian utara TN Lorentz. Setelahnya, kamu harus menempuh perjalanan melalui jalur laut menuju pelabuhan Sawa Erma dan kemudian berjalan kaki ke beberapa lokasi. 

Sementara dari Kota Wamena, kamu bisa mencapai bagian selatan taman nasional menggunakan mobil ke Danau Habema kemudian berjalan kaki ke Puncak Trikora. 



Burung Endemik Papua, source by mongabay.co.id

Bagi kamu yang ingin berwisata ke kawasan ini, pastikan keadaan fisik cukup kuat. karena Taman Lorentz masih medannya masih  banyak yang belum terjamah manusia.


Waktu yang Baik Melihat Burung

Datanglah pada bulan  Agustus hingga Desember. Kamu bisa mengamati burung di Danau Habbema di dataran tinggi Habema Valley atau mengunjungi desa-desa Asmat.Selain melihat aneka burung, kamu juga akan dapat bonus melihat suku asli Agats.


Burung Khas Papua, source by kabarpapua.co

Taman Nasional Wasur 

Taman Wasur terletak di Kabupaten Merauke. Kawasan ini dikenal memiliki hutan sabana basah paling luas di Indonesia, bahkan di seluruh Asia. Biodiversitasnya membuat taman ini dijuluki sebagai "Serengeti Papua". 

Serengeti artinya atau Ekosistem Serengeti adalah suatu wilayah geografis di Afrika. 

Nah, Taman Wasur ini karena memiliki sabana yang luas, oleh karena itu juga dijuluki "Serengeti Papua".


Source life.trubus.id
Sekitar 70% dari luas wilayah ini terdiri dari sabana, sementara vegetasi lainnya merupakan hutan rawa-rawa, hutan monsoon, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan sagu. 

Taman Nasional Wasur memiliki 6 jenis ekosistem yang terdiri dari: Ekosistem Daratan Berair Payau, Ekosistem Pesisir Berair Payau, Ekosistem Daratan Berair Tawar, Ekosistem Pesisir Berair Tawar,  Ekosistem Berair Tawar Permanen, dan Ekosistem Rawa Berair Payau Musiman. Kamu bisa melakukan ekowisata ke berbagai ekosistem yang ada di Taman Wasur ini. 


Burung Khas Papua, source by life trubus.id

Fauna yang terdapat di Taman Nasional Wasur antara lain: Berbagai hewan mamalia seperti Kangguru lapang (Macropus agilis), Kangguru hutan/biasa (Darcopis veterum), Kangguru Tanah (Thylogale brunii), Musang Hutan (Dasyurus Spartacus), dan Kuskus. Untuk jenis burung seperti Garuda Papua  (Aquila gurneyei), Cenderawasih (Paradise apoda novaguineae), Kakatua (Cacatua sp), Mambruk (Crown pigeons), Kausari (Cassowary), Elang (Circus sp), Alap-alap (Accipiter sp), Bangau Abu-abu/Ndarau (Cranes Trans-fly), Pelikan, Ibis, Boha (Magpie geese), Burung Pantai, dan Paruh sendok (Royal spoodbills).

Taman Nasional Wasur menyediakan habitat besar hingga 358 spesies burung dimana sekitar 80 spesies merupakan endemik pulau. Keanekaragaman ikan juga tinggi di wilayah tersebut dengan 111 spesies yang ditemukan di eco-region dan sejumlah besar dicatat berasal Wasur. 


Lahan basah taman ini juga menyediakan habitat untuk berbagai spesies lobster dan kepiting. Disorot dengan berbagai jenis burung termasuk spesial Trans-Fly dan banyak migran dari Australia, Taman Nasional adalah surga bagi pengamat burung.



Burung khas Papua, Source by bobo.grid.id

Waktu Terbaik Menikmati Burung

Selama bulan Agustus hingga November, Taman Nasional Wasur mengalami kedatangan ribuan burung migran dari Australia dan New Zealand, seperti bangau abu-abu, pelikan, ibis, Royal Spoonbills, dan banyak lagi. Ini adalah fitur khusus dari taman karena hanya terjadi setahun sekali. 

Jenis burung lain yang menarik di langit Wasur termasuk Southern Crowned Pigeon, New Guinea Harpy Eagle, Dusky Pademelon, Black-necked Stork, Fly River Grassbird, Greater Bird of Paradise, King Bird of Paradise, Red Bird of Paradise, dan banyak lagi. Taman nasional ini juga rumah bagi setidaknya tiga spesies kanguru kecil, kuskus nokturnal, kasuari, Buaya air tawar papua, buaya air asin, dan banyak lagi.


Cara Menuju Taman Wasur

Untuk mencapai Taman Nasional Wasur, Anda dapat mengambil pesawat dari Jakarta ke Merauke, di bagian paling selatan Papua Indonesia dekat perbatasan dengan Papua Nugini. 

Dari Merauke ke pintu masuk Taman Nasional Wasur membutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan dari jalan utama Merauke-Jayapura. Atau, kota Merauke juga dapat diakses sekitar 1,5 jam penerbangan dari Bandara Sentani, ibu kota Provinsi Papua.


Keputusan Saya, Papua Layak disebut Destinasi Wisata Hijau dan Surga Burung Dunia

Dari kondisi hutan yang masih hijau dan satwa yang banyak terutama burung di Papua, maka  hutan Papua sebagai konservasi dunia, sekaligus juga sebagai konservasi burung dan satwa lainnya. Sangat perlu kita dukung Papua sebagai Destinasi Wisata Hijau.

Namun, tugas ini tidak bisa dipikul sendiri oleh masyarakat Papua, kita juga harus membantu pelestarian hutan Papua serta turut mengajak orang lain untuk #BeradatJagaHutan. Tidak semena-mena terhadap hutan. 

Kita bisa mendukung gerakan pelestarian hutan Papua ini denga memberikan dukungan kepada Eco Nusa 


Mari bersama Eco Nusa, Beradat Jaga Hutan

Cari Tahu Apa Itu Eco Nusa

Dilansir dari laman Econusa.id. Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation) merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan mengangkat pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia dengan memberi penguatan terhadap inisiatif-inisiatif lokal. 

Untuk itu, EcoNusa mendorong pembangunan dan pengembangan kapasitas kelompok masyarakat madani, bekerja sama dengan mereka untuk mengembangkan strategi untuk advokasi, kampanye, komunikasi dan pelibatan pemangku kepentingan. 

EcoNusa juga mempromosikan dialog antarpemangku kepentingan untuk makin mengembangkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan sekaligus juga untuk mengangkat keadilan, konservasi, dan transparansi. Yayasan ini resmi berdiri sejak 21 Juli 2017 dan berbasis di Jakarta.

Jika kamu berencana ingin ke Papua dan ingin mencari tahu seluk-beluk tentang Papua, kamu bisa berselancar secara maya dulu ke EcoNusa supaya kamu makin mantap dan tidak meraba-raba, apalagi meraba-raba kayak orang buta alias traveling nekat.

#BeradatJagaHutan #PapuaBerdaya #PapuaDestinasiHijau #EcoNusaXBPN #BlogCompetitionSeries

Diberdayakan oleh Blogger.