Menu

Rabu, 03 April 2019

/
Assalammualaikum.Wr.Wb

www.mildaini.com_Sekilas Tentang Kesusatraan Melayu Klasik.Kali ini saya mau membahas soal sastra melayu klasik. Seorang penulis atau pencinta sastra biasanya tau mengenai hal ini, bahkan mereka sering menggunakan atau menerapkannya di dalam karya sastranya. Tetapi ada juga yang tidak begitu paham mengenai sastra melayu klasik. 

Oleh karena itu kita akan mencoba membahasnya ya dengan santai ya. Supaya bisa lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan. 

1.    Bentuk dan Isi Kesusastraan Melayu Klasik

Kesusastraan yang tumbuh pada masa kesusastraan Melayu Klasik, tidak terlepas dari pengaruh kepercayaan terhadap roh halus. Roh-roh halus dianggap sebagai  arwah nenek moyang. Hanya orang tertentu yang dapat berkomunikasi dengan roh halus,  yaitu orang yang disegani atau yang dituakan dalam masyarakat, yang disebut pawang. 

Budaya animisme dan dinamisme sangat mempengaruhi bentuk dan isi sastra melayu. Bila terjadi wabah penyakit, gagal panen, atu tidak turun hujan, pawanglah yang berperan dalam menangani masalah tersebut. 

Ada empat jenis cerita rakyat, yaitu: (1) Cerita asal-usul;  (2) Cerita binatang; (3) Cerita jenaka; (4) Cerita pelipur lara.

Kita akan bahas lebih mendetil ya mengenai jenis cerita rakyat. 

1.    Cerita Asal-Usul

    Cerita asal-usul merupakan cerita rakyat yang tertua, yang dapat dimasukkan dalam mitos.  Cerita semacam ini terdapat di seluruh pelosok tanah air, biasanya menceritakan tentang terjadinya suatu tempat, atau cerita yang mendasari suatu tempat yang dikeramatkan. Misalnya, di daerah Tapanuli  ada cerita tentang asal-usul terjadinya, bulan, bumi, matahari, serta terjadinya manusia sebagai penghuni bumi. Di Jawa Barat, cerita tentang asal-usul terjadinya asal-usul gunung Tangkuban Perahu, di Jawa Tengan terjadinya Rawa Pening, di Jawa Timur cerita tentang terjadinya Banyuwangi, dan lain-lain. Coba Anda cari  di daerah Anda tentang  cerita sejenis. 

2.    Cerita Binatang (Fabel)

Motif cerita binatang di berbagai penjuru dunia semua hampir sama. Biasanya tokoh cerita berupa binatang yang lemah atau mempunyai kekurangan , dengan kecerdikannya dapat mengalahkan musuhnya yang  jauh lebih kuat. Binatang yang cerdik ini bernama  kancil atau pelanduk. Cerita kancil di berbagai daerah punyai kesamaan. Memenurut C. Hooykaas, cerita ini tersebar bersamaan dengan tersbarnya agama Hindu ke berbagai wilayah di Indonesira Jawa.    
    
3.    Cerita Jenaka

    Cerita jenaka adalah cerita tentang tokoh yang lucu, cerdik, licik, licin, dan menggelikan. Lahirnya cerita semacam ini karena manusia cenderung berlebihan. Misalnya, Cerita Pak Pandir untuk menyatakan orang yang bodoh sekali, Pak Belalang  untuk orang yang selalu bernasib mujur, Lebai Malang untuk orang yang selalu malang nasibnya. Cerita semacam ini juga terdapat di berbagai penjuruntanah air, dengn judul yang berbeda-beda.

4.    Cerita Pelipur Lara

    Cerita pelipur lara digunakan untuk menghibur hati yang duka nestapa. Dulu, sebelum ada sarana hiburan seperti sekarang ini, mendengarkan cerita merupakan obat penawar rasa lelah setelah seharian bekerja. Sesuai dengan tujuannya, isi cerita pelipur lara tentang hal-hal yang indah-indah, misalnya tentang istana yang indah, raja yang kaya, putri raja yang cantik.


2.    Pengaruh Hindu dan Buddha

Kesusastraan Melayu Klasik banyak juga  dipengaruhi oleh agama Hindu dan Buddha. Menurut J.C. Leur (Yock Fang, 1991:50), agama Hindu disebarkan ke oleh para Brahmana, sedangkan penyebaran agama Buddha yang berasal dari India ke tanah Melayu dilakukan oleh orang Melayu. Agama Buddha dan keebudayaan India mempunyai pengaruh sangat besar terhadap bangsa Melayu. Ramayana dan Mahabarata merupakan dua epos dari India sangat terkena di Melayu.

Cerita Ramayana dalam  sastra Jawa Kuno disebut kakawin (syair) Ramayana, dalam  Sastra Melayu, dikenal dengan Hikayat  Sri Rama. 

Cerita Rama sudah dikenal di Nusantara sejak kira-kira 1.000 tahun yang lalu. Kisah Rama dipahatkan di relief-relief Candi Loro Jonggrang. 

Ada beberapa versi tentang cerita Ramayana, salah satu versi sudah mendapat pengaruh dari agama Islam. Mahabarata dalam sastra Melayu dikenal dengan hikayat Pandawa. Seperti halnya Ramayana, hikayat Pandawa juga terdiri atas beberapa versi. Menurut hasil penelitian, hikayat Pandawa ini merupakan saduran bebas dari syair Jawa Kuna. 

Banyak cerita pewayangan yang diambil dari Mahabarata.Selain Ramayana dan Mahabarata, ada cerita Panji dalam kesusastraan Melayu, yang merupakan pengaruh dari Jawa. Menurut J.J. Ras, cerita Panji mengisahkan tentang hubungan kerajaan Daha dan Kediri.

3.    Masa Peralihan Hindu-Islam dan Pengaruh Islam 

  Dalam Kesusastraan Melayu Klasik
  
Masa Peralihan Hindu-Islam

Ciri-ciri pengaruh Hindu pada masa peralihan dalam sastra Melayu Klasik, antara lain:

1.    Adanya benda yang dianggap keramat
2.    Raksasa menawan putri raja
3.    Adanya sayembara dari raja untuk memilih menantu/istri/suami
4.    Garuda membinasakan negeri
5.    Bertapa untuk memperoleh kesaktian
6.    Cerita tentang dewa-dewi atau bidadari, dan lain-lain

Ciri-ciri pengaruh Islam pada masa peralihan dalam sastra Melayu Klasik:

1.    Judul cerita menggunakan nama yang bernafaskan Islam
2.    Terdapat tokoh nabi-nabi dan pahlawan Islam
3.    Terdapat kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab dalam teks cerita
4.    Allah SWT sebagai pengganti Dewa

Kesusastraan Pengaruh Islam

    Melalui bangsa Gujarat, Islam berkembang pesat di Nusantara pada awal abad ke-13. Pesatnya perkembangan Islam di Nusantara karena dalam ajaran Islam menekankan pada  persaudaraan antarsuku bangsa dan tidak mengenal kasta. Sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis, para pedagang pindah ke daerah lain, di antaranya ke Aceh. Lambat laun Aceh menjadi pusat penyebaran agama Islam. 

    Kesusastraan Melayu yang semula banyak tersebar secara lisan, mulai ditulis dalam aksara Jawi atau Arab-Melayu setelah masuknya agama Islam di Melayu. Ada dua ciri sastra pengaruh Islam, yaitu:
1.    Sebagian besar berupa terjemahan atau saduran dari bahasa Arab. Penerjemahnya terdiri dari orang Melayu yang belajar di Arab dan  para pedagang dari Gujarat.
2.    Tidak ada nama penulis dan tahun penulisannya.

Masa Peralihan

Yang dimaksud dengan masa peralihan adalah masa peralihan Melayu Klasik ke Melayu Modern. Kesusastran Melayu Modern dipengaruhi oleh budaya barat dan bentuknya sudah tidak kolektivisme, melainkan sudah individualisme. Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi merupakan dua tokoh yang terkenal pada masa itu. 

Raja Ali Haji selain sebagai pakar bahasa dan sastra, beliau juga ulama sekaligus ahli hukum, sehingga hasil karyanya pun  sangat beragam sesuai dengan predikatnya. Ketekunannya dalam berbagai bidang membuat beliau disegani oleh teman sejawatnya.

Tokoh yang kedua adalah Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sebagai seorang yang mudah bergaul dan keahliannya dalam berbahasa Inggris dan Belanda, beliau diangkat sebagai penerjemah Gubernur  Jenderal Inggris di Singapura, Rafles. 

Pergaulannya dengan orang asing mempengaruhi pandangan dan cara berpikir orang barat. Beliau berani mengritik  bangsa Melayu, yang terkesan mengecilkan bangsa Melayu dibanding bangsa barat membuatnya dianggap terlalu modern.

Terima kasih sudah mampir dan komen di blog saya. Mohon tidak komentar SARA, Link Hidup. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.