Menu

Senin, 25 Februari 2019

/
Assalammualaikum.Wr.Wb

www.mildaini.com_Pernyataan Cinta Bung Karno Kepada Ibu Fatmawati.'
Tulisan ini saya mulai dengan pernyataan cinta Presiden RI pertama itu kepada ibu penjahit sang saka merah putih.


Di dalam buku Fatmawati, Catatan Kecil Berasama Bung Karno, fatmawati menuliskan pada halaman ke 26 dari buku setebal 273 halaman itu, sebagai berikut

Judul asilnya pada halaman itu Penyataan Cinta

Satu demi satu foto yang dibawa Bung Karno kuperhatikan. Setelah puas melihat foto, aku mencari waktu yang baik untuk minta pendapat Bung Karno masalah peminangan atas diriku.

“Pak, Fat ingin minta pendapat Bapak serta pandangan Bapak tentang seseoang pemuda yang ingin meminangku. Bagaimana sifat dan tingkah laku pemuda itu sehari-hari? Apakah tidak ada hal-hal yang mungkin dapat menimbulkan sesuatu yang tidak baik nantinya? Kami ketahui Bapak hubungannya dekat  dengan keluarga pemuda itu,” kataku.


Mendengar peryataan ku sedemikian itu Bung Karno diam saja. Karena beliau diam aku menjadi bingung. Kenapa diam saja? Apakah sakit? Atau ada sesuatu persoalan yang sedang dipikirkannya?Pikirku. Aku jadi serba kikuk. Mau mengulangi pertanyaansegan. Bung Karno diam saja, kemudian menundukkan mukanya di meja beberapa menit. Melihat hal ini akhirnya aku beranikan diri bertanya pada, Bapak.

“Pak, apakah Bapak sakit kepala? Atau kurang enak badan?” 

Bapak mengangkat kepalanya. Matanya ternyata berkaca-kaca, akhirnya beliau berkata.
“Fat, sekarang terpaksa aku mengeluarkan perasaan hatiku padamu. Dengarlah baik-baik. “ tanpa menunggu jawabanku Bapak melanjutkan pertanyaan.


“Begini Fat, sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu pertama kali aku bertemu denganmu., waktu kau pertama kali dulu ke rumahku. Saat itu kau terlalu muda untuk menerima penyataan cintaku. Oleh sebab itu aku tidak mau menngutarakannya.Nah, baru sekarang inilah aku menyatakan cinta padamu Fat”

Bapak diam sejenak dan terus memandangku dengan penuh perasaan. Bertanya
“Apakah kau cinta padaku”

“Bagaimana Fat cinta pada Bapak, bukankah Bapak mempunyai anak dan istri?” jawabku sambil dirundung keheranan dan emosi.

“Aku tak mempunyai anak, Aku sudah 18 tahun kawin dengan INggit dan aku tak dikaruniai seorang anak pun jua. Istriku pertma bernama Sundari,putrid dari Bapak Tjokroaminoto. Dalam keadaan suci, Sundari kukembalikan kepada orang tuanya, sedangkan Ratna Juami adalah saudara perempuan Inggit, dia sejak kecil kita ambil Fat, jadi teagsnya ia anak angkat kami. “ demikian Bung Karno berkata. Hal-hal dan keterangan ini belum pernah aku ketahui dan pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Bung Karno mendesak, “Fat, kau cinta padaku?”

Aku berpikir Bapak punya istri, aku jadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Aku hanya mampu berkata.

“Fat kasihan sama Bapak” dengan singkat.

“Aku tau mau Fat kasihan padaku, tetapi kau harus katakana bahwa kau cinta padaku. Ketahuilah Fat aku bingung untuk menjawab pertanyaan ibuku di Blitar, berulang kali beliau menyurati kapan ia diberi cucu lelaki. Dikatakannya bahwa Mbakyunya sudah mempunyai 4 orang putra. Aku dalam pembuangan. Hanya kaulah seorang jadi penghiburku. Jika aku berada di Jakarta dapat aku berunding dengan Moh. Husni Thamrin atau Mr.sartono dan lain-lainnya. Siapa yang akan memiliki buku-buku yang kau lihat di kamarku itu? Aku ingin satu anak laki-laki, satu saja, kalau pun lebih,syukur Alhamdulillah. Aku seorang pemimpin rakyat yang ingin memerdekakan bangsanya dari Belanda,tapi rasanya aku tak sanggup meneruskan jika kau tak menunggu dan mendampingiku. Kamu cahaya hidupku untuk meneruskan perjuangan yang maha hebat dan dahsyat” Rayuan maut.

Di Bengkulu ada beberapa cendikiawan Indonesia, yang menajdi pejabat karesidenan, tapi tapi rapat bergaul dengan kalanganku dan keluarga Bung Karno, antara lain Dr.Wororuntu seorang dokter hewan, dan seorang dokter lain, Dr. Jamil.

Keduanya masing-masing menajbat Kepala Bagian Kehewanan dan Kepala Bagian Kesehatan Karesidenan Bengkulu. Sekalipun mereka adalah pejabat Belanda, merekaberdua adalah sahabat pribadi Bung Karno dan kenalan baik ayah. Maklum kota kecil. Mereka sering piknik maupun main tenis bersama-sama. 

Setelah aku menceritakan pernyataan cinta Bung Karno, aku tak dapat mengetahui tanggapan orang tuaku. Aku sendiri terlibat pikiran dan perasaan yang tak menentu.

Setelah dipikirkan matang-matang oleh ayah, ayah mengambil keputusan akan minta nasihat dari orang tua-tua. Tapi tekadku sendiri sudah bulat. Andaikatapun pinangan akan diterima, aku baru akan dapat menyetujui apabila Bung Karno bercerai baik-baik dengan ibu Inggit. Aku tidak dapat menerima poligami. Aku tak akan mau dimadu.   



Tulisan ini dibuat dalam rangka ikutan #nulisserempak mengenai Ibu Fatmawati dari Blogger Bengkulu untuk mengenang 96 tahun Ibu Fatmawati, yang dilahirkan 5 mei 1923 silam.  

Salam, Milda Ini
2 comments

Masyallah.. Baper aku bacanya mbak . Jdi pengen punya bukunya .

Reply

Pasti sulit jd Bubg Karno. Namun sbg seorang lelaki dan pemimpin negara, tentu ia ingin memiliki keturunan.

Reply

Terima kasih sudah mampir dan komen di blog saya. Mohon tidak komentar SARA, Link Hidup. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.