Menu

Sabtu, 21 September 2019

/
Assalammualaikum.Wr.Wb

     Industri minyak sawit merupakan industri strategis dalam perekonomian Indoneisa baik saat ini maupun di masa depan. Dikatakan sebagai ekonomi strategis karena kontribusi industri minyak sawit yang cukup besar bagi ekspor non migas, menciptakan lapangan kerja, pembangunan daerah pedesaan, dan mengurangi kemiskinan.

    Dengan berkembang pesatnya industri kelapa sawit ini tentu saja juga memicu munculnya kampanye negatif atau hitam mengenai bisnis kelapa sawit. Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1980. Banyak sekali skenario yang diciptakan untuk menghentikan pertumbuhan bahkan menghancurkan industri minyak sawit.


     Strategi kampanye hitam dilakukan secara masif dan terstruktur, melibatkan banyak LSM. Baik tingkat lokal dan nasional. Menggunakan media massa baik secara offline dan online. 

   Dengan banyaknya kampanye hitam tersebut, maka bermuculan juga mengenai mitos minyak sawit dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Termasuk dari segi kandungan gizi, nutrisi dan juga dari sisi dunia kesehatan.

     Informasi mengenai gizi dan kesehatan terkait dengan minyak sawit yang muncul di masyarakat. Padahal banyak juga informasi yang sengaja disebarkan tersebut, tidaklah benar. Hanya sekedar persepsi sebagain orang saja. Bahkan banyak juga yang hanya sekedar mitos saja.

    Oleh karena itu pada tulisan saya kali ini,saya ingin menyampaikan beberapa mitos dan fakta mengenai kandungan gizi minyak sawit dan akibatnya bagi dunia kesehatan. Hal ini perlu kita ketahui, agar tidak terjebak pada informasi bohong.


   Tuduhan bahwa minyak sawit tidak baik untuk kesehatan sudah mulai dilakukan sejak tahun 1970. Berbagai riset gizi dan kesehatan terkait dengan konsumsi minyak sawit juga sudah mulai dilakukan oleh berbagai ahli baik di Indonesia, Malaysia maupun negara lain. Riset tersebut dilakukan bukan hanya untuk memberikan empirival evidence untuk counter tuduhan negatif terhadap sawit. Tapi juga untuk memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat agar keunggulan gizi yang dimiliki oleh minyak sawit dapat dinikmati konsumen.

    Apa benar masyarakat lebih menyukai menggunakan minyak kedelai , minyak rapesed, minyak bunga matahari dan bukan minyak sawit. Padahal minyak sawit merupakan minyak makan yang sudah ribuan tahun dikonsumsi oleh masyarakat. Baik sebagai minyak goreng, margarin, shortening maupun sebagai minyak nabati industri pangan.

     Selain itu minyak sawit merupakan salah satu dari 17 minyak nabati yang direkomendasikan sebagai bahan pangan oleh FAO dan WHO ( codex Alimentarius Commission, 1983)

      Hal ini dapat kita lihat pada selera masyarakat dunia. Kita  dapat melihat dari komposisi minyak nabati global. Setidaknya dalam periode 1965-2016 telah terjadi perubahan pada konsumsi minyak nabati global. Pangsa minyak sawit dalam konsumsi 4 minyak nabati utama dunia meningkat cepat dari 22 persen (1980) menjadi 39 persen (2016) sebaliknya pangsa minyak kedelai turun dari 55 persen menjadi 33 persen pada periode yang sama

    Perubahan selera konsumsi minyak nabati dunia tersebut menunjukkan bahwa konsumsi minyak nabati masyarakat telah bergeser dari minyak kedelai kepada minyak sawit. Dengan kata lain masyarakat dunia lebih menyukai menggunakan minyak sawit daripada minyak nabati.

Berikut 8 Mitos dan Fakta Minyak Sawit dari Segi Gizi dan Kesehatan

1.Mitos,  Minyak sawit yang diperdagangkan di pasar merupakan minyak dari biji sawit yang sama dengan minyak kelapa.

Dalam perdagangan minyak nabati dunia salah anggapan bahwa minyak sawit atau palm oil (PO) sama dengan minyak inti sawit atau palm kernel oil ( PKO) . Padahal keduanya amat berbeda baik secara fisik maupun kimia. Minyak sawit diekstraksi dari minyak daging buah sedangkan minyak inti sawit diekstraksi dari biji sawit . Minyak goreng sawit maupun mentega yang diperdagangankan di pasar berasal dari minyak sawit dan bukan minyak inti sawit.

Faktanya, berbeda dengan minyak inti sawit (choo and Nesarentnam 2014) yang didominasi oleh asam lemak jenuh, minyak sawit didominasi asam lemak tak jenuh. Dengan kata lain minyak sawit baik berupa minyak goreng atau mentega secara kimiawi tidak sama dengan minyak kelapa maupun minyak nabati yang berasal dari biji-bijian tanaman.

2.Mitos, Kandungan vitamin A pada minyak sawit lebih rendah dari bahan  sumber vitamin lainnya

Faktanya, Minyak sawit merupakan bahan pangan sumber energi dan asam lemak. Selain sebagai sumber energi, minyak sawit juga mengandung vitamin A yang relatif tinggi dibandingkan dengan bahan pangan lainnya. Minyak sawit kaya beta karoten, suatu antioksidan dan prekusor vitamin A ( krinsky 1993) kandungan vitamin A minyak sawit merah lebih tinggi dari kandungan vitamin A dari bahan-bahan makanan yang dianggap sebagai sumber vitamin A seperti jeruk, wortel, pisang dan lain-lain.

3.Mitos, Kandungan vitamin E minyak sawit lebih rendah dari minyak nabati lainnya.

Faktanya,Minyak sawit mengandung vitamin E yang paling tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Kandungan Vitamin E pada minyak sawit mencapai 1.172 ppm, lebih tinggi dari kandungan vitamin E minyak kedelai, minyak bunga matahari (546 ppm), minyak jagung ( 782 ppm). Selain itu minyak sawit mengandung 20 persen tocopherols dan 80 persen tocotrienols ( Man dan Haryati 1997) yang keduanya berfungsi sebagai antioksidan

4.Mitos, Minyak sawit mengandung kolesterol

Fakta, Selama ini berkembang informasi bahwa mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak seperti gorengan, cenderung dihindari karena mengandung kolesterol . Persepsi demikian terbentuk akibat kampaye hitam yang dilakukan oleh American Soybean Association awal tahun 1980. Sejauh ini tak satupun ahli gizi di dumia yang pernah mengatakan bahwa minyak goreng dari nabati seperti minyak goreng sawit mengandung kolesterol. 

Kolesterol hanya dihasilkan hewan dan manusia. Sedangkan tanaman tidak memiliki kemampuan menghasilkan kolesterol (Calloway and Kurtz 1956, USDA 1997, Giriwono dan Andarwulan 2016). Minyak goreng sawit yang dihasilkan dari tanaman kelapa sawit tidak mengandung kolesterol

5.Mitos, Minyak sawit mengandung asam lemak trans ( trans fatty acids)

Fakta, Asam lemak trans mempunyai dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu negara-negara Barat melarang menggunakan asam lemak trans dalam bahan makanan

Asam lemak trans dihasilkan dari proses hidrogenisasi untuk meningkatkan kepadatan suatu minyak dalam pembentukan minyak makan seperti minyak goreng kedelai. Minyak goreng sawit yang secara alamiah memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang Bersifat semi solid dengan titik leleh berkisar antara 33 -39 derajat celcius. Tidak memerlukan proses hidrogenisasi dalam penggunaannya sebagai lemak makanan sehingga asam lemak trans tidak terbentuk ( Hariyadi,2010)

6.Mitos, Minyak sawit memicu penyakit kanker

Fakta, Untuk mengatasi dan menghambat sel kanker radikal bebas harus dimusnahkan . Berbagai hasil penelitian di dalam maupun luar negeri ( sylvester et.al 1986; Chong 1987; Sundram et al 1989, Komiyama et al 1989; Muhilai dkk 1991; Iwasaki and Murokoshi 1992; Goh et al 1994; Guthrie et al 1993,1995) telah membuktikan bahwa konsumsi minyak sawit bermanfaat dalam menekan perkembangan sel kanker , menurunkan dan mengendalikan pertumbuhan ( berat dan volume) tumor dan mencegah berbagai penyakit degeneratif lainnya.

7.Mitos, Konsumsi minyak sawit dapat menimbulkan diabetes

Fakta , Kasus diabetes terkait dengan sekresi insulin yang sangat penting dalam metabolisme gula darah. Beberapa peneliti yang ada menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit tidak mempengaruhi sekresi insulin sehingga tidak menimbulkan diabetes ,Sundram et al 2007, Peairs, et al (2011 dan Filippou et al (2014) menemukan bahwa konsumsi minyak sawit tidak mempengaruhi laju aktivitas /fungsi sekresi insulin maupun kadar glukosa darah. Bahkan Bovet at al 2009 mengungkapkan bahwa penurunan konsumsi minyak sawit justru meningkatkan kasus diabetes.

8.Mitos , Konsumsi minyak sawit meningkatkan kolesterol darah sehingga memicu penyakit jantung dan kardiovaskuler

Fakta, Ada tiga fraksi lemak yang menentukan kualitas kolesterol dalam tubuh, yakni kolesterol jahat atau LDL (low desnity lipoprotein) dan kolesterol baik atau HDL ( high density lipoprotein) dan asam lemak (trigliserida) bagi kesehatan. Konsumsi minyak sawit dapat menurunkan LDL sebesar 21 persen dan menurnkan trigliserida 14 persen serta menaikkan HDL sebanyak 24 persen (mien dkk 1989) artinya mengkonsumsi minyak sawit justru menurunkan kolesterol jahat sekaligus meningkatkan kolesterol baik sehingga bagus bagi kesehatan tubuh.

Ternyata banyak informasi yang selama ini kita percayai, itu semua hanya mitos saja. Artinya selama ini kita percaya dan menyakini sesuatu yang keliru mengenai minyak kelapa sawit. Terutama mengenai kandungan gizi, dan bagi kesehatan.

Oleh karena itu dengan banyaknya kebaikan yang dimiliki sawit ini, sudah seharusnya kita juga berperan untuk menyebarkan informasi yang benar mengenai #SawitBaik ini. Agar tidak lagi banyak orang yang terjebak pada mitos minyak sawit.

Jika makin banyak orang yang turut serta dalam penyebaran informasi yang baik mengenai minyak sawit ini maka sawit Indonesia akan kuat dan bisnisnya juga akan semakin besar.


Nah, dengan informasi mengenai mitos dan fakta mengenai minyak sawit ini. Semoga bisa memberikan pencerahan bagi teman-teman dalam menggunakan minyak kelapa sawit di dalam kehidupan sehari-hari. 

Diberdayakan oleh Blogger.