Menu

Selasa, 17 Mei 2016

/
 Alhamdulillah, Saya Melahirkan Normal dan Spontan

Sejak saya  masuk ruangan persalinan ini pembukaan untuk lahiran baru dua longgar jalan tiga. Masih lama ya, kan butuh 10 biar lengkap.
Saya masuk IGD rumah sakit Ummi Bengkulu ini sejak jam 24.00 pas pergantian hari dari tanggal 14 Mei menuju15 Mei. Akan menjadi kado yang imdah bagi ultah saya jika debaynya lahir pas di tanggal 15 Mei. Ultah kami akan samaan ya.
Masuk rumah sakit juga karena bu bidan sedang sakit. Akhirnya terdamparlah di sini. Setelah melakukan pendaftaran dan pemeriksaan di IGD, kami lanjut ke ruang bersalin.

Ternyata mendaftar melahirkan di rumah sakit dengan kartu BPJS sangatlah mudah dan cepat.
Kontraksi masih lambat, sekitar persetengah jam. Saya memilih duduk di luar saja sembari bercerita dengan suami. Di dalam di kanan saya ada pasien usai di kuret, sedang rame dikunjungi. di sebelah kiri, seorang ibu yang sudah siap menunggu mau melahirkan. Menunggu dokternya datang. 

Ruangan atau tempat tidur bersalinnya dibuat berjejer tiga, hanya dipisah dengan menggunakan tirai tebal. Memang tindakan di sebelah tidak terlihat, hanya terdengar suara saja. Tapi hal ini membuat saya kurang nyaman.

Tak berapa lama saat saya duduk di luar dokternya datang dan ibu sebelah kanan itu melahirkan. Anaknya cewek.  Keluarganya yang menunggui di luar bersorak girang dan berucap syukur. Hari baru bergerak menuju angka dua dini hari.
Saya mulai terasa lapar, kemudian suami membelikan nasi goreng. Kami duduk di saung sambil makan. Saya hanya makan setengah dari porsi yang ada. Lalu saya pamit kepada suami. 

Sekitar jam 3 dini hari. Saat itu, pasien sebelah kanan sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Saya memilih tidur. Kontraksi semakin teratur dan terasa.
Usai subuh suami datang membangunkan. Dia ternyata tidur di mobil. Lalu saya diperiksa dalam kembali oleh bidan. Ternyata pembukaannya baru jalan tiga menuju empat. 
Kata bidan, akan tetap ditunggu secara alamiah sampai dengan jam sepuluh pagi. Jika pembukaan bertambah maka akan dilanjutkan dengan pimpin bersalin. Tetapi kalo lambat maka akan dilakukan tindakan memberikan rangsangan bertahap. Tetapi kalo sudah diberikan rangsangan belum juga lengkap pembukaannya maka akan dilakukan operasi.

Mendengar hal tersebut, artinya masih lama. Kami ijin kepada bidannya untuk makan lontong. Saat itu kontraksi tetap saja terjadi. Jam enam pagi kami bergegas menuju Simpang Padang Harapan. Kami makan lontong dan minum teh di dekat SD Negeri 20.

Tak lama, karena kuatir dicari ama bidannya. Kami balik lagi ke kamar. Saya ingin mandi saja sembari menunggu bertambahnya kontraksi. 

Pasien di sebelah kiri saya bersiap akan pulang. Artinya tinggal saya sendiri. Saya lanjut mandi. 

Usai mandi, di atas tempat tidur saya sudah tersedia sarapan pagi. Wah, suami saya juga kaget. Dikira gak dapat makan karena pake BPJS, hihihi.

Saya memutuskan untuk makan sop baksonya dan minum tehnya saja. Bubur nasinya tak saya sentuh. Saat itu kontraksi semakin terasa dan teratur. Saya merasa lebih segar dan siap setelah mandi. Wangi juga, jadi lebih nyaman.

Jam delapan bidan jaganya pamit pulang. Tugas diserahkan kepada bidan selanjutnya.

Sekitar jam sembilan , bidannya ijin mau melakukan pemeriksaan dalam lagi. Ternyata sudah pembukaan tiga jalan empat.

"bu, nanti kita lihat lagi di jam sepuluh ya, jika ada kemajuan sampai lima. Maka kita akan lanjut dengan memberikan suntikan rangsangan lewat inpus."

Saya dan suami setuju.

Tepat jam setengah sebelas, setelah dilakukan pemeriksaan dalam kembali dan di pasang infus. Akhirnya saya disuntik rangsangan yang dimasukan ke botol infus. Dengan tetesan pelan dan dosis setengah ampul atau botol saja.

Kontraksi semakin bertambah menjadi persepuluh menit. Saya mengalami kesakitan yang lebih sering.

Lalu di jam setengah dua belas, tetesan semakin dipercepat. Saya mengalami kesakitan yang lebih sering perlima menit. Pembukaan kian bertambah cepat,

Bidannya segera menelpon dokter memberitahu dan berharap dokternya segera datang.

Kian ke sini, konstraksi kian cepat. Saya sudah tak bisa  menahan dan akhirnya saya mengerang kesakitan. Jika sebelumnya setiap kontraksi datang saya mencoba menahan, menikmati dan banyak berdoa. Kesakitan kali ini saya mengeluarkan suara, harapan dan keluhan rasa sakit.

Ayo dek, cepat keluar, Meme udah gak kuat lagi, ucap saya. Suami memeluk dan membacakan doa. Lebih tepatnya mengajak dan memimpin saya untuk membaca doa. Rasa sakit ini sangat luar biasa. Tak ada rasa sakit yang lebih sakit dari rasa sakit mau melahirkan. 

Meski kehamilan keempat, rasa sakit ini tak mampu saya tahan dan lukiskan. Saya tak mampu melewatinya dengan senyum. Saya meringgis sakit sekali.

Saya tahu jika sudah sampai di rasa sakit ini, maka bayi akan segera keluar dan pembukaannya sudah lengkap.

Bidan memberitahu dokter, bahwa pembukaan sudah lengkap dan ketuban belum pecah. Dari telpon tersebut, dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindakan pemecahan ketuban. 

Semenit kemudian, dokternya muncul. Ketuban dipecahkan. Sedetik kemudian air mengalir deras seperti banjir bah, bayi ikutan keluar. Terdengar suara bayi menangis.

"bu jangan mengedan, tunggu sebentar!"

"Saya tidak mengejan" jawab saya sembari berpegangan tangan ke tiang tempat tidur.

Lalu keluar plasenta dan yang lain-lainnya. Suami segera memeluk dan memberitahu bahwa bayi sudah lahir selamat.

Tinggal lagi dokter melakukan pemijatan , menekan perut saya, memastikan bahwa semua sudah keluar dan tak ada yang tertinggal.

Tak perlu ada jahitan karena tidak ada robekan.

Saya dibersihkan oleh bidan dan debaynya dibersihkan. Dedeknya perempuan dengan bb 3,1 kg. 

Suami segera membacakan azan dan iqomat. Saya terucap syukur alhamdulillah seiring dengan perginya rasa nyeri.

Saat membersihkan dan membereskan saya. Bidannya sempat bercerita kalo dia tadi belum sempat memakai sarung tangan. Sedang bidan satunya pakai karena habis memecahkan ketuban. Makanya tadi diminta untuk menahan mengejan, dokternya juga baru saja masuk ruangan.

"maaf saya tadi tidak mengejan. dan tak bisa menahan. usai keuban dipecahkan seolah terjadi banjir badang. semua ikut tersapu keluar." jelas saya sambil tersenyum geli.

Alhamdulillah , semua prosesnya dimudahkan. Berbeda dengan proses melahirkan sebelumnya. Saya harus melakukan proses latihan mengejan terlebih dahulu. Dan diminta mengejan beberapa kali supaya bayi keluar. Sempat salah juga saat mengejan. Tapi kali ini tidak. Terima kasih ya Allah. 
  
Diberdayakan oleh Blogger.