Menu

Rabu, 23 November 2016

/


Assalammualikum Wr. Wb

Beberapa waktu yang lalu saya ikut program dari badan Bahasa mengenai diseminasi bahasa daerah ke bahasa nasional. Pada saat itu dipaparkan oleh perwakilan badan Bahasa salah satu yang mendasari dilakukan kegiatan tersebut karena pada saat itu bapak Anies Baswedan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan prihatin melihat kondisi jumlah kosa kata yang ada di kamus bahasa Indonesia yang tidak banyak atau tidak ada penambahan kata. Padahal Indonesia begitu kaya dengan bahasa daerah.

Oleh karena itu pak Anies bermaksud untuk menambah kosakata bahasa Indonesia tersebut dari bahasa daerah. Saya pun ikutan menyumbangkan bahasa daerah Bengkulu untuk menjadi kosakata nasional. Belum tahu sih kabarnya, diterima apa tidak. Kabarnya jika kosakata yang saya usulkan tersebut disetujui. Maka saya akan dihubungi langsung oleh panitia penghimpunnya

Kegiatan Diseminasi tersebut dilakukan oleh badan Bahasa bekerjasama dengan kantor Bahasa Bengkulu. Kegiatan ini hampir dilakukan di setiap daerah secara bergiliran. Saya berkesempatan hadir untuk daerah Bengkulu. Mewakili dari penulis Forum Lingkar Pena (FLP) dan Blogger Bengkulu

Lalu, sekarang saya ingin membahas betapa seringnya kita menggunakan bahasa asing untuk menjelaskna tentang sesuatu agar mudah dipahami oleh orang lain.

Lama kelamaan bahasa asing tersebut menjadi sangat familiar di telinga kita. Kita sering menggunakan kosakata tersebut. Bahkan dalam acara formal pun kita sering menggunakan bahasa asing. Padahal kita sangat kaya dengan bahasa.

Bagian pertama

Kita sering menyebutkan kata gagjet daripada gawai. Lalu Mc atau master of ceremony, jarang banget yang menyebutkan atau menuliskan dengan kata Pewara. Ini yang paling sering, kontak person atau contact person, padahal kita bisa gunakan kata Narahubung. Ruangan VIP, bisa kita sebutkan dengan kata Naratama. Pada maksud layanan tanpa turun drivethru, kita bahkan tak pernah atau baru tahu, saya pun begitu, bisa kita gunakan kata Lantatur.

Kata-kata yang seharusnya kita gunakan





 
Bagian Kedua

Selanjutnya kita bisa menggunakan beberapa kata baru, sebenarnya bukan baru sih. Cuma sering saja kita gunakan kita gunakan kata Laman untuk mengatakan homepage. Lalu kata tautan untuk sebutan Link. Situs Jaringan untuk menggantikan kata website. Terus akun resmi sebaiknya kita gunakan untuk menjelaskan atau menyebutkan official account. Ini sering banget kita pakai untuk membuat tagar (tanda pagar) tapi lebih sering kita gunakan kata hashtag.

 
Bagian Ketiga

Yang harus kita perhatikan juga saat menggunakan kata-kata berikut ini , sebaiknya kata-kata ini lebih kita sering gunakan di dalam tulisan-tulisan kita.
1. Naratama : VIP
2. Balai Riung : Ballroom
3. Linimasa : Timeline
4. Swafoto : Selfie






Bagian Keempat 

Sebagai blogger dan penulis artikel tentu saja kita juga sangat akrab dengankata-kata berikut ini. Mungkin sering juga menggunakannya. Bahkan kita kadang lupa tulisan atau kata aslinya apa. Sering juga malah kita menggunakan bahasa alai atau lebai untuk menuliskannya. Misalnya kata Unduh, kita lebih sering menggunakan kata download atau donlot? Aku sering menggunakan kata donlot , kalo kamu? lalu kata Unggah, sering Upload atau uplot. Lalu kayaknya seringan kita menggunakan kata online daripada daring. Kata daring masih sangat jarang kita dengarkan atau baca. Lalu offline, seharusnya menggunakan kata luring. Bagian ini yang paling sering berhubungan dengan kita sebagai penulis dan blogger  Pos-el, kita lebih sering menyebutkannya Email. benar bukan? 




Bagian Kelima

Terakhir bagian lima, bagi teman-teman yang sering berkaitan dengan ruang publik atau sebagai penyelenggara kegiatan publik. Kata-kata berikut ini sebaiknya kita coba gunakan. Tema busana untuk kata dress code. Saya saat ini mulai sering menggunakan kata narahubung untuk kata contact person. Acara-acara talkshow, seharusnya menggunakan kata Gelar Wicara. yang paling jarang atau aneh saya gunakan adalah kata mancakrida untuk menjelaskan atau menyebutkan kegiatan outbond. Selanjutnya kata public speaking sebaiknya kita tulis Wicara Publik.

Memang himbauan ini diberikan secara gencar pada saat bulan Bahasa, bulan Oktober. Namun tak ada salahnya kita simpan dan pelajari sepanjang masa. Apalagi kalo diterapkan sejak dini, kita lakukan setiap akan menulis dan berbicara.

Bagaimana sipa kita menjadi bagian semangat pemartabatan bahasa melalui budaya literasi . Haruslah ,siaplah ya. Ini bagian dari perjuangan kita sebagai penulis.

Mulai saat ini kita coba untuk sering menuliskan kata-kata tersebut di blog kita ya. Pilihan katanya sudah diberikan tinggal kita praktikkan. Jangan bangga dengan bahasa negara lain :D

Salam, semoga bermanfaat
Diberdayakan oleh Blogger.