Menu

Kamis, 22 Maret 2018

/
Mildaini.com_Sekolah Sawit Lestari Dari RGE Memperkenalkan Pengelolaan Kelapa Sawit. Indonesia saat ini memiliki status ganda dalam industri kelapa sawit. Negeri kita menjadi eksportir sekaligus konsumen kelapa sawit terbesar di dunia. Oleh karena itu, pengelolaan kelapa sawit yang tepat sangatlah penting. Inilah yang tengah diajarkan oleh Royal Golden Eagle (RGE) dengan program Sekolah Sawit Lestari.

Industri kelapa sawit merupakan salah satu bidang yang digeluti oleh Royal Golden Eagle. Korporasi yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini termasuk salah satu perintis bisnis tersebut di negeri kita. Pendirinya, Sukanto Tanoto, yang memulainya sesudah berkunjung ke Malaysia beberapa puluh tahun lalu.


Source RGE
Saat itu, Sukanto Tanoto melihat industri dan perkebunan kelapa sawit dikembangkan di Malaysia oleh sejumlah perusahaan asal Inggris. Sukanto Tanoto lantas berpikir bahwa hal serupa dapat dilakukan di Indonesia. Pasalnya, kondisi alam dan iklim negeri kita sama dengan Malaysia.

Namun, Indonesia malah memiliki keuntungan tersendiri. Pangsa pasarnya lebih besar karena jumlah penduduknya jauh lebih banyak dibanding Malaysia. Inilah yang kemudian membuat RGE menerjuni bisnis kelapa sawit.

Pilihan tersebut akhirnya terbukti tepat. Royal Golden Eagle berkembang menjadi salah satu pemain besar dalam industri crude palm oil. Mereka akhirnya turut berkontribusi besar dalam memajukan bangsa. Lihat saja  jumlah devisa yang disumbangkan oleh bisnis kelapa sawit. Menurut data dari Kementerian Pertanian, pada 2014, Ekspor produk kelapa sawit menghasilkan devisa sebesar 19,56 miliar Amerika Serikat atau setara Rp250 triliun.

"Produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) pada 2014 sebesar 29,34 juta ton. Adapun kebutuhan minyak nabati dunia saat ini lebih dari 50 persen bersumber dari minyak kelapa sawit," kata staf ahli bidang Lingkungan Pertanian Kementerian Pertanian, Mukti Sardjono, di Berita Satu.

Fakta ini memperlihatkan industri kelapa sawit tidak bisa dianggap remeh. Alhasil, pendidikan tentang pengelolaannya secara profesional sangatlah penting supaya proses produksi membuahkan hasil maksimal.

Hal ini mulanya dipikirkan oleh Alfakihi. Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas 11 Batanghari ini mulanya merasa risau dengan keadaan para siswanya. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak petani kelapa sawit, namun, para siswa tersebut tidak tahu cara pengelolaan perkebunannya dengan profesional. Cara-cara lama dan tradisional masih mereka lakukan.

Akibatnya sungguh buruk. Hasil perkebunan kelapa sawit tidak maksimal. Ini jelas menyedihkan. Apalagi, para siswa tersebut banyak yang akan meneruskan jejak orang tuanya sebagai petani kelapa sawit.

Alfakihi yang gusar akhirnya memberanikan diri untuk mengajak bekerja sama dengan sejumlah perusahaan kelapa sawit di sekitar areanya di Batanghari, Jambi. Ia mencetuskan ide untuk membuat pelajaran khusus tentang perkebunan kelapa sawit yang modern dan profesional.

Beruntung, ide Alfakihi mendapat sambutan baik dari sebuah anak perusahaan Royal Golden Eagle. Usulannya direspons positif oleh PT Inti Indosawit Subur yang merupakan bagian dari Asian Agri Group.

“Beberapa bulan lalu, kami mendapat ide untuk menjalin kerja sama dengan pelaku industri kelapa sawit untuk membuat Sekolah Sawit Lestari,” kata Alfakihi.

Akhirnya Sekolah Sawit Lestari diluncurkan oleh RGE sebagai muatan lokal di sejumlah sekolah di Provinsi Jambi. Kegiatan dimulai secara simbolis di SMA Negeri 11, Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Jambi, pada November 2016.

Sekolah Sawit Lestari diposisikan untuk mendukung proses belajar-mengajar di tingkat SD, SMP dan SMA, yang dihimpun dalam muatan lokal tentang pemanfaatan lahan sekolah. Tujuannya supaya menghasilkan manfaat bagi warga sekolah serta lingkungan sekolah. Proses pembelajaran dilakukan di sekolah yang memiliki lahan yang dapat dipergunakan.

PRAKTIK LANGSUNG DALAM PEMBELAJARAN

Source Kompas

Sekolah Sawit Lestari juga memiliki dua program utama yang saling berhubungan. Bersama dengan para pengajar yang kompeten, Royal Golden Eagle merancang pelajaran supaya para siswa memahami perkebunan secara teoritis dan praktik. Mereka tak hanya mendapat masukan berdasarkan kondisi yang terjadi di daerahnya, namun juga memperoleh ilmu dari para profesional dari RGE.

Pelajaran akhirnya dilakukan setiap Sabtu selama dua jam. Selama mengikuti pelajaran, para siswa tidak hanya berada di dalam kelas untuk mendengarkan teori. Mereka juga diajak terjun langsung ke perkebunan milik RGE maupun pabriknya untuk melihat praktik yang tepat dan pengolahan yang baik.

Bersamaan dengan itu, grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini menyisipkan materi lain dalam Sekolah Sawit Lestari. Mereka mengajari para siswa tentang kesadaran untuk menjaga lingkungan. Diharapkan para siswa akan terpanggil untuk merawat alam di sekitarnya dengan baik.

RGE mau menggelar Sekolah Sawit Lestari karena selaras dengan prinsip kerja perusahaan. Semua anak usaha Royal Golden Eagle memang diwajibkan untuk mampu memberi manfaat kepada pihak lain, khususnya masyarakat di sekitar perusahaan. Sekolah Sawit Lestari memenuhi kriteria tersebut.

Head CSR & Sustainability Asian Agri, Welly Pardede menjelaskan, selain berupa pelajaran, Sekolah Sawit Lestari termasuk bagian dari pemberdayaan masyarakat. "Program ini merupakan bagian dari kegiatan Corporate Social Responsibility perusahaan di bidang pendidikan dan bidang perekonomian. Ke depannya program Sekolah Sawit Lestari ini diharapkan dapat menopang kemandirian sekolah dari sisi finansial," tutur Welly di Berita Satu.

Materi dalam Sekolah Sawit Lestari memang didominasi oleh praktik langsung. Para siswa diajak berkebun secara langsung di sekolah. Nanti hasilnya dapat dimanfaatkan sekolah untuk keperluan apa pun.

RGE turut memberi kontribusi lain berupa pemberian bibit kelapa sawit. Mereka pun menerima hasil perkebunan sekolah untuk dijual ke tempat mereka.

Berkat kerja sama semacam ini, banyak sekolah di Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Utara yang tertarik untuk mengikuti Sekolah Sawit Lestari. "Kami sangat berterima kasih atas kepedulian perusahaan. Sebab, dengan adanya Sekolah Sawit Lestari ini, aktivitas siswa di sekolah sangat terdukung," ujar Alfakihi.

Menurut Alfakihi, dengan adanya pengajaran teknis budidaya berkebun kelapa sawit, pengetahuan siswa akan meningkat. Hal ini memang sangat dibutuhkan karena pada umumnya para siswa adalah anak dari petani sawit.

Kebetulan, program ini juga merupakan kegiatan jangka panjang dari RGE. Selama berlangsungnya Sekolah Sawit Lestari, grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini akan mendampingi pihak sekolah dan bersama-sama menyusun materi pembelajaran tentang sawit berkelanjutan. Di dalam kegiatan tersebut termasuk praktik langsung berupa kunjungan lapangan, diskusi interaktif, serta pemantauan berkala tanaman sawit yang ditanam warga sekolah.

“Pendampingan dan belajar langsung di lokasi penanaman kelapa sawit akan mempermudah murid memahami  praktik terbaik pengelolaan kelapa sawit dan memperkuat kesadaran menjaga kelestarian lingkungan mulai dari tingkat sekolah," ucap Alfakihi.

Pemerintah daerah Batanghari sangat mengapresiasi Sekolah Sawit Lestari yang digulirkan oleh RGE. Asisten 3 Pemerintah Kabupaten Batanghari, Rizal, menilai kegiatan ini merupakan terobosan penting. Ia berharap banyak perusahaan lain yang mau membuat kegiatan serupa mengikuti jejak Royal Golden Eagle dalam mendorong kemandirian masyarakat.
Diberdayakan oleh Blogger.