Menu

Rabu, 06 Januari 2016

/




Foto Koleksi Tempo
           
Beberapa hari lalu saya membaca salah satu tulisan temannya  , biasa kami menyapanya Kang Arul, seorang Blogger dan Dosen. Dalam tulisan tersebut beliau menjelaskan mengenai suatu gejala baru yang menjangkiti seseorang pemain sosial media. Dalam hal ini beliau lebih menekankan hal tersebut terhadap Blogger. Yaitu penyakit selalu ingin update (sindrom tak mau ketinggalan )

Saya menyimpulkan dari sisi lain setelah membaca tulisan beliau yang cukup panjang tersebut. Bahwa sindrom selalu mau up date dan tak mau ketinggalan tersebut merupakan salah satu tingkah pola suka pamer dan ikut-ikutan yang merupakan salah satu gelombang yang pasti menimpa seseorang pengguna sosial media. Saya lebih menekankan kepada pengguna Fesbuk, Twitter, Instagram, BBM.

Mengapa dengan pengguna sosial media ini. Ya, karena hampir semua orang mempunyai akun tersebut. Dari anak-anak, orang dewasa sampai orag tua. Aplikasi ini pun sangat mudah digunakan dan tak perlu pengetahuan atau latihan khusus. Berbeda dengan pemain Blogger. Mereka harus mempunyai ilmu yang lebih untuk bisa bermain Blog.

Apalagi aplikasi ini mudah sekali kita temui di semua tipe gagjet. Mau yang mahal, menengah bahkan yang murah pun menyediakan aplikasi tersebut. Sehingga semua lapisan masyarakat bisa menggunakan dan dapat di akses di mana-mana. Hanya dengan koata minim pun sudah bisa loding. Menjelajah kemana-mana. Nyetatus, uplod foto, video, komen dan lain sebagainya.  

Penyakit suka pamer , sindrom gak mau ketinggalan di sosial media itu disebut juga FoMO  singkatan dari Fear of missing out atau bahasa sederhananya sindrom takut kehilangan (ketinggalan). Penyakit ini sudah mulai ramai dibincangkan di antara peneliti media sosial, terutama prilaku penggunannya. Uniknya pengidap FoMO tidak sadar apa yang hilang dari dalam dirinya. Yang pasti ia tidak bisa menguasai diri atau merasa ketakutan apabila ada orang lain mendapatkan sesuatu atau berprestasi dan mengumumkannya di media sosial.

Sebagian orang ingin memberitahu tentang segala sesuatu lewat sosial media, tetapi di sisi lain sebagian besar malah apa yang dilakukan dengan alasan ingin ‘memberitahu’ sudah berubah menjadi keinginan untuk pamer atau pandir tentang segala sesuatu. Jadi ya, meski mirip-mirip. Keinginan untuk pamer tersebut yang harus bisa kita kendalikan dan kuasai. 

Ini saya ambil dari tulisan temannya mengenai Definisi FoMO menurut kamus Oxford:
Dalam kajian Psikologi, FoMO merupakan level terendah kebutuhan psikologis akan kepuasan dan sekaligus pengakuan akan kepuasaan itu. Teori ini dekat dengan kajian tentang Teori Determinasi Diri (self-determination theory) yang menurut  tulisan dari Deci & Ryan (1985) teori ini muncul dari kondisi psikologis di mana seseorang membutuhkan pengakuan dari orang-orang yang sebenarnya tidak terelasi atau terkoneksi dengannya.

Sebuah riset bahkan menyebutkan bahwa kondisi FoMO muncul karena kurangnya kebutuhan psikologis seperti cinta dan penghormatan. Di dunia perbloggeran, kondisi ini bisa muncul karena adanya rasa iri terhadap blogger lain dan mengira bahwa capaian-capaian tersebut adalah sebuah standar sehingga harus juga dipenuhi.

Apakah FoMO berbahaya? Secara psikologis sebenarnya hal ini bisa membahayakan. Bahkan menurut Catherine Chen, Ph.D  maupun Gabriel Mizrahi  FoMO bahkan bisa ‘membunuh pengidapnya. FoMO yang akut bisa menyebabkan depresi dan menimbulkan penyakit mental lainnya.

Lalu, kita harus bagaimana donk bersosial media. Ya tetap saja menggunakan sosial media seperti selama ini. Tetapi jika sudah terjangkit FoMo, jika masih bisa disembuhkan yang lebih baik. Jika tidak bisa disembuhkan, ya dikurangi deh supaya gak mendalam, heheeh.

Saran saya tetaplah bijak dalam menggunakan sosial media. Toh, aplikasi ini diciptakan juga banyak sisi baiknya bagi kehidupan kita. So, ambil sisi baiknya, buang sisi buruknya. Banyak-banyak bersyukur dengan menjalankan banyak kegiatan ibadah. Bukan dengan mengumbarnya ke sosial media. Membagikan kebahagian itu baik, tetapi alangkah lebih baik membaginya dengan orang-orang yang memang membutuhkan , jadi tidak salah sasaran. Dengan banyak beribadah semoga dapat membuat  hati kita selalu bersih dan terhindar dari sifat ingin pamer.

So, Semangat ya bersosial media, bagikan kebahagianmu kepada orang-orang yang membutuhkan dan tepat. Dan tak perlu mengumbar rasa syukur tersebut secara berlebihan ke sosial media tanpa tindakan yang nyata untuk berbagi secara langsung terhadap sesama.



4 comments

Setuju sekali mbak. FoMo udah jadi trending topic deh. Hhhhe

Sikapi dg postink sajalah. Hhhhee
Trimakasih utk sharing nya ya mbk.
Bisa buat cerminan diri juga hhee

Reply

Iya, gunakan seperlunya. Gak semua hal harus kita tukis di status kan. Semoga kita bisa lebih bijak dan gak suka pamer

Reply

Pamer dan memberi semangat untuk diri sendiri itu beda tipis. :) Tergantung pemikiran orang

Reply

Oh, begitu ya Mb. karena bedanya tipis. mana yang paling sering terlihat akhirnya

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin