Menu

Minggu, 12 November 2017

/
Ruang Aula KH Djama'an Nur IAIN Bengkulu
Bengkulu salah satunya selalu dilekatkan dengan sosok ibu Fatmawati, istri dari presiden pertama Indonesia. Ya, Ibu Fatmawati adalah salah satu gadis dari Bengkulu. Bung Karno bertemu dengan bu Fatmawati ketika beliau diasingkan di Bengkulu pada tahun 1938.

Meski demikian, banyak juga orang Bengkulu. Terutama generasi Zaman Now, banyak yang belum tahu dan mengenai sosok ibu Fatmawati ini. Sebagian besar hanya mengetahui bahwa Bu Fatmawati adalah penjahit bendera merah putih untuk pertama kali.

Padahal banyak informasi yang lainnya ya...

Ada banyak fakta unik ibu Fatmawati yang harus kamu ketahui. Demi memenuhi kebutuhan informasi mengenai sosok Ibu Fatmawati, maka komunitas Bengkulu Heritage Society (BHS) bekerjasama dengan Bank Indonesia Bengkulu dan IAIN Bengkulu. Mengadakan sebuah kegiatan seminar untuk membedah sosok ibu Fatmawati tersebut.

Seminar ini dihadiri langsung oleh cucu ibu Fatmawati , Anaknya Guntur Soekarno, yaitu Puti Pramathana Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri. Panjang juga ya namanya. Lebih dikenal dengan nama Puti Guntur Soekarno. Beliau anak tunggal bapak Guntur, putra ibu Fatmawati dan Soekarno.

Ibu Hilda yang berbaju kebaya Hijau
Selain itu juga hadir ibu Hilda yang merupakan masih keturunan langsung dari ibu Fatmawati, dari Yayasan Fatmawati.

Beberapa cerita langsung yang dapat saya catat dan bagikan dalam kegiatan ini , mengenai sosok bu Fatmawati dari Bu Puti adalah sebagai berikut,

Puti memang sangat dekat dengan Embuh, begitu beliau memanggil neneknya . Dulu, Embuh Fatmawati sering menjemput Puti pulang sekolah dengan menggunakan bajai. Sepulang sekolah biasanya mereka tidak langsung pulang ke rumah. Tetapi lebih sering mampir terlebih dahulu ke warteg untuk membeli makanan sejenis lotek/ ketoprak.

Hal ini berlangsung terus menerus, sampai Puti kelas 3 Sekolah Dasar dan Ibu Fatmawati meninggal dunia.

Dari Embuh Fatmwati, Puti mengenal dan tahu dengan dunia membaca. Fatmawati sering sekali membacakan berbagai dogeng atau buku saat Puti hendak tidur. Buku-buku tersebut Fatmawati dapatkan dari penjual buku bekas atau buku loakan. 

Memang Puti sangat dekat dengan Fatmawati sebab ayahnya Guntur saat itu sedang bersekolah di Belanda. Atas masalah politik, anak-anak Fatmawati seperti Megawati dikeluarkan dari IPB. Jadi semua anak Bung Karno saat itu tidak ada yang kuliah di Indonesia. Mereka dipaksa untuk keluar kampus.

Puti juga bercerita dari Embuh Fatmawati, dia mengetahui berbagai jenis masakan Bengkulu. Dia juga kenal dan biasa makan Pendap, Bagar Hiu, Rendang. Sampai dengan Kabau. Ketika Puti menceritakan perihal Kabau ini, kami semua termasuk saya tertawa geli. Saya pun jadi ingin makan sambal Kabau dan Teri. 

Ibu Fatmawati juga sangat suka memasak. Jika dia masak , maka dapur akan rame. Bu Fatma kalo masak suka melibatkan banyak orang. Ada yang menggiling bumbu, membersihkan sayur, mencuci perabotan dan lain sebagainya. Semua akan diajak terlibat untuk masak. Apalagi jika masak Rendang.

Lalu diceritakan juga, bahwa Fatmawati juga banyak menguasai bahasa di dunia, seperti Inggris dan Perancis. Semua itu didapatkan oleh Fatmawati dari belajar dengan Bung Karno. Selain itu memang sewaktu di istana, Fatmawati juga meminta untuk diajarkan berbagai bahasa. fatmawati kursus belajar berbagai bahasa dengan guru khusus di istana.

Cerita mengenai bendera pusaka, memang sejak lama sebelum direncanakannya prokklamasi tersebut, Fatmawati memang sudah merancang akan membuat bendera pusaka yang akan dikibarkan saat pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno. Sebab ini penting, bendera adalah sebagai simbol bebasnya atau merdekanya suatu bangsa. 

Untuk soal penampilan, memang ibu Fatmawati orangnya sangat menjaga penampilan dan sopan santun dalam berpakaian. Sejak dulu selendang dan trend pakaian Bu Fatmawati menjadi rujukan banyak kaum perempuan saat itu dalam berbusana. 

Ibu Hilda juga menambahkan, berdasarkan pengalaman beliau, bahwa ibu Fatmawati orangnya tidak mau sembarangan dalam berbagai hal. Bu Fatmawati adalah orang yang kuat, mandiri dan kuat pendiriannya. Prinsipnya yang kuat ini juga diwariskan oleh Ayahnya yang dulunya juga sebagai pendiri atau orang Muhammadiyah Bengkulu. Bu Fatmawati juga religius, senang mengaji.

Ibu Puti yang juga cantik dan cerdas seperti Embuh Fatmawati
Lomba Blog dan Essay

Untuk menyebar luaskan berbagai informasi mengenai Bu Fatmawati, maka panitia membuat lomba penulisan blog dan essay mengenai sosok bu #FatmawatiPerajutNegeri. Lomba ini hanya berlangsung selama enam hari, yaitu sejak tanggal 1-6 November 2017. Tujuan digelar lomba ini, salah satunya juga untuk memperingati Hari Pahlawan.

Saya kebetulan ikut lomba blognya, ya meski saat menulisnya hanya tiga jam saja sebelum masa detlen. Jadi ceritanya, saya baru tahu informasi lomba pada tanggal satu malam itu. Sedangkan tanggal dua saya harus pergi ke Bandung dan pulang kembali ke Bengkulu pada tanggal 6. Saat hari detlen.

Melihat kondisi yang mepet begitu, akhirnya saya mengajak teman-teman #BloggerBengkulu untuk bermain atau berkunjung ke rumah bu Fatmawati. Tujuannya untuk menggalih spirit dan sosok bu Fatmawati. Seru sekali kami ngumpul di sana, saling mencari informasi dan tentunya juga saling foto bersama. Ya, demi kebutuhan foto pendukung artikel blog. 

Alhamdulillah, meski mepet begitu. Dari bandara Fatmawati sore itu saya sampai jam enam sore dari Jakarta. Karena lapar, akhirnya selepas Maghrib saya mengajak anak-anak dan suami makan dulu di Cak Didi. Sebab saya sangat lapar, tadi di bandara Halim. Makannya hanya sedikit, belum kenyang. Mana makanannya mahal-mahal. Busui seperti saya , ya mudah sekali terasa lapar.

Jadi, kami makan dulu , setelah itu lanjut mampir ke rumah Nenek Nawra untuk menyerahkan oleh-oleh. Itu pun melalui perdebatan sebab saya ingin cepat pulang sedangkan suami ingin saya mampir dulu ke sana. apalagi satu jalur, jadi biar gak bolak-balik lagi.

Duh, saya ada detlen ini papih.....ngerti dong !!

Akhirnya, sampai di rumah jam setengah sembilan. Saya gak berberes dulu. Langsung kejar tulisan dan duduk manis di depan laptop. Minta tolong Pak Solihin buat menjaga dan mengurusi anak-anak. Terutama Annasya yang malam itu badannya agak hangat. Akibat stress di pesawat kecil dari Bandung menuju Jakarta.

Saat menulis saya tidak begitu kesulitan, sebab sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang Fakta Unik Ibu Fatmawati. Jadi saya sudah punya gambaran luas tentang ibu Fatmawati tersebut. Hanya butuh penguatan dan eksplorasi tulisan yang lebih personal saja. Sebab saya menuliskan tentang rasa kagum saya terhadap sosok bu Fatmawati. Tulisan saya tentang bu Fatmawati Perajut Negeri. saya kirim ke panitia.


Alhamdulillah, artikel done di menit mendekati detlen...saya pun malam itu mandi sekitar jam setengah dua belas. Sebab badan gak banget, gak nyaman kalo dibawa tidur.

Akhirnya, tulisan yang mepet tersebut, terpilih menjadi 6 nominasi tulisan terbaik dan diundang untuk hadir pada acara bedah sosok Fatmawati di aula IAIN Bengkulu. Sekaligus pengumuman pemenang. Saya pun memutuskan untuk hadir, Annasya dan Athifah siang itu, di asuh oleh Babanya dulu. Saya berangkat sendiri setelah shalat Jumat. 

Hasilnya, alhamdulillah dapat juara 2. dapat uang dan trophi. Termasuk juga dapat satu buah buku tentang ibu Fatmawati. saya sedang sekali dan berucap syukur tak henti-hentinya. Nikmat Allah yang diberikan kepada saya dan keluarga. rejeki lewat lomba nulis blog

Terima kasih ya Bengkulu Heritage Society atas lombanya. Lain waktu kita bikin lagi ya lomba yang lebih seru dan menantang


Diberdayakan oleh Blogger.