Menu

Jumat, 05 Februari 2016

/



Kami Berpingky Ria Saat Menonton KMGP



            Tahun 2016 ini dibuka dengan sebuah film yang bagus dan wajib ditonton oleh semua keluarga muslim Indonesia.

          “Ini film kita, wajib didukung dan ditonton” ucap teman-teman saya yang selama ini berkecimpung dengan dunia dakwah.

          Film apa sih, lah belum tau ya. Atau pura-pura gak tahu, hehehe. Itu loh film yang diangkat dari novel bunda Helvy Tiana Rosa (HTR) film yang diambil dari judul yang sama  yaitu Ketika Mas Gagah Pergi. 

          Udah tahu kan, film Ketika Mas Gagah Pergi ini kita singkat aja ya nyebutnya dengan KMGP. Ditulis sejak tahun 1992. Wuiih, udah lama banget ya. Saat itu saya masih unyu-unyu dan pake seragam sekolah. 

          Novel tersebut sangat banyak menginspirasi banyak orang untuk berubah dan menemukan hidayahnya. Termasuk saya. Saat itu saya juga baru mengenal dan serius ingin mnegenal islam. Buku KMGP termasuk yang menjadi salah satu dari inspirasi saya.

          Dulu saya punya buku KMGP yang kovernya berwarna kuning seperti ini. Tetapi gak pulang-pulang saat saya pinjamkan kepada anak murid saya, hehehe. Meski di dalamnya ada nama saya, mereka tak juga mau mengembalikannya. Mungkin sangat terkesan dan ingin mengkoleksi juga ya. Apalagi sekarang pasti lebih takjub lagi saat tahu bahwa buku KMGP tersebut difilmkan, lebih amazing lagi kan.



         Gakpapa, bukunya gak balik, asal hidayahnya juga gak pulang dari mereka. Aamiin. Bukunya pun bisa tetap dibeli. Banyak model desain kovernya sekarang ini apalagi sejak KMGP diputar di bioskop. Buku KMGP kembali naik daun.

      Oke ya, selasai dulu ngebahas soal buku KMGP. Saya mau lanjut lagi ngebahas soal filmnya nih. Saya bersama keluarga kecil sempat nonton film ini bersama-sama di bioskop 21 Mega Mall Pasar Minggu Bengkulu. Kami menjadwalkannya di hari kamis karena saat itu harga tiketnya standar. Kalo weken kan mahal ya. Kami berempat lumayanlah untuk ongkosnya, hehehe. 

Pilihan hari kamis, 28 Januari 2016 karena Nawra, putri kami tidak ada kegiatan belajar sore harinya. Kami memilih jam nonton pukul 16.40 sd 18.20. meski baru sudah satu minggu berlalu sejak dijadwalkan diputar di bioskop. Pilihan jam itu kerna saya berharap  sebelum  azan Magrib datang kami sudah keluar dari bilik bertivi gede tersebut.

KMGP di Bioskop Mega Mall Bengkulu Diputar diStudio Satu


Di bioskop , KMGP diputar di studio pertama, berjejer bersanding dengan tiga film lainnya yang juga sedang diputar. Penontonnya juga rame sekali. Mulai dari anak-anak, orang dewasa sampai orang tua. Banyak sekali yang masih memakai baju seragam. Sepertinya mereka nonton bareng.

4 Tiket KMGP Untuk Meme, Baba, Kakak dan Adik


        Menonton film ini sudah benar-benar kami jadwalkan. Meski saat nontonnya satu hari setelah nonton bareng bersama Hamas si Mas Gagah dan Epi Kusnandar digelar di Bengkulu (27/01/2016). Mereka berdua, alhamdulillah sempat datang dan nonton bersama dengan warga kota Bengkulu . kedatangan berdua, sangat memberi efek positif bagi promosi dan support pemutaran film tersebut di Bengkulu. Banyak sekolah dan instansi yang secara sengaja menggalang waktu nobar bersama-sama. Sebut saja sekolah anak saya SDIT IQRA 2 Kota Bengkulu. Mengajak semua murid kelas 6 untuk nonton bareng di bioskop.

KMGP Memang Film Pilihan Keluarga Indonesia


          Kedatangan Hamas dan Epi Kusnandar juga memberi efek yang sangat baik bagi perkembangan dakwah di Bengkulu. Lalu mengapa kota Bengkulu yang menjadi salah satu pilihan tim KMGP untuk nonton bareng. Beberapa alasannya karena yang pertama bahwa Ummi Hamas yang biasa kami sapa Inga Yen itu merupakan keturunan asli dari Bengkulu. Mereka dulu sebelum pindah ke Surabaya menetap dan beraktivitas di kelurahan Pondok Besi . Jaraknya cuma 200 meter dari rumah saya.  Keluarga besar Hamas dan Umminya masih banyak yang tinggal di Bengkulu. Hamas juga lahir dan sempat bersekolah sebentar di kota Bengkulu.

 
Hamas dan Epi Saat Diwawancara Stasiun RBTV Bengkulu

          Ketika Hamas menjadi pemain utama KMGP tentu saja kita orang Bengkulu sangatlah bangga dan senang. Apalagi Hamas tak melupakan tanah kelahirannya, dia mau datang dan menonton bareng bersama penggemar dan keluarganya. Itu merupakan poin lebih dari KMGP bagi orang Bengkulu.

Hamas Bersama Tante-tantenya yang Tinggal di Bengkulu 


             Kedatangan Hamas ke Bengkulu selain untuk nonton bareng fansnya, juga menjadi ajang silaturahim dia kepada keluarga besar umminya di daerah Pondok Besi.

Hamas Berpelukan Dengan Saudara Kandung Umminya Yang di Bengkulu

          Jadi hal tersebut yang  menjadi salah satu alasan kuat saya dan orang Bengkulu lainnya untuk menonton film ini selain memang sangat bagus. Penuh dengan inspirasi dan nostalgia. Sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Terlebih  karena pemainnya adalah putra keturunan Bengkulu.

Hamas dan Epi Bersama Penggemarnya di Bengkulu
 

          Saya pun sempat beberapa kali menuliskan postingan mengenai Hamas tersebut. Mulai dari saya menuliskan bahwa si Mas Gagah ganteng tersebut merupakan putra keturunan Bengkulu. Informasinya dapat dilihat di sini ya.


Emang cakep ya Mas Gagah Ini


          Lalu saya juga menceritakan bahwa ternyata bakat bintang yang mengalir pada diri Hamas merupakan aliran ketenaran dari sang Umminya. Sejak sekolah dulu Ummin Hamas memang sudah menjadi bintang dimana-mana. Tulisan ini dapat dibaca secara lengkap di sini ya.


Hamas dan Ummin ' Inga Yen'


          Tak kalah ketinggalan, saya juga menuliskan soal kegemaran Hamas makan gulai Bagar Hiu yang merupakan makanan khas Bengkulu. Pada ulasan ini saya juga memberikan resep bagaimana membuat gulai Bagar Hiu yang disukai oleh Hamas tersebut. Informasinya dapat di klik di sini juga ya


Hamas Saat Makan Di Rumah Makan Marola Bengkulu


          Oh, ya selain Hamas, ada banyak pemain pendukung dalam film ini, antaranya adalah Hamas Syahid Izzudin, Masaji Wijayanto, Aquino Umar dan Izzah Ajrina yang merupakan wajah-wajah baru dalam dunia perfileman Indonesia.

Suasana Saat Nobar KMGP di 21 Mega Mall Bengkulu


          Oh, ya hampir lupa saya kasih tau ya sedikit cerita  filmnya biar gak meraba-raba. Gagah dan Gita merupakan kakak beradik. Sejak Ayah mereka meninggal. Gagah membantu Mama menjadi tulang punggung keluarga sambil kuliah. Gita sangat bangga dengan kakaknya. Menurutnya Abangnya itu adalah sosok lelaki yang nyaris sempurna.

Kakaknya yang biasa Gita panggil dengan sebutan Mas Gagah tersebut. Bukan hanya memiliki wajah yang ganteng. Tetapi hatinya juga baik, dia suka menemani Gita dalam setiap laku harian mereka. Baik senang maupun susah. Mereka suka pergi bersama-sama dan melakukan banyak hal bersama-sama.

Pokoknya Gita dan Gagah merupakan pasangan adik dan kakak yang kompak. Pada bagian ini saya ingin sekali memberikan ilustrasi kepada putri pertama saya Nawra agar dia juga memiliki jiwa penyayang dan penyabar seperti Gagah menghadapi adiknya. 



Agar Nawra dapat menjadi teladan bagi adiknya. Agar nawra dan adiknya menjadi pasangan yang kompak seperti Gagah dan Gita. Meskipun mereka juga sering bertengkar. Tetapi si kakak juga pandai untuk mengalah dan menghibur kembali hati adiknya setelah sempat terluka.

Sosok Gagah yang tangguh dan bertanggungjawab ini bisa juga kita lihat ketika dia mau bersusah payah membantu orang tuangnya. Bekerja sambil kuliah. Dia membantu dosen bahkan sampai ke Maluku Utara

Di Maluku Utara, Gagah bertemu dengan  Kyai Gufron, pemimpin pesantren terkenal yang sangat dihormati, orangnya sangat baik dan bersahaja. Gagah sangat menyukai dan simpatik dengan Kyai Gufron dalam kesehariannya, Gagah sangat mengangumi kharismatiknya. Hidayah bagi si Gagah dimulai dari sini.

          Saat pulang kembali ke Jakarta Gita dan ibunya banyak melihat perubahan Gagah. Dari mulai fisiknya, yang mulai berjenggot lalu keseharian Gagah yang lebih banyak melakukan kegiatan ibadah. Mulai dari berkumpul dengan orang-orang soleh, mengaji.

Gita seolah melihat kakaknya semakin jauh dan berubah. Gita mulai menunjukkan sikap tidak suka terhadap perubahan sang kakak. Mereka pun sering bertengkar. Hubungan mereka mulai meregang. Gita mulai menjauh dari sang kakak. Biasanya jika ke sekolah diantar jemput oleh Gagah. Sejak saat itu Gita lebih memilih untuk naik bus kota.

Di bus Kota, Gita  sering kali bertemu sosok misterius di berbagai tempat yang kemudian dikenal sebagai Yudi. Yudi  gemar melakukan banyak kebaikan  , memberikan pencerahan dan bersemangat kepada orang-orang yang ia temui. Bahkan Yudi juga terlibat pada berbagai kegiatan sosial di masyarakat.

Gita menilai si Yudi sama dengan kakaknya si Gagah. Mereka berdua sok alim dan fanatik. Gita kian bertambah syok, saat sahabatnya Tika, akhirnya memutuskan berjilbab. Sama seperti nasihat abangnya untuk mengenakan jilbab. 

Akhirnya Gita semakin bergaul dan mendengar nasihat serta ceramah Yudi, Gita mulai sedikit sadar dan mengerti mengapa Abangnya menyuruh dia berjilbab dan menjalankan perintah agama

Hidayah itu akhirnya datang kepada Gita dan mamanya....

          Pada film ini saya juga melihat banyak sekali unsur-unsur syari agama islam yang diterapkan. Seperti tidak adanya persentuhan fisik antara lawan jenis. Hampir di sepanjang adengan di dalam film ini kita tidak melihat adanya sentuhan fisik antara Gagah dan Gita yang merupakan kakak adik. Atau antara Gagah dan Mamanya. Semua bisa tetap terlihat sangat akrab dan  hangat.  

Saat Konfrensi Pers di Rakyat Bengkulu TV

   
          Berbeda dengan film kebanyakan, yang sangat mudah memperlihatkan sentuhan fisik antara lawan jenis bahkan adegan vulgar. Oleh karena itu saya sangat memuji kepada Bunda Helvi Tiana Rosa dan seluruh kru pendukung film tersebut. Mereka sudah berusaha untuk tetap menegakkan nilai-nilai ajaran islam meskipun hanya  dalam sebuah film.

          Cerita Ketika Mas Gagah Pergi ini banyak mengantarkan hidayah bagi orang-orang. Mengajarkan semangat juang yang tinggi kepada pejuang islam dan aktivis dakwah untuk tetap istiqomah. 

Hamas dan Epi Bersama Para Fans Di Bengkulu


Menurut saya, saat ini hanya film Ketika Mas Gagah Pergi yang memang benar-benar memperlihatkan nilai islam dan islami.

Hamas Saat Diminta Mengaji di Depan Para Penggemarnya di Bengkulu


Akhirnya sampai di bagian akhir, filmnya sudah selesai diputar. Kami pun bergegas untuk pulang. Akan ada film KMGP bagian kedua. Tentu saja hal ini akan saya dan keluarga nantikan. Semoga lanjutannya lebih bagus, islami dan penuh inspirasi.

Terima kasih ya Bunda Helvi atas karya hebatnya. Semoga juga banyak mengalir amal jariah dari film ini keharibanmu kelak. Terima kasih juga saya ucaapkan kepada Forum Lingkar Pena(FLP) yang sudah mendukung film KMGP ini.
14 comments

pengen dengar hamas ngaji, subhanallahu dapat kesempatan seperti itu yaa

Reply

Iya, Mb samalah kayak adegan di KMGP saat Gagah Murojoah di dekat Gita di mobil

Reply

aku belum nonton mbak...tapi sempat baca beberapa kali dulu...tiap kali baca mesti mewek...

Reply

hayuuk Mb nonton, masih ada waktu

Reply

Di sini belum ada film itu :( Bioskop jauh pula

Reply

masa sih Mb, daerah mana? tapi gakpapa mb nonton via youtub aja deh

Reply

Jadi penasaran sama film ini katanya diproduksi sendiri tanpa PH, kemarin di bioskop belum ada judul ini

Reply

Bangga deh ya sesama orang Bengkulu bisa nonton KMGP plus pemainnya yang super Gagah dan Hafidz :)

Reply

iya Mb, diproduksi sendiri.
sya salut sama Bunda helvi dan timnya dalam memperjuangkan film ini

Reply

benar yuk, dari namanya aja sesuatu banget ya Hamas Izzudin....

belum lagi emang gagah/ganteng dan hafidz pulak, sosok yang emang sesuailah menurutku dari Mas gagah

Reply

Mas Gagahnya cakeppp

Reply

iya, bener, jadi kepengen juga

#usapusap perut

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin