Menu

Kamis, 19 Mei 2016

/

Pengalaman Melahirkan Di Rumah Sakit Ummi Bengkulu 
Dengan BPJS
Setelah salat Shubuh, suami  menemui saya kembali di ruang bersalin. Saya sedang tiduran. Miring ke kiri, kata bidan dan dokter itu adalah salah satu cara untuk menambah kontraksi dan mempercepat rasa sakit. 

"Me, lapar gak? sebaiknya kita cari makan dulu ya. Nanti pas mau melahirkan itu butuh tenaga yang banyak kan" tawar suami sembari duduk di sebelah saya.

"Iya, mau tapi pengen makan lontong dan minum teh hangat saja. Coba kita ijin ama bidannya untuk nyari makanan."

"Coba kita cari di depan rumah sakit ini. Biasanya adalah yang jual lontong" senyum suami meyakinkan saya.

Mendekat jam enam, bidannya kembali melakukan pemeriksaan. ternyata pembukaannya baru berjalan tiga masuk empat. 

" Jadi masih lama ya bu bidan, apa saya boleh ijin keluar sebentar untuk makan lontong"

Bidannya tersenyum, "Boleh Bu tapi jangan lama ya"

Saya terkekeh sendiri, ni bumil kapan mau lahirannya ya. Mondar mandir aja, belum jelas. Ya, sudahlah masih ada waktu, pikir saya.

Sekarang saatnya nyari makan dulu habis itu nanti mandi dan bersiap buat melahirkan. Tenaga sudah diisi dan badan sudah wangi, hehehe. Jdi lebih bersemangat.

Eh, ternyata di depan rumah sakit kedai lontongnya belum siap. Gulainya belum masak. Si ibu masih sibuk membuat dan mengoreng gorengan, hihihi. Ya, terpaksa harus keluar dari kawasan rumah sakit ini.

Saya sudah membayangkan untuk makan lontong di dekat kawasan simpang KM 8. Ada kedai lontong yang cukup terkenal di sana dan selalu buka di pagi hari. 

Dalam perjalanan menuju kedai lontong, karena masih pagi. Embun menutupi kaca mobil dan membuat kami terpaksa berjalan pelan, sembari membersihkan embun. Udara segar masih kami dapatkan.

"Me, masa gak dapat makan sih dari rumah sakit. Kan , Meme sudah jadi pasien sejak malam tadi. Harusnya sudah diberikan makan."

"Alah, pasien BPJS aja minta makan, mungkin emang gak ada"

"Eit , jangan salah. meski BPJS itu dibayar juga, malah tiap bulan. Gaji baba otomatis sudah dipotong. Jadi bukan gratisan. Malah sudah kita DP duluan"

Suami benar, meski saat pendaftaran tak dikenakan biaya dan dilayani dengan mudah. Harusnya tetap diberikan makan. Ini pengalaman saya saat mendaftar tadi malam di IGD rumah sakit Ummi Bengkulu. Sangat mudah dan cepat.

Baca Selengkapnya

Begitu Mudah Cara Mendaftar Melahirkan Dengan Layanan BPJS di Rumah Sakit


"Ya, sudahlah. Kita lihat saja nanti, semoga memang dapat makan. Cuma saat ini memang kepengen makan lontong di situ. Mumpung sekarang kita sedang berada dekat dengan kawasan ini. Kalo sengaja dari rumah mau makan lontong di sana. Wuiih, kejauhan."

"Nanti kalo dapat makanan, ya kalo cocok dimakan lagi" ucap saya sembari terkekeh.

Di kedai lontong, saya hanya memesan menu lontong sayur saja dan segelas teh hangat. Rasa mules dan kontraksi yang kian terasa ini membuat saya tidak begitu berselera untuk makan. Lagi pula saya kuatir nanti pas mengejan saya malah BAB, hehehe. Bakalan repot sedunia boo!.

Teh hangat yang disajikan dengan rasa manis jambu, membuat perut saya terasa sedikit nyaman. Dan terasa adem, meski tetap nyeri. Saya menghabiskan teh hangat tersebut dengan lahap. Membasahi seluruh ruang dan tenggorokan saya, supaya lebih segar dan terasa hangat.

Begitu juga dengan suami, beliau juga menyantap lontong dan minum teh dengan asik. Meski saya tahu beliau sejak malam tadi juga sudah deg-degan. Tetapi karena melihat saya yang enjoy dan tak panik. Suami akhirnya juga bisa menguasai dirinya.

Alhamdulillah, setiap saya melakukan persalinan, sebanyak empat kali suami selalu hadir menemani saya dan berada di sisi saya. Jadi suami sudah tau bagaimana detik-detik perjuangan saya saat akan melahirkan. Biasanya suami selalu menitikkan air mata setiap usai saya melahirkan. Memeluk dan mencium serta mengucapkan terima kasih kepada saya, setiap habis melahirkan.

"Hayuuk, Ba kita pulang ntar dicariin ama bidannya. Lagipula tak baik lama-lama di luar rumah sakit. Kuatir terjadi apa-apa"

Kami kembali ke rumah sakit. 

Oh, ya dua porsi lontong sayur dan dua gelas teh hangat dihargai sebesar Rp. 26.000. Lumayan mahal untuk harga segitu dibanding lontong lainnya. Namun yang membedakan rasa lontongnya emang lain dari yang lain. Berasnya enak dan terasa gurih. Dimakan tanpa gulai pun enak, saking mantapnya. Jadi harga segitu, ya wajarlah. kebetulan kedai lontong ini juga milik orang tua teman saya yang dulu sama-sama kerja di MAN I Model Bengkulu. Ibunya, alhamdulillah masih ingat dengan saya. Namun teman saya tersebut sedang tidak di sana, dia sudah punya rumah sendiri. Kepada Ibu itu saya juga mohon doa dan restunya, agar persalinan saya normal.

Tak lama sampai kami di kamar. Ternyata, tralala.... Ada satu bok tempat makan yang berisi. Satu porsi bubur nasi, sup tahu, baso dan sayuran, teh hangat, air mineral dan peralatan makan sendok serta garpu. Wah, ternyata diberikan makan juga.

"Tuh, kan Me. masih diberi makan meski pake BPJS. "

Saya membuka bok dan memeriksa kondisi makanannya.

"Masih hangat, mungkin diantar tadi berselang saat kita pergi. Silakan kalo Baba, mau makan. Sayang kalo tak di sentuh. Ini air mineral disimpan saja, nanti pasti butuh banyak minum"

Suami menggeleng, sembari mengambil minuman botol dan menyimpannya.

"Makan aja Me, sopnya enak tuh. Ada telur puyuhnya juga. Bisa buat nambah tenaga. Kalo buburnya ya sudah gak usah dimakan. Nanti kekenyangan."

Akhirnya saya makan saja isi sop dan minum teh hangatnya. Rasa sopnya juga enak. Ada tahu, baso, telur puyuh dan sayuran. masih panas, jadi enak dimakan. Saya habiskan terutama isinya. Kuahnya saya tinggalkan. 

Dan ternyata di siang harinya saya juga mendapatkan makan siang. Dengan menu yang berbeda dengan yang diberikan di pagi hari tadi. Kali ini saya dan suami yang memakannya. Kebetulan menunya juga pas, ada lauk ikan gurami, sayuran, sambal, dan buah pisang dan tak lupa satu botol air mineral. Saya makan pisangnya dan mencicipi ikannya sedikit. Selebihnya suami yang makan, hihihi.

Wow, ternyata meski dengan layanan BPJS saya tetap mendapatkan menu makan ya. Kirain gak dapat, hehehe. Maklum stigma BPJS di masyarakat agak gimana gitu. Apalagi banyak keluhan yang datang dari pengguna, membuat pengguna BPJS kurang pamornya, hehehe.
Tetapi berbeda di rumah sakit Ummi Bengkulu, tetap diberikan makan ya. Apa di rumah sakit yang lain juga begitukah, semoga juga sama ya. 



Menu Sarapan Pagi Di rumah Sakit Ummi Untuk Pasien Kebidanan
6 comments

Di daerah saya, peserta BPPJS tetap dapat pelayanan yang bagus ko...beda di obat aja kayknya. Biasanya di beri yang generik. Kalau mau obat yang lebih bagus, harus nambah uang. Sekali lagi, selamat untuk kelahirannya ya mba...

Reply

aku juga waktu lahiran pake bpjs mbak,
alhamdulillah tetap dapat makan hehee

Reply

iya mba, lahamdulillah saya juga mendapatkan pelayanan yang bagus

Reply

hayuuk, anak ke dua, tiga dst lahiran lagi pake BPJS, hehehe

Reply

Pelayanan BPjS bagus ya mba. Saya juga pakai bpjs untuk berobat walau harus antri daftarnya. Tp sangat membantu sekali BPjS ini

Reply

iya mba, alahamdulillah dapat pelayanan bagus

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin