Menu

Kamis, 12 November 2015

/


     



Menjadi seorang ibu dan istri zaman sekarang ini kudu bin mesti bisa mengendarai kendaraan. Ya, paling banter naik motor lah! Keutungannya banyak kalo kita bisa pake kendaraan. Misalnya saja ke pasar, ngantar anak sekolah, pergi kerja dan banyak hal lainnya. Repot dan lama kalo tidak bisa pake kendaraan. Dengan kendaraan kita akan semakin lincah dan gesit melangkah. 
Jika tidak maka saban hari mesti tergantung dengan suami. Ya, ngaterin kemana-mana. Kadang kasian juga ngeliat suami. Mana jarak antara rumah, sekolahku dan Anak sangat berjauhan. Berlainan arah . Kalau diukur sehari suami bisa menghabiskan sekitar 60 Km hanya untuk urusan antar jemput kami. Paling cepat satu jam bolak-balik. Lumayan kan.
 Tiap hari mesti ngiter nganterin aku, Nawra ke sekolah baru berangkat ke kampus untuk kerja. Sering juga dia terlambat ngantor dan ditegur bos-nya.  Ini sering jadi sebab pertengkaran kecil antara aku dan suami. Karena terkadang banyak hal yang tidak terduga juga terjadi di jalan. Contohnya, ban bocor.
Menjelang malam aku juga yang repot karena suami acap kali minta pijat karena kecapekkan. Dalam sebulan pasti ada dia sakit. Aku sangat prihatin dengan kondisi ini . Pusing juga memikirkannya. Pengen rasanya membantu. Tapi gimana caranya ya. Belum ketemu solusi yang tepat.
Seperti hari ini suami sakit, gak bisa ngantar jemput kami. Kuputuskan untuk naik angkot dan ojek saja. Perjalanan yang kami tempuh jadi semakin lama dan ribet. Karena tahu sendiri kan jalur angkot yang mutar-mutar. Belum lagi kalo pake acara ngetem, udah deh tambah lama. Yang agak cepat sih, naik ojek. Tapi malang nian, ojek langgananku tak bisa ngobjek denganku karena sakit. Aduh, kacau dua belas nih. Membayangkan kericuhan hari ini membuat kepalaku jadi semeriwing. Sungguh berharganya sehat itu.
Akhirnya terpaksa suami yang lagi sakit mengantar kami dengan catatan pulang nanti tidak dijemput.  Padahal aku tidak tega melihat suami melakukan hal ini tapi mau gimana lagi. Ini suatu kondisi yang sulit, seharusnya dia beristirahat lah ini? Aku merasa sangat bersalah. Situasi seperti ini kerap sekali terjadi dan menjadi pilihan sulit. Suamiku begitu perhatian dan menyayangi kami sehingga dia tidak ingin melihat kami kesusahan apalagi menderita. Biarlah dia yang banyak berkorban meski dalam kepayahan. Dan sikap suami ini membuat aku semakin teriris dan merasa kian bersalah kepadanya.
Sampai pada suatu sore aku meminta ijin kepada suami agar diajarin pake motor. Suami cuma diam. Hari berikutnya aku meminta lagi, suami masih diam . Pada permintaan ketiga baru suami memberikan alasannya. Kata suami dia kuatir terjadi apa-apa denganku kalau pake motor, karena aku gak bisa pakai sepeda. Lah, itu diajarin dulu dong, biar bisa, pintaku waktu itu.
Kata teman-teman belajarnya juga nanti agak susah.Masa iya sih, gak bisa pakai sepeda artinya juga gak bisa pakai motor.Aku kian penasaran.Waduh,  jadi kurang semangat buat belajar nih karena sudah terbanyang gimana sakitnya.Apalagi ada teman yang juga terkesan menakuti. Padahal belum tentu betul. 
Sepupuku datang ke rumah kami. Aku kaget melihat dia muncul dengan men gendarai motor. Padahal dia gak bisa pake sepeda, kok bisa. Obrolan dengan sepupuku itu kemudian menjadi semangat baru bagiku untuk terus belajar pake motor. Pikirku, kalo dia bisa, mengapa aku tidak bisa.
Suatu saat dalam perjalanan pulang di jalan raya. Terlihat seorang Ibu yang sedang mengendarai motor, di belakangnya penuh dengan keranjang yang berisikan sayur. Lalu aku melihat seorang Ibu yang mengendarai motor dengan membawa tiga orang anaknya, satu orang duduk di depan. Dua orang lagi duduk di belakang. Postur Ibu itu kecil tapi lincah. Hmmmm, malu rasanya aku yang punya badan segede ini gak bisa. Belum lagi seketika nonggol ibu paruh baya yang lihai memakai motor. Ada lagi anak  bau kencur udah mondar-mandir pakai motor. Waktu melihat teman sekolahku yang wara-wiri mejeng dengan motornya   ke mana-mana dengan motornya membuat aku sedikit iri. Semua itu menambah motivasiku untuk belajar. Aku jadi semangat. Aku kembali merayu suami lagi. Ya, pakai acara ngambek juga. Akhirnya dia luluh juga dan bersedia mengajariku. 
 Mau tahu kemana kami belajar motor? Awalnya aku sempat bingung. Kok, aku diajak ke Masjid.
“Bi, ini mau belajar motor atau mau sholat?”suami cuma senyum saja. Kata suami belajar pake motor di lapangan Masjid ini lebih aman. Kalau jatuh gak terlalu sakit karena ada rumputnya dan sepi jadi gak membahayakan orang lain. 
            Oh, itu maksudnya. Jadilah hari pertama aku belajar mengenal seluk beluk motor. Dari bagaimana cara memasukan kunci motor, menstarter, menghidupkan lampu sen, menginjak rem. Pokoknya semua hal awal tentang  motor. Hari pertama aku rasakan belum ada tantangan. Tetap semangat!
 Dilanjutkan dengan hari kedua. Ini mulai deg- degan. Setelah motor dihidupkan  dan memasukan gigi. Oh, iya, giginya langsung dua karena kata suami biar motornya gak melompat. Awalnya motor gak mau jalan. Suami tertawa. Oh, alah gasnya gak dipencet. Ter-gas kencang, aku kaget setengah mati. Suami berteriak.
”Pelan-pelan saja! Pake perasaan!”
Aku coba lagi. Motor ngadat jalannya seperti lagi habis bensin. Jalan sedikit lalu mati, jalan lagi lalu mati lagi. Suami kembali berteriak.
”Gasnya ditahan, turun naikkan juga pelan-pelan. “  
Aku coba lagi. Setelah mencoba hampir sepuluh kali lebih. Aku berhasil memegang dan menahan gas dengan teratur. Pada pelajaran hari ke dua ini, kedua kakiku belum naik di atas motor. Kalau terasa mau oleng ke dua kaki tersebut segera aku pijakakan ke tanah dan tanganku seketika mencengkram rem tangan. Latihan hari ini selesai dengan keberhasilanku membawa motor dengan ke dua kaki menjuntai. Gak usah dibayangin ya, malu tau! Lumayan latihan keseimbangan.
Hari selanjutnya , aku mulai belajar meletakan kaki pada tempatnya.Seru juga bagian ini karena aku makin penasaran. Hebatnya lagi suami, sejak hari pertama hanya mengajari tehniknya sebentar lalu aku disuruh praktik langsung seorang diri. Dia duduk manis di pinggir  Masjid sembari baca koran dan icip snack. Cara belajar yang unik, namun aku menikmati. Pada hitungan ke tiga belas mondar-mandir, aku berhasil mencoba untuk menaikan kakiku yang satu lagi ke atas rem. Walau masih oleng dan kakinya aku turunkan kembali. Namun aku kian penasaran, pengen mencoba dan segera bisa. Suami meminta aku untuk belajar belok dengan mengelilingi pohon-pohon yang ada di halaman Masjid. Setelah satu pekan belajar motor di halaman Masjid suami  mengajak aku ke jalan raya. Eeit, tunggu dulu jalan yang masih sepi maksudnya, he he he.  Aku  coba membonceng suami. 
Suatu pagi di hari Minggu yang heboh, pas di jalan ada Ibu membawa anaknya untuk jogging. Jadi kuatir anaknya menyenggol motorku. Dari tengah jalan aku berteriak.
 “Awas Bu, anaknya!” kontan saja si-ibu langsung menarik anaknya.  Ibu dan anaknya kaget. Padahal jarak aku dengan mereka masih sepuluh meter lagi. Biar saja daripada nanti kejadian. Aku tak sempat memikirkan apa yang menjadi pikiran Ibu dan anaknya tadi tentang sikapku. Masa bodo ah! Yang penting selamat. Masih sempat aku berteriak kepada mereka meminta ma’af setelah berlalu hampir 20 meter.
 Waktu aku mendaki jalan yang menanjak seperti tebing. Aku sempat tak bisa menaiki jalan tersebut. Perasaanku ban motor ini akan mundur ke belakang. Sampai akhirnya aku berteriak memanggil seorang bapak yang sedang duduk di teras rumahnya minta tolong. Dia datang sambil berlari, kaget.
“Ya Bu, kenapa?”
Aku menahan stang motor dengan ke dua kaki yang mendarat mendadak di jalan .
“Motornya seperti mau mundur Pak!”
Dia tertawa. “ Ya, ditekan rem tangan dan kakinya Bu!” Aku juga tertawa lepas. Duh, malunya. Kok gak kepikiran ya
         Alhamdulillah selama aku belajar pake motor ini tidak terjadi hal buruk. Bagaimana tidak, jika terlihat bakal timbul masalah di jalan aku memilih untuk berhenti dulu baru melanjutkan perjalanan. Banyak hati-hatinya. Namanya juga baru!Itu hanya segelintir cerita seru dalam rangkaian latihan aku belajar pakai motor loh, masih banyak lagi.Malu kalau diceritakan semuanya.
Untuk keamanan aku  mengusulkan kepada suami untuk dibuatkan Sim . Meski aku baru amatiran pake motornya untuk kelengkapan surat menyurat harus tetap ada. Iya sih, aku belum pernah pake motor di jalan yang rame apalagi sendirian. Paling keliling komplek  atau ke pasar pagi. Atau kemana aja asalkan masih sepi. Itupun tidak sering kulakukan. Ya, secara teori pake motornya udah bisa, tinggal meningkatkan jam terbang aja. Biar mahir. 
Aku berhasil buat SIM, untung gak pake tes. Jadi agak mudah prosesnya. Ini agar aku bisa lebih leluasa untuk kemana-mana karena tidak takut ditilang. Belajarlah untuk jadi warga negara yang tertib di jalan dan patuh dengan aturan yang berlaku. Ada teman yang bilang, ngapain buang  duit. Belum tentu bisa dan dipakai motornya. Hmmm, untuk sekarang iya tapi lihatlah aku beberapa saat  lagi. Akan kutaklukan jalanan ini, cie cie! Umur SIM kan juga  lima tahun, gak rugi kok kalau dibuat sekarang. 
Seketika, suami dinas dua minggu di luar kota. Otomatis semuanya akan aku handdle sendirian.Wedew, kebayang sudah di depan mata gimana sibuk dan repotnya. Siapa yang akan mengantar anak . Bagaimana aku pergi kerja. Repotnya ke luar masukan motor. Kalau  motornya ngadat.Jika ada keperluan mendadak, siapa yang akan mengantar. Belum lagi tetek bengek yang lainnya. Kalau naik angkot kebayang pusing dan muter-muternya, udah bikin muntah.Waktu yang tersita cukup lama. Aku tak sempat memikirkan semuanya. Kepalaku sudah berdenyut. Pusing. Saudara, keponakan tentu saja satu dua hari bisa mereka membantu. Selebihnya mereka juga punya kesibukan. Tidak mungkin standby menemaniku.
Walau sudah bisa pake motor tapi ini perjalanan yang panjang, melewati banyak lampu merah. Aku belum berani, belum saatnya. Jadilah hari pertama kami lalui dengan seorang ojek perempuan. Dia heran juga ngapain ada motor gak dipakai. Iya juga ya! Lalu kami nginap di rumah Ibu. Jaraknya 15 Km dari rumah kami. 
Pagi itu jam setengah tujuh aku mencoba membawa motor pulang. Jalan mulai ramai, ada yang sekolah, kerja, tukang sayur dan makanan mulai bersilewewran. Aku keder. Tiba-tiba lewat Truck besar. Jantungku berdetak, mau copot. Aku menenangkan diri. Aku memilih, merayap pelan. Aku merasakan ketegangan yang luar biasa. Aku coba mengendalikan diri. 
Mataku  menatap ke depan nyaris tidak berkedip. Fokus. Tanganku mulai keram, ini perjalanan terjauhku untuk pertama kali.  Tanganku terasa kaku sekali maklum dari tadi mencengkram stang motor. Aku tidak sempat menoleh ke kiri dan ke kanan. Bahkan ketika tiba-tiba pipiku tersa gatalpun aku tak bisa mengaruknya. Aku biarkan saja, susah betul menahan rasa gatal dalam kondisi begini. Aku takut stang lepas. Pernah aku coba , me-refresh tangan tapi stang-nya belari aku nyaris terjatuh.Idih, mengerikan.
Aku  capek sekali. Pinggangku sakit. Tapi mau bagaimana lagi masa aku putar balik. Belum setengah perjalanan. Orang-orang ramai sekali meng-klaksonku, maklum jalanku yang pelan sangat menganggu orang lain untuk lewat dan mendahului.Gak lebih dari 20km.Yang penting sampai. Itu prinsipku. Toh ,aku belajar pakai motor bukan karena ingin jadi pembalap,iya kan. Kalau di jalan aku berpapasan mobil besar sengaja aku perlambat motorku, aku tak pernah menyalip apalagi mendahui.
Hampir lima belas menit perjalanan ini aku habiskan. Sampailah aku di rumah dalam keadaan selamat. Aku girang sekali. Tak terbayang senangnya hatiku saat itu. Tapi ini belum seberapa , aku mesti balik lagi ke rumah Ibu. Kalau ini berhasil. Ini baru hebat.Pujiku sendiri. Setelah minum dan istirahat sebentar kemudian aku putar balik arah lagi. Aku semakin bersemangat sehingga rasa sakit dan penat tak mampu menahanku.
Aku melaju kembali. Tapi mendadak motorku mati setelah hampir setengah perjalanan. Aku kelimpungan. Aku mendorong motor ke pom bensin, aku  ngantri dan siap mendorong motor untuk diisi. Hei, bagaimana ini. Dua motor lagi tiba giliranku. Aku celingak-celinguk mencari tahu. Dalam aku kebingungan, tiba giliranku. Malu sekali waktu itu.  Tahu tidak yang membuka tempat pengisian bensin di motorku itu langsung petugas pom bensinnya. Otomatis, proses antri motor di belakangku menjadi sedikit lama. Aku meminta ma’af kepada mereka. Mereka tersenyum geli.  Bagi mereka ini hal mudah. Tidak bagiku. Hari ini aku dapat pelajaran baru bagaimana mengisi bensin. 
Ada hikmahnya juga aku ditinggalin suami, hampir 10 hari. Saat itu kumanfaatkan untuk belajar memperlancar pake motor. Dan usahaku itu mulai menampakkan hasilnya. Ketika suami pulang, dia heran melihat perubahanku. Aku sudah bisa mengendarai motor dengan baik. Sudah berani berjalan di jalan raya. “Ini baru ibu rumah tangga yang hebat!” Puji suami padaku.
 Itu dulu, lihatlah aku sekarang. Aku adalah seorang ibu dengan seorang anak perempuan usia 4,5 tahun yang sudah mahir mengendarai motor kemana-mana. Sudah ribuan kilometer jalan sudah aku lalui.Kadang sendirian dan sering juga ditemani anak, membonceng Ibu, keponakan dan teman juga sudah ratusan kali aku lakukan. Aku menjadi lebih lincah dan bisa bermanfaat lebih banyak bagi orang lain. 
Aku bisa melakukan banyak hal untuk keluarga yang sebelumnya sangat tergantung dengan suami. Apalagi pada kondisi tertentu dimana suami tidak bisa selalu ada ditempat. Suami sakit, sibuk atau ada alasan lain.  Bisa membantu suami dan tidak merepotkan dia dalam urusan antar jemput. Apalagi aku juga punya urusan dan kesibukan . Pokoknya apa saja dengan motor aku menjadi lebih lincah dan kakiku menjadi lebih panjang. Tapi aku sangat bersyukur hal ini bisa aku lakukan sekarang karena akan lebih bermanfaat untuk keluargaku. Dan di zaman sekarang ini  sudah menjadi keharusan agar seorang Ibu juga bisa mengendarai kendaraan .  Banyak hal yang bisa dilakukan seorang Ibu dengan motornya. Jadi, jika kamu kesulitan belajar pake motor, hubungi aku ya. Ntar  aku kasih tipsnya deh! Karena aku adalah seorang ibu yang tak mudah putus asa untuk belajar apa saja termasuk soal kendaraan. Ibu rumah tangga digital harus bisa pake kendaraan , harus itu!
(Awalnya saya belajar menggunakan motor bergigi, karena itu lebih sulit menguasainya daripada motor metik. Namun setelah itu sangatlah mudah untuk bisa menggunakan motor metik, sangat gampang dan tak butuh waktu yang lama  untuk menguasainya)









4 comments

Aku dulu bisa naek motor, tapi karena pernah jatuh jadi trauma sampe sekarang -_-"

Reply

hahaha...jd ketawa ak bacanya...coz nya sama ak belajar mulai dari motor matik n skrng motor matik nya g ad di ganti motor yg ad gigi nya...jd hrus bljr lg....ak termotivasi oleh pengalaman mbak...makasih yah

Reply

kalo aku masih trama bu,, mudah " an aku bisa sperti ibu :v

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin