Menu

Sabtu, 30 Januari 2016

/



Saat Liburan Di Suban Air Panas, Rejang Lebong, Bengkulu

          Pekan lalu, saat menjemput putri pertama saya Nawra (9 tahun) dari rumah Tahfidz Al –Fida yang beralamat di Jalan S. Parman Padang Jati Bengkulu. Ketika mau pulang ustadzahnya menghampiri saya. Intinya dari percakapan singkat tersebut, beliau meminta saya membantu dan mensupport Nawra agar mau mengahapal di rumah lebih giat lagi.

          “Usahakan satu hari satu ayat ya Bunda. Bulan Februari ini akan ada tes untuk tahfidz jus 30 dan akan diwisuda di bulan Mei 2016 kelak. Sayang , ananda kan tinggal satu surat lagi. mudahan bisa ikut diwisuda” jelasnya sangat detil

          “Aamiin!” Saya tersenyum sembari berdoa dalam hati, semoga keinginan ustadzah itu terkabulkan apalagi keinginan saya sebagai orang tuanya, semoga terkabulkan juga. 

          Nawra yang mendengarkan percakapan itu, seolah mengerti dan diam-diam dia juga memperhatikan.

          “Iya, Me. Surat An- Naziat ini tinggal 16 ayat lagi, habis itu kakak masuk surat An-Naba. Kalo surat An – Naba, Kakak kan sudah hapal 10 ayat.” Uangkap Nawra

          “Masa sih, kapan ngapalnya kok bukan surat An-Naziat dulu yang diselesaikan menghapalnya” saya balik bertanya.

          Nawra tersenyum memamerkan giginya yang mulai ompong, “ Kan hapalnya pas ngetes Meme hapalan. Waktu itu kan, kakak yang ngetesnya dan nyimaknya. Jadi ya, iktan hapal juga”

          Lalu kami berdua terkekeh, Nawra bergelayut manja di bahu saya. Kami pun pulang. Segera ingin memberikan kabar tersebut kepada Babanya. Hari sudah bergerak menuju angka empat sore, sebentar lagi magrib akan datang. Saatnya salat berjamaah. Baiknya, mandi dulu deh. Biar wangi, hehehe.

          Setelah salat Magrib, kami biasanya tidak langsung bubar, ngaji. Saling cek hapalan atau cuma bercerita sembari menunggu salat isya datang. Saya menceritakan kejadian dan ucapan ustadzah Nawra di rumah Tahfidz tadi kepada Babanya. Dengan seksama saya menyampaikan semuanya. Setelah itu saya sampaikan kepada mereka strategi dan cara bagaimana agar target hapalan si Nawra tercapai. Bisa ikut tes di bulan Februari dan diwisuda di bulan Mei nanti. Ya, supaya hapalan jus 30-nya selesai. Bisa masuk jus 29 lagi.

          “Kata ustadzahnya tadi, setelah bulan Februari ini, selama bulan Maret dan April Nawra  dan kawan-kawannya akan kembali mengulang hapalannya, semua surat juz 30 akan diulang-ulang kembali. Agar semakin hapal dan mantap “ jelas saya penuh semangat.

          Lalu kami berdiskusi menentukan strategi untuk Nawra. Akhirnya diputuskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Nawra dan kami sebagai orang tuanya adalah sebagai berikut

          Pertama, setiap pagi Nawra bangun sebelum azan salat shubuh. Setelah salat, dia akan menghapal atau mengulang hapalannya sampai jam enam pagi. Oh, ya di kota Bengkulu, azan shubuh sekitar jam lima pagi.

          Jam enam dia mandi, berpakaian, sarapan dan berangkat sekolah. Selama kegiatan itu berlansung di kamarnya juga masih diputar surat yang sedang dia hapal, yaitu surat An-Naziat. Kebetulan saya punya hape Nokia Asha yang gak kami pakai, di sana memang banyak di donlot surat dari juz 30. Kalo di BB Nawra ada juga, namun BB-nya juga dilengkapi dengan beberapa game. Saya kuatir, dia malah nanti asik main game saja. Atau bisa jadi mendengarkan murotal sambil main game. Saya gak mau hal itu terjadi. 

          Kalo ada yang bertanya soal BB Nawra, ya itu. Bukan kami yang membeli, sepupunya yang di Banten yang memberikan sebagai hadiah ulang tahunnya di tahun 2015 lalu. Memang BB-nya gak dibawak ke sekolah. Paling buat dibawak kalo sedang les Bahasa Inggris, hari Senin dan Rabu. Selebihnya di rumah.

          Kedua, saya meminta Nawra untuk saling setor dan menyimak hapalan masing-masing di sekolah. Memang target hapalan di sekolah terutama di kelasnya (kelas empat) berbeda dengan yang di rumah Tahfidz.Di kelas, masih belum sampai ke surat An-Naziat.  Tetapi paling tidak dengan temannya Nawra bisa saling menyimak dan mengulang-ulang hapalan. Memanfaatkan waktu senggang di sekolah untuk menghapal.  Sehingga sepulang sekolah, jam empat sore Nawra bisa menyetorkan hapalannya dan mengulang hapalannya kembali. Jadi lebih terasa mudah.

          Ketiga, setelah salat magrib saya meminta Nawra untuk menghapal berapa ayat yang dia mampu. Kadang 2 ayat, 3 ayat bahkan 5 ayat. Setelah itu baru dia setorkan kepada saya. Dalam dua hari ini Nawra sudah menyetorkan sekitar 9 ayat. Lumayan ya, masih sisa 7 ayat lagi dari surat An- Naziat. Diperkirakan sabtu ini saat dia les, surat tersebut sudah selesai dihapal dan segera masuk surat An-Naba.

          Keempat, ini bagian penting saat proses menyetorkan ayat yang sudah dihapalkan. Nawra selalu meminta saya untuk mendengarkan dia mengulang hapalannya sebanyak lima kali. Jadi jari tangan saya akan berurutan keluar, misalnya kalo sudah dibaca sekali. Saya mengeluarkan jari kelingking, kalo sudah dua kali dibaca, saya menambah dengan mengeluarkan jari manis dan seterusnya sampai lima kali dia mengulang, akhirnya baru saya mengeluarkan jempol.  Asik loh, coba deh dilakukan di rumah dengan anak-anak. Pasti seru dan menyenangkan.

          Kelima, habis salat Isya biasanya  Nawra menyiapkan buku-buku sekolahnya, mengerjakan tugas, pe-er dan makan. Setelah itu dia gosok gigi dan tidur. Nawra selalu tidur antara jam setengah sembilan atau pas jam sembilan malam. Sepertinya metabolisme tubuhnya sudah terbentuk di jam tersebut, sehingga sudah terasa mengantuk saja dan proses lelapnya pun tak lama. 

          Nah, selama proses dia mau tidur hingga tertidur pulas tersebut, saya selalu menghidupkan murotal surat yang sedang dia hapalkan   dari hape. Suara murotal tersebut mengisi bagian-bagian kamarnya. Saya berharap bacaan tersebut juga masuk ke dalam alam bawah sadarnya sehingga Nawra lebih mudah mengingat dan menghapalkannya. Pokoknya dia akan selalu mendengarkan hapalannya kapan dan dimana saja terutama saat di rumah karena kami selalu memutar murotal.

          Dengan kelima langkah tersebut, saya dan suami berusaha untuk mendukung dan mengarahkan Nawra untuk semangat menghapal dan mempunyai target dalam hapalannya. Menetapkan waktu menghapal dan batas waktu kapan dia harus menyelesaikan hapalannya. Meski tetap dengan cara dan pola anak-anak yang masih suka bermain-main.

          Kami tidak mengiming-imingi dia hadiah supaya segera hapal. Tetapi justru kami meminta hadiah kepadanya. Oh, ya Nawra kan bulan Februari ini, tepatnya tanggal 9 akan berulang tahun yang ke sembilan, oleh karena itu saya meminta dia memberikan hadiah hapalan terbaiknya kepada kami. Selain itu dia selalu termotivasi untuk menghapal karena teringat nasihat ustad dan ustadzahnya, dia ingin menghadiahkan surga bagi kami orang tuanya dan adik-adiknya. Duh,, sungguh mulia harapan Nawra ya. Semoga tercapaikan. Aamiin. 

          Saya menyakini hal ini dapat terwujud dengan baik asal mau saling bekerjasama, saling support dan mengingatkan. Terutama saya dan suami yang juga harus punya kesamaan langkah dalam mendidik dan menyemangatinya sehingga anak tidak bingung  

          Doain ya teman-teman semua, semoga Ananda Nawra bisa lulus ujian hapalannya dan bisa diwisuda di bulan Mei dengan predikat terbaik.
         
4 comments

Aamiin, semoga lulus, ya? ^^ Bangga banget deh sudah hafalan di usia belia

Reply

iya mb Nisa..terima kasih doanya. Semangat juga kami mnegahapl karena melihat anak menghapal

Reply

Selamat menghapal ya, semoga segera khatam juz 30

Reply

iya, alhamdulillah, sudah khatam. skrg masuk juz 29 lagi

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin