Menu

Kamis, 14 Mei 2015

/



Beauty Of Lajang
Milda ini

          Angin pantai Panjang menyibak dedaunan di depan rumahku. Pagi ini tidak ada yang istimewa, selain dua potong kue Tat, kuliner asli Bengkulu yang disajikan Ibu untukku. Kue yang berbahan baku gandum dan di tengahnya diberikan inti selai nanas, lalu dipanggang di atas api tempurung kelapa. Namun aku yakin ini bukan ibu yang membuatnya tapi Cik Raya yang menjualkannya kepada ibu. Di sampingnya masih ada setengah gelas kopi hitam yang sudah dingin. Aku duduk berdiam diri di samping ibu yang tengah menyiapkan menu yang akan dimasak hari ini.

          “ Inga, ada undangan tuh dari si Johan. Dia mau menikah minggu depan!” jelas ibu memecah kebisuan kami

          “ Acara muda-mudi ya Bu? Tanyaku. Ibu tersenyum sambil mengangguk.

       Aku menyeruput kopi dan mencomot sepotong kue, seketika diam dan menggeleng, “Malas ah,  Bu! Datang. Acaranya pasti begitu-begitu!” lanjutku sambil mengunyah kue. Yummy!

          “ La, kalo kamu malas datang memenuhi undangan orang, jangan harap nanti kalo kamu nikah banyak yang mau datang” seru ibu

          “ Emang, Inga sudah punya calon Bu, “ tanya Ayah yang tiba-tiba muncul

          “ Tau deh, cowok aja yang datang main ke rumah kita aja gak ada!” seru ibu membenarkan.

          “ Masa sih Bu, kan sering juga ada cowok datang ke rumah kita” Aku nyengir ngeles.

          “ Halah, itu kan gak jelas statusnya, soalnya dia juga datangnya gak jelas, kapan saja dan gak pernah ada yang spesial!”

Oh, alah aku mengerti maksud ibu sekarang. Memang kalo mau diliat setiap malam minggu, mana ada yang emang datang rutin alias ngapel. Kayak apaan gitu, mungkin maksud ibu kayak orang pacaran, hehehe. Yang punya jadwal rutin bertamu. Hadai!

          “ Iya Bu, ntar juga ada waktunya. Sekarang Inga mau berangkat kerja dulu ya, biar gak telat. Dada ibu...” ucapku sembari berlalu meninggalkan mereka. Dalam perjalanan menuju ke sekolah, ucapan ibu masih terngiang di benakku. Hmmm, rupanya ibu ingin aku punya cowok ya. Dan itu bukanlah sesuatu yang menarik bagiku. Banyak ruginya buatku. 

          Di sekolah setelah bel istirahat, seperti biasa aku berkumpul ngobrol-ngobrol dengan teman kerja yang juga masih lajang. Kami duduk di perpustakaan sambil membaca koran. Tak lama datang seorang teman membawakan beberapa undangan untuk kami termasuk untukku. Membaca nama di sana, aku berucap syukur. Alhamdulillah , akhirnya teman kerjaku segera akan menikah.

          “ Kalian berdua, bagaimana?” tanya  seorang guru.

           Kami terdiam tak ada yang berniat untuk menjawab karena kami tau kemana arah pertanyaan itu. “ Iya Bu, ni mungkin Asih yang mau segera menyusul” jawabku sekenanya daripada gak

          “ Sudah punya calon kamu Asih” tanya bu guru lagi. Si Asih cuma menggeleng pelan. Tersenyum manis, semanis coklat kesukaanku. Lalu Bu guru tadi mengambil kursi dan duduk dengan serius di antara kami berdua. Rupanya ada yang ingin dia sampaikan. 

“ Gimana kalo kamu saya kenalkan sama seseorang, mau gak?” Oh, ini maksud Bu guru mendekati kami. Asih tersenyum simpul, “Boleh bu, kalo cocok kenapa gak. Saya mah, oke-oke aja”

Aku tersenyum getir, selalu begitu jika aku sedang bersama Asih, ngobrol soal jodoh tak pernah pihak ketiga itu menawarkan jodoh itu kepadaku. Belum tentu juga aku mau kok, ya paling gak basa-basi gitu. Ini sudah yang kesekian kali kejadian kayak gini. Kali ini aku tak segera meninggalkan mereka berdua, tetap duduk,  tapi aku cuek saja seolah tak tau apa yang sedang mereka perbincangkan.

 Dalam lamunanku, aku berpikir , sedemikiannya aku,  sehingga hanya dalam bentuk tawaran pun tak ada yang mau menawarkannya kepadaku. Memang jika dibandingan dengan Asih , kami ibarat langit dan bumi. Setiap cowok pasti akan memilih Asih. Dia cantik, bisa menjaga penampilan, sedang berdandan sedang aku. Kemana-mana jilbabku melambai-lambai, huhuhu. Gayanya juga sederhana malah terkesan gak bergaya. Tapi aku suka gayaku.

 Ah, gak di rumah gak di sekolah semua orang menganggap aku tak layak punya jodoh cepat, bagus dan mapan. Hanya karena aku berjilbab panjang dan tampangku yang ngepas. Padahal usiaku sudah mau pergi dari dua puluh lima sekitar dua bulan lagi. Mulai masuk ranah rawan jodoh. Aku juga butuh menikah, jeritku!

Sejak  pertemuan kami bertiga di perpus itu, si ibu jadi sering banget nyamperin kami, apalagi ngobrol dengan Asih. Biasa proyek jodoh. Kali ini obrolan mereka serius sekali. Aku akhirnya menepi memberikan jarak diantara mereka berdua agar lebih leluasa. Buku yang sedari tadi kupegang serasa sangat menarik untuk diselesaikan dibaca.

“Asih, napa sih mereka gak pernah nawarin jodoh sama aku? “ tanyaku suatu pagi kepada Asih ketika kami makan di kantin. Asih cuma tersenyum mendengar pertanyaan polosku. “ Kata mereka sih, kuatir gak cocok sama kamu. Mereka menilai kamu orangnya pilih-pilih dan stelannya tinggi!” Hampir meloncat aku mendengar penuturan Asih yang jujur. Apa yang mau dipilih atau seleraku tinggi. Yang mau dipilih itu aja gak ada, belum pernah ada malah. Ada-ada aja mereka , hardikku dalam hati. 

Malam hari sebelum tidur, aku teringat perkataan Asih di kantin sekolah tadi . Aku mendadak dilanda insomia. Kumanfaatkan waktu untuk membaca, merapikan buku-buku bacaanku. Kuperhatikan hampir semua koleksi buku yang memenuhi rak di kamarku ini genrenya adalah buku pernikahan dan keluarga. Mulai dari tips memilih jodoh, melayani suami, merawat anak sampai dengan buku-buku yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Komplit dah , kalau buku dan ilmunya tentang pernikahan. Hampir tiap bulan aku menyisihkan uang untuk membeli buku. Katanya membaca buku, menambah wawasan adalah bagian dari persiapan untuk menuju pernikahan termasuk membaca soal kehamilan, perawatan dan pendidikan anak. Termasuk soal seluk - beluk mertua.

Istilah kata kalau persiapannya matang, insya Allah semua akan berjalan mudah dan lancar. Menurutku , membaca dan belajar tentang ilmu berumahtangga itu perlu dilakukan jauh-jauh hari sebelum masa menikah datang. Karena jika sudah menikah, hamil dan punya anak niscaya tak banyak waktu lagi untuk membaca atau mencari tau lewat berbagai referensi. Masa mau baca buku dulu atau googling di internet pas ada masalah. Ribet juga kan, ya sudah karena telah dapat ilmunya, tinggal praktik saja. Betul tidak, pemikiranku ini.

Nah, masalahnya sekarang adalah soal  calonnya ini yang belum ada. Mau kemana aku mencarinya. Dimanakah dirimu berada, wahai Arjunaku, desisku dalam hati. Hayolah, yang jauh mendekat, yang dekat yuk, merapat. Ya, Allah jika jodohku masih di atas langit bantu turunkan dia ke bumi dan beritahu dengan dia alamat rumahku. Alamat yang lengkap ya Allah, jangan sampai dia malah datangnya ke rumah Asih atau ke tempat lain, gumamku terkekeh.

“Bu, surat undangan yang kemarin ada dimana ya? Tanyaku pada Ibu yang sedang merapikan pakaian yang sudah disetrika di ruang keluarga.

Ibu monyong, “ Itu, ada di atas TV. Lagian buat apa kamu ngumpulin undangan. Ibu lihat koleksi kamu sudah banyak. Yang penting itu calonnya Dek, soal undangan gampang itu!”

“ Ya, Ibu ini kan juga bagian dari persiapan, kalau aku nikah nanti gak repot lagi. Soal konsep undangan beres...res! jawabku optimis. Tak lama terdengar suara mobil Ayah, memasuki pekarangan rumah. Berderemmm mesinnya , lalu mati. Ayah memasuki rumah.

“ Bu, nanti malam ada keluarga teman Ayah yang mau datang ke sini, siapkan makanan kecil ya Bu. Selepas Isya mereka katanya datang!” jelas Ayah, sambil melepas baju kantor.

“ Dalam rangka apa Yah, mereka datang ke rumah kita!” tanya ibu, penuh selidik.
Ayah duduk di antara kami, sembari minum air putih yang telah disiapkan ibu, “ Anak bujangnya mau dikenalin sama Inga. Barangkali mereka cocok!” jelas Ayah tanpa beban terutama tanpa meminta persetujuan aku terlebih dahulu, ini gak adil. Masa main langsungan aja. Harusnya konfirmasi dulu sama aku. Aku cemberut mendengarkan penuturan Ayah.

“ Napa kamu, gak suka ya? “ tanya Ayah sok tahu. Aku makin cemberut dan menggeleng lesu. Merapatkan badan duduk di sebelah Ayah. Bermanja-manjaan.

“ Selagi orang tua masih ada, soalan jodoh anak itu juga menjadi tanggungjawab orang tuanya. Itu lebih baik jika orang tua yang mencarikan dan mengusahakan  agar terhindar dari fitnah” 

“ Tapi Inga berhak untuk menolak kan Ayah gak selalu harus setuju kan!” belaku. Ayah dan Ibu cuma tersenyum, “ Iya donk, masa gak boleh menolak. Namun menolak juga harus ada alasannya. Jangan sampai Inga nanti kena mudharatnya jika menolak pinangan lelaki yang sholeh yang gak ada alasan syariat untuk Inga menolak lamaran dia” Aku tersenyum malu mendengar penjelasan Ayah. Dalam hati aku berharap, semoga anak teman Ayah ini sholeh , ganteng dan layak jadi Arjunaku. 

Singkat cerita pertemuan dua keluarga malam ini menghasilkan suatu keputusan yang menurutku tidak jelas. Namun, apa boleh buat itu cuma bahasa negosiasi dari Ayah. Apa! jodoh kok pake negosiasi segala. Gimana gak negosiasi, pihak laki-lakinya minta keputusan jadi atau tidaknya setelah pengumuman kelulusan tes pegawai negeri. Intinya sih begini, dia mau jadi PNS dulu ntar baru nikah. Jadi aku diboking dulu, begitulah bahasa sekarang. Ya, kalau dia lulus kalau gak, rugi donk aku.  Bukaan lowongan PNS itu aja masih dua bulan lagi, belum pengumumannya. Haiya, lamanya awak menunggu kepastiannya. Aku sudah berkecil hati duluan, tak akan aku mengharapkan dia menjadi Arjunaku. “ Kita lihat saja nanti Ayah, semua masih belum jelas kan. Jika memang kami berjodoh, maka Insya Allah pasti akan dimudahkan. Sekarang jalani aja dulu aktivitas masing-masing” Jelasku mewakili ketidakmauanku untuk ikut negosiasi mereka. Semua yang hadir mengangguk tanda setuju. 

Di sekolah hubungan si Asih dengan Mak comblang makin mesra, udah jalan dua bulan. Tampaknya wajah mereka kian berseri-seri! Aku yang gigit jari. Di sekolah selain kami para gadis, ada juga kok yang bujangan. Tapi lagi-lagi mereka tidak mau memilih aku. alasannya kata mereka aku cewek ribet. Entahlah, maksud dari perkataan itu apa. Aku aja gak paham. Intinya, aku tak masuk kriteria dua cowok bujangan di sekolahku. Titik!

Sekarang usiaku sudah masuk angka dua enam, belum juga ada tanda-tanda jodoh mau datang. Undangan dari kaum kerabat entah dari mana-mana ada saja saban minggunya. Bahkan mereka yang usianya jauh lebih muda dariku sudah berlabuh duluan ke pelaminan. Alahmdulillah, belum ada ponakanku yang melangkahiku untuk nikah, kalau ada benar-benar gawat ini urusannya. Aku seakan mulai masuk ranah gadis tua. Haduh, membayangkannya saja aku ogah, apalagi jika harus menjalaninya. Ya, Allah apa ada yang kurang dari ikhtiarku selama ini, keluhku. 

Sampai suatu saat aku diperkenalkan dengan seorang teman. Setelah beberapa kali berinteraksi bersama-sama akhirnya kami sepakat untuk mengajukan proposal menikah kepada orang tua masing-masing. Aku segera mengabarkan berita ini kepada Ibu terlebih dahulu. Hampir melotot mata Ibu mendengarkan penjelasanku. “ Apa! Mau makan apa kalian nanti. Emangnya cukup cuma mengandalkan bisnis rental komputer . Apalagi dia masih kuliah! Ah, Ibu gak mau kamu cuma dimanfaatin aja sama dia.” berang ibu sore itu kepadaku. Ah, Ibu aja semarah ini apalagi Ayah, akhirnya kuurungkan menyampaikan berita tersebut kepada Ayah. Gagal lagi ya gagal lagi, makiku!

Setelah kejadian itu, aku seolah ingin menenggelamkan diriku pada segudang aktivitas. Tak ada sedikitpun dari waktuku yang tak terisi oleh kegiatan. Aku tak mau memikirkan soal jodoh lagi. Lebih baik bekerja dan bekerja. Aku mulai fokus untuk merintis bisnis. Membuka toko pakaian. Menghabiskan waktu tanpa harus dicekoki dengan urusan jodoh. Namun satu hal yang masih aku lakukan adalah, jika bertemu dengan orang baik dan lebih tua dariku apalagi yang sudah berumah tangga. Aku selalu mengatakan kepada mereka keinginanku untuk menikah dan meminta mereka agar mendo’akanku. Hal ini sangat kuyakini jika kita tidak mengutarakan isi dan maksud hati kita, bagaimana orang lain akan membantu kita. 

Oleh karena itu sangat perlu aku menyampaikan keinginan menikah ini kepada mereka yang amanah, agar mereka bisa membantu mencari solusinya. Siapa yang tau, antah berantahnya si Arjunaku akan datang lewat siapa. Iya, kan!. Satu lagi yang selalu aku lakukan adalah berdo’a agar setelah menikah aku langsung dikarunia anak. Oleh karena itu aku sangat suka mengkonsumsi touge dan bubur kacang hijau. Makanan ini dipercaya bisa meningkatkan kesuburan dan membuat awet muda. Percaya deh, sama aku!  

Di rumahpun tak banyak waktu aku untuk bercengkrama dengan ayah dan ibu. Sampai di rumah biasanya aku langsung masuk kamar, istirahat. Terkadang hanya untuk urusan makan saja, masih sering diingatkan sama ibu. Aku seolah menjauh dari kehidupan mereka. Aku keluar kamar, jika ada keperluan saja. Tamu cowokpun juga sudah jarang datang ke rumah. Aku seolah menjelma menjadi satu sosok yang super sibuk dan asing bagi mereka. Sampai suatu sore. Ayah mengajakku ngobrol.

“Besok kita akan ke dusun, menghadiri pesta pernikahan anak Uwak Madi. Kamu harus ikut ya,  ketemu dengan sanak keluarga, sudah lama juga kita tidak pulang kampung” 

Acara pesta di dusun, penuh sesak. Biasalah namanya juga di dusun, acara pernikahan itu sangat istimewa. Acara yang dianggap oleh mereka sebagai ajang silaturahim, refresing dan bahkan acara mencari jodoh. Aku diperkenalkan dengan keluarga besar Ayah, baik yang masih satu zuriat langsung ataupun yang masih keluarga jauh. Istri Uwak mendekatiku, aku menyalami tangannya lembut. Duduk manis di sebelahnya. Sepertinya dia ingin bercerita kepadaku. “Inga, cobalah berjilbab itu yang biasa-biasa saja. Kalau begini siapa juga yang berani mendekatimu. Jauh jodoh” terang Uwak serius. Aku terpana, kenapa Uwak berpikiran seperti ini. Aku saja yang menjalaninya asik-asik aja. Aku tersenyum.

“ Mana ada laki-laki yang mau dengan cewek yang semuanya tertutup seperti ini. Tak ada yang menarik bagi mereka “ lanjut Uwak tanpa merasa bersalah.

“ Iya Wak,  mungkin belum datang saja jodohnya. Do’akan ya agar Inga segera dapat jodoh. Liat si Titin, sudah seksi dan terbuka semua pun,  masih belum dapat juga jodohnya. Sudah kepala tiga dia , Wak! “ balasku. Uwak terkejut sembari matanya mengalihkan pandangannya terhadapku. Berlari ekor matanya menatap saudara sepupuku yang dikenal seksi dan hobi dandan itu. Maaf Wak, bukan maksud hatiku membuat kau tercenggang, desisku!

Sepulang dari dusun, aku kembali menjalani rutinitas hidupku. Soal jodoh meliuk-liuk dalam benakku. Entah akan berlabuh kapan. Aku terus berdo’a dan berupaya untuk memperbaiki diri, menambah wawasan, skill , agar nanti dapat jodoh yang sholeh. Label perempuan tua atau jomblo tak laku-laku memang membuat kening berdenyit. Meski belum ada yang memberikan cap itu semua secara langsung kepadaku. Hanya perasaanku saja. Rasa kuatir seorang perempuan yang berlebihan. Perempuan yang belum pernah berpacaran dan belum juga dilamar oleh seorang Arjuna. Memikirkan itu semua, sangatlah menyiksaku. Pusing!!

Saat ini banyak agenda kebaikan yang akan aku tuntaskan. Melakukan banyak hal untuk diriku, keluarga dan orang lain. Memikirkan jodoh adalah hal yang pelik untuk segera ditamatkan. Sesuatu yang sangat mustahil untuk kita pikirkan sendiri. Yang sudah begitu lama pacaran, menjalin kesepakatan untuk mengikat janji suci pernikahanpun sewaktu-waktu bisa saja batal. Bahkan mereka yang sudah menetapkan tanggal, menyebarkan undangan saja, bisa saja pernikahannya batal. Apalagi aku yang notabene belum ada secuil pun mendekati ke arah sana. 

Tadi pagi Asih menelpon, dia menanggis tersedu-sedu. Mengabarkan rencana pernikahan dia yang  batal. Padahal pertemuan dan kesepakatan kedua keluarga sudah sangat jauh. Asih, shock mendengar kabar bahwa sang cowok membatalkan rencana pernikahan itu hanya karena sempat melihat Asih pergi dengan seorang cowok ke sebuah mol. Tanpa mau mendengarkan penjelasan Asih, sang cowok memutuskan hubungan dengan Asih. Rencana pernikahan yang sudah diambang pintupun terancam tidak jadi. Ah, itulah hidup penuh misteri, pikirku. Yang sudah dalam genggamanpun sangat mudah terlepas.

Berkaca dengan pengalamanku selama ini menjalani proses perjodohan dan pernikahan dan dari masalah yang menimpa Asih. Aku semakin memantapkan keyakinan bahwa, tak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan dan tanpa pertimbangan soal jodoh. Aku akan menjalani hari-hari lajangku dengan sebaik-baiknya. Mengisi masa kesendirianku dengan hal yang bermanfaat. Hal-hal kecil yang mungkin nanti setelah menikah dan punya anak tak sempat aku lakukan lagi karena kesibukkanku mengurusi rumah tangga. 

Aku yakini, jika memang persiapanku sudah cukup baik dari segi ilmu, fisik dan metal. Inya Allah jodoh itu akan datang kepadaku dengan cara – cara yang tak terduga. Allah tak akan pernah salah menitipkan amanahnya kepada hamba-Nya. Lagipula aku tak ingin tergesa-gesa. Aku harus tetap punya pendirian, bukan artinya karena menunggu jodoh datang itu sudah lama. Setiap ada yang datang kepadaku langsung aku terima. Nanti sudah menunggu lama, eh ketika masuk pernikahan baru timbul banyak  masalah. Aku tak ingin memasuki gerbang pernikahan hanya karena ingin melepaskan masa lajangku dan dianggap laku oleh semua orang. Aku tidak mau begitu, rugi dunia akhirat hidupku kelak. Aku harus menjadi layang yang cantik luar dalam.

Angin pantai kembali menyibak dedaunan di depan rumahku, hape berdenyit memecah sunyi. Terdengar suara lembut dari seberang. “ Apa kabar Inga, minggu depan ada seseorang yang ingin datang berkenalan denganmu. Dia sekarang sudah di Jakarta, baru selesai kuliah dari Jepang dan akan balik menetap kembali di Bengkulu...” bla bla, suara seorang perempuan baya yang aku kenal dalam suatu pengajian sekitar setahun yang lalu.  Dalam hati aku berdo’a. Ya, Allah semoga dialah Arjuna sholeh , yang kau kirimkan untukku , mengakhiri masa lajangku menuju pernikahan yang barokah.  Angin pantai yang berhembus sore ini terasa sangat istimewa menyibak mukaku seiring aku mengakhiri do’a dan wirid harianku , menunggu senja datang , menghabiskan pergantian waktu.
(TeruntukBuatSeseorangYang SangatBerkorbanMendapatkanku)







Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.