Menu

Rabu, 16 Desember 2015

/





Inilah kenangan kita di hari-hari terakhir anakku sayang; Nur Aulia Rahmah

Sabtu 5 Desember 2015
Pukul 11.00
Aulia...., saat itu abi tinggalkan bersama Hasan adik kecilmu ke luar Kota untuk agenda rutin dakwah. Biasanya ananda bertanya,”Jam berapa Abi pulang ?, bawa oleh-oleh ya Bi...”. Abi senang dengan kalimat seperti itu, Nak.... . Namun ananda hanya terdiam dan hanya menatap Abi seakan tidak mau ditinggalkan. Abi minta maaf ya Nak..., bila saat itu Abi tetap pergi.
Allah lebih tahu tentang perasaan-mu Anakku.., satu jam perjalanan meninggalkan kota Bengkulu ternyata jembatan putus, Abi kembali pulang ! Jam menunjukkan pukul 14.15.., dengan senyum girang engkau bergegas tanya,” Cepat pulang bi...?”.
 “Ya.., acaranya tidak jadi”, singkat Abi menjawab.

Pukul 14.15
Abi pulang bawa bakso soto kesukaan-mu, meski engkau menggeleng tidak mau makan, Abi tetap ambil nasi berkuahkan bakso soto dengan harapan Aulia mau makan. Abi tahu sebenarnya Aulia tidak mau makan, namun tetap memaksakan diri karena ‘gak enak’ dengan Abi. Hanya tiga atau empat suap saja.
“Sudah Bi..., Aulia tidak mau makan. Aulia minta beliin susu kotak saja”, demikian ananda menolak makan dengan kalimat tersebut. Engkau memilih tidur ......,

Pukul 15.45
Sepulang Abi shalat Ashar dari masjid ananda terbangun, masih terlihat lelah dan enggan bicara. Abi menawarkan,“Kita jalan-jalan yuk !”, semua gembira menjawab,” Ya...!!”,kecuali engkau anakku. Tiba-tiba..., ”Aulia ikut...” katamu sambil meraih jilbab pink favoritmu. Abi lega, senang, semangat karena engkau terasa mulai kembali menjadi Aulia yang sebenarnya. Kita jalan-jalan tanpa Ummi karena ummi sedang mengisi kajian rutin mingguan dan juga Mbak Aini karena sedang ada kegiatan belajar kelompok di rumah temannya. Tujuan utama jalan-jalan kita saat itu adalah ‘susu kotak’ yang ananda mau. Tidak seperti biasanya, setiba di swalayan Abi perhatikan ananda tidak terlalu bersemangat. Abi pilihkan makanan dan minuman yang ananda suka, semua ditolak kecuali susu kotak yang dipilihkan Hasan adik bungsu-mu. 

Pukul 16.50
Ummi tidak tahu kalau Aulia sedang jalan-jalan dengan Abi, karena Ummi juga tidak tahu kalau Abi tidak jadi keluar kota. “Sedang di rumah, anak-anak gak ada ...,” ini penggalan SMS Ummi (SMS masih tersimpan) saat kita di perjalanan. Kita pulang jemput Ummi untuk turut berjalan-jalan bersama. Saat di mobil Abi teryakinkan bahwa Aulia memang tidak sakit, dengan gaya khas bicara Aulia. ”Mii..., kalau jalan-jalan seperti ini Aulia terasa enakkan, gak panas lagi”, demikian ananda meyakinkan kami semua. Kata-kata ini tetap Abi ingat, diucapkan saat Ummi baru masuk mobil dan duduk berdamping dengan Aulia.

Pukul 18.00
Kita sudah tiba di rumah, maafkan Abi nak..., saat ananda minta gendong turun dari mobil Abi sempat enggan, di samping kadang memang karena ananda sering bercanda pura-pura tertidur dan setelah digendong sampai tempat tidur ternyata lompat dan tertawa puas lantaran sukses berpura-pura, Abi juga ingin melatih agar ananda bisa mandiri dan tidak ‘ngalem’. Namun ada rasa beda kali ini, ananda tampak ingin bermanja dengan Abi, terasa hangat badanmu Nak...., Abi sempat cium pipimu. Abi baringkan ananda di kasur ruang tengah. Shalat maghrib dan isya’ ananda izin dilakukan sambil berbaring karena kepala pusing dan bertayamum lantaran dinginnya air yang ananda rasakan.

Pukul 20.00
Aulia tidur pulas ......, tidak biasanya tidur awal seperti ini. Biasanya ada saja yang ananda kerjakan sebelum tidur; menggambar (gambar terakhir ananda adalah tulisan indah; Aku Sayang Ummi, lengkap dengan gambar bunga dan kupu-kupu, serta pantun; Jalan lurus di Atas Papan Hidup Harus Penuh Harapan, Jadikan itu Jalan, maaf bila Abi tak faham apa maksud pantun ananda saat itu, kini gambar itu Abi simpan dengan baik dan sekarang Abi mengerti bahwa ananda hendak berpesan agar Abi harus berpandangan futuralistik, masa depan yang sangat jauh, yakni akherat dengan surga beserta seluruh kenikmatannya), menyiapkan buku, minta bantu kerjakan PR (terakhir Abi ingat kita belajar pengurangan cara bertingkat. Selalu saja ananda menjawab,” Aulia bisa...!, Aulia bisa..., saat sejenak abi ajarkan, meski ternyata kadang ananda belum sempurna bisa, tapi Abi suka Nak.., Aulia cekatan dan respek).
(Ya Allah izinkan hamba-Mu ini mengenang sejenak masa-masa indah bersama-nya, demi Allah bukan karena ratapan, melainkan semata sekedar denyut sayang hamba-Mu ini pada sang buah hati)
Abi bisikan untuk-mu,”Bismika Allahumma ahya wabismika amuut..,”
---------------------------------------------------------------
Ahad 6 Desember 2015
Pukul 05.00
Abi pulang dari masjid shalat Subuh, ananda sudah terbangun. Sebagaimana gaya ceriahmu, Aulia menyambut Abi dengan gembira,”Abi pagi ini Aulia bangun paling pagi !”, sambil ananda acungkan jari telunjuk sebagai apresiasi sang juara.
( Aulia selalu saja ingin menjadi no satu, kalau Abi tanya, “Siapa yang paling hebat, paling sholih, rangking satu, paling cantik, dan paling2 lainnya ?”.
Selalu ananda menjawab segera,“Saya ....!!!”, sambil menunjuk tinggi-tinggi seakan tak mau kalah dengan teman lainnya)
“Oh ya..., Aulia hebat, siapa bangunkan Aulia ?”, rutin Abi tanya seperti ini. “Aulia bangun sendiri Bi..”. Bagi ananda ini membanggakan, biasanya untuk bangun Abi harus gendong Aulia ke kamar mandi, setelah berwudhu dan sholat baru Abi suapi nasi yang sebelumnya sudah ‘dieler/didinginkan’. Pagi ini istimewa karena ananda bangun pagi tanpa bantuan Ummi atau Abi.

Pukul 08.30
Abi tanya,”Aulia di rumah saja atau ikut Abi ?”. “Aulia gak mau ditinggal di rumah”, jawab ananda singkat. Akhirnya ananda, adek Hasan dan Ummi ikut Abi mengisi acara manasik Umrah di masjid Nurul Hidayah Lingkar Barat. Saat Abi sampaikan materi, Abi lihat ananda tiduran di barisan belakang dekat Ummi berbantalkan sajadah yang dilipat. Sesekali ananda lihat Abi, demikian juga Abi sesekali mengintip Aulia. Maaf bila Abi agak panjang mengisi materi lantaran banyak pertanyaan/diskusi dari para peserta manasik. Ternyata ananda merintih pelan minta segera pulang, Abi tahu setelah Ummi ceritakan saat kita menuju pulang ke rumah.

Pukul 11.00
Ummi carikan kado untuk hadiah ulang tahun di Jl. Soeprato untuk teman ananda di depan rumah kita. Aulia dan Abi menunggu di mobil, ananda mengeluh panas, Abi belikan es tebu yg biasanya Aulia sangat suka, masing-masing untuk Abi dan Aulia. Sedikit sekali ananda meminumnya, saat itu ananda duduk di jok tengah sebelah kiri sambil menyandarkan kepala di jendela kaca. Oh ya.., susu kotak yang kemrin kita beli ternyata baru hari ini ananda meminumnya, hanya setengahnya saja ananda minum (kini sisa susu kota itu masih Abi simpan, Abi temukan di celah jok depan ananda). Abi pesankan sama ummi bando cantik untuk Aulia, saat ummi bawa bungkusan kado, ananda periksa isi tas kecil itu, “Mana bandonya Mi...?, nada tanya ananda penuh harap. Jawab Ummi saat itu,”Ada bando cantik untuk Aulia, sayang penjualnya sedang pergi,besuk kita ke sini lagi...”. Biasanya ananda langsung protes dan agak memaksa, tapi kali ini ananda tampak sabar dan menerima. Subhanallah pikir Abi......,

Pukul 14.00
Aulia, adek Hasan dan Ummi pergi undangan ulang tahun teman depan rumah. Ananda bawa kado yang telah dibungkus rapi oleh Ummi. Ananda jalan sendiri tanpa minta digendong. Abi mengisi acara syukuran itu dengan berpesan semoga anak-anak yang hadir menjadi anak yang sholih, selalu berprestasi, panjang usianya dan taat dalam beribadah. Sesekali abi melihat kesana kemari di mana posisi duduk ananda di antara banyaknya anak-anak yang hadir. Abi tidak menemukan ananda, yang ternyata ananda duduk paling belakang sama Ummi dan adek Hasan dengan sesekali berbaring kata Ummi setelah acara selesai.
Aulia minta gendong dari tempat acara sampai ke rumah. Abi baringkan ananda di tempat biasanya, kasur ruang tengah. Ananda pegang dan simpan bungkusan hadiah dari acara syukuran ulang tahun di dekat ananda tidur, tidak satu pun dimakan. (Hingga kini Abi masih simpan bungkusan tersebut).

Pukul 15.30
Adzan shalat Ashar berkumandang, Abi tawari aulia ikut ke masjid. Ananda menggelengkan kepala, “Aulia shalat di rumah saja”, jawab ananda lirih. Saat Abi tinggalkan ke masjid inilah kata Ummi Aulia tampak seperti tersentak dan kaget. Abi raba pipi ananda untuk periksa apakah badan ananda panas, “Tidak juga..” dalam hati Abi. Ummi buatkan teh manis hangat untuk menambah glukosa sebagai penambah energi, beberapa sendok ananda meminumnya. Sebagaimana lainnya, tidak ada minuman atau makanan yang ananda habiskan. 

Pukul 17.00
Ummi bacakan kisi-kisi soal ujian untuk hari Senin, Abi dengar dari ruang tamu tentang huruf kapital, anonim dan sinonim, beberpa contoh lawan kata yang ananda dan adek Hasan jawab dengan sesekali terdengan tawa-tawa kecil, entah apa yang ummi, ananda dan adek Hasan tertawakan tentang lawan kata tersebut. Saat ada tamu datang Abi panggil ummi untuk menemuinya. Maaf ananda ditinggal seorang diri, Abi tidak tahu kalau ananda sangat ingin ditemani Abi dan Ummi. 

Pukul 18.05
Abi tulis status di FB untuk Aulia seperti ini;
“Rindu keceriahannya...,
Nur Aulia Rahmah ...; pandai bercerita, semangat, rajin menghafal Qur'an, tampak lbh dewasa.
Lekas sembuh ya Nak....., maaf bila Abi kurang perhatian”.
Ada foto ananda saat kita berlibur di Genteng Banyuwangi, Abi yang foto. Abi ingat saat itu ananda sangat ceriah, Abi rindu dengan keceriahan ini. Inilah makanya Abi pilih foto itu sebagai pengobat rindu.”



Pukul 18.30
Mas Fu.., bisikan agar Abi lekas pulang dari masjid. Bergegas Abi, mas Ahmad dan adek Hasan pulang. Sampai di rumah ternyata ananda sedang duduk santai bersandar pada bantal yang disusun Ummi. Abi lega ternyata tidak ada apa-apa dengan Aulia. “Ada apa Nak...? ”, serius Abi tanya dengan cemas. Jawaban tegas saat itu dari ananda,”Ah gak apa-apa, Aulia tidak kejang, ummi salah lihat saja”. Abi dekati Aulia sambil belai rambut ananda, tampak butiran-butiran keringat di dahi. Tidak lagi terasa hangat apalagi panas, sepertinya semua akan baik-baik saja, pikir Abi. “Mau hidupkan kipas ?”, tanya Abi setelah tampak keringat kelihatan semakin membasahi dahi, lengan dan badan ananda. “Tidak Bi..., Aulia dingin. Abi kipas saja dengan buku pelan-pelan”, jawab ananda dengan mata setengah terpejam.
“Abi..., Aulia ngantuk, mau tidur...”, bisik ananda dengan nada sayup-sayup. “Aulia ngantuk ? Baca do’a dulu nak...!”, Abi pun berbisik lirih dekat telinga Aulia. Sesaat ananda tampak terdiam, kemudian ananda berdoa,”Bismika Allahumma ahya wabismika amuut..., Ya Allah aku menyebut namamu hidup atau maa....tii...., “. Sempurna sekali ananda melantunkan doa ini. Abi perhatikan ananda pulas dan tenang dalam tidurnya.

Pukul 18.50
Ummi tilawah Qur’an dekat ananda tidur setelah mendengar tasmi’ Quran mas Ahmad dan adik Hasan. Abi menemui tamu di ruang depan, saat abi masuk di ruang tengah di mana ananda tidur, tiba-tiba ananda terhenyak kaget sambil membalikkan badan. Tampak ananda ingin didekap oleh Ummi atau Abi. Sontak Ummi menggendong-mu Nak...., tak tertahan Ummi menopang badan ananda yang terkulai lemas, maka Abi menggantikannya. Kepala ananda bersandar di pundak Abi, demi Allah sungguh Abi benar-benar cemas, takut, dan sangat khawatir kehilangan. Kehilangan anak Abi: NUR AULIA RAHMAH !
Abi baringkan ananda di kasur,”Gagal nafas !!!!”, teriak Abi saat itu, sedapat mungkin Abi bantu dengan nafas buatan, tapi...ii...i, bibirmu mulai tampak biru. Bergegas Abi peluk ananda keluar rumah untuk segera masuk mobil ke rumah sakit. Ayah Caca teman ananda sudah siap di mobil setelah diberi tahu sebelumnya oleh Mas Furqon.

Pukul 19.05
Ananda di ruang IGD Rumah Sakit, syukur petugas bergerak sigap. Oksigen, monitor Vital Signal, cairan infus segera terpasang. Dokter berjuang maksimal memberikan pertolongan dibantu oleh perawat. Tampak wajah mereka sangat tegang. Sesekali Abi lihat layar monitor yang garis grafik hilang timbul. Bila bukan karena kendali iman tentang keyakinan bahwa Allah adalah Sang Maha Pemilik, Maha Pencipta dan Maha Pengatur rizeki, sebagaimana dalam materi Tauhidullah yang Abi sampaikan dalam dua hari yang lalu, inging rasanya Abi hempaskan rasa cemas, khawatir, takut kehilangan, tegang dan kecamuk pikiran tidak menentu lainnya dengan berteriak histeris dan menggoncang-goncang badan ananda agar segera sadar dan bisa tersenyum kembali. Beberapa saat Abi lihat ananda tampak seperti tersedak dan bernafas kembali, Abi sempat lega demikian juga tim di IGD. Namun mendadak layar monitor kembali tidak muncul. Demikianlah hal demikian tiga, empat kali berulang.

Pukul 19.30
Ananda dipindahkan dari ruang IGD ke ICU, Abi berharap ada keajaiban dan ketetapan Allah sebagaimana keinginan Abi, Ummi, Mbak Aini, Mas Furqon, Mas Ahmad dan Adek Ahmad. Meski Abi sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa tidak selalu apa yang baik menurut kita adalah baik pula menurut Allah, dan sebaliknya bisa jadi apa yang buruk menurut kita adalah justru itulah yang terbaik menurut Allah bagi kita.
Beberapa kali Abi lihat dokter periksa pupil mata ananda, sementara Abi dan Ummi di samping ananda sembari memegang lengan atau kaki ananda dengan harapan ada gerakan atau reflek motorik. Wajah mereka sangat tegang, dan tentu Abi dan Ummi jauh lebih cemas dan lebih tegang dibanding mereka. 

Pukul 19.45
“EKG ....!!!”, kata salah seorang tim ICU. Sangat khawatir dan degup jantung Abi serasa tidak teratur dan terukur lagi. Tak sedikitpun Abi berkedip melihat lembaran print out hasil EKG keluar.....,
Dan ....., garis grafik itu......, (tak kuasa Abi menulisnya). Grafik keluar dengan garis mendatar !!!!!. Dunia seakan gelap, Abi dan Ummi peluk erat-erat badan ananda dan mencium pipi dan kening ananda.
“Ya Allah telah berlalu ketentuan-Mu atas anakku tercinta, Nur Aulia Rahmah ! INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUUN”
Abi menangis..., lirih Abi berbisik,”Selamat jalan anakku, insya Allah kita akan berjumpa dalam surga-Nya nanti. Jannatul Firdaus, sebagaimana sabda Rasulullah saw, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa beliau bersabda, “Anak-anak kecil Islam [yang meninggal sebelum baligh] akan menjadi pelayan-pelayan surga yang akan menemui bapaknya atau kedua orang tuanya. Ia pun memegang pakaian bapaknya dengan tangannya, seperti saya mengambil shinfah [susunan/karya] ini. Ia tidak melepaskannya lagi sehingga Allah memasukkannya bersama orang tuanya ke surga.” (HR Muslim)”

Ananda terselimuti kain putih.

-----------------------------------------------------------------------
"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS. 2 : 250)
“Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah! Dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan.” [*]
________________________________________
[*]Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah 3/416 dan Ad-Durusul Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, halaman 15

Selama mengedit tulisan ini, mata saya tak henti-hentinya menetes, membasahi pipi. Saya mencoba merasakan, menghayati setiap kalimat, ucapan, situasi yang dituliskan dengan penuh hati-hati. terbayang bahwa ananda adalah anak saya sendiri, lalu ada bagian cerita tertentu yang saya perhatikan secara seksama  apa yang dilakukan ananda  hampir sama dengan yang biasa dilakukan oleh anak saya Nawra. Mungkin begitulah dunianya anak-anak.

lalu, saat saya membaca dan mengedit tulisan ini Nawra juga ikutan membaca, dia membacanya dengan suara keras. Mendengarkannya membuat saya semakin bersedih. Saat itu saya hanya mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh Bu Noneng dan Pak Gunawan, pasti mereka sangat bersedih dan merasa kehilangan. Namun saya menyakini bahwa mereka adalah orang tua teladan dan hambaNya yang sabar dan bertawakal, mereka pasti kuat dan saling menguatkan. Allah tak akan pernah salah menetapkan semua itu.

Selamat jalan anakku Aulia Nur Rahmah, semoga Allah memelukmu di surga. Engkau pun kelak yang akan menjemput kedua orang tuamu ke surga. Aamiin.

Disalin dari Status fesbuk Bapak Sari Gunawan

8 comments

Aku mbak... Gak berhenti air mata sampai tulisan terakhir...
Semua yang berasal dari Allah SWT, akan kembali kepadaNya juga...
Selamat jalan dek...

Reply

iya dek, sedih banget ya...saya juga basah membacanya

Reply

ihik..hik...sedih..basah juga membacaya..menjadi tabungan akhirat untuk kedua orangtuanya

Reply

Iya Mb Anita, segede itu anaknya pasti sdh byk kenangan. Saya pernah kehilangan janin aja, sedih bangt kalo ingat

Semoga bisa jadi penolong di akhirat nanti ya. Aamiin

Reply

Nice POsting Sista. Folback ea. Aku follow nih blog nya, buat info Lomba Cerpen untuk Adikku Yang Hobby Nulis. Visit mine http://paremaputri.blogspot.com/

Reply

oke deh, makasih Ya dek Ran. semangat ya ikutan lombanya

Reply

Masya Allah, orang tuanya sangat tabah, enggak terlihat galau dlm tulisannya. Hanya mengenang dalam persepsi keindahan, semua karena kekuatan iman.

Reply

iya mba Hidayah, kedua orang tuanya orang baik, mereka ustad dan ustadzah, jadi mereka lebih lapang menerimananya, maski pasti juga sedih dan kehilangan. kita doakan orang tuanya sabar dan ikhlas.

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin