Menu

Kamis, 25 April 2013

/
(Kondisi kelas Nawra , saat merayakan miladnya yang ke 6 tahun di SDIT Rabbani Tanah Patah , Bengkulu)




Itu pasti kebanyakan yang diungkapkan oleh wali murid yang ingin menyekolahkan anaknya ke SDIT. Mahal ya, kebayar gak ya. Kenapa harus mahal sih, emang anaknya betah belajar ampe siang begitu bahkan sampai sore, apa gak ada waktu bermain lagi, itu anak apa gak kepanasan disuruh pake jilbab seharian. Hmmm, pertanyaan lanjutan yang biasa diteruskan teman-temanku setelah pernyataan biaya SDIT mahal. Mahal tapi bisa dicicl juga kan...Lalu jawabannya, sekolah apa sekarang yang murah? Ini pendapat saya kenapa memilih menyekolahkan anak di SDIT.

Yang pertama selaku orang tua saia menginginkan anak-anak saia paham akan ilmu agama islam lebih baik dari saia. La terus apa fungsi anda sebagai ortu ЌƏĿº gak mengajarkan ilmu agama. BÈţūǖŁ BÈţūǖŁ BÈţūǖŁ....Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡, kami sebagai ortu juga gak bisa menyerahkan 100 persen persoalan pendidikan agama kepada sekolah. Namun ini adalah solusi tengah bagi kami ortu Ɣαƞƍ merasa tidak cukup mapan untuk mengajarkan, mengontrol, mengevaluasi ilmu agama anak selain itu masalah waktu. Karna kami tidak mau kehabisan waktu hanya untuk 'mencari'  sehingga keperluan anak tidak terpenuhi. Makanya kami butuh bantuan orang lain untuk melakukannya dengan catatan tetap diawasi.

Kedua sekolah ini full day, teringat dulu anak saya Nawra sepulang TK dia asik bermain di mana-mana dan itu kadang kala membuat neneknya atau kami sering kebingungan. Akhirnya solusinya waktu itu kami memberikan dia les tambahan setelah pulang TK sehingga setelah zuhur dia bisa tertidur. Sore hari setelah asar bisa bermain lagi. Mengingat itu makanya dengan pulang jam dua. Itu adalah pilihan Ɣαƞƍ tepat bagi kami. Dimana selain dia belajar, urusan makan siang juga sudah diatasi di sekolah. Sering kali di jalan menjelang pulang menjemput anak pulang sekolah, teman-temannya baru mulai berangkat pergi mengaji. Semua kebutuhan tersebut sudah dipenuhi di sekolahnya.











Suatu hari ponakan saia seorang laki-laki, jam sepuluh pagi sudah tiduran di rumah neneknya. Saia memegangi kepalanya, bertanya apakah dia demam dan biasa jam segitu sudah pulang sekolah dan jadi luar biasa kenapa dia gak bermain seperti biasanya. lalu saia menelpon ayahnya. singkat cerita datanglah ayah si anak setelah salat zuhur. Dengan tergesa-gesa ia mengajak anaknya pulang, namun sang anak tidak mau karena dia sudah tau alasan untuk diajak pulang itu untuk pergi mengaji. Melihat anaknya yang susah sekali diajak salat dan mengaji, kakak saia hanya terduduk lesu sembari berkali-kali melihat jam. Waktu istirahat kantornya segera habis. Mencoba berkali-kali membujuk anakknya " Ayolah Bang, ayah mau ke kantor lagi ini!" sang ponakan cuma menggeleng lalu berkata " Adek Nawra itu gak pernah pergi mengaji, pulang sekolah dia langsung main.!" Gubraaaak, kakak saia terpanah. Lalu saia mendekat dan berbicara lembut dengan ponakan," Kenapa Abang gak mau mengaji, kan enak banyak teman-teman" Dia kembali menggeleng, " Panas Umi, ngantuk lagi. Bosan, pulangnya juga lama. Kapan mau mainnya !" Ayahnya cuma mendesah panjang.



( Kakak Nawra kelas satu Al -Qomar ditemani gurunya Ustadzah Riyanti, Titin dan ustad Budi)


"Capek Kak, nyari uang? Kesal hati anak gak mau menurut salat dan mengaji? tanya saia bertubi-tubi. Saia tau kakak saia orangnya hanif rajin salat dan rutin salat dhuha sebelum ke kantor. Tapi alagkah sedihnya, jika anak lakilakinya gak mau salat dan mengaji. " Sudah, pindahkan saja dia ke SDIT. Biar di sana ada yang membantu mengontrol ilmu agamanya. Kakak, tinggal mengawasi dan mencari uang.. paling tidak setiap hari dia sudah salat dhuha, mengaji dan salat zuhur di sekolah!" saran saia. Setelah itu dengan sangat terpaksa ponakan saia pulang mengikuti ayahnya.

Sejam kemudian, kakak saia menelpon meminta saia mencarikan informasi di SDIT tempat anak saia sekolah, apakah bisa menerima siswa pindahan SD negeri dan teknisnya seperti apa. Saia bergegas mencari informasi tersebut, alhamdulillah singkat cerita ponakan saia itu berhasil pindah ke SDIT dengan catatan harus menambah les tambahan untuk beberapa mata pelajaran yang tertinggal terutama pelajaran agama. Setelah sebelumnya dia melakukan tes terlebih dahulu. Apalagi baru kenaikan kelas dua sehingga belum banyak mapel yang tertinggal.

Dan lihat sekarang, wajah kakak saia tak lagi murung dan kusam mengenai perkembangan anaknya di sekolah, "Wah, Ummi gurunya rajin dan perhatian betul. Hampir tiap hari sms mengingatkan semua hal, dari ulangan, pr, perkembangan harian di sekolah, pokoknya hal-hal yang sepele pun diperhatikan. " saia cuma tersenyum

"Prestasinya pun terlihat, karena semua ada penilaian dan dihargai dari apa yang didapat anak dan dilakukan anak, hehehe"lanjutnya.

Anak SDIT itu apa gak stress sekolah lama kayak gitu? Tanya seorang kawan. Iya stress kata saia ЌƏĿº gak sekolah? Maksudnya? Iya anak saia gak mau ЌƏĿº gak sekolah, pulang juga jangan dijemput terlalu cepat alasannya masih mau main dulu di sekolah ,hehehe. Mau tau di kelas anak saia juga ada mainan masak-masakan loh, terus anak juga boleh mewarnai, mengambar, nonton felem dari laptop asal semua tugasnya sudah selesai. Mereka boleh duduk lesehan. Gak mesti duduk di meja dengan kedua tangan tersusun rapi. Bagi yang cowok ada juga mainana mobil-mobilan loh. Tiap hari selalu aja ada hal baru yang anak ceritakan. Entah game, yel-yel, felem, lagu atau apa aja deh yang membuat mereka enjoy di sekolah. Jadi Ɣαƞƍ stress itu emaknya Ɣαƞƍ menunggu kepulangan anaknya di rumah, hihihi berasa lama banget !

Nah, lalu alasan ketiga saia menyekolahkan anak ke SDIT adalah, kontrol dari pihak sekolah agar anak gak jajan sembarangan dan membawa uang jajan ke sekolah. Coba kita perhatikan banyak sekolah negeri, yang ketika mau masuk sekolahnya aja di gerbang sudah berjejer aneka jualan. Entah apa saja, sudah mirip pasar kaget bentuknya. Ponakan saia itu dulu setidaknya mengantongi tiga ribu sampai lima ribu perhari untuk jajan. Itu belum lagi renggekkan dia pas dijemput pulang sekolah, minta beli inilah, itulah. Gak jelas! Kalau dikalkulasikan jatuhnya mahal juga kan. Termasuk kontrol di kelasnya, hanya untuk mengawasi murid yang berjumlah 20 orang diperlukan tiga orang guru di setiap kelasnya. Banyak yang mengawasi dan mengontrol anak kita di sekolahnya.
 

Alasan keempat, semua fasilitas sekolah anak sudah disediakan pihak sekolah seperti buku pegangan, berbeda dengan sekolah negeri maaf bentar-bentar anak disuruh beli buku inilah, diktat itulahlah, lalu diminta les inilah, tambahan pelajaran itulah, yang semuanya menggunakan uang. Mari kalkulasikan lagi berapa uang dadakan yang harus disediakan orang tua. Sampai akhirnya salah satu teman saia curhat, ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan tiap bulannya berkisar antara 250 s/d 300 ribu juga perbulannya, bahkan lebih. Hmmm, sama mahalnya artinya ya buibu! Belum lagi kegiatan tambahan, misalnya renang, rekreasi, kunjungan ke luar sekolah, di SDIT semua sudah diatur sekolah sejak awal. kita tidak diminta uang dadakan. Seperti rapat POMG yang selalu ada snacknya atau acara rapat, buka bersama atau apa aja orang tua tidak dimintai kumpulan duit.

Beda dengan sekolah negeri.... yang didapat belum jelas dan gak banyak. La wong jam sepuluh pagi aja anak sudah pulang, hehehe. Dapat ya manteman, masa gak namanya juga anak sekolah. Tapi dikit kali dapatnya.

Alasan kelima, banyak agenda sekolah entah apa pun itu selalu melibatkan wali murid, seperti rapat pertemuan rutin orang tua yang melaporkan dan diskusi soal perkembangan anak. Guru-guru yang perhatian, sampai hanya urusan menjemput anak saja, mereka sangat telaten. Tidak boleh dijemput oleh orang yang tak dikenal, lalu mengkomunikasikan misalnya si anak belum dijemput , dengan senang hati mereka menemani anak kita menunggu jemputan di sekolahnya. Tak ada kata pembiaran di sekolahnya. Lalu ketika anak sudah sampai di rumah pun para guru masih suka mengontrol. Perhatian yang luar biasa ini.

Ini cerita saia, setelah satu semester anak sekolah di SDIT, pagi itu saia menyempatkan duduk sebentar memperhatikan anak saia dan teman-temannya salat dhuha. Tak terasa air mata saia menetes, anak saia sudah sangat lancar dan fasihnya membaca semua bacaan salat. Saia bersyukur, mungkin jika hanya mengandalkan pengajaran di rumah saja entah sampai kapan anak saia mampu menghapalkan bacaan salat tersebut. Saia tergugu, melihat semua itu.

Hmmmm, belum lagi perkembangan yang lain, sekarang saia dan anak termasuk suami sedang balapan menghapal qur'an. Jadi semakin termotivasi karena ketika salat berjamaah di rumah, suami jadi sering membaca surat yang sedang dihapalkan anak di sekolah. Sekalian mengecek hapalan, terkadang ada yang keliru. Usai salat Nawra berkata " Kok, Abi lupa bacaan ayatnya, Abi gak khusuk ya " kami cuma terkekeh mendengarkannya.

Itu hanya sebagian cerita saia, banyak lagi yang lainnya, bagaimana dengan cerita kamu. Masih mau bilang bersekolah di SDIT itu mahal, memang betul...Tapi apa ? hayooo kasih alasanmu ^^
3 comments

kurang lebih sama dengan alasan saya menyekolahkan di SD Islam. Dan memang sesuai dengan pengalaman adik saya yang bungsu, dia betah di sekolah sampe ga mau dijemput buru-buru. Kalau saya yang jemput pasti disuruh nungguin dia main bola dulu di sekolah :)

Reply

iya mbak Vina, bagi saya dan suami, ini adalah solusi tengah terhadap pendidikan anak. kita tidak menyerahkan 100 persen terhadap sekolah. Memang saat ini Nawra sangat betah di sekolahnya dan enjoy,banyak teman, metode belajar asik. soal prestasi kami gak maksain biarlah mengalir dulu sembari liat bakat dan minatnya :)

Reply

Assalammualaikum wr wb ..saya dari medan.mohon info utk biaya pendaftaran &spp bulanan di SDIT Rabbani...terima kasih :)

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin