Assalammualaikum.Wr.Wb
Hai sahabat Milda semuanya, semoga selalu sehat ya, kita masih dalam pandemi nih. Jadi harus tetap waspada, disiplin untuk menjalankan protokol kesehatan di mana pun berada.
Secara umum, kasus corona masih naik terus yah. Namun, di sisi lain sisi kehidupan harus tetap berjalan dengan baik. Seperti urusan pekerjaan,berbagai kantor, layanan publik sudah dibuka seperti biasa. Para karyawan, harus bekerja seperti biasa, jika sebelumnya melaksanakan kerja dari rumah atau work from home. Now back to office.
Yang belum dibuka secara biasanya ini hanya sekolahan dan kampus, padahal pasar, mall dan hajatan pernikahan, tempat makan semua terbuka umum. Sampai ada yang berseloroh begini.
Emang di sekolah aja yang ada virus corona
Gimana tuh, tanggapan teman-teman semua?
Oke yah, bagi yang sudah berpendapat soal itu. Kembali ke topik yang akan saya bahas sesuai dengan judul yah. Dilema Apel Pagi, hehehe.
Tapi sebelumnya, saya mau kasih tahu dulu, ini versi aku yah, bagaimana kerempongan saya menjalani apel pagi di masa pandemi ini. Bukan teori umum, apalagi diumumkan. Jika ada nama orang, tempat dan jalan cerita yang sama itu hanya kebetulan yah.
Apel Pagi Versi Saya
Jadi setelah bulan puasa, di kantor saya mulai diterapkan kembali untuk apel pagi. Fokus saya kali ini adalah soal apel pagi dulu. Sebab di kantor saya juga ada kewajiban untuk apel sore, hehehe.
Jadwal apel pagi adalah jam 07.45 setiap hari senin hingga jumat. Apel ini dilakukan setiap pagi di halaman kantor, kecuali hujan atau ada halangan lainnya. Dalam hal ini halangan lain yang benaran berupa halangan selain hujan belum pernah sih.
Pernah ya, tempat apel pagi dipindahkan ke suatu tempat. Bisa hanya kantor saya saja atau gabungan dengan kantor lainnya. Seperti apel pagi di Pantai, setelah apel pagi dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih pantai.
DURASI
Apel pagi biasanya hingga satu jam atau 60 menit. Tergantung dengan siapa Pembina Apelnya dan materi yang akan disampaikan. Jika kepala Kantor yang menjadi pimpinan Apel, bisa lama sampai satu jam durasinya. Tapi pernah juga hanya sebentar, tidak ada amanat atau arahan saat apel.
Bisa juga Apel jadi lama, jika dipimpin para kabid atau kasi atau kasubag, tergantung kalo ada pesan yang ingin disampaikan.
DILEMA, jika apel agak lama, yang terlambat masih bisa gabung di belakangnya. Pokoknya masih bisa atau dianggap hadir meski terlambat, jika masih ada di barisan. Asalkan belum bubar. Sebaliknya jika apel cepat, maka kemungkinan tidak ikut apel itu besar, hahaha. Meski terlambat hanya beda menit saja.
USAHA SAYA AGAR BISA APEL PAGI
Meski diperbolehkan untuk tidak hadir apel asalkan sudah ijin kepada atasan. Namun, tidak juga enak jika ijin terus-terusan atau ikut apel tapi terlambat. Kalo sekali-sekali terlambat mungkin masih maklum. Tapi kalo terlambat terus, rasanya juga tidak enak.
Kenapa, kadang ada absensi manual juga. Dicatat namanya yang tidak hadir apel. Lalu bisa juga dipanggil atasan diberikan surat peringatan ( SP) karena tidak apel, kalo kaitan sama uang jelas saja ada pemotongan bagi yang tidak ikutan apel sebab ini berkaitan nanti dengan isian E-Kinerja
Repotnya juga kalo terlambat itu, sudah pasti kendaraan tidak bisa masuk, masih di luar. Miriplah seperti kalo kita terlambat ke sekolah, hehehe. Di luar menunggu sampai upacara selesai. Bedanya ini, kita bisa masuk dan langsung bergabung ke barisan apel.
Ribet ya..ribet ya..ribet ya ( Iyaaah in aja , tapi perlu usaha)
Saya Lakukan Hal Ini
Jadi saya selalu usahakan untuk berangkat dari rumah sekitar jam 7.15 wib atau paling telat 7.30 wib , tapi ini pasti kemungkinan saya agak telat sedikit. Sebab di jalan belum bisa diprediksi. Secara normal, biasanya saya menghabiskan waktu sekitar 15 menit dari rumah menuju kantor dengan motor metik.
Tapi untuk amannya, setelah absen online, sekitar jam 7.10-7.15 wib saya juga bersiap untuk segera berangkat. Kalo jam ini saya berangkat, biasanya aman dan masih bisa narik napas saat tiba di kantor, nggak terburu-buru.
Mempersiapkan Dukungan Domestik
Untuk sukses hadir apel pagi ini, butuh dukungan keluarga juga. Apalagi anak-anak, selama sekolah belum aktif ini. Mereka masih di rumah saja. Tau sendiri kan, bangun pagi itu saat sekolah aktif saja susah. Apalagi pandemi seperti ini, tentu bertambah malas saja untuk bangun bagi.
Betul apa betul, pasti betul dong
Jadi, saya usahakan supaya pagi itu anak-anak sudah bangun pagi, selain shalat shubuh supaya bisa medelegasikan tugas dan bersalaman saat saya berangkat.
Untuk menu sarapan dan makan siang, biasanya jam enam pagi itu sudah masak semua. Jangan ditanya jam berapa saya masaknya. Masaknya sih setengah enam doang, sebab semua bahan sudah siap. Tinggal diracik aja mau jadi menu apa.
Untuk minuman, di rumah ada kopi, teh, susu. Ini kadang dibantu oleh kakak Nawra ( 14 tahun) , ia juga membantu mencuci, meski kadang tarik ulur, masih ngantuk. Sudah bangun, duduk dimana, eh tertidur lagi. Tapi dipanggil, dia nyahut, hehehe. Jadi saya sudah siapkan TOA dan tombol bantuan Call The Kakak jika butuh bantuan.
APAKAH SAYA SARAPAN, Dilema Emak, itu bisanya suka gak sempat makan meski ia yang masak, hehehe. Untuk pagi saya sering minum kopi susu atau kopi saja dengan gelas kecil, kalo ditakar palingan 100 ml. Ini kayak rutinitas pagi aja deh, ditemani camilan atau kadang saya makan juga sedikit. Saya sudah dua tahun tidak makan nasi, jadi makan juga tidak bisa banyak lagi.
Selebihnya, saya sering membawa bekal ke kantor juga, isinya kadang menu masakan hari itu, camilan , buah atau buah kurma. Untuk kurma di rumah stok. Selain itu saya membawa dua liter air putih, perlengkapan makan saya.
JAM BERAPA SAYA MANDI
Saya mandi tidak lama apalagi berbaju atau berdandan. Jam setengah tujuh atau usai masak saya mandi. Untuk pakaian yang akan digunakan sudah saya siapkan di atas Kasur. Jadi usai mandi langsung bersiap untuk berpakaian, tidak lagi mencari-cari dimana underwaer, mana jilbab, atasan, bawahan dll.
DUKUNGAN DOMESTIK MELIMPAH
Alhamdulillah dukungan domestik ini berjalan lancar, semua mendukung bahkan saling membantu dan mengingatkan.
Contoh pengingat itu, misalnya saya lupa membawa minum. Nanti ada aja yang mengingatkan dan membawakan botol minuman saya. Atau membantu saya buka tutup pintu pagar, mengambilkan helm sampai membawakan kaos kaki, membawakan masker. Biasanya kalo ada bawaan , sudah saya siapkan sejak malamnya di dalam tote bag.
Anak dan suami mendukung. Suami juga sesekalinya mengantar saya, pasti ia sudah siap di jam biasa saya berangkat. Jadi emang siap dan diusahakan tidak telat.