Menu

Sabtu, 19 Maret 2016

/





        Mildaini.com. Cuaca malam minggu kali ini sangat cerah, semilir angin berhembus pelan. Di langit mulai nampak bulan dan bintang yang sedang bercengkrama. 

          Saya memandang tinggi ke atas langit, indah sekali ciptaan Allah, meski terlihat jauh. Keindahannya tetap dapat saya nikmati. Bahkan cahaya beningnya mampu menerangi jejak tapak kaki saya.

          Setelah salat Magrib berjamaan di rumah, saya mengusulkan kepada Baba untuk mengajak anak-anak bermain di pantai Panjang.

          “Ai, ngapain malam-malam ke pantai. Di sana pasti banyak ketemu anak muda yang sedang nongkrong dan pacaran aja” elak suami 

          “Kita kan bisa pacaran juga Ba” senyum saya menggoda

          Nawra dan Athifah , tertawa berbarengan. Saya tahu mereka berdua pasti mendukung ide saya untuk ke pantai.


          “Kita akan naik kereta lampu di sana Ba, kalo malam hari lebih asik karena akan terlihat lebih indah saat lampunya mulai menyala “ jelas saya

          “Horee...naik kerata malam eh, kereta lampu” teriak Nawra

          Lalu kami segera berangkat, saya menyiapkan satu botol minuman. Ini selalu saya bawa. Meski di mobil juga selalu ada minuman kemasan yang kami siapkan. Kemudian ada sedikit cemilan dari sisa acara di masjid siang tadi. Ada risoles dan stik keju. Lumayanlah.

          Kami berangkat ke pantai Panjang yang hanya berjarak sekitar dua kilo meter dari rumah. Ya, paling lama sepuluh menit berjalan pelan menuju ke sana dengan kendaraan pribadi.

          Kami mulai dengan rute, rumah Tengah Padang – terus ke simpang Jamik- jalan Suprapto- simpang lima (Ratu Samban)- simpang Penurunan Belok Kanan- Hotel Horison – pantai Panjang.

          Setelah parkir mobil, sudah terlihat dari tempat kami berjejer kereta lampu dengan cahayanya yang terang dan indah. Athifah pun berisik tak tentu.

          “ Apa itu Me, adek mau naik itu...ayo Ba kita ke sana” ucapnya cadel, menggemaskan.

          Kami pun menyeberang. Bergegas memilih. Ada banyak pilihan bentuk dan kreasi kereta lampunya. Ada bentuk binatang, seperti gajah, burung, ikan, ayam. Lalu ada bentuk mobil, bentuk pesawat, helikopter. Banyak pokoknya. Saking banyaknya bikin bingung untuk memilihnya.


          Akhirnya, pilihan anak-anak jatuh pada bentuk burung. Si abang penjaga kereta mengeluarkan keretanya. Kami naik dan mencobanya. Ternyata ada sedikit ketidaklancaran saat mencoba, sehingga kami memutuskan untuk mengganti dengan bentuk lain. Pilihan selanjutnya jatuh pada bentuk Helikopter.

          Anak-anak sebenarnya ingin naik kereta yag berbentuk mobil. Karena dilengkapi dengan musik. Sehingga lebih asik. Anak-anak kan suka yang gemuruh dan riang, apalagi kalo yang distel lagunya anak-anak. 

          Kereta bentuk ini relatif lebih aman dan nyaman. Alhamdulillah, kami pun bergegas naik. Saya juga merekomendasikan bentuk ini karena di bagian depan, ada tempat duduk khusus anak balita yang mirip lingkaran, sehingga lebih aman bagi anak dan terjaga. Badan anak masuk dan duduk di dalamnya sehingga resiko terjatuh bisa dikurangi.

          Kereta lampu ini berjalan sama seperti cara kerja sepeda. Jadi harus dikayuh, layaknya kita menggunakan sepeda. Letak pedal sepedanya di bagian belakang. Di salah satu  pedalnya ada stir yang dapat digunakan untuk mengendalikan sepeda dan dilengkapi dengan rem.

          Karena saya lagi hamil, yang mengayuh sepeda akhirnya Baba dan kakak Nawra. Alhamdulillah bumil duduk manis saja di bangku paling tengah. Di bagian depan sudah ada adek Athifah.

          Rute perjalanannya lumayan jauh. Ke arah kanan sampai ke depan restoran Pangsit Tris lalu belok lagi sampai mendekati Mall BIM. Lalu belok lagi , turun di tempat kita naik tadi.

          Kami mengayuh dengan santai, mengikuti kekuatan Baba dan Nawra. Sesekali kami berhenti. Di depan dan di belakang kami juga banyak kereta lampu yang sedang melaju. Mereka sama riangnya dengan kami, sesekali kami saling menyapa dan melempar senyum.

          Di sepanjang perjalanan banyak sekali para pedagang. Kami bisa sekalian mampir misalnya untuk membeli bakso bakar, jagung bakar, aneka minuman dan barang-barang lainnya.

          Jadi, ketika kita menggunakan kereta malam ini, tidak diberikan waktu tetapi rute, hehehe. Maklum deh, kita kan mengayuh sendiri keretanya. Tentu saja kekuatan setiap orang pasti berbeda ya. 


Pada setiap kereta menggunakan empat ban. Seperti kereta kami, menggunakan empat ban, di bagian depan dua. Belakang dua lagi. sehingga jalannya lebih seimbang dan mudah.

          Pada saat menggunakan kereta malam ini, bagian yang tersulit adalah saat belok, tidak semua orang bisa melakukannya. Termasuk Baba Nawra. Apalagi kita kan berjalan di jalan raya, tentu saja ada kendaraan lain selain kita. Ada motor dan mobil yang lalu lalang. Semua juga bisa bikin tambah takut.Tetapi gak usah kuatir, di setiap kita akan belok petugas kereta malamnya juga sudah siap siaga membantu kita untuk belok. Mereka membantu dengan menarik bagian depan kereta dan segera membelokkannya. Ya, secara manual saja. Terus kita lanjutkan kembali mengayuhnya, hehehe.

          Oh, ya harga sewa satu kereta ini empat puluh ribu rupiah. Harga sewa tidak tergantung jumlah orang yang akan naik keretanya. Tetapi dihitung per satuan keretanya. 

          Ada satu kereta hanya dinaiki oleh dua orang dewasa dan satu anaknya. Ada kereta yang dinaiki oleh empat orang dewasa. Kalo yang dewasa semua, enak ni mereka bisa saling bergantian mengayuhnya. Satu kereta paling banyak bisa mengangkut sekitar empat orang dewasa dan dua anak-anak.

          Jika dihitung dengan waktu, sebuah kereta digunakan bisa menghabiskan waktu antara setengah sampai empat puluh menit. Kami menghabiskan waktu untuk bermain kereta ini sekitar empat puluh menit.

          Tak terasa, hari sudah mendekati jam setengah sembilan malam, kami pun bergegas untuk pulang. Sebelum pulang kami ingin makan Pecel Lele dulu.

          Kami sangat menikmati dan senang naik kereta lampu ini, menambah kasih sayang, keakraban dan kehangatan di dalam keluarga. Menumbuhkan rasa perhatian, saling peduli dan kerjasama. Hiburan dan liburan yang murah tetapi sangat mahal untuk sebuah kebersamaan dan keharmonisan sebuah keluarga.



          “Lumayan pegal, bikin lapar juga” jelas Baba

          “Masa itu aja pegal Ba, habis jarang olahraga sih”elak saya

          “Yah, Meme kan enak , cuma duduk aja. Pegal kaki Wa, capek mengayuhnya”

          “Iya, apalagi bawak bumil yang gendut, gemporlah” 

          Kami semua terkekeh. Iya, saya kan lagi hamil jalan tujuh bulan dengan bobot sekitar 75 Kg. Lumayan berat juga kan, hehehe.

          Oke deh, kita makan dulu sebelum pulang, biar nanti tidurnya pada pulas, hehehe.
6 comments

di kota saya, ada pantai yang ramenya hanya pada sore hingga malam hari, namanya pantai kamali :)

senangnya bisa jalan-jalan di malam hari :)

Reply

Halo mbak salam kenal ya. Wah ini kalau di Wates, Yogya, namanya becak hias. Setiap pulkam, kamis elalu menyempatkan bawa anak-anak naik ini. Kalau di Wates sewanya 20,000 per satu putaran alun-alun.

Reply

wah, kok bisa ya Mb, hehehe

kalo di sini paling kalo ada acara aja atau malming

Reply

murah banget sewanya Mba

Reply

Kalo di Semarang namanya becak hias, adanya di Simpang Lima. Kalo pantai pas malam sepi, dan banyak utk anak muda pacaran. Bahaya ngajak anak ke pantai, repot nyari gordin buat nyensor pandangan, hahaha

Reply

hehehe, jadi kangen simpang LIma Semarang Mba

di sini juga begitu, pantai buat pacaran

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin