Menu

Jumat, 16 Oktober 2015

/


Neng, Korban Jimat Bapaknya

Milda Ini 

Siang ini kembali ruangan kelas dua IPS di sekolahku heboh. Si Neng sang ratu pingsan bin kesurupan kembali kumat. Saking seringnya aku lupa ini kasus yang ke berapa . Semua riwayat kesehatan dan data diri serta keluarga si Neng komplit tersedia di buku status pasien. Nomor kontak keluarga Neng juga terekam di buku itu. Maklum jika kami tak sanggup lagi menanganinya, kami segera menelpon pihak keluarga untuk menjemput.
Kali ini kasus Neng sedikit unik, kedua kakinya nyangkut di kaki kursi sekolah. Diantara keempat kaki kursi itu terdapat penyanggah keseimbangan yang dibuat saling mengait diantara satu tiang kaki ke kaki kursi yang lain. Nah, kaki Neng yang masih berbalut sepatu sekolah hitam masih nempel di sana. Kaki Neng keram dan tegang. Setiap akan dibantu untuk dilepaskan. Si Neng berteriak kesakitan. Lengkingan suaranya sampai terdengar di ruang kelas paling ujung . Dimana kelas si Neng terletak di baris terdepan masih ada empat kelas lagi di belakangnya. Ada teman Neng yang berusaha untuk menarik kaki tersebut, Neng semakin berteriak histeris. Kami menutup telingga setiap Neng berteriak. 
Dalam kondisi seperti ini ada lima  orang teman Neng yang selalu setia dan siap siaga saat Neng pingsan dan kesurupan . Mereka sudah paham tindakan apa saja yang mesti mereka lakukan. Mereka sudah tau harus berbuat apa. Seperti saat ini dari kelima teman Neng langsung ada yang membaca Al-Qur’an sambil memegang salah satu tangan Neng. Yang satu lagi membimbing Neng untuk membacakan asma Allah. Seorang lagi siap dengan tas Neng dan obat-obatannya dan terakhir sang juri kunci, hehehe. Kebagian untuk mengurusi hubungan ke pihak sekolah, wali kelas, suster sekolah sampai mengubungi keluarga Neng.
Neng masih berteriak. Kata Iteng teman sebangku Neng, barusan Neng melihat anak kecil seperti tuyul berlarian di ruang kelas. Sontak saja semua penghuni kelas ini langsung berteriak dan berhamburan ke luar. Mereka ketakutan. Penghuni kelas ini kebanyakan  perempuan , kebayang bukan gimana hebohnya. Suara ketakutan di sana-sini diikuti dengan ekspresi wajah bingung, kian menambah mencekamnya suasana. Si Neng masih setia dengan bangku sekolahnya. 
Tak berapa lama, datang  salah satu temannya yang tergopoh-gopoh. Membawa dua buah bawang putih, yang ia peroleh dari dari tukang lotek yang berdagang di kantin sekolah. Menurut dia setan yang sekarang bersarang di dalam tubuh Neng akan menjauh karena mencium bau bawang ini. Setan tidak suka bau bawang. Aku cuma tersenyum mendengar penuturannya yang serius. Lalu ia meneruskan bahwa hal itu juga biasa dia lihat di film-film horor . Wah, ada-ada saja anak-anak ini.
Neng masih belum bisa kami atasi meski tangan dan kakinya kini penuh dengan bau bawang. Kegiatan belajar di kelas mendadak dihentikan. Dua orang guru berusaha untuk menenangkan Neng. Belum ada hasil. Aku mengambil inisiatif biarlah Neng di bawa ke ruang UKS saja agar tidak menganggu kelas lain dan menjadi tontonan orang banyak.
Kami mengangkat Neng berikut kursi yang ia duduki. Kami tidak ingin memaksa apalagi menyakiti Neng. Beberapa teman sekelas Neng yang berbadan tinggi besar berusaha mengangkat Neng beserta kursinya.
Dalam perjalanan dari kelas menuju ruangan UKS  yang berjarak lima  puluh meter. Neng masih saja berteriak dan mengoceh tak karuan. Setiap orang yang melihat kejadian ini seolah kaget dan  merinding. Meski kasus pingan Neng sudah menjadi biasa saja saking seringnya. Namun kali ini agak berbeda. Neng pingsan disertai teriakan dan bangku sekolah yang menempel. Bulu kudukku terasa berdiri dan desir darahku kian kuat. Aku merinding di pagi menjelang tengah hari ini. Neng berbeda hari ini, desisku!
Di ruang kesehatan Neng hanya ditemani lima orang sahabat karibnya. Guru-guru yang tadi berupaya menenangkan Neng secara bergantian mulai terlihat kewalahan. Ibu Manak hampir saja kena semburan air yang dilabrak Neng. Cepat sekali tindakan Neng. Pada saat ia berusaha untuk memberikan air itu sebagai penawar sakit . Kasur seketika basah. Hampir saja wajah ibu Manak tertampar  air yang sudah diberi jampi-jampi itu. 
Tiba-tiba Neng berteriak histeris, kami semua kaget. Kata temannya Neng baru saja didatangi arwah kakaknya yang baru satu sebulan meninggal. Ini teriakan histeris ke dua Neng. Jadi setiap melihat mahluk ghaib Neng langsung berteriak. Bulu kuduk kami kembali merinding. Teman Neng yang lain semakin memperkuat membaca ayat Al-Qur’an, Neng semakin berteriak. Meraung-raung. Waduh, sepertinya mahluk aneh yang ada di tubuh Neng tidak suka mendengarkan ayat Al-Qur’an. Aku meminta untuk meneruskan membaca ayat suci tersebut meski Neng makin berteriak . Nanti juga akan berhenti berteriak, pikirku.
“jadi gmana Mi? Neng makin mengamuk nih. Gak kuat kami memegangnya, tenaganya kuat sekali”
Aku melihat dua orang teman Neng berkeringat. Mereka mulai menanggis melihat kondisi Neng yang semakin sulit untuk ditenangkan. Neng meronta-ronta. Bunyi kursi berdenyit-deyit  membuat nyilu. Bagaimana ini, aku bingung juga, apa yang harus dilakukan. Kuatir  nanti ada korban. Bisa tambah gawat. 
Tiba-tiba datang megap-megap teman Neng yang lain, menyerahkan sebuah botol yang setelah aku amati dengan seksama. Botol tersebut adalah botol bekas  minuman keras. Aku buka tutupnya. Bau khas arak menyeruak hadir. Bentuk botol yang unik . Bisa kutebak seketika meski tulisan dibotol tersebut sudah hilang. Tak salah lagi ini minuman keras.
“gosokan dengan air yang ada di dalam botol ini. Saya baru ingat kalau di kolong meja Neng ada botol ini,” jelas teman Neng 

. Tanpa menunggu lama mereka langsung mengosok kaki Neng dengan air dari botol tersebut, sejurus kemudian kaki Neng yang tadi kaku dan tegang tak berapa lama bisa sedikit lentur dan dilepaskan dari kursi tersebut. Seperti sulap saja, Neng dipindahkan ke kasur. Aku terpana aneh. Air apa sih,  yang ada di dalam botol ini kok begitu ampuh membuat lentur kaki Neng yang dari tadi sangat susah untuk dilemaskan apalagi dilepaskan.
Lalu teman Neng menjelaskan bahwa air itu berisi air syarat? Maksudnya air syarat?Itu loh, air  yang sudah dibacakan mantra-mantra oleh dukun. Hah, aku melotot tak percaya. Oh, aku jadi ingat sekarang,  setelah kejadian si Neng kumat dua minggu yang lalu ketika berbicara dengan Bapaknya Neng. Sempat aku sarankan agar Neng segera diobati. Bapaknya mengatakan akan  membawa berobat si Neng. Dan ini mungkin pengobatan yang dimaksud Bapaknya Neng . Pantas saja Neng hampir dua minggu tidak kumat rupanya sudah ada penangkalnya.
“iya Mi, Neng tadi seharusnya begitu merasa sakit  segera mengoleskan air ini ke bagian yang sakit itu. Tapi karena tadi Neng sibuk belajar mempersiapkan diri untuk ujian di jam pelajaran berikutnya. Neng  tak menghiraukan  rasa sakit yang datang. Begini nih jadinya.” Terang si Upik, teman Neng.
Aku diam terpana bersama dua orang guru lain yang sedari tadi membantu kami menanggani Neng. Kali ini terpaksa Neng kami tenangkan dulu karena orang tua Neng sedang tidak bisa dihubungi. Biasanya begitu kumat si Neng langsung dibawak pulang oleh orang tuanya. 
Neng sudah agak tenang. Kupandangi wajah si Neng dalam. Rupanya yang cantik, putih , ada tahi lalat di atas bibirnya. Sungguh malang kamu Neng. Mengapa orang tua kamu tega melakukan hal ini kepada kamu. Bagaimana masa depan kamu kalau setiap saat kamu bisa kumat begini. Kamu masih muda. Aku tidak bisa membayangkan  jika Neng kumat dan pada saat itu tidak ada sahabat atau keluarga di dekatnya. Pasti sangat repot dan bikin susah orang banyak. Dari informasi temannya aku tahu bahwa si Neng memang diberi jimat oleh Bapaknya dengan maksud untuk melindungi Neng, tapi ternyata jimat itu sendiri sekarang yang menyiksa si Neng. Sungguh kasihan.
Tak berapa lama kemudian karena Neng sudah agak tenang guru-guru yang tadinya berdatangan mulai meninggalkan rungan. Teman si Neng yang lain  mulai belajar lagi  seperti biasa, namun ruang belajar kini pindah ke ruang perpustakaan  karena teman si Neng masih trauma dan takut kalau- kalau tuyul yang dilihat si Neng tadi masih berkeliaran di kelas. Lucunya anak-anak ini!
Kepada lima teman Neng yang setia aku minta untuk tetap berada di ruangan. Aku kuatir juga kalau  Neng kembali kumat. Orang tua Neng belum juga bisa dihubungi. Hari hampir menjelang sholat zuhur. Neng tertidur mungkin capek setelah tadi berteriak dan meronta.
Tiba tiba Neng bangun. Kami semua terperanjat kaget. Neng langsung duduk. Teman-temannya sekejap langsung mengelilingi  Neng. Ada yang menawarkan minum. Setelah Neng minum seteguk. Kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal. Kami makin kaget , air minum yang dipegang teman  Neng hampir jatuh. Teman Neng berusaha untuk menanyakan tapi  Neng tidak menjawab,  malah semakin tertawa terpingkal-pingkal. Kami bertambah  kaget dan takut. Kami saling pandang dengan tatapan bingung. Sekaligus cemas.
Sedetik kemudian kami melihat Neng seolah berubah menjadi seorang  Nenek yang usianya sudah tua dan reyot. Pipinya seolah keriput dan mulutnya langsung dower seperti nenek-nenek kebanyakan yang kita ketemui. Kami saling pandang, menebak apa yang sedang terjadi dengan Neng. Semakin dilihat ke muka Neng semakin kami seolah melihat sosok Nenek-nenek yang yang sudah tua , penuh keriput. Mulut Neng monyong ke kiri dan ke kanan. Pipinya terlihat kempot. Geli melihatnya,  tapi juga bingung. Lebih tepatnya takut!
Tingkah laku Neng juga berubah seperti Nenek-nenek. Lalu temannya bertanya. Apa yang sedang terjadi Neng tidak menjawab.
“aku cantik kan?”
Kami saling pandang, bingung. Tidak tahu mesti berkata apa!
“iya cantik tapi lebih cantik lagi kalau kamu senyum” jawab salah satu teman Neng 
“eh, ini wajah aku memang cantik kok! Banyak yang suka dengan aku loh!”
Hah, kami semakin terperanjat. Mau tertawa, lucu tapi  takut,  merinding. Pertunjukan apa yang sedang  Neng pertontonkan kepada kami. Aku membaca istiqfar berkali-kali dalam hati. Sekali lagi, mau tertawa nanti salah, gak ketawa tapi ini kondisi lucu sekali.
Aku menyodorkn kaca kepada Neng. Dia kaget . Matanya melotot.  “Ih, jelek sekali kayak nenek lampir yang di film horor” Ucap Neng. Lalu berteriak kencang sekali. Kami hampir melompat mendengar teriakan Neng. Bulu kudukku kembali merinding di siang bolong begini.
“oh, tidak bisa! Kan aku udah pake pemutih kok wajahku jadi hitam dan keriput begini” Neng Ngoceh dengan logat seperti di Televisi.
Asli yang ini kami tidak kuat lagi menahan ketawa, melihat ekspresi Neng. Apalagi ketika Neng kaget  berteriak  melihat mukanya yang sebetulnya gak  hitam apalagi keriput. Neng kan masih 17 tahun. Masa keriput.
Buru-buru temannya  mengambil kaca tersebut, ternyata menyodorkan kaca itu bukan solusi yang  baik. Neng masih saja bertingkah seperti Nenek-nenek.  Tapi kali ini sudah sedikit tenang setelah temannya  mengeluarkan bedak dan dipakaikan ke wajah Neng. Mereka menyakinkan kepada Neng bahwa dia cantik dan tidak keriput. Bahwa Neng akan baik-baik  saja karena bedak yang diberikan tersebut sudah mengandung pemutih. 
Hampir satu jam Neng bertingkah seperti ini. Heboh dengan wajahnya yang hitam dan keriput. Kami melayani Neng sambil tersenyum geli. Lalu Neng kembali pingsan. Dioleskan lagi dengar air dalam botol minuman keras tadi Neng sadar. Ketika sadar itu Neng sama sekali tidak mengingat apa saja yang barusan ia alami. Kami hanya tersenyum. Teman Neng menjelaskan kronologisnya. Setelah Neng tenang , aku hanya memastikan kepada Neng mengapa dia sering kumat begitu ternyata memang Neng jarang sekali sholat dan suka melamun . Saat ini pun Neng sedang menstruasi dan otomatis tidak melakukan kegiatan ibadah apa pun. 
Ada – ada saja kejadian  siang ini. Ada rasa takut namun geli. Begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil dari si Neng yang menjadi korban Bapaknya sendiri karena jimat. Mengapa kita tidak mempercayai ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Bukankah syirik itu dosa besar. Hanya kapada Allah SWT tempat kita berserah diri. (Kisah Anak Muridku yang Menjadi Korban Jimat Bapaknya)


Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin