Menu

Kamis, 20 Oktober 2016

/

Assalammualaikum Wr. Wb

Bulan Oktober yang lalu  dikenal juga dengan sebutan sebagai bulan Bahasa. Selama tiga hari (18-20 Oktober 2016) saya berkesempatan menghadiri acara yang berkaitan dengan bulan bahasa tersebut. Salah satunya Musyawarah Nasional (MUNAS) Sastrawan Indonesia 2016 di hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Acara Munas ini diikuti oleh hampir sebagian besar sastrawan dari perwakilan daerah yang ada di Indonesia. Ada sekitar 107 orang. Salah satunya saya yang sangat beruntung bisa bertemu, belajar, berdiskusi dan berkumpul dengan berbagai sastrawan Indonesia. Benar-benar sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa ikut Munas Sastrawan Indonesia 2016

Acara Munas ini diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan ,Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Latar Belakang acara munas ini adalah peringatan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2016. Tanggal tersebut 88 tahun yang lalu menajdi tonggak penting dalam pergerakan bangsa menuju kemerdekaan. Saat itu pemuda dari berbagai daerah dan kelompok mengakui dan menyepakati gagasan Indonesia sebagai tanah air, kebangsaan dan bahsa persatuan bersama melalui sumpah pemuda. Yang saat ini kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Untuk mengenang dan memanifestasikan gerakan dan pemikiran visioner para pemuda tersebut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sejak tahun 1980 telah mengembangkan ikon kegiatan kebahasaan yang berpusat pada setiap bulan Oktober, yaitu Bulan Bahasa. Lalu sejak tahun 1989, terus dikembangkan menjadi Bulan Bahasa dan Sastra. 

Salah satu kegiatan utama dalam Bulan Bahasa dan Sastra 2016 adalah Festival Sastra dan salah satu subkegiatannya dalam Festival Sastra adalah Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia 2016  

Selama tiga hari, akan hadir 107 sastrawan yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Ingin mengetahui siapa saja mereka yang hadir pada Munas sastrawan Indonesia ini, dapat di cek di sini.

Saya tiba di hotel Bidakara, sekitar jam 14.00 wib. Sebagian peserta sudah datang dan berkumpul. Kami pun segera mengisi daftar absensi peserta Munas di ruangan . Setelah mengisi daftar hadir, kami diminta menunggu untuk pembagian kamar. 

Saya berangkat atas utusan kantor Bahasa Bengkulu bersama sahabat saya Rumasi Pasaribu. Kebetulan kami mendapatkan satu kamar. Jadi lebih enak dan nyaman, sudah ada teman daalm kegiatan ini. Kamar kami ada di lantai 10. Tepatnya di kamar no 1025. Kamarnya nyaman dan fasilitasnya lengkap.


Setelah bersiap dan sesudah salat Magrib, kami segera berkumpul di ruangan untuk acara pembukaan. Pada acara pembukaan seperti biasa , seluruh peserta diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ibu Dr Nilam Sari sebagai ketua Bulan Bahasa dan Sastra 2016. Dilanjutkan dengan hiburan musikalisasi puisi. Acara lalu resmi dibuka 

Materi Munas Sastrawan Indonesia 2016 dapat dilihat secara lengkap di sini. Selama tiga hari, peserta akan mendapatkan banyak materi dari delapan narasumber.




Setelah acara pembukaan, langsung dilanjutkan denga Pleno 1 yang diisi oleh narasumber Remi Sylado yang memaparkan mengenai membangun jejaring sastra global. Salah satu yang dipaparkan oleh Remi Syaldo bagaimana cara agar karya sastra Indonesia bisa dipasarkan sampai ke luar negeri. Keharusan Indonesia untuk memiliki penerjemah yang tidak hanya mampu menterjemahkan tanpa memahami bahasa sastra itu sendiri sehingga karya yang diterjemahkan tersebut tidak memiliki kekuatan 'bahasa rasa' dan 'bahasa pikiran'

Lalu bapak   Gufran Ali Ibrahim yang memaparkan kebijakan pembinaan sastra. Beliau memaparkan penulis, sastrawan dan mendorong lahirnya penulis muda. Seperti mengadakan kegiatan bengkel sastra bagi siswa, mahasiswa dan guru, pengiriman sastrawan berkarya, serta mendorong pembentukan adanya penyusunan pangkalan data sastrawan di seluruh Indonesia. Melalui kantor bahasa di setiap provinsi. 

Narasumber selanjutnya adalah redaktur seni dan budaya Kompas minggu. Putu Fajar Arcana menjelaskan mengenai peran media massa dalam pengembangan dan pembinaan sastra. Putu bercerita bahwa saat ini karya sasta yang masih belum bisa diterima , karya sastra yang sulit untuk bertahan hidup . Bahkan di media massa, karya sastra tidak diberi ruang yang luas untuk diterbitkan atau dimuat.


Setelah itu dilakukan sesi tanya jawab, pada bagian ini. Ada yang bertanya mewakili dari peserta yaitu bapak Bambang Eka Prasetya dari Jawa Tengah, Taufik Ismail dan Ahmadun Yosi Herfanda.

Setelah peserta mengajukan pertanyaan, maka secara bergantian narasumber memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sekitar jam sepuluh malam, sesi pertama ini selesai dilakukan. Saya juga berkesempatan untuk duduk dan ngobrol bersama dengan bunda Helvi Tiana Rosa dan Bang Zainal T Radar seorang penulis skenario di berbagai stasiun televisi. Saya mengenal mereka juga sejak bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP)


Malam itu, sangat berkesan saya bisa bertemu, berfoto-foto dengan banyak sastrawan dari berbagai daerah. Momen yang sangat berharga dan sangat menyenangkan.

Akhirnya saya dan teman saya balik ke akmar dan istirahat setelah puas berfoto ria dan bercerita , sharing panjang lebar. Kami akan melanjutkan mengikuti kegiatannya Munas di esok hari. Sekarang harus istirahat dulu.

Salam, saya lanjutkan nanti ya. Pada sesi hari kedua Munas Sastrawan Indonesia 2016

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.