Menu

Selasa, 30 Agustus 2016

/

 
Assalammu'alaikum Wr. Wb
Salam, apa kabarteman-teman semua. Hari ini saya mau berbagi pengalaman dalam mempersiapkan anak untuk cabut gigi. Iya, mendengar kata cabut gigi, pasti anak-anak langsung takut. Pasti gak mau deh, susah Ayahbundanya membujuk dan merayu untuk cabut gigi.
Suatu sore saat santai dengan  Nawra, anak pertama saya yang usia 9 tahun. Saya sempat bertanya dan memperhatikan gigi Nawra. Hal ini juga hasil dari pengamatan saya dalam beberapa hari ke belakang. Kenapa kalo makan si kakak lama banget dan kadang suka gak habis. Padahal biasanya dia habis , malah nambah makannya karena itu adalah menu favoritnya. Melihat kondisi itu saya sempat kuatir dan sempat juga sekilas waktu itu saat sarapan bertanya. Jawabannya saat itu sambil buru-buru minum susu dan pergi ke sekolah. Ya, giginya sakit.

Yuhui, kalo gigi sakit. Pasti dong ya makan juga gak enak, gak nyaman. Apalagi kalo ada lubangnya. Saat ada makanan yang masuk ke dalam lubang itu membuat mulut jadi gak enak banget. Reseh deh jadinya. 

Jadi, obrolan singkat sore itu disepakati bahwa besok Nawra akan mencabut giginya yang bermasalah itu. Kami akan membawa Nawra ke dokter gigi langganan keluarga kami. Dan seperti kebanyakan anak-anak seusia Nawra. Dalam hal mencabut gigi, pastilah takut. Kalo gak dipersiapkan secara matang atau dengan strategi yang jitu. Bisa jadi cabut giginya batal loh. Akibat anak gak mau, kadang hal ini bisa terjadi saat sudah di ruangan dokternya . Udah ngantri lama, eh pas udah mau tindakan di dalam ruangan. Anaknya mengamuk, marah-marah dan meraung menggis ketakutan. Kalo begitu kondisinya, ya sudah bisa dipastikan gak bakalan sukses cabut giginya.

Namun, tidak begitu dengan Nawra. Meski ada proses merenggeknya, tapi tetap bisa kok dicabut giginya. Ngambeknya juga gak lama. Setelah dibujuk atau dirayu. Dengan sadar si Nawra mau kok dicabut giginya. Mau tahu persiapan apa yang saya lakukan kepada Nawra saat akan cabut gigi. Berikut ini saya bagikan ya pengalamannya.

Berikan penjelasan

Sebelum ke dokter gigi, berikanlah penjelasan singkat bagaimana proses mencabut gigi, alat yang digunakan, caranya dan berapa lama. Lalu berikan juga penjelasan manfaat mencabut gigi dan jelaskan juga akibat yang akan timbul jika tidak dicabut giginya yang berlobang tersebut. Jelaskan dengan bahasa sederhana, agar anak mudah mengerti

Ajaklah anak ke dokter langganan keluarga

Biasanya setiap keluarga mempunyai dokter kepercayaan termasuk dokter gigi. Biasanya juga anak pernah menemani orang tua atau anggota keluarganya ke dokter gigi. Meski belum pernah masuk ke ruang perawatan gigi. Maka ajaklah anak ke dokter atau ke tempat yang sudah biasa atau dikenali oleh anak. Hal ini sangat penting untuk memudahkan proses adaptasi. Jika anak sudah beradaptasi maka akan mudah menimbulkan kenyamanan.

Mandi dan Memakai Pakaian yang Terbaik

Ajak anak untuk mandi dengan bersih dan sempurna. Jika anak sudah makan, maka minta dia untuk langsung menyikat giginya. Lalu pakaikan kepada anak pakaian yang dia sukai. Setiap anak pasti mempunyai pakaian favorit, minta anak untuk memakainya. Berserta dengan atributnya, misalnya aksesories, jilbab, sandal atau sepatu dan perlengkapan lainnya seperti tas. Dengan badan yang segar, pakaian yang nyaman akan membuat anak semakin percaya diri dan mampu mengendalikan emosinya dengan baik.

Makan Dengan Kenyang 

Sebelum berangkat ke dokter gigi, entah pagi, siang atau sore hari. Bebas saja waktunya. Yang pasti harus dipastikan bahwa anak dalam kondisi kenyang. Berikanlah dia asupan makanan yang cukup, higenis dan bergizi. Setelah makan, minta anak untuk membersihkan mulut dan menyikat giginya. Hal ini sangat penting, biasanya anak yang sudah dicabut giginya, dia malas untuk makan. Jika anak malas makan, maka nanti dia bisa kelaparan. Jika kelaparan, pasti bisa menimbulkan masalah terutama yang berkaitan dengan pencernaannya. Lagipula, mencabut gigi saat perut keroncongan akan membuat anak tidak nyaman dan dapat mengganggu proses cabut giginya

Berikan Hadiah

Kita boleh mengimingi anak dengan hadiah. Misalnya saja, akan dibelikan ice cream. Namun hadiah tersebut harus diberikan setelah cabut gigi bukan sebelumnya. Bisa jadi hadiah itu salah satu yang menjadi motivasi anak untuk mau dicabut giginya. Sejauh ini metode pemberian hadiah sangat efektif untuk Nawra. Bahkan terkadang dia nego, mau minta ice cream bebas pilih, hehehe. Yap, bebas memilih jenis atau rasa apa yang dia sukai. Namun tetap kami juga membatasi. Misalnya, hanya boleh memilih dua buah saja.
Berdoa

Setiap anak suka jika diingatkan dan diajarkan untuk berdoa, dengan berdoa mereka akan lebih merasa kuat dan percaya diri. Jadi mintalah anak berdoa dengan cara dan bahasanya sendiri. Bahkan bisa juga minta anak berdoa berkali-kali, sebelum berangkat, ketika di jalan dan ketika sudah sampai, bisa juga saat hendak memasuki ruang dokter dan duduk di kursi perawatan dokter gigi. Pokoknya mintalah anak untuk banyak-banyak dan sering berdoa. Hal ini baik, setidaknya anak tidak memikirkan hal-hal yang negatif, lebih baik otaknya disibukkan untuk memikirkan hal-hal yang baik.
Membawa  Air Mineral

Saat menunggu antrian di doketr gigi, pasti bisa menimbulkan rasa haus. Saat setelah dicabut gigi juga bisa menimbulkan rasa haus. Makan sebaiknya selalu  siapkan air mineral untuk menghindari kehausan.
Membawa Mainan, Buku Bacaan Dll

Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi rasa kuatir dan deg degan pada anak saat mencabut gigi. yaitu membawa permainan yang dia sukai. Misalnya saja permainan rubik, Teka-teki Silang , game di gagjet dan mainan lainnya. Selain itu bisa juga membawa buku bacaan. Mendengarkan musik dengan menggunakan earphone.
Kenalan Dengan Dokter
Sebelum akan dilakukan tindakan, ajak anak untuk berkenalan dan ngobrol dengan dokternya. Dengan berbicara maka akan membuka rasa percaya diri anak dan bisa membangun kecerdasan majemuk anak terutama kecerdasan inter dan intra personal anak. Jika hal ini sudah terbangun dengan baik. Maka anak akan percaya dengan dokternya dan akan mempersilakan dengan senang hati untuk dicabut giginya.
Kenali Prosesnya

Saat anak sudah duduk di kursi perawatan gigi. Beri tahu anak, tindakan apa yang akan dilakukan oleh dokter. Lalu dengan alat apa dokter akan mencabut giginya dan berapa lama prosesnya. Dengan memberitahu dan membuat kesepakatan dari awal akan membuat anak paham, jelas dan mengerti. Jika anak mengerti, maka anak akan mau mengikuti semua prosesnya dengan baik.
Temani Anak
Ketika tindakan akan dilakukan, ikuti dulu apa yang diinginkan anak. Biasanya anak meminta kita untuk mendekat dengannya dan bahkan dia ingin memegang tangan kita. Pastikan bahwa kita berada dekat di sekitarnya dan kita akan siap memberikan bantuan apapun yang dia minta secepatnya. Yakinkan kepadanya bahwa kita akan selalu menemani dan membantunya. Termasuk saat anak ngambek, merajuk bahkan menangis, kita adalah orang pertama yang tahu dan yang akan menenangkannya.
Nah, itu tadi beberapa persiapan yang biasa saya lakukan kepada Nawra, ketika akan dicabut giginya. Saat ini Nawra sudah lebih dari lima kali dicabut giginya. Maklum masih pakai gigi susu ya, jadi masih suka terjadi masalah. Terutama dicabut giginya, entah karena sakit, berlobang atau menganggu letak tumbuh gigi yang baru, sehingga harus dicabut. Agar posisi giginya bagus dan bentuk gigi juga bagus.
Oke ya, semoga pengalaman saya ini bisa memberikan wawasan, informasi dan inspirasi kepada Ayahbunda yang ingin mengajak anaknya ke dokter gigi, khususnya mencabut gigi.
4 comments

Assalamualaikum mbak, salam kenal ya :D

sekitar kelas 3 SD saya sepat menolak ke untuk cabut gigi karena taku dan efeknya baru terasa sekarang, rasanya nyesel banget karena dulu takut sama dokter gigi

Reply

sejak kecil sampai dewasa ke dokter apalagi dokter gigi, kadang masih menjadi hal mengerikann buat saya hehehe

Reply

iya benar, makanya saya suka kasih penjelasan panjang2 ama nawra soal gigi, takut dia nyesel pas gedenya.

Reply

iya, sih jangankan anak2, kita juga masih suka takut ya

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin