Menu

Senin, 11 Januari 2016

/







       Beberapa hari ini Nawra hampir selalu menggoyang-goyangkan telinganya dengan tangannya. Bahkan kadang dia terpaksa menekannya agak keras. Gatal sih keluhannya. 

Pernah juga dia minta saya membersihkan telinganya dengan cutton bud, tetapi waktu itu saya tidak membersihkannya dengan cutton bud saya ganti dengan menggunakan pingset telinga. Jadi kotorannya langsung tertarik keluar.

Memang benar, ada tumpukan kotoran di telinga Nawra. Saya cium, tak bau. Seperti bau kotoran telinga biasanya. Setelah itu Nawra agak mendingan, tidak gatal lagi

Yang bikin heran, kejadian ini hampir sering terjadi, kadang sore atau malam sebelum menjelang tidur. 

Saya pernah mengatakan “Mungkin karena Kakak gak mandi sore jadi kotorannya menumpuk. Coba rajin-rajin mandi”

Dia terkekeh, “Emang kalo mandi dalam telinganya disiram-siram dan diaksih sabun ya Me, kan gak boleh”

Saya ikutan terkekeh, benar juga sih. Lalu masalahnya apa. Saya jadi bingung.

Ketika dia tidur saya memeriksa telinga Nawra dengan senter, supaya lebih jelas dan terang. Saya mau melihat apa yang terjadi di lubang telinganya. Apa mungkin ada serangga yang masuk dan terperangkap.

Saat itu saya lihat di liang telinganya hampir merah-merah. Ini mungkin karena Nawra sering menggosok-gosok dan menggoyang-goyangkan telinganya , dia gak sadar melakukannya karena gatal.

Wah, ini tida bisa dibiarkan, nanti bisa bahaya. Apalagi sudah terlihat merah-merah. Saya takut kena iritasi dan infeksi. Bisa gawat. Lubang telinga kan kecil.

Kemudian saya ceritakan hal ini sam Babanya anak-anak. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa Nawra ke dokter spesialis THT. 

Nawra sempat menolak dan mengaku sudah gak gatal lagi, ketika tahu rencana kami untuk membawanya ke dokter tersebut. Memang tidak terlihat dia menggaruk telinganya beberapa hari. Tetapi di hari berikutnya, dia mulai mengeluh lagi. Gatal, sakit dan sedikit pusing.

Kadang-kadang untuk mengurangi rasa gatalnya, saya mengoleskan di belakang telinganya, minyak telon. Ya, itu dapat membantu sesaat untuk menghilangkan rasa gatal. Hanya sebentar.

Kami mulai mencemaskan Nawra, jadi sore itu tanpa babibu lagi. kami langsung mendaftarkannya ke dokter THT dan dia akhirnya menurut saja karena mungkin sudah jenuh dengan rasa gatalnya.

Dengan santai dokternya menghadapi kami. Beliau tersenyum dan menanyakan apa keluhan Nawra. Dengan tersenyum dia menyapa Nawra ramah.

Saya menjelaskan keluhan yang di alami Nawra kepada dokter dengan seksama. Dokternya kembali tersenyum. Di atas kepalanya terpasang senter untuk membantu menerangi saat memeriksa pasien.

Nawra, hanya terlihat malu-malu dan membalas senyuman dokternya kecut. Keliatannya dia mulai cemas. Apalagi saat diajak dokter untuk duduk di kursi pesakitan, hehehe.

Nawra menolaknya, kemudian dokter minta dia melepaskan jilbabnya. Nawra menolak lagi.

“Ya, sudah dipangku ama Baba aja ya Kak, biar nyaman” saran saya

Nawra diam saja. Babanya menariknya dalam pangkuannya.

“Gak sakit kok, cuma sebentar aja. Biar kita lihat apa yang ada di dalam lubang telinganya”terang dokternya sambil tersenyum.

Akhirnya, setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan kotoran hampir sebesar kismis di dalam telinga Nawra. Dokter meletakkannya di dalam sebuah wadah, sehingga kami semua bisa melihatnya.

“Boleh, kalo mau dibawa pulang. Buat kenang-kenangan” ucap dokter guyon.

Saya terperangah sekaligus lega, inilah yang membuat Nawra selalu merasa gatal dan suka menggosok-gosok telinganya. Gede banget kotorannya, sudah berapa lama ya. 

Tindakan yang dilakukan hanya seian menit tetapi efeknya sangat besar bagi kesehatan telinga Nawra.

Menurut dokter, memang tipe telinga Nawra yang tidak bisa mengeluarkan kotarannya sendiri. Jadi harus dibantu dengan alat. Tetapi tidak boleh dengan cutton bud. Dokter menyarankan agar telinga Nawra dilakukan pemersihan dengan alat THT secara berkala, misalnya setiap tiga bulan, enam bulan atau setahun sekali. Hal ini untuk menghindari terjadinya penggumpalan kotoran.

Akibatnya jika tidak dibantu untuk dikeluarkan, bisa membuat pekak atau tuli karena lubang telinga sudah tertutup kotoran.

Saat itu dokter juga membersihkan telinga yang sebelahnya lagi. Dokternya juga menyarankan agar saat membersihkan kedua telinga harus sama-sama dibersihkan. 

Kami pulang dengan perasaan lucu, membayangkan segede itu kotoran telinga Nawra. Kami tertawa-tawa dan tersenyum-senyum di sepanjang jalan pulang.

Biaya ke dokter THT juga gak begitu mahal, dan pelayanannya juga cepat. Dokternya juga ramah seningga anak-anak tidak merasa ketakutan.

Sejak saat itu saya dan Nawra selalu waspada, jika dia mulai mengalami gatal, dan merasa telinganya penuh. Itu artinya sudah ada kotoran yang menumpuk dan harus segera dibersihkan. 

Jangan sesekali membersihkan dengan cutton bud karena hal itu bisa membuat kotoran malah semakin masuk ked alam. Kelihatannya cutton bud dapat membersihkan tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Jadi sebaiknya jika ada keluhan hubungi saja ahlinya supaya jelas masalahnya dan jelas pula tindakannya.  
6 comments

Hmmm ada juga ya model telinga kaya gtu

Reply

Iya Mb Nisa, ada. Secara anatomi telinganya emang begitu. Pastinya ahli Tht yang lebih tahu dan paham

Reply

Benar Mb, kalo sdh ada gejala. Sebaiknya segera dicari penyebab dan solusinya

Reply

Iya, Mbak. Waktu harus ke THT juga dokter bilang kalau membersihkan dengan cotton bud justru bikin kotoran makin masuk.

Reply

Betul Mb, cutton bud itu gak baik kalo buat yg berlobang2 dan tak nampak

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin