Menu

Sabtu, 30 Januari 2016

/






          Masuk sebuah Wasapan


          “Milda , apa kabar?” sapa dari seberang manis


         Saya kirimkan emot senyum “Alhamdulillah baik Mbak, kabar Mbak gimana? Semoga selalu baik. Aamiin.”


          Dari percakapan singkat itu, ternyata ibu Ketua Wilayah Salimah Prov Bengkulu, Syafnizar. S.Hut . hendak meminta saya untuk bisa berdiskusi bersama ibu-ibu yang ingin belajar menulis . Setelah ditentukan jadwalnya dan menyesuaikan dengan kondisi saya. Akhirnya, disepakati jadwal belajarnya setiap hari sabtu, jam 13.30 sampai menjelang Ashar. Karena ada catatan penting dari para suami ibu-ibu tersebut. Sebelum atau ketika waktu Ashar datang mereka sudah sampai di rumah, hehehe.


          Akhirnya, kami sama-sama menyetujui. Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 31 Januari 2016 di rumah dinas kehutanan. Di daerah jalan  Beringin Raya, di Belakang RRI Bengkulu. Kebetulan Ibu Syafnizar ini adalah salah satu pegawai di dinas Kehutanan.


          Pada pertemuan pertama, saya memberikan beberapa aturan , tugas dan ketentuan. Hal ini penting agar kelas dapat berjalan secara efektif dan efisien. Mengingat kelas hanya dijadwalkan empat kali pertemuan. Sistem kebut dalam belajar, hihihi.




          Pertama, jadwal pertemuan setiap sabtu siang. Jam 13.30 sampai dengan menjelang ashar. Tempat belajar di rumah ibu Syafnizar. 


          Kedua, pertemuan kelas menulisnya hanya berlangsung selama empat kali pertemuan, dua pertemuan untuk membahas soal menulis artikel dan dua pertemuan lagi untuk membahas soal menulis cerita atau puisi. Kenapa cepat, ya karena nanti akan banyak penugasan dan yang paling penting adalah bahwa kondisi pesertanya. Semua mereka meski sudah berusia di atas empat puluh tahun. Mereka adalah seorang guru, sangat dekat dengan kegiatan tulis menulis. In sya Allah akan lebih mudah.


          Ketiga, saya meminta mereka untuk mempunyai alamat email. Untuk keperluan surat menyurat, mengirim artikel dan untuk berdiskusi dengan saya via email.



          Keempat, saya meminta mereka mempunyai salah satu akun sosial media. Misalnya, akun Fesbuk karena hal ini lebih mudah untuk dilakukan. Mereka harus menggunakan nama akun fesbuknya dengan nama asli mereka masing-masing. Lalu saya meminta mereka untuk membuat status, minimal satu hari satu status yang agak panjang. Boleh dengan menggunakan foto , video atau tulisan biasa. Hal ini perlu untuk dilakukan setiap hari, agar tumbuh kebiasaan menulis, melahirkan ide dan menumbuhkan kosa kata. Dalam menulis status saya memberikan syarat bahwa harus memenuhi salah satu kaidah dari 4W +1H. Jadi bukan hanya status biasa, apalagi status yang alay dan lebay, hehehe.


          Kelima, saya memberikan tugas kepada mereka untuk menulis diary setiap hari, boleh di buku kerja, agenda, laptop atau di buku diary benaran. Hal ini penting karena untuk melatih dan menumbuhkan kebiasaan menulis, melahirkan imajinasi, kreativitas dan kejujuran. Tak perlu banyak-banyak. Asalkan dilakukan setiap hari dan boleh menuliskan tentang apa saja.


          Keenam, kelas menulis akan tetap berjalan jika dihadiri sekitar 75 persen peserta. Jika banyak yang ijin atau berhalangan datang. Maka kelas akan ditunda di pekan berikutnya. Dengan catatan bahwa tugas akan tetap berjalan dan tetap dikerjakan, hanya waktunya yang bertambah.


          Ketujuh, setiap peserta dikenakan biaya sebesar Rp. 10.000,- pada setiap kali pertemuan. Uang tersebut akan dipergunakan sebagian untuk keperluan kelas. Misalnya foto kopi materi, contoh tulisan dan lain sebagainya. Sehingga pada setiap pertemuan saya sudah menyiapkan bahan dan setiap peserta akan mendapatkan semuanya satu persatu. Sehingga kegiatan belajar akan lebih efektif.


          Kedelapan, kegiatan kelas menulis ini tidak akan berhasil jika tidak ada kerjasama yang baik di antara kita, oleh kerena itu saya menyampaikan meski secara usia saya lebih muda tetapi dalam hal belajar hal itu bukanlah kendala. Saya juga akan belajar banyak hal dari ibu-ibu hebat ini terutama semangatnya. Mereka datang jauh-jauh, dan rela belajar.


          Itu adalah beberapa aturan yang saya terapkan kepada peserta kelas menulis , yang semua pesertanya adalah ibu-ibu, hehehe. Alhamdulillah, kesepuluh peserta itu menyepakati. Saya meminta mereka saling menguatkan, mengingatkan dan saling bekerjasama. 




          Pada pertemuan pertama ini, saya memberikan meteri tentang bagaimana cara mudah menulis artikel ke media massa. Di akhir materi saya memberikan tugas kepada mereka untuk mengemukan ide/opini mereka tentang fenomena di sekitar mereka. Alhamdulillah hampir semua peserta sudah mempunyai ide dan tinggal menuliskannya.


          Hari ini kelas berakhir, mereka sudah siap menuliskan idenya dalam bentuk artikel dan minggu depan siap dibahas , didiskusikan dan akhirnya dikirimkan ke media massa. 


          Sampai jumpa di pertemuan berikutnya ya, Buibu yang kece.
12 comments

Hallo, mbaa. Senang sekali ya, jika bersemangat belajar menulis seperti itu :). Ingin juga di wilayah rumahku dibuat seperti itu. Tapi belum sempat euy :). Terima kasih tips-tipsnyaa :)

Reply

Keren banget programnya Mbaaaak. Semoga emak-emak di Salimah bisa giat dan gencar menulis yaaaa :)

Reply

Kegiatan kyk gini keren banget mbak menuurt saya, apalagi memberdayakan ibu rumah tangga sehingga mereka bisa terus berkarya meskipun hanya dr rumah

Reply

Wah ini keren banget, baru sekali ini tau loh ada yg mau mengedukasi orang2 untuk menulis. kerennnn

Reply

hayuuk Mb, semangat berbagi ilmu apa ibu2

Reply

iya, bagian dari meningkatkan wawasan dan keterampilan emak2 ya Mb

Reply

wah menulis status bisa jadi sarana buat latihan menulis ya? :D hana ngga kepikiran :D terima kasih sharingnya :D semangat mengajarnya mba :D

Reply

Mantap ya temman2 salimah Bengkulu, salam kangen buat Mbk Syafnizar ya :) semoga sukses kelas menulisnya.

Reply

iya, bener tetapi kalo nulisnya yang benar yo

Reply

aamiin, iya bu, ntar kalo ingat disampaikan salamnya

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin