Menu

Sabtu, 05 Desember 2015

/




Gagal deh gabung Odoj. Apaan Odoj? Itu loh, grup via blackberry message atau sering disebut bbm. Odoj kependekkan dari One Day One Juz. Grup yang aktivitasnya adalah mengaji. Beranggotakan 30 orang. Setiap orang setiap hari akan mendapatkan jatah juz yang berbeda-beda, bergiliran setiap hari sehingga diharapkan masing-masing anggota selama 30 hari akan khatam mengaji 30 juz. Keren kan Odoj.



Namun sayang aku gagal gabung. Padahal sudah di-invite admin ke grupnya. Tapi di bb ku infonya masih menunggu konfirmasi. Gak tau kenapa ya, mungkin sinyal, desisku. Ya, sudahlah mungkin lain kali, lagi pula ikutan Odoj kan gak jauh beda ama kegiatan harianku, ya mengaji satu juz sehari. Dalam pikir itu, tiba-tiba dedek Athifah merenggek minta ditemani bermain. Ya, sejenak terlupakan soal gagal gabung di Odoj. Aku sibuk bermain dan bercanda dengan anak.



Tiga puluh menit berlalu, masuk sebuah chat di bbm, isinya permohonan maaf dari salah satu temanku yang tadinya dia yang menawarkan aku buat gabung Odoj.

“Afwan Mba, grupnya penuh, Mbak kurang cepat meng-konfirm grupnya jadi keduluan ama yang lain “



Aku tersenyum, sembari send tanda jempol yang artinya gak masalah. Tak kutambahi penjelasan apa-apa. Simbol itu cukup mewakili rasaku dan tak perlu temanku  itu menjelaskan alasannya lagi. Biar tidak panjang urusannya.



Tak berapa lama, masuk lagi chat bbm dari teman yang lain dengan isi yang sama dengan bbm sebelumnya. Kembali aku mengirimkan simbol jempol. Dan tak kuperpanjang lagi.

Sudahlah, memang belum saatnya pikirku. Aku belum pas gabung Odoj saat ini. Mungkin lain waktu. Di saat yang pas dalam segala kesempurnaan kesempatan untukku. Lagipula aku belum sempat mencari tahu banyak mengenai apa itu Odoj. Harusnya aku mencari tahu dulu seluk beluk dan semua hal tentang Odoj tersebut. Agar aku tak terlantar ketika sudah bergabung nanti. Ah, memang saatnya aku harus belajar dulu. Sudahlah tak perlu risau. Ada waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan baik.



Dua hari berlalu tanpa banyak perubahan dalam kegiatan harianku. Sejak resign dari kantor setahun lalu. Praktis akulah si Ratu waktu itu. Ya, sebagai seorang istri dan ibu dua orang putri dengan jarak usia mereka terpaut enam tahun. Si kakak sudah kelas dua SDIT sedangkan si adek baru berusia 11 bulan. Mengurusi mereka sudah menyita begitu banyak waktu dan separuh jiwaku. Mengurusi mereka membutuhkan lebih banyak waktu yang bisa kuberikan untuk mereka. Mengurusi mereka membuat aku tak pernah kehabisan cara untuk mengisi waktu hari-hariku. Aku selalu kehilangan waktu dan momen. Bahkan, jika semua itu sudah kurencanakan. Tetap saja aku selalu keteteran dalam segala hal.

Saat bersantai siang selepas shalat Zuhur. Masuk chat bbm lagi.

“Mba, saya invite ke grup Odoj lagi ya . Tolong diterima“

 “Siap” kutambahi gambar senyum besar.



Dan setelah itu terdamparlah aku di grup Odoj, waktu itu aku dapat jatah juz 6. Kuperhatikan dengan seksama. Setiap sudut dan ruangan grupnya. Aku kuatir ada yang tidak kuketahui. Aku harus teliti melihat setiap detilnya. Membaca dengan seksama. Mengamati setiap ada aktivitas di dalamnya dengan bijak.  Yang pertama aku amati dan pelajari bagaimana sistem kerja grupnya. Bagaimana sistem laporannya. Itu yang terpenting.



Ya, kami semua memang hanya disatukan oleh grup kecil via bb itu. Belum pernah bertemu langsung dan berjabat tangan. Hanya doa, keikhlasan , aturan dan komunikasi yang akan menyatukan kami semua. Ya, 30 orang dengan ragam karakter, asal daerah, aktivitas yang berbeda. Semua disatukan demi tujuan One Day One juz. Setelah berkenalan dengan teman-teman. Akhirnya aku menyelesaikan jatah juzku dengan baik. Aku *gift. Aku berkomitmen untuk tidak melalaikan jatah juzku. Bekerjasama dan berkomunikasi dengan penanggungjawab (pj ) harian dan semua teman dengan baik.  Laporan yang tertib dan teratur . Itu merupakan kunci kesuksesan dan kekompakan  sebuah grup.



Aku sangat berusaha untuk menyelesaikan jatah juzku  sebelum Zuhur datang. Pagi hari selepas beres-beres rumah dan masak. Aku selalu menyempatkan untuk salat Dhuha dan tilawah. Jika belum selesai terkadang aku menyelesaikan tilawah di toko. Sembari menunggu pembeli datang. Ternyata di awal-awal grupku khatamnya malam hari. Ini sangat melelahkan. Apalagi tak berapa lama , aku ditunjukkan dan terpilih lewat musyawarah teman-teman  menjadi ketua grup. Mengkoordinir grup, dibantu dengan admin dan pj harian. Alhamdulillah grup selalu khatam meski malam-malam. Walaupun capek sekali. Soalnya terkadang dan seringnya di antara jam sembilan atau sepuluh malam. Bahkan pernah lebih. Bikin letih badan pikiran, tapi mau bagaimana lagi.

Mau tidak mau, terpaksa jadwal kegiatan malam sedikit berubah. Aku seolah melototin bb melulu. Tak mungkin aku meninggalkan grup kalo belum khatam atau belum ditutup secara resmi oleh pj hariannya. Meski capek namun kondisi tersebut tak bisa dielakkan. Jadi harus dijalani. In Sya Allah nanti waktu khatamnya bisa dimundurin sedikit demi sedikit ke sore hari. Namun hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Menyatukan 30 pikiran orang-orang yang berbeda sangatlah sulit. Namun aku yakin nanti pasti bisa.



Meskipun begitu mengikuti kegiatan Odoj ini secara tidak langsung juga merubah siklus hidupku. Yang tadinya banyak berhahahihi dengan teman-teman di bbm atau ngolor ngidul gak jelas, bisa dikurangin karena gak sempat karena disibukkan ama grup Odoj. Saling menanyakan dan konfirmasi ama teman-teman Odoj yang belum ada kabar, belum selesai jatah juznya atau yang dilelang juznya. Semua dilakukan dengan sukarela, tanpa paksaan dari siapa pun. Mengalir saja. Apa adanya. Semua demi tujuan one day one juz dan tercapai khatam grup sesuai dengan target khatam grup yang telah disepakati bersama-sama.



Lalu lebih merasa dicintai dan diperhatikan karena setiap hari ada saja yang menanyakan, tilawahnya sudah sampai mana. Bukan cuma pj harian, tapi teman -teman yang lain juga begitu. Pokoknya asiklah dan sudah terlihat kebersamaan dan kekeluargaannya. Meski belum pernah bertatap muka langsung.Sudah merasa dekat dan akrab.  Sungguh Odoj luar bisa memberikan lem perekat di dalam hati para member-nya.



Siang itu udara kota Bengkulu, cukup terik. Angin hampir tak berhembus. Udara siang semakin panas dan   keringat mengucur dari semua sisi tubuhku. Udara memang sedang panasnya, apalagi rumah kami cuma berjarak satu kilometer dari bibir pantai , membuat udara semakin bertambah panas. Handphone berdenyit sendu. Suara serak suami dari negeri seberang membuat dadaku berdegub kencang. Telepon dari suami barusan membuat udara semakin panas. Di ujung telepon aku hanya menjawab. “Jika harus ke Palembang kami akan ikut serta”



Aku pamitan dengan teman-teman Odoj, menuju kota Pelembang, Jatah juz sudah aku selesaikan, kepada pj harian aku minta tolong untuk dapat memantau aktivitas tilawah kawan-kawan yang lain. Kepada teman-teman yang lain juga kutitipkan pesan. Saat itu seolah aku sangat berat sekali meninggalkan Odoj, seolah akan meninggalkan segerombolan teman. Namun pesan suami mengingatkan “ Nanti kan bisa dibantu dikontrol grupnya Mi, semoga ada sinyal dan nanti kalo bb low bat kita bisa numpang ngecas di rumah makan atau ditempat kita singgah”



            Ketika sampai di Palembang ternyata bukan saja hendak melayat keluarga Uwak yang meninggal. Kami memanfaatkan momen itu untuk memperkenalkan adek kepada Kakeknya, Bapak dari suamiku. Ternyata Bapak juga sedang sakit.  Kedatangan kami sekeluarga diharapkan bisa menjadi obat. Alhamdulillah, kami masih bisa mempertemukan anak-anak dengan Kakeknya.



            Meski dalam kondisi begitu, aku selalu mampu menyelesaikan jatah juzku dan grup juga selalu khatam meski selalu malam-malam. Hmmm, belum ada perubahan grupku. Setelah tiga hari di sana, kami pun memutuskan untuk pulang lagi ke Bengkulu. Kami berangkat dengan kereta menuju kota Lubuk Linggau setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan mobil travel, Di kereta api sebelum Subuh, aku sudah menyelesaikan dan melaporkan jatah juzku hari itu. Meski dalam perjalanan dan minim fasilitas, aku bertekad untuk tetap tilawah dan tidak melelang juzku. Kuncinya komitmen dan disiplin membagi waktu.



            Pertemuan indah itu ternyata, merupakan saat terakhir aku dan anak-anak bertemu dengan Bapak. Setelah satu pekan dirawat di Rumah Sakit. Bapak akhirnya meninggal dunia dan kami terpaksa balik lagi ke Kota Bari tersebut. Meskipun lelah, capek lahir batin. Aku tetap bersemangat untuk tilawah dan tak pernah lelang. Aku malu dengan sang waktu yang begitu panjang membayangiku, sedangkan belum banyak bayangan baik yang ia ikuti di sepanjang hayatku. Aku harus mengisinya dan berubah. Salah satunya mengambil kesempatan Odoj ini dengan baik. Apalagi dalam kondisi seperti ini, aku butuh lebih banyak lagi untuk tilawah.



            Namun apa mau dikata, aku hanya manusia biasa. Dalam sepuluh hari ini kami sekeluarga bolak balik saja Palembang- Bengkulu. Yang aku temui kuburan dan mayat. Hatiku pilu. Aku tak kuat, badanku sakit sekali, rasanya seperti usai terkena benturan benda yang keras dan berat. Capek yang luar bisa. Uang yang terkuras, waktu yang berlalu. Namun kulihat kedua putriku mereka sangat kuat dan tabah. Tak tampak mengeluh atau sakit. Dalam kondisi seperti itu aku rasanya ingin sekali menyerah dengan kegiatan Odoj. Kondisiku sedang repot dan aku butuh waktu untuk mengurusi diriku sendiri. Bukan memantau tilawah atau kegiatan orang lain. Huuuh, aku mulai kesal. Apalagi kondisi bbku yang semakin parah, jam pasir melulu, bikin lelet.

 Di rumah orang, aku tak leluasa untuk menggunakan listrik dan meletakkan bb sembarangan untuk di cas. Ah, benar-benar kondisi yang menyebalkan. Belum lagi lemotnya yang minta ampun. Membuang waktuku banyak sekali. Ditambah malam hari aku harus mengikuti takziah dan sedihnya grupku juga khatamnya malam-malam. Uhuu, lelah sekali. Aku mulai lemah dan berniat menyerah.

            Aku duduk di teras samping rumah Bapak, salah satu saudara perempuan Bapak sedang mengaji. Aku duduk di sebelahnya. Entah darimana awal cerita kami, Uwak bercerita bahwa dia di desa punya kelompok pengajian ibu-ibu yang dikuti sekitar sepuluh orang . Setiap hari mereka akan mengaji sebanyak satu juz. Satu orang kurang lebih akan mendapatkan jatah satu halaman. Mereka mengaji selepas Magrib bergantian satu juz tersebut. Jika ada yang berhalangan datang, maka jatah tilwahnya akan digantikan dengan teman yang lain. Ya, istilahnya dilelang. Miriplah seperti Odoj. Aku tersenyum sendiri mendengarkan penjelasan Uwak. Wah, jika dibandingkan dengan cara kelompok Uwak, mana bisa aku mengikutinya. Mana sempat aku mengaji selepas Magrib sampai Isya di Masjid. Bagaimana dengan anak-anakku, terkadang mereka rewel. Belum lagi aktivitas harianku. Ah, rasanya tak mungkin , gerutuhku. Membayangkannya saja aku sudah payah apalagi menjalaninya. Alhamdulillah aku punya Odoj, yang bisa mengajak aku tetap tilawah setiap hari, mengajak aku untuk bisa amanah dengan waktu dan laporan tilawahku. Uwak, memang hebat. Pantas saja, sejak malam pertama takziah, beliau  sangat kuat bertilawah dibandingkan dengan yang lain. Uwak sudah sangat terbiasa.

Sejak kejadian itu, aku seolah terlecuti oleh semangat Uwak. Aku tak pernah lagi mengeluh, kesal atau sejenisnya dengan grup Odojku. Meski khatamnya malam-malam dan bikin penat, namun aku yakin grupku akan begerak menjadi lebih baik. Aku semakin sayang dan butuh Odoj setiap hari, kapan dan di mana saja.



 Sekarang aku mulai menikmati menjadi member Odoj. Hidupku mulai terisi udara segar. Odoj is my style. Gak malu lagi kalo ngaji dimana - mana, dalam berbagai kondisi dan situasi. Odoj, sudah menjadi bagian kehidupanku. Anak dan suami pun sangat mendukung aktivitasku tersebut. Aku tak pernah lalai akan segala kegiatan rumah tangga dan tugas sebagai istri dan ibu. Si Abi dan Kakak sering kali menyebutku di rumah dengan panggilan, Odojer, hehehe. Lucu sih, tapi itulah aku. Emak-emak Odojer.

Sampai pada suatu hari. Aku mendapatkan kabar bahwa Emak di rawat di rumah sakit, jantungnya bengkak. Ah, ujian apa lagi ini. Aku sangat terpukul. Saat mendapatkan kabar tersebut aku baru saja usai salat Dhuha dan mengaji jatah juzku. Belum lama rasanya, kabar kematian Bapak, sekarang Emak pun ikutan sakit. Aku lelah lagi, lahir batin lagi. Babak baru dimulai lagi, aku harus bolak-balik ke rumah Emak, menyiapkan makanan , membersihkan rumah sampai harus mengontrol obat Emak, apakah sudah diminum apa belum. Jarak rumah Emak dari rumahku ada sepuluh kilo. Badanku tak tau lagi bagaimana rupanya. Aku Cuma memohon kepada Allah, agar selalu diberikan kekuatan dan kesehatan karena aku ingin mengurus dan merawat Emak bukan sebaliknya.



 Sampai pada suatu masa, saking sibuknya , bbku tertinggal di rumah Emak, hari baru usai magrib. Bagaimana ini, aku harus laporan ke sub grup, bagaimana dengan laporan dan kondisiku grupku nanti. Meski bisa saja semua kuketahui atau aku update besok pagi. Tapi itu bukanlah hal yang mudah. Aku pusing, akhirnya aku memutuskan untuk balik lagi ke rumah Emak. Malam hari demi Odoj. Suami Cuma geleng-geleng kepala saja melihat tingkahku tersebut.  Aku sering pontang – panting dengan bb-ku apalagi saat injury time.



            Dan ini bukan sekali saja, pernah, aku harus meninggalkan percakapan seru menjelang grup akan khatam. Waktu itu masih ada jatah juz yang belum terselesaikan, padahal waktu sudah mendekati waktu khatam grup. Tapi aku harus meninggalkan kondisi tersebut karena obat Emak lupa aku  aku berikan tadi pagi. Jadi sore itu aku harus balik lagi ke rumah Emak, hehehe. Soal bb ini anak dan suamiku pun selalu mengingatkan jika kami akan berpergian. Suami atau si Kakak selalu  bilang “Mi, bb-nya jangan sampai ketinggalan. Nanti kacau Odojernya” senyum mereka meluluhkanku. Terima kasih, kalian sudah mengingatkanku. Kalian mendukungku.



            Dan hari ini, untuk kesekian kali aku mampu menyelesaikan jatah juzku dan tak pernah dilelang sejak aku bergabung. Aku sudah tak perduli lagi dengan kondisi kesulitan hidup yang menghampiriku. Yang kurasa, hidupku semakin sulit disaat aku melalaikan jatah juzku. Oleh karena itu, kesulitan itu tak lagi berat selagi aku masih bisa bertilawah, menyicil dan menyelesaikan setiap jatah juzku setiap hari.

Alhamdulillah, grup Odojku bergerak semakin baik, dengan segala usaha akhirnya jam khatam grup dapat kami pindahkan secara perlahan-lahan sore hari, sehingga di malam hari kita bisa melakukan aktivitas lainnya. Aku pun diamanahi grup Odoj satu lagi. Jadi setiap hari harus mengontrol dua grup Odoj, hehehe. Tambah repot ya. Namun, dengan semangat dan kerjasam teman-teman semua. Dua grup ini dapat dikontrol dengan baik. Dalam pencapaian rapot pun dua grup Odoj ini, hampir selalu mendapatkan predikat terbaik. Ya, itu semua berkat kerjasama teman-teman. Aku pun tak pernah telat melaporkan laporan grup setiap hari, apa pun caranya kadang via sms, bbm atau apa aja deh yang penting ada komunikasinya kepada pengurus pusat.

Setelah semua berjalan baik dan grup dapat digulirkan kepada yang lain, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menjadi admin grup Odoj karen ada prioritas lain yang harus aku kerjakan. Kehidupanku harus terus bergulir, lahan dakwahku harus mengalir. Aku melepaskan dua grup itu dengan rasa berat namun harus dilakukan . Aku yakin di tangan teman-teman yang lain, grup Odoj akan berjalan lebih baik dan lebih maju. Terima kasih teman-teman atas ukhuwah selama ini, atas pertemanan kita selama ini.

(Ditulis saat di tahun 2014, tak berapa lama setelah pulang dari Palembang, Salam sayang teman-teman Odoj sekalian, semoga Allah menjaga kita semua dimana pun berada. Saya rindu kalian semua )

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin