Menu

Senin, 21 Desember 2015

/





Nikah, Gak Boleh Ngutang




Malam ini terasa panas sekali, kami  menempati ruang keluarga yang hanya berukuran 3x3 ini seolah semakin panas. Ya, panas bukan cuacanya yang salah namun agaknya suhu tubuhku yang kian memanas.  Seperti orang demam . Namun dengan keyakinan yang kuat aku yakin semua akan baik-baik saja. Istilah kata. Everything gonna be oke.Jam bergerak menuju angka delapan malam. Kakak tertuaku mulai mengambil posisi untuk berbicara. Semua wajah  terlihat tegang, terutama aku.


“Jadi sekarang berapa jumlah tabunganmu untuk nikah” aku tergugu ditanya seperti itu.


Baru aku mau angkat bicara kakak laki-laki pas di atas aku yang spontan bicara. “ Kalau pun si Milda punya banyak tabungan, untuk acara pernikahan ini tak perlu lah mengurasnya. Yang perlu dipikir itu adalah kehidupan setelah mereka menikah nanti !”


Kami semua mengangguk. Memang aku saat itu sudah mandiri dan punya bisnis toko buku, jadi pasti anggapan  semua kakakku aku sudah banyak tabungannya, hehehe.


“Pergunakan saja seperlunya untuk persiapan dia menikah, selebihnya disimpan” lanjut kakakku.


Kakak tertua mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, sepertinya ada beban yang ingin dia bagi dengan kami. “ Cobalah bulan Juni atau Juli saja menikahnya, pas liburan. Kami pun masih sempat untuk menabung. Ini terasa mendadak sekali. Kami tidak ada persiapan.”


Kali ini kakak ke tiga ikut bicara, “ Kalau soal itu benar kata Hadi, tak perlu kita muluk-muluk. Kalau dana tak ada yang sederhana saja kita angkat pestanya, tapi kalaupun dana berlimpah, kita juga tak perlu berfoya-foya”


“ Maaf kakak-kakak semua, apa dengan menunda waktu, bisa menjamin kita semua akan mendapatkan dana yang banyak untuk acara pernikahan ini. Insya Allah semua akan berjalan lancar dan ada saja rejeki untuk kita nantinya. Kalian tak perlu memaksakan diri, apalagi sampai berhutang. Itu akan menjadi beban kami nantinya” jelasku meyakinkan mereka semua. Akhirnya sidang malam itu dengan diskusi yang senggit dan adu pendapat memutuskan, acara pernikahan akan dilangsungkan pada tanggal 1-2 April. Terhitung ada sekitar dua bulan lagi. Januari kami bertemu, cuma tiga bulan waktu kami saling mengenal sekaligus menikah, singkat ya.


“Ya, sudah beritahulah kepada calon suamimu itu untuk datang kemari bersama dengan keluarganya. Kita akan berdiskusi mengenai hal ini!”


Pertemuan dua keluargapun berlangsung.  Tak banyak yang dibicarakan diantara kedua keluarga. Hanya persiapan untuk mahar dan uang bantuan untuk masak memasak. Ya, begitulah salah satu tradisi di daerahku, di Bengkulu. Selain Mahar atau mas kawin. Calon suami juga diminta untuk membantu biaya dapur, istilah para pemuka adat adalah uang hantaran. Besarnya tergantung dengan kesepakatan kedua keluarga. “Jangan pernah meminta atau menentukan jumlah uang hantaran, soalnya kita bukan jual anak. Mereka ini kan mau menikah, mau beribadah, jadi jangan dibeban beratkan.” Nasehat Emak, suatu sore ketika kami berkumpul.


Selanjutnya yang perlu dipersiapkan soal urusan KUA, konfirmasi dengan ketua adat setempat. Jika tidak mereka nanti tidak mau membantu pada saat urusan akad nikah. Mengundang dan berdiskusi dengan tetangga terdekat agar mereka bisa bahu membahu membantu. Jangan sampai kita abaikan mereka karena  merasa bisa mengatasi semuanya.


Dua bulan  persiapan lumayan bergegas. Dari menyiapkan semua hal yang bisa kulakukan sendiri. Seperti souvenir, undangan, buku tamu, mencari gedung, sewa pelaminan, hiburan nasyid , menyiapkan kepanitiaan dan lain sebagainya. Hari yang sibuk dan melelahkan. Aku sudah berniat dan bertekad untuk pernikahanku tidak ada hutang piutang. Satu hal lagi yang aku minta kepada keluarga besar, bahwa aku tidak mau terlibat dengan acara ritual apa pun dalam pernikahan ini. Entah apa saja, soalnya mitos dan ritual menikah di daerahku lumayan banyak. Mulai dari memakai jasa pawang hujan sampai acara mandi bersama, ih serem ujung-ujungnya syirik!


Untuk urusan makan pada acara akad nikah di hari sabtu dan resepsi di esok harinya, semua sudah ditanggani oleh kakak tertuaku. Menu kami masak sendiri Hal ini merupakan salah satu permintaan Emak, agar di rumah ada kegiatan masak memasak sekalian untuk saling kumpul dan silaturahim antar  jiran tetangga dan keluarga. 


Kalian mau tahu apa yang menjadi salah satu alasanku untuk segera menikah ya. Jadi begini ceritanya. Setiap pagi hari aku berangkat kerja. Meski sudah berbisnis tapi aku belum bisa berlepas dari kerja kantoran. Lalu sekitar jam dua aku mengecek dan memeriksa bisnis. Hasilnya  lumayanlah, aku juga memasok buku-buku ke beberapa toko buku yang ada di sini. Nah, setelah hampir 24 bulan menjalankan bisnis ini aku sangat keteteran. Oleh karena aku membutuhkan seorang pendamping yang tangguh. Meski badanku  tinggi besar  untuk ukuran perempuan rata-rata Indonesia. Aku tidak bisa mengendarai motor, padahal aku sudah membelinya. Malu ya! Yang sering kali menggunakannya adalah saudaraku atau karyawanku. Mereka sering menjadi tukang ojek untuk mengantarkanku kemana-mana. Sangat  merepotkan  dan tidak efektif sekali. Ya, mengecek , mengantar barang,  menemui mitra usaha dan pelanggan. Menagih uang dan banyak hal. Waktu seolah lelet sekali jika semua kegiatan itu mempergunakan angkot, hikss.


Belum lagi siang atau sore hari aku juga sering terlibat berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Ini kulakukan untuk memperluas jejaring.. Sebagai sarana untuk belajar dengan banyak orang. Terkadang tempatnya jauh dan pulang setelah salat Isya. Oleh karena itu aku sangat membutuhkan seorang suami yang bisa menemaniku dan menghindari fitnah. Suami yang bisa membantu dan mendukung aktivitasku. 

Dengan salah satu alasan inilah mengapa aku menginginkan seorang pendamping dan ingin segera menikah. Namun dalam mencari jodoh, aku tak pernah mau percaya atau mempergunakan jasa mak comblang yang masih lajang. Aku mau jika yang menjadi perantara atau orang yang kan memperkenalkan aku dengan seseorang itu adalah orang yang sudah menikah. Lebih baik begitu, agar terhindar dari banyak masalah. Orang yang lajang belum mumpuni pengalamannya dalam berdiskusi dan menjalani asam garam pernikahan. 

Nanti jika terbentur masalah tak bisa diskusi yang pas, malah bikin bingung.  Saat hendak menikah usiaku genap 26 tahun. Memang sejak ikut itikaf di tahun 2004 aku selalu berniat dan berdoa untuk bisa menikah pada usia 26 dan pada tahun 2006. 

Ya, tahun 2006 itu aku tidak menentukan menikah di bulan apa, maunya sebelum Ramadhan datang aku sudah menikah, jika belum juga terkabulkan . Niat  aku waktu itu akan pergi umroh dahulu. Cukup lama ya aku berdo’a dan fokus untuk memikirkan soalan menikah ini, dua tahun kawan.


Mau tahu darimana aku mendapatkan suamiku sekarang, lucu juga kalau ingat saat itu. Namun itulah hidup misteri ada dimana-mana. Apalagi aku emang gak punya pacar atau apalah istilah anak alay sekarang, hohoho. Meski tampangku pas-pasan, aku yakin akan mendapatkan suami yang cakep dan sholeh yang akan membantu aku memperbaiki keturunan, hahaha. Tapi ini benaran bukan cuma orangnya yang sholeh namanya juga Solihin, mantab kan! 


Saat itikaf di tahun kedua, 2005 di masjid Al Hikmah, jalan Bangka , Mampang, Jakarta. Dengan para jamaah aku sangat akrab. Terutama kepada  yang  tua, mereka tak keberatan dipanggil sebagai ibu, hehehe.  Kami saling berbagi cerita dan saling memotivasi. Acara itikaf yang full dengan kajian membuat kami tak terasa lelah. Ada saja canda tawa dan senyum saling menguatkan diantara kami.  Iya, di sini selama  bulan Ramadhan kita akan khatam Quran  setidaknya dua kali. Saat salat Tawarih dan  salat Lail.  


Nah, dari obrolan siang itulah akhirnya ketiga ibu tersebut entah secara kebetulan semua ingin memperkenalkan aku kepada jagoan mereka masing-masing. Ibu yang pertama memperkenalkan aku dengan seorang guru di Jakarta. Lalu ibu yang kedua juga menawarkan aku seorang dokter yang berasal dari  Jawa Timur. Kedua calon tersebut semua mengharuskan aku untuk ikut dan tinggal di daerah mereka. Semua tawaran itu aku tolak karena tidak sesuai dengan keinginanku. 

Alhamdulillah kami belum sempat dipertemukan . Memang dari awal sudah aku tegaskan jika calon suami yang aku inginkan adalah yang mau tinggal dan ikut aku ke Bengkulu. Pertanyaan pertama jika dikenalkan kepada calon suami, mau gak dia tinggal bermukim di Bengkulu. Jika jawabannya tidak ,  segera aku stop. Daripada membuang waktu dan kesempatan. 


Tinggal jagoan satu ibu lagi, hihihi. Sebelum kami berpisah di malam takbiran. Aku sempat memberikan pas foto ukuran 3x4 berwarna. Lucu ya, bukannya foto close-up,  cuma pas foto biasa.  Dia menjelaskan  kepadaku. Nanti akan segera dihubungi setelah lebaran ini, karena sang jagoan sekarang sedang mudik.Waktu berlalu setelah pertemuan itu, tiba-tiba Nokia berdering kencang. Pas  diangka sepuluh . Terdengar suara dari seberang ”Sedang apa sekarang Neng?”


“Sedang salat Dhuha Bu!” Jawabku. “Minta apa sama Allah?” tanya dia


“Minta jodoh!”


“Ne, jodohnya ada di sebelah Ibu, mau gak dikenalin” Aku terpana. Serius amat ya. Untung lewat telpon, jadi wajah merah jambuku tak terlihat. Berawal dari sanalah perkenalan dan persiapan pernikahanku.


Acara pernikahan kami berlangsung penuh dengan nuansa berwarna hijau.  Semua hal yang berkaitan dengan acara pernikahanku menggunakan serba-serbi warna hijau. Aku sangat bersyukur, tamu yang datang memberikan kami do’a sangat banyak. Pada pernikahan ini aku mendapatkan hadiah gratis sewa gedung pernikahan. 

Lalu pada acara hiburannya ada sekitar lima grup nasyid yang hadir. Mereka menghibur penonton dengan berbagai lagu islami. Beberapa nasyid yang hadir. Itu karena dua diantaranya adalah grup nasyid bimbinganku dan aku tergabung dalam kepengurusan nasyid, hihihi. Ada banyak tamu yang berbisik ketika bersalaman, “ Mbak, ini konser nasyid atau acara nikahan” seloroh mereka sambil berlalu. 


Alhamdulillah acara pernikahan kami yang berlangsung dua hari itu berjalan lancar dan sukses. Ya, setidaknya tak ada tagihan utang di sana- sini. Amplop yang didapat pun sangat membantu . Malah masih sempat kami bagi dengan orang tua dan keluarga, hehehe. Aku sangat bersyukur niat dan tekadku dimudahkan oleh Allah SWT. 

Lalu, pertanyaannya sekarang bagaimana sosok suamiku yang mendadak menjadi pengangguran. Waktu itu gaji dan posisi beliau sangatlah apik di Jakarta. Namun demi menikah denganku dia rela meninggalkan itu . Hari-hari yang baru dia lalui dengan membantu mengurus toko buku kami. Sempat menjadi sales buku. Menjadi tukang koran , keliling mengantar barang pesanan pelanggan entah di rumah atau di kantor. 

Lumayan itu untuk membantu dia menaklukkan jalan dan gang yang ada di kota Bengkulu. Menambah teman dan pergaulan karena di sini dia tak punya sanak keluarga. Awalnya suami agak terlihat memaksakan diri untuk betah. Banyak perbedaan antara tinggal di kota besar Palembang dan Jakarta. Apalagi suamiku termasuk orang suka travelling. Makanya ketika aku tawarin untuk menjadi tukang koran keliling dia sangat suka, hehehe.


Dan seiring waktu berlalu, hanya sekitar dua tahun saja suami menjalakan profesi itu. Ketika ada lowongan CPNS di salah satu perguruan tinggi di Bengkulu. Suamiku lolos dan diterima menjadi pegawai negeri di sana. Hanya dengan modal dua belas ribu rupiah, ya dua buah materai. 

Tidak seperti kebanyakkan orang sekarang untuk menjadi pegawai negeri sanggup membayar puluhan juta. Aku sangat bersyukur dengan kondisi pernikaahn kami yang sekarang alhamdulillah sudah dibisa dibilang mapan dan mempunyai anak yang sehat dan cerdas. 

Kalau dulu aku ngotot minta kriteria calon suami pegawai negeri, mungkin ceritanya tidak akan begini ya. Banyak temanku sekarang yang menunda menikah dengan alasan karena calon suami tidak sekufu, baik dari pendidikan, suku dan penghasilan. Weleh-weleh. Mungkin tidak banyak yang siap seperti aku untuk menikah dengan pengangguran.
(Dalam menjalani kelahiran anak kedua 2013)


SEPUTAR BUKU MWS

Itulah sekelumit cerita saya yang terdapat di buku My Wedding Sory. Buku ini sangat bagus dibaca oleh orang-orang yang ingin atau mempersiapkan pernikahannya, agar mendapatkan inspirasi dan masukan dari berbagai pengalaman pernikahan sebelumnya.

Gaya penceritaan di dalam buku ini sangat menarik dan mudah untuk dipahami. Semua nasihatnya dibuat mengalir saja dalam cerita yang unik sehingga tidak ada kesan untuk menggurui. Sebab semua itu adalah kisah nyata dari para penulisnya.

Habis baca buku ini garansi deh, kamu pasti MINTA NIKAH dan semakin mantap niat serta doanya.

Oleh karena itu segera beli buku ini, baca dan segera menikah ya. Jangan ditunda-tunda lagi ya beli bukunya ya baca bukunya. Aamiin.

Bukunya bisa dibeli di seluruh toko Gramedia dan toko buku favoritmu.

Kalo udah nikah, jangan lupa kirim undangannya ya , hehehe

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin

Diberdayakan oleh Blogger.