Menu

Minggu, 27 Desember 2015

/








          Seorang teman bercerita kepada saya, dia ingin sekali menuliskan kisah dan pengalaman teman-teman di sekolahnya ke dalam sebuah buku. Tulisan yang dia maksud itu sejenis tulisan inspiratif, ya seperti catatan kisah seseorang di dalam hidupnya yang sangat berkesan dan bisa menginspirasi orang lain. 

Kendalanya adalah, teman-temannya itu tidak semua punya waktu dan kemampuan untuk menulis. Sehingga ia akan membantu menuliskan kisah dan teman-temannya tersebut. Langkah yang akan ia tempuh dengan mulai mengumpulkan data dan informasi tentang teman-temannya tersebut. Dia akan mememulai melakukan wawancara terhadap teman-temannya. 

Namun, dia masih bingung bagaimana untuk memulai melakukan wawancara tersebut. Hal apa yang pertama yang harus dilakukan.  Saya mendengarkan dengan seksama cerita teman saya tersebut. Saya mencoba memahami masalahnya apa dan mencoba mencari solusinya.

Saya sangat senang mendengar keinginan teman saya tersebut. Saya mendukung 100 persen ide dan semangatnya. Akhirnya saya memberikan  masukan kepadanya dalam melakukan wawancara tersebut. 

Tahapan yang dapat dilakukan dalam melakukan wawancara, guna mengumpulkan data-data untuk keperluan kepenulisan itu ada 3 tahapan.

Pertama  Tahap persiapan

Dalam hal ini teman saya itu harus memikirkan beberapa hal seperti
-      Siapa yang akan melakukan wawancaranya nanti (pewancaranya siapa)

-      Menentukan daftar nama dari teman-temannya yang akan ia wawancarai, mengkategorikan sumber informasinya. Misalnya ia mendata teman-temannya berdasarkan lamanya masa kerja, jenis kelamin, usia, prestasi, jabatan dan lain sebagainya


-      Menentukan topik yang akan diangkat, Misalnya saja topik yang akan dibahas di dalam buku tersebut mengenai kesan dan pesan selama mengajar, Impiannya terghadap dunia pendidikan, Alasan mengapa ingin menjadi guru dan lain sebagainya.

-      Lalu yang perlu dipikirkan adalah audiens dalam hal ini pembaca bukunya kelak. Siapa target pembacanya dan sasarannya buat siapa saja. Misalnya, orang dewasa, umum atau para pendidik, anak-anak atau bagaimana.

Kedua Tahap penulisan

Dalam tahap penulisan ini, pewancara dapat menggunakan pada tahap ini dikenal dua istilah, yakni:

-      Teknik utuh, merupakan cara penulisan wawancara secara lengkap kata demi kata yang akan ditanyakan. Jadi teman saya itu akan menuliskan semua hasil wawancaranya secara utuh sesuai dengan data yang ia kumpulkan pada saat wawancara. Hal ini biasanya dilakukan oleh pewancara baru, atau penulis baru karena kuatir ada data atau informasi yang tidak tercatat.

-      Teknik paruh,  adalah cara penulisan wawancara sebagian-sebagian. Artinya hanya pokok-pokok pembicaraan dari topik wawancara yang ditulis. Hal yang ditulis itu biasanya berupa kata-kata kunci atau subpokok dari topik yang diwawancarakan. Teknik ini biasanya digunakan oleh pewawancara yang mahir, misalnya mereka yang terbiasa menjadi pembawa acara atau reporter. Mereka akan mampu mengubah kata-kata menjadi rangkaian frase, kalimat, maupun wacana yang komunikatif. 

Ketiga Tahap Penerapan

Pada tahapan ini yang dilakukan oleh teman saya adalah melakukan penerapan dari hasil yang telah dikumpulkan. Ia mulai menyalin dan mengdokumentasikan setiap informasi yang ia dapatkan untuk keperluan bukunya. Data dari draf pertanyaan dari wawancara yang sudah dilakukan akan mulai ia pindahkan dalam bentuk tulisan yang ia inginkan. Dalam hal ini teman saya tersebut memilih menuliskan hasil wawancaranya tersebut dalam bentuk kisah inspiratif. 

Karena keterbatasan waktu untuk melakukan wawancara langsung. Saya juga menyarankan kepada teman tersebut untuk memulai wawancaranya dengan memberikan draf pertanyaan kepada teman-temannya. Jadi teman-temannya bisa menjawab pertanyaan wawancara tersebut dengan cara menuliskan sendiri jawabannya. Misalnya saat ada waktu luang, di sela-sela mengajar. 

Hal ini sangat membantu dan membuat waktu wawancara lebih efektif dan efisen. Hasil yang dikumpulkan akan lebih banyak dalam waktu yang bersamaan.

Setelah pertemuan singkat itu, saya melihat wajah teman saya sudah berubah yang awal kedatangannya sedikit bingung. Sekarang sudah terlihat ceria. Sepertinya masalahnya sudah mulai ada solusinya.

“Wah, ternyata begitu ya tahapannya utnuk wawancara, ternyata jika dipetakan secara sistematis, pekerjaan akan menjadi lebih mudah dan aku lebih tau mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu” ucapnya dengan senyuman, saat hendak berpamitan pulang.

Saya pun membalas senyumannya dengan manis , semoga sukse dan lancar ya teman. Wawancaranya sukses dan bukunya segera terbit.


6 comments

makasih sharingnya mba, aku masih pake wawancara via email hehe untuk blogku..jarang secara langsung...

Reply

iya Mb, ini temen saya kan mau wawancara temen satu sekolahnya, ya langsung aja

tapi menurutku wawancara yg mb lakukan meski via imel aja, itu langsung juga karena langsung dgn narsumnya kecuali mb lewat org ketiga :)

Reply

Belum pernah wawancara. :D Bisa disave nih artikelnya jika perlu buat wawancara. ;)

BTW, aku udah follow blognya Mbak Milda

Reply

Yap, aku sering interview seseorang. Nggak jarang juga diajak interview. Draf via email menjadi opsi yang kerap diandalkan karena keterbatasan waktu.

:D

Reply

asik loh wawancara itu Mb Anisa, seru kadang juga banyak ketemu hal2 baru baik tentang caranya, cara berbicara dan info dari narsumnya.

ma kasih ya say :)

Reply

iya Mb Funny sama saja juga sering mengalami hal begitu. sering juga diwawancara via inbok Fb, Messeger dan Email. Saya juga melakukan hal yang sama kalo butuh informasi dr orang lain yang sulit ditemua secara langsung dan jauh. lebih efektif juga

ma kasih ya say, udah mampir. ntar aku mampir juga k blogmu :)

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin