Menu

Sabtu, 14 November 2015

/







Sampah menumpuk! Itu adalah hal yang sering  saya temui di rumah. Apalagi jika sudah satu pekan tukang sampah tak bekerja. Ya, minimal seorang ibu rumah tangga seperti saya akan mengumpulkan satu kantong plastik sedang sampah setiap harinya. Entah dari kemasan makanan, mainan anak, sisa makanan, sampah dapur, sisa kerjaan atau apa saja yang tidak bernilai atau berdaya guna lagi. Yang paling mendominasi dari tumpukkan sampah tersebut adalah sampah plastik. Hampir separuhnya, sampah plastik. Jika tidak segera diatasi, baunya akan menyebar kemana-mana. Belum lagi jika tidak dimasukin ketempat sampah yang tertutup. Isinya kadang suka berserakkan, diobrak-abrik oleh binatang yang mencari  makanan  atau pemulung yang mencari sampah yang bisa dijual kembali.

Jika sudah begitu kejadiannya, biasanya sampah saya buang ke halaman samping dan setelah menumpuk baru saya bakar. Sore hari biasanya aktivitas itu saya lakukan sembari membersihkan pekarangan dan merawat tanaman. Namun hal itu tidak membuat sampah habis. Ya, ada yang berkurang volumenya namun tetap saja meninggalkan bekas. Saya sering mengamati , sampah tersebut terutama plastik tidaklah mudah untuk terbakar habis seperti kertas atau kayu.  Mungkin bukan saya saja melakukan hal ini, untuk menanggulangi sampah yang menumpuk

 Namun belakangan saya ketahui bahwa  proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan menjadi dioksin di udara. Bila kita menghirup dioksin  ini maka akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi. 

 Apalagi saya lihat contohnya, botol air kemasan setelah dibakar, sisa pembakarannya hanya mengecil dan tetap saja berbentuk plastik alias berubah bentuk dari botol menjadi lempengan plastik yang hitam. Jika sisa pembakaran lainnya sering saya sebut tanah hitam. Biasanya saya gunakan kembali sebagai media tanam. Tanah hitam itu saya campur dengan pupuk dan jerami atau dedak sisa penggilingan padi. Pada saat mencampur tanah tersebut , lempengan plastik sering kali saya temui. Saya selalu memisahkannya dan membuang kembali sampah plastik itu ke tempat pembakaran sampah. Dibakar lagi sampah plastiknya tetapi wujudnya tetap menjadi plastik. Lalu saya mulai berpikir berulang kali, mengapa bisa terjadi hal itu. 

Akhirnya saya mencari tahu dan  menemukan jawabannya bahwa sampah plastik mempunyai beberapa jenis  yaitu pertama , PET atau PETE, atau polyethylene therephthalate. Ringan, murah, dan mudah membuatnya. Penggunaannya terutama pada botol minuman soft drink, tempat makanan yang tahan microwave dan lain-lain. 

Kedua, jenis  HDPE (high density polyethylene) Lebih kuat dan rentan terhadap korosi, sedikit sekali resiko penyebaran kimia bila digunakan sebagai wadah makanan, bisa digunakan untuk wadah shampoo, deterjen, kantong sampah. Mudah didaur ulang.

 Ketiga , jenis   PVC (polyvinyl chloride) Plastik jenis ini memiliki karakteristik fisik yang stabil dan memiliki ketahanan terhadap bahan kimia, cuaca, sifat elektrik dan aliran. Bahan ini paling sulit didaur ulang dan paling sering kita jumpai penggunaannya pada pipa dan konstruksi bangunan. 

Keempat, jenis   LDPE (low density polyethylene) Bisa digunakan untuk wadah makanan dan botol-botol yang lebih lembek. Plastik jenis  PP (polypropylene) Plastik jenis ini mempunyai sifat tahan terhadap kimia kecuali klorin, bahan bakar dan xylene, mempunyai sifat insulasi listrik yang baik. Bahan ini juga tahan terhadap air mendidih dan sterilisasi dengan uap panas. Aplikasinya pada komponen otomotif, tempat makanan, karpet, dll.

Kelima , jenis  PS (polystyrene) Jenis ini mempunyai kekakuan dan kestabilan dimensi yang baik. Biasanya digunakan untuk wadah makanan sekali pakai, kemasan, mainan, peralatan medis.

Hmmm, inilah jawaban atas pertanyaan saya kenapa sampah plastik sangat susah diurai ternyata kandungan yang terdapat pada plastik membutuhkan waktu setidaknya 800 hingga 1000 tahun agar plastik  terurai oleh tanah secara terdekomposisi dan terurai dengan sempurna. Wah, ini seperti salah satu judul lagu Yuni Shara saja, ku ingin hidup seribu tahun lagi, hehehe

Kalau begitu membakar sampah bukanlah solusi yang tepat untuk menghilangkan tumpukkan sampah. Lalu saya bertanya kepada tukang sampah dimanakah lokasi  Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah . Dari mereka saya ketahui TPA  Sampah kota Bengkulu  berada di kawasan Air Sebakul.

Ya, mungkin untuk sebagian warga  Bengkulu, masalah sampah bukanlah suatu kendala yang berat. Seperti kota besar lainnya di Indonesia. Apalagi jika dilihat dari  lokasi dan lahan  TPA yang masih sangat luas dan memungkinkan mampu menampung sampah untuk beberapa tahun ke depan. Namun tidak banyak yang mengetahui akibat adanya TPA tersebut bagi masyarakat di sekitar Air Sebakul dan masyarakat Bengkulu pada umumnya. Setidaknya ada beberapa  akibat yang bisa ditimbulkan oleh adanya TPA ini, diantaranya, musibah fatal  yang terkubur di bawah timbunan sampah, kerusakan infrastruktur misalnya,  kerusakan jalan akibat akses jalan kendaraan berat, pencemaran lingkungan setempat seperti pencemaran air tanah oleh kebocoran dan pencemaran tanah sisa selama pemakaian TPA, begitupun setelah penutupan TPA, pelepasan gas metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (Metana adalah gas rumah kaca yang berkali-kali lebih potensial daripada karbondioksida  dapat membahayakan penduduk suatu tempat), melindungi pembawa penyakit seperti  tikus dan lalat  khususnya dari TPA yang dioperasikan secara salah, yang umum di dunia ketiga,  jejas pada margasatwa dan gangguan sederhana misalnya,  debu, bau busuk, kutu dan polusi udara. Dampak ini lambat laun akan dirasakan oleh masyarakat sekitar Air Sebakul dan masyarakat Bengkulu secara keseluruhan.  



Melihat kondisi geografis Bengkulu yang sangat banyak terdapat sungai dan pantai. Membuat sebagian masyarakat kita sering membuang sampah di sungai atau di pantai. Namun coba kita banyangkan  jika kita memakan ikan dari sungai atau pantai tersebut. Secara  otomatis kita  terpapar racun , yang berasal dari sampah plastik. Selain itu banyak dampak lingkungan yang akan kita rasakan ,diantara beberapa akibat dan fakta yang terkait dengan aktivitas membuang sampah di sungai dan pantai saya sebutkan sebagai berikut,
1)      Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya.
2)      Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
3)      Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.
4)      Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific
5)      Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik.
6)      Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat  46,000 sampah plastik mengambang di lautan.
7)      Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.
8)      banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.

Lantas jika tidak boleh membuang sampah ke TPA dan sungai atau pantai. Apa yang harus kita lakukan. Mengingat kita tak mungkin bisa berlepas dari yang namanya sampah plastik. Tapi kita juga tidak boleh berdiam diri, apalagi kita ketahui bahwa kota Bengkulu sekarang sedang giatnya melakukan pembangunan dan mulai terjadi peningkatan populasi manusia. Hal ini akan semakin meningkatkan penggunaaan sampah plastik di masyarakat kita. Ibarat kata semakin makmur suatu negeri maka semakin banyak penggunaan plastiknya. Menurut data Bengkulu water supply and Sanitation, jumlah  penduduk Bengkulu ada sekitar 500.000 jiwa dan setiap hari dihasilkan  1.8 liter sampah   perkapita. Itu artinya akan ada sekitar 810 meter kubik sampah yang dihasilkan setiap hari. Dan sampah tersebut dibuang ke TPA Air Sebakul atau dibuang ke sungai dan pantai. Jumlah ini pasti akan terus meningkat seiring dengan kemajuan dan kepadatan penduduk kota Bengkulu. 
Penyumbang sampah terbesar di Bengkulu adalah  rumah tangga sisanya pertokoan, sekolah, kantor, pabrik dan rumah sakit. Oleh karena itu sebagai pewadahan dan pengumpulan pertama kali, rumah tangga harus mulai melakukan penanganan sampah yang bijaksana. Tindakan pencegahan  secara dini dan efektif dimulai dari setiap rumah tangga. saya mengajak dan menghimbau teman-teman terutama ibu-ibu yang merupakan pengumpul sampah yang pertama di rumah. Untuk melakukan langkah-langkah penanggulangan sampah sebagai berikut: dengan memakai ulang plastik  (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce)  dan mendaur ulang (reycle). Terakhir, mungkin perlu regulasi dari pemerintah untuk meredam semakin banyak penggunaan bahan plastik. Secara detil bisa saya paparkan sebagai berikut.
1.      Kurangi pembelian barang-barang dengan kemasan plastik
2.   Jika belanja gunakanlah sehemat mungkin penggunakan kantong plastik, gunakan kantong plastik secara berulang-ulang. Bisa membawa sendiri kantong plastik , kain dari rumah. Di China jika pembeli tidak membawa kantong sendiri maka ia akan dikenakan  denda.
3.      Tanamkan kepada anggota keluarga cara penanganan sampah sejak dini, tidak membuang sampah sembarangan
4.      Perlakukan barang-barang plastik secara maksimal dalam penggunaannya. Misalnya kurangi penggunaan alat rumah tangga murah, beraneka ragam dari bahan plastik. Jangan tergiur dengan warna atau gambar yang ada pada  perabot plastik.
5.      Jika mendapatkan kantong plastik, simpan katong tersebut baik-baik dan gunakan kembali kantong tersebut secara baik. Atau berikan kepada para penjual/pengguna kantong plastik di pasar.
6.       Pisahkan sampah berdasarkan jenisnya seperti sampah plastik, sampah kertas, kayu, sampah sisa makanan. Masukkan sampah tersebut ke dalam suatu wadah yang besar. Jika sudah banyak bisa diberikan kepada tukang sampah atau dijual sendiri. Lumayan , bisa menambah penghasilan.
  1. Jangan membakar sampah plastik
8.      Manfaatkan sampah plastik sebagai kreasi seni atau karya kreatif yang bisa digunakan kembali bahakan memiliki nilai ekonomi.

Mungkin itu beberapa tindakan yang bisa kita lakukan dalam rangka mengurangi pemakaian sampah plastik sebagai wujud rasa sayang kita kepada bumi serta kepedulian kita terhadap keberlangsungan hidup anak cucu kita di kelak kemudian hari. Mulai sekarang kita harus melakukan diet sampah plastik. Jangan cuma badan dan makanan saja kita sanggup untuk berdiet demi penampilan dan kesehatan. Bahkan sanggup membayar dan mengeluarkan uang yang cukup besar. Sekarang sudah saatnya kita diet sampah plastik demi kesehatan kita dan lingkungan kita. Caranya juga murah meriah. Hayuuk, diet sampah plastik teman-teman dengan cara yang paling kamu bisa. Selamat hari bumi!

Milda Ini, Badan Pengurus Pusat FLP Divisi Jaringan Wilayah, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Bengkulu ( Sudah Pernah dimuat di koran Rakyak Bengkulu dalam kolom Opini , dalam rangka hari Hari Bumi tahun 2014 )




 


Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin