Menu

Sabtu, 17 Oktober 2015

/


Engkau Sejiwa Ragaku
Milda Ini


Aku mengenalmu sejak Februari dua tahun lalu, cukup lama namun sampai hari ini aku belum pernah bisa melihat wajahmu. Sungguh sesuatu yang menyedihkan dan menguras waktu, ketika kita begitu ingin melihat wajah seseorang yang  kita cintai. Namun harapan itu sudah sirna.Menunggu lama dalam pilu melara!
Menjadi temanmu adalah indah, sejak pertama engkau hadir hingga hari ini. Memuncak rinduku ingin melihatmu.Kini aku mengenangmu. Engkau selalu menyertaiku. Engkau selalu menjadi temanku dalam suka duka. Sungguh hadirmu membawa warna baru dalam ceriaku, dalam desahku, dalam penatku.Sungguh hidupku sangat berwarna-warni dengan kehadiranmu. Engkau banyak mengajarkan banyak hal dalam waktu sempit kita.
Kita biasanya selalu meluangkan waktu untuk berbicara, bersentuhan, membalas gerakan, membagi rasa, dan hal indah lainnya. Di setiap waktu dan kesempatan karna kau selalu ada di dekatku. Jika aku lelah engkau akan menyapaku dengan gerakmu. Engkau akan mengajakku bermain jika aku terdiam merenung.Engkau akan menarikku jika aku lengah tanpa hati-hati. Sungguh engkau selalu hadir untuk mengingatkanmu. Mengajakku mensyukuri hidup dan rejeki yang maha kuasa. Suatu nikmat untuk orang terpilih.
Aku kadang susah makan karnamu. Aku sering susah tidur karnamu. Aku acapkali sakit kepala karnamu. Aku selalu menginginkan sesuatu dan bergiat mendapatkannya karnamu. Aku lelah dan tak bertenaga hampir setiap hari karnamu. Susah tapi senang dengan adanya kamu. Atas dasar cinta, aku lewati semua itu dengan suka cita. Aku jalani semua itu dengan harap meluap. Hadirmu membawa perubahan yang luar biasa pada diriku. Aku banyak membaca dan mencari tahu tentang segala sesuatu yang mungkin nanti akan engkau perlukan. Aku bersemangat untuk menjaga kesehatanku karna aku ingin bisa menemanimu kemanapun engkau pergi. Aku lebih giat mencari rejeki yang halal untukmu, agar darah yang mengalir di tubuhmu adalah kebaikan. Aku bersemangat beribadah dan mendo’akan kita berdua. Iya ,karna kita nanti akan melewati masa nyeri itu bersama. Ya , hanya kita berdua yang tahu dan bisa merasakannya. Tak ada yang tahu bagaimana rasa ngiris itu. Bahkan sebelatipun tak bisa melukiskan rasanya.Aku yakin kita bisa melewati semua itu bersama.Sungguh denganmu aku akan kuat.
Lama sudah kita berteman dan berkasih-sayang, sampai pada suatu hari, di bulan Mei.Baru empat bulan pertemanan kita.Ada sesuatu yang sangat berbeda dari sikapmu. Engkau tak lagi menyapaku dengan lincah gerakanmu. Engkau tak lagi membuat aku selalu ingin memegangmu.Aku merasakan sesuatu yang hilang dari cumbu rayumu. Sungguh aku seolah merasa sangat kesepian tanpa desirmu. Aku mencarimu, merabamu di setiap tempat yang bisa kurasakan hadirmu. Engkau tak menjawab lambaian tanganku, sentuhanku engkau acuhkan. Elusanku engkau remehkan. Aku jadi penasaran, ada apa denganmu sobatku! Ada hal apa yang menimpamu? Sejuta pertanyaan ingin kuutarakan tentangnu. Penuh sesak otakku. Apa yang harus aku lakukan. Aku ingin tahu keadaanmu.Pada siapa ya, aku akan bertanya tentangmu, sebelum ini tak ada seorangpun yang menjadi saksi pertemanan kita. Ini pertemanan rahasia aku dan kamu. Aku kebingungan sendiri, luluh resah menjalar di sekujur tubuhku. Air peluh mengalir melerai panas jasadku.Aku tergopoh mencari alamat orang yang bisa kuhubungi untuk mencari tahu keadaanmu. Kuperiksa semua lipitan dompet, laci kamar, lembaran buku,aku mencari dan terus memeriksa. Siapa tahu terselip.Hampir putus asa aku melacak alamat itu. Hampir kering asaku, akhirnya kartu biru itu ketemu juga. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mendapati seseorang yang bisa membantuku mengetahui keberadaanmu.Terima kasih ya Allah.
Aku terhempas bagai di hamparan Gurun Pasir, panas, gersang, tandus, aku ingin setetes air melegakan laraku. Jantungku copot seketika, darah berhenti sejenak, otakku macet. Sekelebat semua senyap. Saat aku harus memastikan bahwa engkau tak bisa lagi dilacak keberadaanmu, saat engkau tak bisa lagi aku dendangkan, saat engkau hilang. Temanmu itu juga tak bisa banyak membantuku, aku tak bisa menanggis saat itu, tak ada satu bulirpun yang keluar dari lorong penglihatanku. Aku begitu terluka, aku begitu tersayat sehingga air mataku seketika mengering tak bisa ku alirkan. Aku harus melepasmu.
Walaupun aku harus kehilanganmu,aku inginkan jasadmu. Berbagai cara aku lakukan agar engkau tak hancur lebur, walau aku harus menahan rasa sakit yang lebih panjang dari biasanya .Aku menggunakan cara yang tak biasa, walau aku yang menahan tusukan jarum itu bertubi-tubi di tubuhku. Aku inginkan engkau utuh tak ada luka dan sakit sedikitpun. Aku ingin engkau tak tersakiti walau diujung napasmu Aku ingin menciummu untuk yang terakhir kali. Aku ingin menghangatkanmu dengan jilbab bersihku. Aku ingin memanjatkan do’a untukmu dan untuk kebersamaan kita. Aku ingin memelukmu. Aku ingin menghantarkanmu menghadap sang pencipta. Aku ingin melakukan semua hal untukmu yang terakhir kali. Berjanjilah  kita akan saling menyelamatkan jika ada aral melintang di hadapan kita.Walau aku tak pernah bisa melihat wajahmu, namun aku yakin aku akan mengenalimu kelak di surga untuk menjadi teman terindahku.(Teringat ucapan seorang sahabat....karena Milda suka berinvestasi, maka Allah memberikannya peluang investasi di akhirat. Semoga saja investasi untuk membantuku untuk meraih surga.Amien......Mengenang Kepergian Athillah Bi Qolbin Saliim)




Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin