Menu

Jumat, 16 Oktober 2015

/


Pengen Punya Adek Baru

Usia perkawinanku memasuki  lima tahun. Setahun lebih tua dari usia putri pertama kami Nawra. Kami tinggal di komplek perumahan Sopo Indah jalan Halmahera Bengkulu. Sekitar 10 Kilometer dari pusat kota. Rumah yang mungil dan masih terkesan desa, hehehe.Sebab masih banyak dijumpai kebun.Di sebelah rumah dan seberang rumahku saja masih ada kebun. Indah sekali setiap pagi bisa melihat yang hijau-hijau. Kalau kepepet gak punya sayur. Bisa langsung memetik di kebun. Rumah kami bakground-nya pemandangan Bukit Barisan loh. Akan terlihat sangat indah apalagi jika sehabis hujan di malam hari. Pada saat matahari muncul. Pemandangan itu menjadi semakin menawan.
            Saat ini Nawra berusia 4,3 tahun.Anak ASI yang hebat dan sudah pandai berdebat denganku. Hampir tiap hari selalu saja ada yang kami bahas dan kadang sering kali membuat aku kaget, lucu tapi ya juga mikir. Kok bisa Nawra punya pikiran seperti itu. Tak disangka-sangka. Aku akan berbagi cerita tentang kelucuan itu, banyak sekali sih tapi aku akan memilihkannya salah satu saja ya dari setumpuk kisah gokilku bersama  Nawra. Si anak Play Grup yang selalu mampu membuat hatiku riang, meskipun kadang capek mengurusinya seharian. Awalnya semua ini berawal dari keinginan Nawra untuk punya adek bayi. Dia ngotot sekali pengen punya adek. Kata dia masa cuma dia yang belum punya adek. Teman-teman dia sudah punya adek . Belum lagi kerabat  lain yang seusia Nawra, rata-rata memang sudah punya adek. Bingung juga ngadapin celotehan Nawra saban hari semua berkaitan dengan keinginannya punya adek.
Untuk memenuhi keinginan dan kerinduan Nawra akan hadirnya seorang adek, kami membelikan Nawra berbagai buku bacaan yang berkaitan dengan adek. Membelikan dia boneka, kemudian aku meminta dia yang mengurus, memberi makan dan melakukan banyak hal yang bekaitan dengan adek itu. Hal ini dimaksudkan untuk melatih mental Nawra jika punya adek nanti. Tapi hal itu belum mampu memupuskan keinginan Nawra untuk punya adek. Emangnya gampang punya adek, mesti hamil, melahirkan dan ada tahapannya, iya kan! Tapi yang namanya anak-anak mana tahu dia soal yang begituan. Pengen punya adek.Titik!

                           
Kalau kita punya adek, nanti adeknya tidur sama siapa tanyaku kepada Nawra, pada suatu sore “tidur dengan Umi-lah kan adek masih nenen” Aku mengangguk.”jadi Mbak Nawra tidur sendiri ya” Dia diam ,“gak berani, kan masih anak-anak.” Aku tersenyum, “ya, udah kalau begitu bobok sama Abi aja ya!” Dia kaget “masa bobok sama laki-laki.Kan Nawra perempuan bobok sama Umi juga yak!”
 “Trus adeknya gmana ?” Dengan serius Nawra menjelaskan “Umi boboknya di tengah di sebelah kiri adek dan di sebalah kanan Nawra.!” Ah, ini akal-akalan dia saja. Selalu ada ide dia dalam mengatasi keadaan. Pokoknya dia gak mau dirugikan.
Sore ini kami mau bezuk teman yang usai melahirkan. Nawra sudah siap dengan kadonya untuk adek bayi. Kami berjalan menuju ruangan dimana temanku dirawat. “Ini rumah sakit anak-anak ya Mi. Kok anak-anak boleh masuk, ada adek bayi lagi.” Oh, iya aku baru ingat kalau dulu pernah dia ikut membezuk teman Neneknya. Dan dia gak boleh masuk.
“Kenapa adeknya gak dikasih nenen Mi sama Ibunya?” Aku menarik Nawra duduk di sebelahnku. Teman aku itu mendengar pertanyaan Nawra yang belum sempat aku jawab. “belum bisa nenen karena air susu-nya belum keluar” Temanku menjelaskan sekenanya.”
“kasian adeknya minum susu sapi, memangnya anak sapi apa!” Hah, kami semua terperanjat . Aku malu sekali, jangan sampai perkataan Nawra tadi menyinggung perasaan temanku tadi. Aduh, gawat ini. Untungnya temanku itu mengerti dan maklum. Ada-ada saja Nawra.
Itu cerita ketika di rumah sakit. Nah, pas ada surat undangan di rumah Nawra kembali bertanya. Menikah itu apa, tanya dia waktu itu. Saat itu aku belum bisa menjelaskannya dengan pas. Jadi saat ada keponakanku menikah. Aku ajak saja Nawra biar sekalian melihat langsung. Harapanku dengan melihat penganten secara langsung dia bisa memahami sesuatu. Eh, alih-alih dia ngerti. Dia malah berulah heboh dan bikin aku malu sekaligus bingung. Mau tau apa yang ditanyakan Nawra, simak ya jangan sampai ketinggalan, hihihi.
“kenapa Mi orang mau menikah”
“Biar punya anak yang cantik kayak Nawra”
“Kalo anaknya laki-laki kayak Abi, bukan cantik Mi tapi ganteng!”Aku mengiyakan dengan mengangguk,”oh, iya ya”  Seketika ada temanku yang menyapa dan menanyakan keadaan suamiku. Lantas Nawra bertanya.” suami itu apa” . Aku jelaskan apa itu suami dan apa itu istri. Biar sekalian Nawra paham.” Umi disebut istrinya Abi. Begitu juga Abi itu suaminya Umi.” Nawra terkekeh.”Trus kapan Nawra punya suami Mi?”
“ Ya ,nanti kalau sudah besar “ Kami selanjutnya makan dan bercengkrama dengan sanak keluarga. Tertawa, bercerita dan saling menyapa. Mumpung lagi kumpul, jarang banget karena kami menetap di lain kota. Aku duduk dengan kakak sepupuku, tiba-tiba Nawra menjawil tanganku “Mi, Uwak ini mana suaminya” mendengar hal itu kontan saja muka Uwakku langsung memerah. Aku menutup mulut Nawra cepat kuatir ia akan mengajukan pertanyaan lebih. Aku cuma menggeleng dan mengucapkan ma’af kepada kakak sepupuku tersebut.Bagaimana tidak dalam usia yang tidak muda lagi kakakku itu belum juga menikah. Mana berani kami membahas soal jodoh dengan dia, bisa kena semprot nanti. Itu hal yang sensitif, tapi Nawra. Ah, aku malu sekali dengan ulah Nawra barusan.Tapi mau gimana lagi.




Sesampai di rumah kami duduk santai di ruang keluarga. “Mi, nanti kalau Nawra  menikah  punya suami ya.Trus hamil dan  punya anak ya Mi” aku mengangguk membenarkan ucapannya barusan.Sesuai dengan yang kujelaskan tadi di pernikahan ponakanku. Wah, Nawra mulai memahami tentang apa itu menikah, pikirku.Asik, kemajuan.
” Kalau begitu biar Umi bisa hamil dan Nawra punya adek.Umi nikah dulu!” Aku dan Suami yang sedang nonton diantara kami langsung tertawa terbahak-bahak. Aku sempat terpana dengan ucapan Nawra barusan.  Aku sendiri gak menyangka Nawra akan berkata demikian. Ah, anak kecil kadang susah dipahami. Padahal siapa coba yang menjarinya berkata demikian.Semua jauh dari perkiraanku. Bikin gemes aja.
Aksi Nawra minta adek itu, akhirnya membuat aku dan suami berusaha lebih keras lagi.Ya, misalnya saja konsultasi dengan dokter. Seperti yang kami lakukan sore ini.Kasian juga Nawra selalu merenggek minta adek. Pernah dia bilang dengan suaminya untuk dibelikan adek saja kalau nanti pas dia ulang tahun. Tak lama suami lantas membelikannya boneka kaki panjang. Namun Nawra menolak. Adek yang bisa bicara, pintanya waktu itu. Lalu Abi membelikan Nawra boneka yang bicara. Nawra kembali menolak.Ini adek mainan Abi,kata dia waktu itu. Aduh, kami dibuatnya semakin merasa bersalah dan bingung “mau adek yang bisa diajak ngomong, diajak maen, yang bisa di cium, bisa dipakaiin baju dan adek yang kayak manusia seperti Nawra!” Twet-twet.
Ditempat dokter, awalnya dia takut karena Nawra pikir yang akan diobati itu dia. Baru mau masuk ke ruang pendaftaran saja dia sudah ketakutan dan memelas  minta pulang. Kami berusaha untuk menahan dan menjelaskan.Untungnya di depan ada ayunan, jadi Nawra bisa dibujuk dengan mainan itu. Kami menunggu, duduk di dekat kami ada sepasang suami istri. Dari obrolan itu ternyata mereka sudah lama menikah tapi belum punya anak. Nawra bertanya kepadaku, apakah mereka sudah menikah. Lantas dengan suara yang agak keras dia bertanya,” kenapa Mi, tante itu belum punya anak? Kan dia sudah menikah? Kok belum ada anaknya” Terlihat wajah wanita yang dimaksudkan oleh Nawra seketika berubah. Dia salah tingkah. Tersenyum tipis yang dipaksakan.”ya itu, makanya Tante datang ke dokter, biar bisa punya anak. Kayak Mbak yang cantik ini, namanya siapa?” 

 Tiba giliran kami dipanggil. Semua ikut masuk ke ruang periksa dokter.Setelah wawancara singkat kemudian perut aku di USG oleh dokter.Nawra seketika bertanya dengan suami.”ada adeknya Bi?” dokter tersenyum” Kenapa ,pengen punya adek ya. Banyak berdo’a ya “ Nawra cuma diam dan cengengesan mendengarkan perkataan dokter. Lalu kami mendengarkan nasihat dokter dengan seksama. Tiba-tiba Nawra nyeletuk,”buat aja Mi adeknya dengan dokter ini!  Kami seketika menoleh ke arah Nawra termasuk dokternya. “maksudnya gimana Mbak?” tanyaku.Dia tersenyum kecut,”kan..kan dokternya bisa bikin adek Mi, jadi kita beli aja karna Uwa udah gak tahan lagi” Dengan ekspresi tanpa dosa Nawra mengatakan semua itu di hadapan kami. Suara khas anak-anak yang masih belum fasih, membuat kami semua yang ada di ruang dokter itu tersenyum geli.
“ Kenapa Nawra gak tahan lagi” tanya dokter
Tanpa rasa bersalah dijawabnya “iya ...iya karna Umi gak mau nikah sama Abi jadi susah Uwa mau punya adek. Uwa gak ada temannya di rumah” Hah!
“Oh,trus?” tanya dokter lagi
Nawra tersenyum menampakkan giginya yang tidak rata, “Uwa kan dipanggil Mbak, padahal kan Uwa belum punya adek. Masa dipanggil Mbak, Uwa gak mau. Uwa mau dipanggil Adek! Uwa mau dipanggil adek aja. Uwa malu kalo ditanya teman Wa, Adeknya mana, kok dipanggil Mbak sih?”  Nawra berteriak  berkali-kali,”Uwa gak mau...gak mau!”  Teriakkan khas caranya anak-anak.
Kami semua tertawa melihat polah tingkah Nawra barusan.Oh, jadi ini alasan dia sebenarnya mengapa dia pengen banget punya adek. Selama ini kami gak kepikiran soal ini. Ternyata karena perasaan malu ditanyain teman-temannya yang mendorong Nawra ingin sekali punya adek. Padahal sapaan Mbak, itu memang aku lekatkan untuk melatih dia kalau punya adek nanti. Ternyata ini yang menjadi masalah bagi Nawra. Duh, anak-anak memang penuh misteri. Mampu membuat kita terhibur dan tertawa melihat ulahnya.  

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin