Menu

Rabu, 02 Oktober 2013

/


Kejutan-kejutan Abi Tersayang


City  tour yang merindu.Saatnya melepaskan buncah ini pada yang terkasih. Taksi yang akan membawa aku dan Izzah menuju Bandara Soekarna Hatta sudah bercokol manis di depan rumah Inga Yanti. Wuih, kali ini barang bawaaan kami lumayan banyak. Kebetulan  borong nih.  Aku bersalaman dengan sepupu Emak itu tadzim. Cipika- cipiki. Jarak rumah Inga ke bandara bisa memakan waktu sekitar satu jam dengan perjalanan normal. Santai tapi pasti.

“Tinggal dimana pak?” Tanyaku sok  ramah dengan sopir, karena taksi penuh dengan barang, terpaksa  kami duduk di depan.

“Di masjid Bu!” Saya kaget dan seketika mikir. Lelaki hampir baru paru baya ini sekonyong bercerita tentang kehidupannya , mengalir tanpa titik. Berusaha  menjelaskan dengan suara beratnya persis suara orang yang kurang tidur dan istirahat .Aku juga pernah mengalaminya.

“Mau gimana lagi Bu, mau  ngontrak  gak mungkin, mahal. Mending uangnya dikirim untuk keluarga di kampung. Setoran juga kian naik, hampir saya gak pernah  tidur nyenyak  memikirkannya. Kalo gak tidur di masjid ya , tidur di kantor” tatapannya nanar fokus ke depan. Saya trenyuh dalam pikir yang melara. Kebiasaan mengajak ngobrol sopir kalo lagi di Taksi ini memang menjadi salah satu trik  agar tidak terjadi hal negatif di jalan. Biasanya aku akan melibatkan emosi dalam percakapan ini sehingga tanpa terasa kami sudah mencoba menjalin suatu persahabatan baru. Obrolan ringan.

Memasuki terminal bandara adalah yang selalu membuat aku penat menunggu jadwal keberangkatan. Belum pernah aku dibuat terburu-buru karena ditunggu pesawat. Selalu aku yang menunggu kadang sampai suntuk bin bete. Delay oh delay! Mana semua serba mahal. Bikin bokek saja. Sebelum masuk gate, aku memutuskan untuk membeli makanan fast food dan secangkir kopi mix.
 
Afghan dengan Bukan Cinta Biasanya mengalun di tengah antrian. Ini dering khas dari suami tercinta. Hmmm, hanya mengecek keberadaan kami saja. Sedetik saja menyapa. Tapi di ujung telpon itu yang tiba-tiba membuat aku tersenyum geli dan penasaran. Ah, suamiku selalu begitu setiap kami berjauhan, senangnya membuat aku mati penasaran.

Aku  duduk di pojok, Izzah mengekor. Masih ada dua jam lagi menuju  Bandara Fatmawati Bengkulu. Banyak waktu untuk ngobrol dengan Izzah si bocah playgroup. Beberapa suap nasi dan ayam berhasil masuk ke mulutnya. Izzah sangat menikmati makanannnya di tengah hiruk pikuk orang yang lalu-lalang. 

“Apa sih Mi yang mereka rebutkan, kok dari tadi banyak yang lewat. Gak capek apa?” Izzah membuka obrolan kami. Dia suka bertanya apa saja yang dilihatnya dan seperti biasa setiap pertanyaan itu selalu berbuntut pertanyaan yang panjang dan berkelanjutan .Selalu ada saja pertanyaan baru, setiap ada kata baru yang tidak dia mengerti. Ingin mengetahui semua hal. Itulah anak-anak yang baru mengenal dunia, kawan.

Sesekali terdengar suara panggilan  dari dalam terminal , aku bergegas merapikan diri untuk segera masuk dalam gate jurusan Bengkulu. Lebih baik menunggu di dalam daripada nanti tergopoh-gopoh. Sebelum masuk kami membuat kesepakatan , tidak ada belanja mainan dan makanan di dalam. Selain harganya yang selangit terkadang Izzah cuma lapar mata saja. 

Akhirnya kami sepakat untuk membawa beberapa buah roti Boy ke dalam gate. Aku masih tersenyum geli dan penasaran, teringat ucapan suami di telpon tadi. Kami bergegas. Ingin segera mengistirahatkan badan sembari menikmati ruang ber-AC yang mulai soak. Semua barang sudah aku kirim ke bagasi. Tiket yang murah akhirnya setelah dihitung sama mahalnya ditambah bagasi, hehehe. Tapi lumayanlah harga tiket murah di musim liburan adalah sesuatu keberuntungan juga yang wajib disyukuri.

Aku duduk mendekat di samping TV, suasana masih sepi. Sepuluh menit ke depan gate mulai sesak. Tidak ada bahan bacaan , semua sudah masuk packing. Afghan kembali bernyanyi. Kali ini ku biarkan sesaat sembari menikmati suara seraknya.

Cintaku bukanlah cinta biasa//Jika kamu yang memiliki// Dan kamu yang temaniku//Seumur hidupku

Mati....., sesaat sms masuk. Kok ga diangkat, Abi pengen ngomong dengan Izzah. Aku balik menelpon, terjadilah percakapan Bapak dan Anak. Ya, hampir satu pekan kami meninggalkan dia. Seperti biasa disetiap ujung masa ‘dinas luar’ kami baru merasakan saling merindu. Hampir setiap detik menelpon dan sms. Suka lebay dan agak gombal. Hmmm, suatu suasana yang sangat berbeda dari hari biasa.

Aku selain bekerja di sekolah juga nyambi berbisnis pakaian. Jika ada waktu luang aku menyempatkan diri untuk belanja langsung. Selama ini selalu ada saja kejutan yang dibuat oleh suami menyambut kedatanganku. Namun kali ini sepertinya akan sedikit berbeda, aku mulai menebak.

“Mi kata Abi ada kejutan untuk kita! Apa ya Mi? Izzah pengen tau.” 

Aku menggeleng. “Abi beliin kita apa ya Mi?” Aku mengangkat bahu sambil monyong. Menggeleng lagi.
Suamiku adalah seorang anak bungsu dari keluarga yang lumayan mapan dan biasa hidup enak. Pertama kali ke Bengkulu adalah saat menikah denganku. Kalian tahu apa isi tas bawannya waktu itu? Penuh dengan alat olahraga. Sempat dia bawa bola Takraw, raket Bulutangkis dan sepatu Bola. Ada-ada saja , bawa baju cuma lima stel. Di dalam tasnya juga terdapat mayonise dan sabun cair. Dua barang itu juga gak pernah lepas dari suamiku. Aku geli sekali ketika mengetahui semua itu. Memang Bengkulu kota kecil tapi gak gitu juga kale, kayak gak ada yang jual aja,hehehe.
 
Sepekan setelah menikah ,untuk pertama kali  aku membiarkan dia berkeliling menyusuri seluk beluk kota. Aku yakin gak bakal nyasar kalo nyasar juga pasti bisa ketemu. Ternyata iya, hanya dalam tempo satu hari dia sudah mengelilingi Pantai Panjang, mendatangi rumah kediaman Bung Karno , duduk santai di Benteng Malborough sambil memandangi Pantai Tapak Paderi. Menjelang sore dia baru pulang dari jam sembilan pagi tadi. Usai mengunjungi Danau Dendam Tak Sudah katanya. Tuh, kan benar kataku gak bakal nyasar.

Kini enam tahun sudah kami menikah. Itulah suamiku gak  pernah mengeluh soal masakanku apa saja dimakan asal bukan sayur Terong. Apa saja dinikmati apalagi cemilan segar di setiap pagi. Suami yang tak malu membantuku menjemur pakaian.Suami yang tak segan membantuku mengurusi Izzah, bahkan mencebokinya.Suami yang suka bertingkah kocak demi melihat aku dan Izzah tertawa terpingkal-pingkal. Sampai sakit perut kami dibuatnya. Suami yang selalu membawa pulang jatah nasi bungkus dari kantor. Kami  suka makan bersama-sama sambil berebutan. Seru sekali. Aaah, jadi rindu nasi bungkus bawaan Abi,  nih!

Penerbangan delay! Aku melirik sms yang baru masuk. Dari suami. Hanya memastikan jadwalku landing. Kami menunggu sambil makan nasi jatah delay.

Ucapan suamiku tadi di beranda bandara masih terngiang. Ada kejutan apa nih. Aku selalu  tidak pernah benar menebak kejutan yang diberikan suami. Selalu berbeda dan unik. Awalnya suami pasti bilang ada yang istimewa Abi siapkan untuk Umi di rumah.

 Pernah waktu itu aku dan Izzah disambut dengan Es Krim dan buah Anggur. Sekali waktu aku disodori Nasi Goreng. Sewaktu pulang dari Padang kami diajak belanja ke mall untuk belanja, boleh pilih aja apa yang kami mau.Waktu pulang dari menemani siswa lomba di Jakarta dia menyiapkan kipas baru dan dekorasi baru di kamar. Banyak lagi deh, maklum aku suka pergi keluar kota kadang juga ditemani Izzah. Ada-ada saja kejutan suamiku. 

Sangat berbeda kalau dia yang berpergian. Dia selalu nelpon dulu kalau mau beli oleh-oleh. Gak ada kejutan.

Aku masih tersenyum geli dan penasaran

            Pesawat take off, perjalanan lancar. Gak menunggu lama kami sudah tiba di rumah. Kangen juga nih dengan suasana rumah meski sederhana namun kami nyaman tinggal di sini. Surga dunia. Aku  segera memperhatikan sekeliling rumah. Pertama kali aku buka kulkas, tidak ada yang spesial. Masuk kamar juga tidak ada yang baru, masih seperti saat terakhir aku meninggalkannya. Aku kian penasaran, apa ya yang sudah dipersiapkan suamiku. 

Ucapan dia tadi berkelebat.”Abi berharap Umi ama Izzah suka deh dengan apa yang Abi persiapkan.Ini obat kangen Abi dengan kalian berdua.” 

Twet..twet aku kian penasaran. Suami tahu aku berusaha mencari sesuatu. Dia cuma senyum tipis.

            “Izzah! kita nonton yuk....” panggil suamiku. Masih tersenyum geli. “apa sih Bi kejutan untuk kami, jadi penasaran euy” 

Aku memilih istirahat di kamar, belum ada tanda-tanda dari suami.Tiba-tiba Izzah teriak, “Mi ada film baru nih, bagus banget.Umi ke sini dulu!” 

Oh, alah ini toh kejutan dari suamiku. Dia menghadiahkan kami TV Kabel. Alasannya karena rindu dengan Izzah, dengan Emaknya Izzah gak nih,huhuhu.

 Kalau liat Baby TV serasa ada Izzah di sini.Tiap malam dia  buka, musik pengantar anak tidur yang menemani dia terlelap. Rasa bosan menunggu kepulangan kami  sedikit terobati dengan menonton ini.

“Abi sayang  Umi dan Izzah”.

Aku kembali terharu. Sedih karena ternyata suami sangat tersiksa saat kami tinggalkan. Aku meminta ma’af  kepada suami dengan tulus.

Kami akhirnya membuat kesepakatan kalau aku akan belanja lagi nanti waktunya tidak boleh lebih dari empat hari, jadi harus efektif dan efisien. Tidak boleh meninggalkan suami terlalu lama begitu juga dengan suami ketika dia akan melakukan dinas luar jika waktunya lebih dari satu minggu, kami diijinkan untuk menyusul. Jika jadwalnya bertepatan dengan waktu libur kami diperbolehkan untuk ikut. Kami sangat senang menjalani kesepakatan ini, merencanakan waktu untuk liburan dan mudik bersama yang lebih terprogram.

Kali ini aku kalah lagi menebak, ternyata begitu banyak kejutan yang diberikan suami untuk kami tanpa pernah bisa aku berpikir itu apa. Aku memang tak banyak meminta kepada suami tapi cukuplah aku bersyukur dengan apa yang telah ia berikan untuku. Suamiku yang paling istimewa sedunia....tapi namanya bukan Udin sedunia loh! (TeruntukSuamiSayang2013)
                                                ######



Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin