Menu

Selasa, 25 Juni 2013

/




Adek Athifah dan Kakak Nawra



17 juni 2013, adalah hari yang tak bisa aku lupakan. Hari yang menegangkan. Ya, aku melahirkan bayi ketiga , seorang gadis manis dan dilahirkan secara normal di klinik bidan Kurnia Sari di daerah Balai Buntar, Bengkulu. Peristiwa yang menyenangkan bagi aku dan keluarga besarku.
Jadi hari ahad itu , aku bersama putri pertamaku Nawra dan dua ponakankku Naila dan Zaki jalan pagi menyusuri jalan sepi dan kecil sepanjang depan rumah nenek Nawra, kami melewati barisan pertokoan kawasan jalan Soeprapto sampai ke pasar Minggu di jalan KZ . Abidin 1. Hari itu kami makan cukup banyak, Lontong, Bakso dan Bubur sumsum.
Kami berjalan berempat dengan riang gembira, Nawra mengajak serta skuternya. Mereka bergantian memakai skuternya tanpa ada keributan. Anak-anak sudah mulai akur, ya meski usia mereka hanya bertaut setahun, usia TK, kelas satu dan dua SD. Dan ini bukanlah jalan-jalan pagi kami yang pertama. Sejak memasuki usia kehamilanku yang ke sembilan, saban pagi aku harus jalan pagi dan sore harinya minum es kelapa muda. Siang hari makan Nanas. Semua itu diyakini bisa membantu membersihkan kulit bayi dan melancarkan proses persalinan. Kalau sedang libur, anak-anak itu ikut serta jalan-jalan bersamaku. Kalau di luar jadwal libur, aku sering mengajak mereka berjalan selepas Asar, kadang kami ngemol saja, hehehe! Yang penting jalan.
Lumayan berjalan hari ini, sehingga aku cepat tidur dan terlelap. Namun aku terbangun kembali jam setengah dua belas malam. Kuperhatikan celana dalamku basah seperti ngompol. Puiih, masa aku mengompol. Segera aku ke kamar mandi untuk membasuh diri, saat di kamar mandi terlihat ada becak darah, seperti ada perdarahan. Wah, ini sepertinya tanda mau melahirkan dan waktunya sudah tak lama lagi. Kuperhatikan cairan yang merembes ke celana dalamku. Ini, bukan air kencing, tapi sepertinya air ketuban. Jumlahnya juga lumayan banyak karena merembes ke seprai. Setelah membersihkan diri, aku langsung menelpon klinik bersalin dan bercerita kronologis kejadianku. Akhirnya diputuskan untuk segera datang ke klinik. Aku membangunkan pamannya Nawra dan neneknya, untuk bersiap dan membantu mengantarkanku ke klinik. Alhamdulillah , semua perlengkapan bayi baru lahir dan ibu bersalin sudah aku persiapkan di dalam keranjang. Jadi tinggal diangkat saja. Ini kebetulan aku sedang menginap di rumah nenek Nawra sedangkan Abinya sedang pulang ke rumah kami. Segera kutelpon suami dan meminta beliau segera datang menyusul ke klinik. 
Kami sampai di klinik jam satu malam, semua sudah dipersiapkan oleh bidan dan asistennya. Aku diperiksa dan harus dipasang infus karena kuatir lemas karena sudah pecah ketubannya. Rasa sakit atau kontraksinya semakin terasa namun jaraknya masih agak lama ya .sekitar sepuluh menit lalu sakit lagi. Reda lalu sakit lagi. Alhamdulillah. tadi di rumah aku sudah BAB dua kali sehingga tak perlu dilakukan tindakan pembersihan rektum. 
Setelah diperiksa dan dipasang infus, akhirnya aku dipindahkan ke kamar biasa, sambil mereka mengawasi perkembanganku. Rasa sakit kian menjadi seiring dengan keinginan kencing yang besar, jadi aku bolak-balik kamar mandi sambil memegang infus. Ribet juga, namun suami selalu siap siaga. Selama kencing, darah juga ikut keluar namun jumlahnya sedikit sekali. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, bunda bidan seniornya datang , melakukan pemeriksaan  dalam. Menurut perkiraan beliau, bayinya akan lahir sekitar jam sepuluh pagi. Wow, lama sekali, pikirku. Makin lama aku harus menahan rasa sakitnya. Aku mulai agak sedikit stress dan berdo’a semoga semua baik-baik saja. 
Setelah aku diperiksa, bunda pamit mau salat tahajud dan sahur puasa sunah senin kamis. Iya, ini klinik bidan berdekatan dengan tempat tinggal bunda bidannya. Jadi semua aktivitas rumah dan klinik bisa berjalan barengan. “ Saya akan salat hajat untuk mendoakanmu nak, “ ucap Bunda kalem!
Aku periksa dengan bidan ini baru satu kali, sekitar satu pekan yang lalu. Atas rekomendasi seorang teman setelah mendengarkan cerita galauku dimana akan melahirkan nanti. Aku berharap dan bisa melahirkan dipegang oleh DSOG Yudo yang memang memeriksaku sejak awal aku hamil. Namun melihat jadwal beliau yang lumayan padat, akhirnya aku memutuskan untuk mencari klinik bidan yang aman dan nyaman. Ya, pilihannya jatuh ke bunda ini. Selain dia bidan senior, sifat keibuannya membuat aku nyaman seolah dilayani dan dibantu oleh ibuku sendiri. 
Selama proses itu, aku diawasi dan ditemani oleh asisten bunda, bidan juga yang ternyata menantunya dan seorang bidan praktek sekolah. Rasa sakit kian menjadi dan datangnya lebih sering. Aku mengerang dan menahan rasa sakit sambil berpegangan tangan dengan dengan suami. Dalam kondisi seperti ini aku tak mau diajak ngobrol, diberikan tindakan apa pun. Misalnya, suami mengosok-gosok punggungku, atau mengelus kepalaku. Aku tak suka karena itu membuat aku tidak nyaman. Aku suka suasana yang nyaman dan tanpa suara. Suami paham tabiatku tersebut, jadi dia hanya duduk diam sambil berzikir di sampingku. Dan sesekali menahan tanganku yang menggenggam tangannya yang erat dan kuat.
Waktu subuh baru datang, suami berpamitan mau ke masjid. Ya, sekitar jam lima kurang. Nawra juga ikut serta ke masjid. Aku akhirnya memilih untuk mondar-mandir di ruangan saja. Sambil menikmati rasa sakit. 
Setelah itu, bunda memindahkan aku ke ruang persalinan, semua alat-alat sudah siap sedia. Aku diperiksa , kata bunda baru pembukaan lima. Ya, Allah butuh lima pembukaan lagi, desisku. Waktu terasa lama sekali. Suami duduk pas di atas kepalaku. Kali ini aku tidak berpegangan tangan lagi dengan dia, namun aku memilih untuk memegang kepala ranjang yang terbuat dari kayu untuk berpegangan. Aku miring ke kiri, dan itu sangat  membantu sekali proses penurunan kepala bayi. Sakitnya kian menjadi-jadi. Aku berpegangan pada kepala ranjang setiap sakitnya datang. Jika tadi di awal rasa sakit aku selalu istiqfar, tahmid dan tahlil dengan agak mengeraskan suaraku. Kali ini akau ganti dengan menghypnotis diriku sendiri dalam hati. Sambil membaca istiqfar, tahlil dan tahmid akau berkata. Ayo nak, kita harus yakin, bahwa kita akan lahir normal dan semua akan baik-baik saja. Bantu Umi ya nak, untuk mendorong dedek bayi keluar dengan cepat. Dedek bayi harus kuat karena Allah bersama kita. Ayo dek kita berjuang bersama-sama. Kalimat itu aku ucapkan berkali-kali. Dan hasilnya memang jauh lebih menenangkan daripada ketika aku lafaskan tadi. 
Tak lama, aku terasa ingin mengedan, dan setiap mengedan itu keluar air bercampur darah, setelah agak tiga kali kejadian. Aku beritahu suami, untuk memanggil bidan dan beritahu mereka sepertinya aku akan melahirkan. 
Aku diajarkan oleh bunda bidan untuk mengejan. Meletakkan kedua tanganku di lipatan paha. Karena tangan kanan di infus jadi hanya tangan kiriku saja yang bisa melakukannya. Lalu tarik napas dan mengejan dengan posisi pantat tidak boleh diangkat. Hal ini untuk menghindari terjadinya robekkan saat mengejan. Posisi kepala boleh diangkat dengan pandangan mata tertumpu kepada pusat.  Aku mencobanya, namun masih salah juga, hehehe. Meski sudah ke sekian kali, namun tetap saja perlu belajar lagi.
Saat belajar mengejan begitu, salah satu bidan asistennya berkata,
 “ Ibu, harus semangat ya, ini rambutnya sudah kelihatan, anaknya sudah mau keluar Bu!”
Tak lama aku muai merasa ingin mengejan kembali, segera aku bersiap dan melakukan tindakan yang diajarkan tadi. Terdengar suara. 
“ Semangat Bu, Semangat Bu! Sedikit lagi, iya sudah-sudah teriak mereka bersamaan !”
Aku termenung seiring dengan rasa sakit yang bagaikan sulap menghilang seketika. 
“ Hai, kenapa termenung. Bayinya sudah lahir. Perempuan , “ kata Bunda tersenyum
“ Oh, sudah selesai ya Bun, “ Ucapku pendek.
 Tak kusangka kalau secepat itu, kupikir tadi masih belajar mengejan. Oleh Bunda, bayinya setelah dibersihkan, dihisap lendir dan kotoran di dalam mulut si bayi. Si dedek diangkatnya dan diciumkannya ke mukaku yang masih kaget. Lalu dedek bayi diberikan baju dan bedongnya siap untuk di iqomatkan oleh suami. 
Aha,  rasanya tak karuan, sebentar sekali proses  melahirkanku kali ini. Dengan proses yang begitu tenang dan nyaman ini, aku menamai persalinanku dengan enjoy. Tak ada luka robekan apalagi harus dijahit. Hmmm, terima kasih ya Allah,  suami, keluarga dan teman-teman atas doa kalian semua. 
Dan hari ini, 17 juni 2013, aku melahirkan dengan enjoy seorang bayi perempuan yang cantik. Putri keduaku. Anakku yang ketiga. Yang kami beri nama ATHIFAH SHIDIQQI KHALILAH. Dengan Berat badan  2,6 Kg. Panjang badan 5,2 cm. Secara normal tepat di pukul 07.30 Wib. Dengan selamat dan lancar jaya.

         Dan, sore harinya selepas Asar kami boleh pulang ke rumah karena semua berjalan lancar dan normal ^^
9 comments

Dan hari ini, 17 juni 2013, aku melahirkan dengan enjoy seorang bayi perempuan yang cantik. Putri keduaku. Anakku yang ketiga. Yang kami beri nama ATHIFAH SHIDIQQI KHALILAH. Dengan Berat badan 2,6 Kg. Panjang badan 5,2 cm. Secara normal tepat di pukul 07.30 Wib. Dengan selamat dan lancar jaya.

Reply

semoga menjadi anak shalihah. Amin

Reply

Meski sudah melahirkan berkali-kali masih saja lupa gimana cara mengejan yang baik dan benar ya Bun sehingga mesti diajarin lagi. Saya begitu waktu melahirkan anak ke-3. Duuuhh, kayak gak pernah melahirkan saja. Bolak-balik dikasih tahu sama bidannya, hihihi ... Barokallah, semoga Shidiqqi Khalilah menjadi anak sholehah, permata kebanggan ortunya, aamiin ya Robb :)

Reply

Selamat ya mbak Milda...^^ anaknya cantik^^

Reply

terima kasih ya mbak doa indahnya. semoga terkabulkan. aamiin

Reply

iya mbak, terima kasih
salam sayang ^^

Reply

hehehe, betul mbak, ternyata sudahs ering dan banyak melahirkan un tak menjamin kita pandai dan menguasai dgn baik tahapan persalinan, seruu tapi ya mbak ^^
terima kasih ya mbak atas do'anya ^^

Reply

Iya mbak, terima kasih
anaknya mirip bapaknya semua , hehehe

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin