Menu

Rabu, 08 Mei 2013

/




Siapakah penulis dan penyalin naskah Nusantara?

Pada umumnya penulis naskah tidak mencantumkan namanya. Biasanya nama penulis tercantum dalam kolofon, yaitu bagian akhir tulisan di luar teks cerita. Penulis atau penyalin terdiri atas berbagai lapisan masyarakat, pria atau wanita, baik secara terorganisasi atau tidak, menulis atas kehendak sendiri atau pesanan. Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai penulis sekaligus penyalin. Zaman dahulu ada penulis istana atau pujangga, ada pula penulis yang dipekerjakan oleh pihak lain, pihak pemerintah Belanda atau Inggris. Raffles adalah seorang Belanda yang menugaskan 4 atau 5 orang untuk menyalin, selain itu dia juga sering membeli naskah. Voorhoeve (1964:256) menyatakan bahwa salinan naskah Melayu yang dibuat di Algemeene Secretarie sebagian menjadi koleksi naskah di Berlin, Paris, dan Brusel, dan Dehaag  dan lain-lain. (halaman 4.23).

Seorang penyalin yang lama bekerja di Algemeene Secreatrie adalah Muhammad Ching Saidullah. Selain itu ada pula Muhammad Sulaiman, Muhammad Hasan Ibn Haji Abdul Aziz dan Abdul Hakim.
Contoh Iluminasi

Tugas seorang penyalin, terutama di Biara Benedict adalah sebagai iluminator, ilustrator, atau rubrikator. Jika tugas itu tidak dapat dilakukan baru didatangkan tenaga dari luar. Tugas itu dikerjakan dalam ruang yang disebut skiptorium, yaitu ruang yang luas terbagi dalam ruang-ruang kecil, dan bekerja dalam peraturan ketat. 

Di Yogyakarta juga ada skiptorium, yaitu zaman Hamengku Buwono V (1822—1855). Di sana dipekerjakan 2—10 penulis/penyalin. Penyalin yang produktif adalah Husein bin Ismail, menghasilkan 66 naskah. Koleksi Von de Wall disalin Husein bin Ismail sebanyak 6 naskah. Ada 2 salinan Husein bin Ismail yang tersimpan di Washington.

Tradisi penyalinan di Indonesia berbeda dengan di negara Barat (Mulyadi, 1994:55). Di negara Barat penyalinan ketat sampai kesalahan tetap ditulis apa adanya. Penyalin Indonesia mempunyai kebebasan, penyalin dapat memperbaiki teks kalo terjadi kesalahan, dapat mengubah, menambah, dan mengurangi sesuai dengan seleranya. Dalam penyalinan seperti itu, maka akan berakibat kesulitan dalam membuat sebuah stemma (silsilah) asal-usul teks atau naskah.

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin