Menu

Rabu, 08 Mei 2013

/


Penentuan Metode Penyuntingan

Metode naskah tunggal berbeda dengan metode dalam edisi naskah yang lebih dari satu (naskah jamak) – lihat Kegiatan Belajar 2 (Metode Penyuntingan)

Penentuan Umur Naskah
Ada dua faktor dalam menentukan umur naskah, yaitu faktor internal adalah kalau informasi berasal dari naskah itu sendiri dan faktor eksternal, adalah apabila informasi yang diperoleh dari luar naskah. Faktor internal meliputi kolofon, cap kertas (water mark). Untuk melihat cap kertas caranya mengangkat kertas dan dipantulkan ke cahaya. Di situ terlihat gambar, dan gambar itulah yang digunakan sebagai dasar penentuan umur naskah. Di sekitar gambar sering ditemukan inisial atau tahun atau tulisan lain. Inisial dan tahun di luar cap kertas disebut cap kertas tandingan (countermark). Faktor eksternal yang dapat digunakan untuk menentukan umur naskah adalah sejarah penyimpanan naskah. Suatu lembaga biasanya mempunyai catatan kapan mereka menerima naskah yang menjadi koleksinya.
Transliterasi, akan diuraikan pada bagian lain – lihat Kegiatan Belajar 2 (Metode Penyuntingan)

A.  Kritik Teks
Kata ‘kritik’ berasal dari bahasa Yunani krites berarti ‘seorang hakim’ atau krinein berarti ‘ meghakimi’ atau kriterion berarti ‘dasar penghakiman’. Filolog dalam memberikan kritik harus mencari teks yang paling asli, yaitu teks yang ditulis oleh pengarangnya disebut autograf. Kritik teks pada awalnya dilakukan terhadap teks alkitab di Eropa. Untuk dapat menemukan teks aslinya, filolog harus membandingkan naskah untuk dikonstruksi dari beberapa naskah yang ditemukannya. Konstruksi itu dilakukan dengan asumsi bahwa penyalinan teks terus berlangsung. Dalam perjalanan penyalinan itu naskah mengalami perubahan. Rangkaian penurunan yang dilalui suatu teks secara turun temurun disebut tradisi.

Penyalin dalam bekerja ada yang hanya menyalin saja tetapi ada pula yang menambahkan atau mengebubahnya. Hal itu terjadi baik sengaja, yaitu karena ingin menyesuaikan denan masyarakat dan zamannya atau tidak sengaja karena kelalaian penyalinnya.  Perubahan karena kelalaian ini biasanya menimbulkan kesalahan dalam teks dan menyebabkan terjadinya varian, yaitu di dalam teks terdapat perbedaan-perbedaan kecil, tidak mengubah isi teks dan ditemukan dalam teks yang sejenis dan versi, yaitu di dalam teks terdapat perbedaan agak besar, misalnya jalan cerita sudah berbeda ditemukan dalam dalam teks yang sejenis.

Robson (1978:35) menyatakan bahwa kriteria untuk mendapatkan suatu teks itu varian atau versi ditentukan adanya kesalahan-kesalahan yang mencakup:

1)      Ditemukan metrum dalam puisi dengan corak tertentu, maka harus dicek apakah varian cocok dengan metrum tersebut. Jika tidak cocok maka dapat ditentukan bahwa varian itu termasuk kesalahan.
2)      Apakah varian merupakan perkataan yang dikenal dari tempat (teks) lain? Kalau tidak ditemukan di teks lain, mungkin hal itu salah atau mungkin varian itu satu-satunya tempat perkataan yang dipakai. Satu-satunya tempat dipakainya perkataan itu disebut hapax.
3)      Apakah varian itu sesuai dengan konteks cerita atau gaya bahasanya dan tidak bertentangan dengan latar belakan kebudayaan atau sejarah? Kalau ditemukan ketidaksesuaian, mungkin varian itu salah.

Sedangkan Renold dan Wilson (1974) kesalahan yang terjadi dalam penyalinan teks dibagi atas enam macam, yaitu:

1)      Kesalahan disebabkan oleh tulisan tangan dalam teks aslinya kurang jelas sehingga penyalin mengacaukan dengan huruf yang mirip;
2)      Adanya pergeseran lafal sehingga penyalin cenderung mengubah ejaan aslinya;
3)      Adanya penghilangan beberapa huruf yang disebut haplografi (haplography). Hal ini terjadi karena mata penyalin melompat maju dari satu perkataan ke perkataan yang sama yang disebut saut de mem au meme.
4)      Adanya tambahan beberapa huruf atau kata yang diulang oleh penyalin yang disebut ditografi (dittography)
5)      Adanya penukaran pemakaian huruf terbalik atau baris puisi tertukar
6)      Adanya penukaran perkataan karena pengaruh perkataan lain yang baru saja disalin sehingga meniru bentuknya. 

Filolog dalam meneliti teks dapat menggunakan metode stema, yaitu metode yang bertujuan untuk mendekati teks asli melalui data-data naskah dengan cara  melakukan perbandingan teks (Robson, 1978:37). Yang dimaksudkan teks asli ialah teks yang sudah menurunkan semua naskah yang masih ada. Naskah seperti itu disebut arketip (archetype) dan arketip tidak perlu identik dengan ‘autograf’ (teks yang ditulis pengaranya). Dalam menelusuri teks, filolog dapat melakukan perbaikan atas kesalahan atau kerusakan dalam teks, perbaikan itu disebut emendasi.
Contoh merekonstruksi naskah, yaitu (1) Naskah yang masih ada diberi nama dengan huruf Latin kapital: A,B.C dst.; (2) Aketip dan hiparketip diberi nama dengan huruf Yunani, arketip diberi nama omega, hiparketip diberi nama alpa dan beta. Contoh gambarnya periksa halaman 5.16.

 Metode Penyuntingan

A.    Metode Edisi Naskah Tunggal

Untuk menentukan naskah tunggal (codex unicus), Robson (1994:21) mengemukakan dua metode, yaitu:

 1) Edisi diplomatik, adalah metode dengan cara menyajikan teks dalam bentuk yang semurni mungkin, cara kerjanya dengan reproduksi fotografis, naskah difoto apa adanya tanpa mengubah sedikit pun.
2) Edisi biasa (standar), yaitu metode dengan cara memasukkan campur tangan peneliti dalam penyuntingan (Robson, 1978). Dalam metode ini penyunting sudah membetulkan kesalahan teks, sudah mengalihaksarakan, membagi kata, menandai kata dengan huruf kapital dan ejaan telah disesuaikan dengan ejaan yang dikenal pembaca.
3) Metode Edisi Naskah Jamak, dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu: a) Metode landasan, yaitu metode yang dilakukan apabila menurut penafsiran peneliti di antara naskah yang diteliti berbeda nilainya. Nilai itu mencakup: penggunaan bahasa, isi, dan umur naskah yang diteliti. Peneliti memilih naskah disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. b) Metode Gabungan, yaitu metode yang diterapkan jika naskah lebih dari satu dan kualitas naskah hampir sama. Disebut metode gabungan karena peneliti menggabungkan beberapa bagian dari naskah yang satu dan beberapa bagian lain dari naskah yang lainnya. Metode ini jarang dilakukan karena resikonya lebih besar. Dalam metode ini, peneliti seolah-olah menciptakan sebuah teks baru yang berbeda dengan teks-teks asli yang dipakai.
Robson (1994:2) menambahkan metode yang lain, yaitu metode kritis jika filolog telah melakukan perbaikan teks. Metode ini diterapkan pada naskah tunggal dan jamak hanya disesuaikan dengan tujuan.

B.     Transliterasi
Transliterasi diartikan alih aksara adalah pemindahan macam tulisan yang dipakai dengan yang lainnya sedangkan transkripsi adalah pemindahan tulisan, semacam salinan atau kopi.

1.      Pertanggungjawaban transliterasi, hal-hal yang dipertimbangkan sebagai pertanggungjawaban transliterasi:
a)      Perbedaan bacaan (melalui perbandingan naskah), ditempatkan pada apparatus kritikus.
b)      Ejaan harus dijelaskan
c)      Jika terdapat dua bentuk kata, maka harus dipilih satu kata saja. Bentuk yang dijelaskan dan diberikan contohnya
d)     Perbedaan nama diri, variasi bentuk tulisan dijelaskan pada bagian ini
e)      Kesalahan dan pembetulan harus dijelaskan, bagaimana pembetulannya
f)       Hal-hal yang dikurangi dan ditambahkan harus dijelaskan
g)      Tanda tanda khusus yang digunakan peneliti harus dijelaskan, misalnya (....)= tanda penambahan; [....] = tanda untuk menghilangkan huruf atau kata; ...//... =tanda pengalihan halaman dalam teks.

2.      Pembagian kata-kata, sering ditemukan dalam teks tidak ada pembagian/pengelompokan kata atau tanda baca, maka perlu diadakan pembagian kata demi kata, kalimat demi kalimat agar struktur kalimatnya jelas.

3.      Ejaan, harus dijelaskan. Bukan hanya ejaan yang digunakan tetapi juga dijelaskan ejaan yang terdapat pada naskah asli.

4.      Pendekatan atau kajian, Robson (1994)  menjelaskan tugas filolog tidak hanya sampai pada kritik teks, metode penyuntingan, dan transliterasi tetapi ditambahkan interpretasi atau penafsiran terhadap teks yang disunting. Dalam mengkaji teks hal-hal yang harus diperhatikan: 1) teks harus dianalisis sesuai dengan sifat-sifatnya sendiri, 2) teks harus diperiksa pada latar kebudayaannya sendiri, dan 3) keanekaragaman teks perlu diselidiki secara terpisah dari yang lain.
Kegunaan teks-teks (sastra tradisional) bagi masa sekarang terutama meliputi bidang: 1) agama, filsafat, dan mitologi, 2) ajaran yang bertalian dengan sejarah dan etika, dan 3) keindahan alam dan aspek lain.

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin