Menu

Kamis, 02 Mei 2013

/




Seperti kebanyakkan anak murid sekolah dasar islam terpadu (SDIT). Mereka anak didiknya punya catatan laporan kegiaatan salat selama sepekan. Laporan itu bergabung dengan laporan yang lainnya mengenaik afektif, psikomotor, kognitif anak. Laporan itu berbentuk buku. Biasa disebut buku penghubung. Begitu pun Nawra dia mendapatkan sebuah buku penghubung ketika diterima pertama kali di sekolahnya. Buku itu secara rutin kami selaku orang tua mengisinya dan pihak sekolah juga meengisinya. Jadi komunikasinya dua arah. 


Saat ini buku itu menjadi lebih penting dari biasanya. Kenapa? Mau tau ya? Itu karena suatu hari sore setelah hari senin menjelang salat asar Nawra memberitahuku bahwa ustadzah di kelasnya mengadakan perlombaan salat. Caranyaa siapa yang laporan salatnya tidak pernah bolong akan diberikan hadiah. Sebenarnya tanpa ada lomba tersebut, buku penghubungnya tetap diisi namun tak seheboh sekarang. Begitu habis salat Nawra meminta untukk segera mengisi buku penghubungnya. Ada kemajuan ya, hehehe. Selama ini salat Ɣαƞƍ masih agak keteteran atau lebih tepatnya ditinggal itu adalah salat Isya.


 Namun dengan adanya kompetisi ini. Nawra mulai enak diajak salat tepat waktu. Lalu salat Shubuh yang biasanya dia kerjakan sendiri, sudah beberapa hari ini dia mau melakukannya secara berjamaah. Seperti salat yang lain. Biasanya ketika subuh dia sangat susah untuk dibangunkan dan diajak salat. Satu kemajuan lagi ya. Satu hal yang masih belum tertib kadang meski berjamaah, gerakan salatnya masih sering tak sama. Nawra acap kali mendahului imamnya, hehehe. ЌƏĿº salatnya bareng dengan saya terutama salat Asar. Badannya suka sekali nyosor ke sejadah saya. Padahal dia sendiri ada Sejadahnya. Sengaja kayaknya. 


Waktu wudhu juga suka tidak sempurna alias tertib urutan dan Rukunnya. Alasannya takut di kamar mandi. Hehehe, terpaksa ЌƏĿº wudhu ya ditemani. Jika tidak ditemani, ya itu wudhunya cepat sekali dan setelah itu dia lari keluar dari kamar mandi seperti dikejar sesuatu, hahaha. Untuk yang satu ini, entah mengapa Nawra tiba-tiba menjadi gadis yang sedikit penakut. Padahal sebelumnya tidak begitu. Masuk atau mengambil barang apa aja yang ada di kamar pasti selalu ditemani. Nanti kita cari tau ya penyebabnya apa. 

 
Sekarang kita bahas dulu tentang kompetisi salatnya. Untuk membantu menyukseskan Nawra ikut kompetisi tersebut terpaksa sekarang mukena dia ada dimana-mana. Satu ada di rumah. Ada di rumah nenek Salma dan ada di toko. Jika asik bermain terutama pada hari ahad terpaksa dipanggil dan diinngatkan untuk salat. Selanjutnya jika pulang sekolah Nawra langsung dibawa ke toko bukan ke rumah neneknya.soalnya ЌƏĿº di sana, bisa bablas nanti salatnya. Ajakan atau peringatan neneknya sering kali tak digubris sama Nawra ЌƏĿº sudah asik bermain. Neneknya pun tak kuasa memaksa. Bentar ya, sudah azan. Mau salat asar dulu yo

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin