Menu

Selasa, 07 Mei 2013

/
1.      Naskah Nusantara dan Pedagang Barat

Pengumpulan naskah Nusantara dilakukan oleh para pedagang Eropa dengan cara membeli dari perseorangan atau dari kuil dan pesantren. Orang Eropa yng bergerak dalam bidang perdagangan naskah adalah Pieter Willemsz atau Peter Floris. Selain itu, tahun 1604 pengusaha naskah Van Elbinck pernah tinggal di Aceh, menjual kumpulan naskahnya kepada Thomas Erpenuius dari Leiden (1584-1624). Tahun 1632 kumpulan naskah tersebut jatuh ke perpustakaan Universitas Oxford. Pengusaha naskah yang lain adalah Edward Pococke pemilik naskah tertua Hikayat Sri Rama, William Laud seorang Uskup Canterbury menghadiahkan koleksi naskah Nusantara kepada Bodleeian di Oxford. Frederick de Houtman menulis telaah filologi berjudul Spraek en de Woordenboeck, in de Maleysche en de Madagaskarsche Talen. Pada zaman VOC, upaya  mempelajari bahasa Nusantara hampir terbatas  pada bahasa Melayu, karena dengan bahasa melayu dapat berhubungan dengan bangsa pribumi dan bangsa asing yang ada di Nusantara.



2.      Telaah Naskah Nusantara oleh Para Penginjil

a)      Pada tahun 1629 diterbitkan terjemahan Alkitab pertama dalam bahasa Melayu oleh a) Albert Cornelisz Ruyl, berjudul Het Nieuwe Testament in Nederduyts ende Malays, na de Grieckscher waarheyt Overgeset-Jang Testamentum Baru Bersalin kepada Bassa Hulanda dan bassa Malaju, seperti jang Adillan Bassa Gregu, penerbit Jan Jacobsz, Palenstein.

b)      Dr. Melchior Leijdecker (1645-1701) dengan terjemahan Beibel dalam bahasa Melayu. Karyanya dilanjutkan Petrus van den Vorm (1664-1731)

c)      Tahun 1726 pendeta Francois Valentijn menulis ensiklopedi Oud en Nieuw Oost Indien, Vervattende een Naukkenige en Uitvoerige Verhadelinge van Nederlandse Mogentheyd in die Gewesten.










d)     G.H. Werndly tulisannya berjudul Maleische Spraakkunst dilampiri 69 naskah. Penginjil berikutnya adalah Zending, Bijbelgenootschap, dan G. Bruckner ke Indonesia 1814. G. Bruckner menerbitkan kamus dengan judul Een Klein Woordenboek der Hollandsche, Engelsche en avaaansche Talen. NBG (Nederlandshe Bejbelgenootschaap) sanggup menerbitkan karya G. Bruckner.

e)      Tahun 1824 J.V.C. Gericke dikirim NBG mengajarkan bahasa Jawa kepada pegawai Belanda. NBG mengirim untuk mendalami bahasa-bahasa daerah, yaitu A. Hardeland (bahasa Dayak), H.N. Van Der Tuuk (bahasa Bal), B.F. Matthes (bahasa Bugis dan Makasar), G.J. Grashuis, D. Koorders, S. Coolsma (bahasa Sunda), dan L.E. Denninger (bahasa Nias). N. Adriani dan Kruijt menelaah sastra lisan Toraja.

        3. Kegiatan Filologi terhadap Naskah Nusantara 

Dengan dikirimnya para penginjil untuk studi filologi oleh NBG ke Indonesia, mendorong tumbuhnya kegiatan penelitian naskah dari berbagai daerah Nusantara. Calon pegawai sipil yang akan dikirim ke Indonesia perlu dibekali pengetahuan termasuk bidang bahasa. Program tersebut diadakan di Koninklijke Militaire Acagemie (KMA) di Breda dimulai tahun 1836 dan di Delft tahun 1842. Di Breda diangkat Taco Roorda sebagai guru besar dalam bahasa Melayu, dan di Delft diangkat Roorda van Eysinga, akhirnya program tersebut dipindahkan ke Fakultas sastra Universitas Leiden. Selain dari Belanda ada pula filolog dari Inggris, yaitu John Leyden, J. Logan, W. Marsden, Thomas Stamford Raflfles, R.j. Wilkinson, R.O. Winstedt, J. Crafurd, dan Shllebear. Sedangkan dari Jerman: Hans Overbeck.

Telaah terhadap naskah Nusantara biasanya berupa Penyuntingan dan/atau penganalisian isinya. Hasil suntingan masih dalam huruf aslinya, yaitu huruf Jawa, pegon atau huruf Jawi. Contoh: Ramayana Kakawin oleh H. Kern (1800), Syair Bidasari oleh Van Hoevell (1843), Geschiedenis van Sri Rama oleh Roorda van Eysinga (1843), Een Javaansche Gesschrift uit de 16 de Eeuw oleh J.G.H. Gunning. Suntingan taraf awal ini pada umumnya menggunakan metode intuitif atau diplomatik.

Dalam perkembangan, naskah disunting  dalam bentuk transliterasi ke dalam bahasa Latin, contoh: Wrettasantjaja (1849), Ardjoena Wiwaha (1850), Bomakawya (1850) ketiganya berbahasa Jawa Kuna oleh R. Th. A. Friederich, Brata Joeda (1850) oleh Cohen Stuart, Mahabarata dengan judul Adiparwa oleh H.H. Juynbol.

Berikut adalah contoh diambil bait pembukaan Kakawin Arjunawiwāha:

Teks Jawa Kuna dalam metrum Śardūlawikrīita
Terjemahan
Ambĕk sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakêng śūnyatā,
Batin sang tahu Hakikat Tertinggi telah mengatasi segalanya karena menghayati Kehampaan,
Tan sangkêng wiaya prayojñananira lwir sanggrahêng lokika,
Bukanlah terdorong nafsu indria tujuannya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi,
Siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira,
Sempurnanya jasa dan kebajikan tujuannya. Kebahagiaan alam semesta diperihatinkannya.
santoâhĕlĕtan kĕlir sira sakêng sang hyang Jagatkāraa.
Damai bahagia, selagi tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penjadi Dunia.

Mulai abad ke-20 penyuntingan naskah disertai dengan terjemahan bahasa Inggris dan Belanda, seperti Sejarah Melayu oleh Leyden (1921), The Malay Annals oleh C.C. Brown (1952), Hikayat Hang Tuah oleh H. Overbeck (1922).

Telaah yang lebih mantap dengan metode kritik teks dilakukan abad ke-20, contoh: Het Boek der Duizend Vragen oleh G.F. Pijper (1924), Shair Ken Tambuhan oleh A. Teeuw (1966), Hikayat Merong Mahawangsa oleh Siti Hawa Saleh (1970) dll. (halaman 2.26). Pada abad ke-20 juga dilakukan terbitan ulang terhadap suntingan sebelumnya untuk penyempurnaan, misalnya dilakukan oleh Gunning (1881) dll. (halam 2.26--2.27). Selain itu, diterbitkan naskah keagamaan disebut sastra kitab, contoh: Kajian Naguib al-Attas terhadap karya Hamzah Fansuri. Ditemukan pula naskah a-nonim yang dikumpulkan A. Jones dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris diberi judul Malay Misticism (1957). Naskah sejarah, misalnya Teuku Iskandar karyanya De Hikayat Aceh (1959) berdasarkan Hikayat Aceh dll. (halaman 2.27).

Selain menerbitkan suntingan naskah, kegiatan filologi lainnya adalah menelaah naskah/teks ditinjau dari disiplin ilmu, misalnya C.A.O van Niuwehuijze dengan telaah berjudul Samsudin van Pasai (1945) dll. ( lihat halaman 2.28).

Pada periode mutakhir mulai dirintis telaah naskah-naskah Nusantara dengan analisis ilmu sastra Barat, contoh (lihat halaman 2.29).

Pada dekade beikutnya penelitian dilakukan dengan menggunakan intertekstual atau resepsi Contoh: .... (lihat halaman 2.29). Dengan diketahuinya naskah Nusantara dan tersedia teks suntingannya, kemungkinan menyusun sejarah sastra Nusantara makin terbuka dan sejak tahun 1940 terbitlah buku sejarah sastra, contoh: A History of Malay Literature oleh Winstedt (1940) dll. (halaman 2.30)

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin