Menu

Rabu, 08 Mei 2013

/


Aneka Edisi Teks Nusantara dan Kajiannya

Edisi Naskah Jamak dan Kajiannya

A.  Hikayat Banjar (Naskah Melayu)
Hikayat Banjar termasuk naskah sejarah, diteliti oleh Johanas Jacobus Ras, judul: Hikayat Banjar: A Study in Malay Historiografi, diterbitkan di Belanda oleh Martinus Nijhhoff, 1968. Isi:

1)      Pendahuluan: Ada anggapan bahwa sastra sejarah atau kronik Melayu itu remeh. Dituls tentang kronik Melayu dari banjarmasin, Kalimantan, disajikan dalam sebuah edisi teks dan terjemahan. Edisi teks tersebut sangat berguna dalam pengkajiansejarah kebudayaan Nusantara. Namun kalau digunakan untuk penulisan sejarah Melayu kurang penting.

2)      Bab pertama: terdiri atas 5 bagian, Bagian 1 memperkenalkan penerbitan-penerbitan awal tentang daerah Banjar, yang disebutkan: J. Hageman yang menulis: Constribution to History of Borneo, 1857;  A. Van der Ven menulis: Notes on the Realm of Banjermasin, 1860. Bagian ini membahas pula: naskah-naskah yang akan dibahas, pemakaian bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Melayu yang ragamnya tidak sama dengan bahasa melayu standar, pemakainnya tidak tunduk kepada Melayu Riau-Johor. Bahasa percakapan daerah Banjar banyak digunakan karena naskah ditulis di Kalimantan Tenggara. Topik lain yang disoroti, yakni tradisi penulisan sejarah Melayu yang banyak berbaur dengan mitos.

Penulis menggolongkan cerita menjadi dua, yaitu resensi I dan II. Kedua resensi itu dibuat ringkasannya dan masing-masing terdiri atas 12 Episode. Kedua resensi berjalan sejajar, hanya pada bagian tertentu yang panjang pendeknya cerita berbeda, misalnya  Sejarah Kerajaan Kalimantan Barat dibagi atas 4 zaman, sedang dalam resnsi II hanya terdiri atas 2 zaman.

Sedangkan persamaannya: (1) berdasar mitos Melayu tentang asal-usul putri yang muncul dari buih. Kemunculan Putri Junjung Buih dilihat dari 5 cerita: Silsilah Kutai, Cerita sukadana, Sejarah Melayu, Hikayat Merong Mahawangsa, Hikayat aceh. (2) Berdasarkan mitos Melayu tentang asal-usul dan cerita Rama Melayu. (3) Dilihat dari antara Hikayat Banjar dan Sejarah Melayu dengan munculnya putri yang berasal dari buih, pendiri kerajaan, tokoh Mangkubumi, Putra Raja dari Cina, Raja Iskandar Zulkarnain, Nabi Khidir, Raja Keling, dan Raja Bawah Laut. (4) Persamaan dilihat dari cerita Ampu Jatmika dan Kisah Raja Awab dalam Serat Kanda. Dari cerita itu ditemukan persamaan tentang Cerita Maharaja Awab dan Cerita Panji serta cerita dinasti Kerajaan Jawa.

Kritikan Ras: Teks resensi I ada perbedaan penggunaan perbendaraan kata dan gaya bahasa antara bagian awal dan bagian akhir. Bahasa pada separuh bagian awal digunakan bahasa Melayu Klasik dan ada beberapa kata ganti kata Jawa. Jadi disimpulkan bahwa resensi I ditulis sekurang-kurangnya dua orang bekerja pada zaman berbeda. Ditemukan perubahan yang lain, yaitu dengan penggunaan kata-kata Arab. Hal ini membuktikan pengarang pertama termasuk pada zaman Islam.

Bagian akhir ditemukan cerita sambungan yang berhubungan dengan raja-raja berikutnya. Ada bagian yang hilang, yaitu ketika menceritakan pembuangan Sultan Hidayatullah ke Mataram dan digantikan oleh Sultan Mustainullah.

B.     Babad Bulelelng (Naskah Bali)

Naskah ini diteliti oleh PJ Worsley dari Australia, berjudul Babad Buleleng, 1972, diterbitkan di Belanda oleh Martinus Nijhoff. Isinya tentang sejarah tokoh dan peristiwa sejarah dari daerah Bali. Karya ini anonim oleh karena itu peneliti menggunakan pendekatan objektif, yaitu sebuah kajian sastra dengan anlisis bentuk, tema, dan fungsi, serta penokohan. Yang diteliti 4 buku Babad Buleleng yang terdapat di Perpustakaan Fakultas Udayana, Gedong Kirtya, Bali, dan Perpustakaan Leiden, Belanda.

Bagian pertama terdiri atas 22 episode, diceritakan bahwa nenek leluhur Panji Sakti adalah seorang imigran dari Maosapahit (Majapahit). Dilihat dari bentuknya, terdiri atas dua unsur, yaitu bagian genealogi dan bagian naratif. Bagian genealogi menceritakan asal-usul keturunan Panji sakti dengan dua garis keturunan, mulai dari Dang Hyang Kapakisan dan garis klan Jlantik sampai dengan Panji Sakti. Naratifnya berisi terjadinya perang saudara antara Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dan Ki Gusti Ngurah Jlantik dalam perebutan Kerajaan Den Bukit yang dilakukan raja Karangasem. Tema cerita tentang suksesi kerajaan itu, yaitu 1) Legitimasi keluarga sebagai pendiri Kerajaan Panji Sakti, 2) Ketidaksahan Raja Karangasem di Den Bukit, 3) Legitimasi Kerajaan Belanda setelag Den Bukit. Tokoh sentral adalah Panji Sakti, tokoh lain  Si Luh Pasek Panji, Ki Pungakan Gendis, Dampu Awang (musuh Panji Sakti). Penyususn Babad Buleleng diduga mengambil dari Babad Blah Batu. Ke-4 naskah yang diteliti termasuk satu versi dengan varian yang berbeda. Dari ke-4 naskah dipilih satu naskah yang ditansliterasi, sedangkan tiga yang lainnya sebagai bandingan.

C.    Serat Cabolek (Naskah Jawa)

Diteliti oleh S. Soebardi, judul The Book of Cabolek, diterbitkan di Belanda oleh Martinus Nijhoff, 1975. Metode yang digunakan gabungan. Penelitiannya dibagi dalam 4 bagian, yaitu 1) pengantar teks  dan transliterasi serta terjemahan ke dalam bahasa Inggris 2) bagian kedua masalah pernaskahan, 3) memperkenalkan pengarang dan karya-karyanya, misalnya Yasadipura I dikenal dari sumber luar menyusun Babad Gayanti, Babad Prayut, Pesinden Badaya, dan Serat Cabolek. 4) makna (significance) Serat Cabolek dan makna cerita Dewi Ruci. 

Naskah berisi cerita mencapai 11 naskah dan 1 cerita terbitan, disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta 7 naskah, sisanya 4 naskah di Leiden.

Dalam serat Cabolek, Haji Mutamakin menggambarkan ajaran mistik tentang ilmu tarekat. Selain itu, Haji Ahmad Mutakamin dijelaskan melalui tokoh Ketib Anom sebagai orang yang melanggar syariah, seorang mistis yang tidak mempunyai kepribadian, tidak berpengathuan agama, dan tidak berwibawa. Ajaran tersebut merupakan tiruan ajaran sebelumnya, yaitu ajaran Seikh Siti Jenar, Sunan Panggung, Ki Bebeluk, Haji Akhmad Mutamakin, dan Seikh Among Raga, tokoh-tokohnya dilukiskan dalam Serat Centini.
Cerita Dewi Ruci dalam sastra Jawa merupakan cerita dari era pra-Islam yang berasal dari Mahabarata. Tokoh Bima dalam cerita ini lebih penting daripada Arjuna.

D.    Syair-syair Hamzah Fansuri (Naskah Melayu)

Penelitian syair-syair Hamzah Fansuri yang berjudul The Poems of Hamzah Fansuri dilakukan oleh G.W.J. Drewes dan L.F. Brakel, diterbitkan di Belanda oleh Foris Publication, 1986. Drewes dan Brakel membagi hasil penelitiannya menjadi 8 bab. Dalam Pengantar dibicarakan 7 topik, yaitu 1) Riwayat hidup Hamzah Fansuri, 2) Hamzah Fansuri meniru bentuk ghazal dari Persia yang pada bagian akhir menyebut nama samaran (takhallus) 3 nama berbeda, yakni 15 kali Hamzah, 15 kali dengan Hamzah Fansuri, dan 2 kali dengan nama Hamzah Shahrnawi, 3) Hamzah dalam mencari Tuhan sampai tanah Bagdad, Mekkah, dan Shahr-i, dan Yerusalem, dengan bukti dalam Sejarah Banten yang mengatakan bahwa raja Banten mengirim 3 buku ke Mekkah dan salah satu buku berjudul Muntahi karya Hamzah Fansuri, 4) Hamzah Fansuri menulis 32 syair dan 3 prosa, yaitu Asrar al-arifin, Sharab al-ashiqin, dan al-Muntahi. 5)  Hamzah Fansuri menguasai selain bahasa Arab, juga menguasai bahasa Persia, 6) Raniri mencela ajaran Hamzah Fansuri dalam Muntahi yang berjudul Tibyan fi Ma’rifat al-adyan. Ajaran Hamzah tentang wujudiah bid’ah. 7) Ada 3 karya Hamzah anonim, yaitu Syair Perahu, Bahr al-nisa, dan Syair Dagang.  

Bab 2, berisi tentang pernaskahan. Drewes membicarakan 5 topik, Pertama: Syair-syairnya ditulis dalam 7 naskah, 4 naskah di Leiden, 2 naskah di Jakrta, dan 1 naskah dalam bentuk faksimile yang dibuat A. Hasjmy, 1976. Di antara naskah itu naskah tertua adalah B, 1704, kemudian naskah C, 1851, Naskah terbaik naskah A, Naskah kurang baik karena banyak kesalahan naskah C, Naskah D tidak disebutkan nama pengarang dan memuat 3 teks: Syair Dagang, Syair Perahu, dan Hikayat Bakhtiar. Naskah B memuat Syarab al-Ashiqin. Kedua: Syair Hamzah Fansuri disimpan di Jakarta. Syair ini dikenal di Banten pada abad 17 berjudul Muntahi dan dikenal juga di Makasar sebagai Syair Perang Mangkasar. Ketiga: Beberapa syair Hamzah merupakan versi menyimpang, Keempat: Sehubungan dengan tulisan Shamsuddin dan Raniri, Van Neuwenhuijze dan Voorhoeve menemukan kutipan Hamzah Fansuri. Kelima: Drewes membuat tabel perbedaan atau variasi dari syair Hamzah berdasar teks yang disunting Doorenbos.
 
Bab 3, terbagi dalam 6 bagian, berisi antara lain syair Hamzah berjumlah 32 nomor panjangnya tidak sejajar. Shamsuddin menyebutnya dengan Ruba’i Hamzah Fansuri, memakai syair Melayu dengan rima aaaa, bukan aabb. Di Aceh beberapa syairnya  dijadikan nyanyian disebut seulawenet yang populer disebut daboih, dalam bahasa Arab disebut dabbus.

Bab 4, menjelaskan kata yang digunakan, seperti etimologi dan sumber kata atau kalimat.

Bab 5, berisi ulasan atas karya Hamzah,

dan Bab 6, tentang naskah dan edisi teks. Bab 7, dan Bab 8 menyajikan transliterasi naskah Jawa, yaitu Muntahi yang isinya bukan hanya Muntahi melainkan teks Ibn al-Arabi, Fusus al-Hikam.

E.     Kakawin Gajah Mada ( Naskah Jawa dan Bali)

Penelitian dilakukan oleh Partini Sarjono Prakoso, berjudul Kakawin Gajah Mada (KGM), Bandung: 1986.

Bab I diuraikan bahwa kakawin adalah bentuk sastra yang populer dan isinya beragam; puisi ini dikenal di Jawa dan Bali; kakawin dapat bertahan selama 6 abad.

Bab 2 terdiri atas  4 butir, pertama: menguraikan mitos Gajah Mada. Kedua: seluruh naskah memuat 730 halaman dalam 76 pupuh. Pola wrtta matra KGM menunjukkan wisama wrtta wisama dan wisama matra (abcd). Ketiga: bahasa yang digunakan Jawa Kuno. Keempat: berisi asal-usul, penanggalan, dan penyair naskah KGM. Di Bali terkenal sebab kegiatan penyalinan berlangsung sampai abad 20.

Bab3 membahas susunan KGM, analisis struktur. Akhirnya Gajah Mada adalah tokoh sejarah dan sifat epik kakawin masih dipertahankan dan protagonisnya tetap the epic divine hero.

Bab 4: mengkaji citra Gajah Mada dalam sastra daerah lain, Partini hanya memberikan contoh 5 cerita, misalnya Cerita Negara Kertagama, Pararaton, Kidung Sunda, Carita Banjar dan Raja Kota Waringin, dan Hikayat Hang Tuah.

Bab 5 berisi kesimpulan umum dan Bab 6 adalah edisi teks, berupa pengantar teks, transliterasi, dan terjemahan KGM.
 
F.     Siwaratrikalpa (Naskah Bali)

Siwaratrikalpa of Mpu Tanakun diterbitkan di Belanda oleh Martinus Nijhoff, 1969, dikerjakan tim terdiri: A. Teeuw, S.O. Robson, Th. P. Galestin dan P.J. Worsley. Bab 1 berisi 17 topik pembicaraan, dikelompokkan menjadi 7 bagian: Pertama: Siwaratrikalpa, dalam sastra Jawa kuno termasuk kakawin. Kedua: Berisi ringkasan cerita: Kerajaan Girindra dipimpin oleh Raja Suraprabhawa. Di pegunungan itu hidup seorang pemburu bernama Lubdhaka. Lubdhaka meninggal dan ketika mau naik surga ditangkap Ganas atas perintah Siwa. Lubdhaka agar dimasukkan neraka karena dalam hidupnya hanya membunuh binatang. Namun ditolong oleh Yama penjaga surga dan neraka, akhirnya Lubdhaka bisa masuk surga. Ketiga: Mpu Tanakung tercatat sebagai pengarang Siwaratrikalpa yang dinyatakan bagian akhir kakawin ini. Tanakung berarti ‘lepas dari cinta’ Selain Tanakung ada penyair Jawa Kuno lain, yaitu Tantular dengan karyanya: Sutasoma dan Arjunawiwaha yang hidup abad 14 dan Nirarta mengarang: Nagarakartagama dan Prapanca. Keempat: dibicarakan tentang pernaskahan: penanggalan, penggunaan bahasa, aspek puitis, matra dan manggala, serta naskah dan teks.

Kelima ? Siwaratrikalpa ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada masa Hindu Jawa.
Siwaratrikalpa terdiri atas 39 pupuh dengan 20 macam matra di antaranya Wasantatilaka dan Sragdhara  masing-masing 2, Aswalalita 4, Sardulawikridita 5, Jagadhita 7 pupuh. Siwaratrikalpa terdiri 3 unsur: 1) pembacaan doa dewata, 2) pemujaan pada raja, 3) kerendahan hati sang penyair. Karya Siwaratrikalpa bertema pemujaan pada Siwa. Keenam: diuraikan Siwaratrikalpa India. Ketujuh: berisi upacara pada malam Siwaratrikalpa. Pada bagian ini dideskripsikan bahwa tokoh Lubdhaka tidak memperhatikan norma hulkum moral dan agama, ia hanya suka berburu. Semua peristiwa menggambarkan bahwa Lubdhaka tidak setia kepada Siwaratri.

Bab2 membicarakan penelitian India tentang kakawin dengan perbandingan antara Siwaratrikalpa dengan Padmapurana. Kedua karya tersebut banyak kesamaannya. Keduanya merupakan karya didaktik.

Bab 3 berisi sebuah ider-ider Bali milik Royal Tropical Institute. Ider-ider Bali  adalah sebuah kain tenunan dari katun yang panjangnya 28 cm. 2) Ilustrasi tentang cerita Lubdhaka yang ada dalam lukisan yang dibuat Bagoes Gelgel, 3) Ilustrasi ang ada dala  sebuah lukisan Bali menjadi milik Royal Tropical Institute, Leiden. Ilustrasi terdiri atas 20 adegan .4) Ilustrasi  dari lukisan Bali koleksi Th. A. Resink, dibuat 1933 di Puri Gede Saren, Krambitan, Tabanan. Keempat ilustrasi direproduksi dan dilampirkan pada bagian akhir buku.

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin