Menu

Minggu, 28 April 2013

/














                                                                     

Why self publishing, mengapa menerbitkan sendiri, dalam hal ini adalah mengapa penulis menerbitkan bukunya sendiri.Bukankah seharusnya dia mengirimkan tulisannya ke penerbit, kemudian oleh penerbit dibukukan, karena diterbitkan karyanya oleh penerbit. Maka penulis  akan mendapatkan honor/royalti dari hasi tulisannya. Lantas apa yang dicari bagi seorang penulis, kok mau menerbitkan buku sendiri, bukannya dapat uang malah mengeluarkan uang. Padahal salah satu motivasi penulis dalam menulis adalah ingin memperoleh untung dari apa yang telah ia tulis. Hmmm, memang iya namun untuk menembus dinding penerbit bukanlah pekara yang mudah, ada begitu banyak tahapan yang harus dilalui oleh penulis, bukan saja kualitas tulisan yang harus bagus, perlu lobi  dan koneksi ke penerbit, selain itu karya dan nama besar  juga sangat diperlukan.Bagaimana tidak, ini juga menyangkut soal pemasaran, ya keberlangsungan bisnis dari penerbitan tersebut. Susah bukan!

Lalu kalau begitu, akan sulit sekali bagi penulis untuk bisa masuk dapur penerbit, padahal penulis sangat memerlukan adanya terbitan hasil tulisan mereka dalam bentuk buku. Ide dan gagasan penulis baru atau pemula boleh jadi ada yang menarik dan tidak biasa, namun karena syarat menuju penerbit yang sudah tinggi. Pupuslah harapan untuk itu. Trus apakah penulis hanya menerima takdir , menanti sampai ada penerbit yang menawar tulisannya.Lama dong, bisa-bisa semangat menulisnya kendur. Menunggu saja tanpa melakukan suatu terobosan. Oh, tidak! Untuk itulah penulis akhirnya memilih jalan untuk menerbitkan sendiri karyanya. Menerbitkan buku sendiri, bagaimana caranya?

Menerbitkan buku sendiri adalah sebuah tren baru dikalangan penulis, hal ini lebih sering kita sebut atau yang populer dinamai penerbit indie. Penerbit indie adalah sebuah alternatif untuk menerbitkan buku bagi para penulis . Penerbit indie hadir menjadi salah satu solusi bagi penulis dan ini juga merupakan ladang bisnis baru yang mencerahkan pundi-pundi kita. Walaupun  hal ini pada awalnya memiliki persentase pasar yang masih kecil jika  dibandingkan dengan penerbit  umumnya dalam hal penjualan, tapi ini telah hadir menjadi sebuah bentuk baru. Banyak penulis yang memanfaatkan jasa ini. Seiring dengan perkembangan, penerbit indiepun menempati posisi yang membaik di dunia penerbitan bahkan  bersaing dengan penerbit yang berlabel major.Penerbitan indie mulai mengalami peningkatan seiring dengan kemajuan teknologi penerbitan, termasuk didalamnya xerografi (fotokopi), Print On demand/Publish On Demand (Mencetak atau menerbitkan sesuai permintaan) dan juga website.Apalagi kemajuan teknologi informasi  melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Saling Sapa.Hal ini sangat dimanfaatkan oleh penerbit indie sebagai salah satu cara untuk promosi dan mencari   penulis yang ingin menerbitkan karyanya.

Penerbit indie adalah jasa penerbitan  "self publishing solution". Yang merupakan partner bagi penulis pemula maupun profesional yang ingin menerbitkan buku secara sendiri. Penerbit indie bisa membantu penulis dari awal sampai  akhir,  mulai dari pra cetak sampai percetakan.Jasa yang ditawarkan oleh penerbit indie antara lain, penyuntingan naskah, layout / tata letak isi, pembuatan sampul (kover), pembuatan ilustrasi, pengurusan ISBN , pencetakan buku dan wrapping plastik sehingga siap dijual dipasar.

Bagaimana kualitas tulisan dari penulis tersebut.Dalam hal ini bukankah penerbit indie hanya yang memerlukan adanya sebuah naskah dan uang dari penulis. Tidak semudah itus. Artinya tidak melulu karena dia membayar, maka tulisannya akan  diterbitkan. Lagipula hanya penulis yang percaya diri dan mampu bersaing yang berani juga menghubungi penerbit indie . Apalagi menulis itu bukanlah hal yang mudah. Bagi saya ketika menulis kita harus mempunyai wawasan terhadap hal apa atau tema yang ingin kita tulis, agar tulisan tersebut ada gizinya bukan hanya rangkaian kata-kata yang tersambung membentuk kalimat yang tidak bisa dimengerti apalagi dimaknai. Saya sangat menghindari tulisan yang tidak ada referensi dan dasarnya dan  tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Penerbit indie juga memperhatikan kualitas tulisan, naskah yang masuk itu juga akan diseleksi dan mengalami proses editing jika memang sangat diperlukan. Untuk menghindari masalah tersebut, oleh karena itu penerbit indie melakukan berbagai cara kreatif untuk menarik minat dan mendorong penulis untuk terus menulis. Penerbit indie sering kali mengadakan berbagai event menulis. Membuat berbagai macam lomba.Menciptakan event dan moment. Selalu saja ada ide segar yang ditawarkan. Dari hasil berbagai kegiatan kepenulisan tersebut, diambilah oleh penerbit beberapa karya penulis yang terbaik dan memenuhi kriteria  akan dibukukan bersama. Nah, proses itu juga menjadi  salah satu cara penerbit untuk menyeleksi tulisan yang masuk. Jika hal ini berlangsung rutin maka tidak tertutup kemudian penulis akan semakin percaya diri dan memperbaiki tulisannya  dan pada akhirnya membuat buku sendiri. Bukan saja yang memang biasa menulis. Penulis  pemulapun terkena dampak yang baik dengan  adanya penerbit indie. Mereka semakin menjadi produktif dan  juga mampu bersaing dengan penulis handal. Hal ini disebabkan karena kemampuan menulis mereka yang semakin terasah, juga akibat kepercayaan diri yang semakin kuat.Pendorongnya juga karena ada tulisan mereka yang dibukukan. Adanya suatu karya yang dibukukan disadari atau tidak menjadi salah satu lecutan bagi penulis untuk terus berkarya.

Ada begitu banyak alasan mengapa penulis memilih jalur penerbit Indie. Bukan saja karena alasan kualitas tulisan yang masih jelek, berkali- kali ditolak penerbit atau karena memang belum punya link ke penerbit. Masalah kepercayaan diri yang masih kurang dan berbagai alasan lainnya. Memang itu mungkin menjadi salah satu alasan mengapa penulis menuju penerbit indie untuk membantu menerbitkan bukunya.  Namun saya berbeda. Alasan saya kenapa ingin menerbitkan buku dengan cara sendiri (indie)  bukan karena ingin mengejar prestise. Juga bukan untuk meraih keuntungan, namun saya ingin supaya ide dan gagasan saya bisa dibaca oleh banyak orang. Mungkin ide tulisan kita tersebut memang sudah ada duluan yang menuliskan. Saya juga menginginkan agar tulisan saya bisa disimpan dan jika sewaktu-waktu diperlukan bisa dibuka kembali. Saya mau berbagi dengan banyak orang. Mengungkapkan banyak rasa yang sudah saya pelajari  dan saya alami dengan semua orang. Menceritakan pengalaman baik saya untuk orang lain, semoga hal itu bisa menjadi sebuah pelajaran yang baik buat orang lain. Saya ingin orang lain bisa menjadi lebih baik dengan mengambil pelajaran yang sudah pernah saya tuai. Saya ingin menularkan semangat bertutur kata dengan semua orang melalui buku.Saya ingin orang lain tahu dan mengerti bagaimana cara saya mengekspresikan kehidupan yang saya alami secara indah dalam sebuah buku. Saya ingin bisa menyumbangkan karya saya untuk peradapan ini. Saya berharap melalui buku , saya bisa memberikan kontribusi pemecahan masalah yang ada di sekitar kita. Saya berkeinginan membagikan buku saya kepada orang lain secara gratis, sebagai ungkapan rasa syukur saya.  Saya ingin memberikan pengetahuan dan informasi serta masukan dengan cara yang santun dan lugas, memberikan pencerahan tanpa harus menggurui apalagi memerintah. Saya ingin agar karya saya bisa berguna untuk orang lain, apalagi jika diamalkan ke jalan yang baik. Ilmu atau pengetahuan yang  baik dan bermanfaat adalah merupakan amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir sampai nanti jika kita sudah meninggal. Saya ingin mewariskan dan mendorong anak cucu saya untuk gemar membaca dan menulis. Apalagi jika buku yang saya buat tersebut pada akhirnya bisa menjadi best seller, tentu saja hal ini bukan hanya buku yang bisa saya wariskan melainkan juga penghasilan bagi keluarga saya.

Tapi banyak  juga yang belum memahami hal itu, belum satu pemahaman dengan saya .Masih ada saja yang mencemooh. Tidak mendukung keputusan saya untuk menerbitkan buku sendiri.  Kok menerbitkan karya sendiri, terang aja bisa meskipun tulisannya jelek. Kan bayar. Mendengar komentar seperti itu membuat saya sedikit kecil hati. Kalau tulisannya bagus pastilah penerbit mau menerbitkannya, kalau tidak lolos, itu artinya tulisannya belum bagus atau menarik. Itu ungkapan mereka! Namun ucapan seperti itu bukan menjadi hambatan , malah menjadi penyemangat saya. Jika hal itu sampai terjadi, tidak masalah, itu bukanlah hal yang buruk. Maka menerbitkan buku sendiri adalah sesuatu yang baik. Apalagi dengan tujuan baik, semoga manfaatnya lebih banyak daripada  keburukannya. Self publishing adalah salah satu solusi untuk itu. Untuk biaya yang mesti dikeluarkan saya mengajak rekan dan sahabat yang mau diajak bekerjasama untuk menjadi panitia kepenulisan. Banyak yang bisa diajak bekerjasama.

Saat ini banyak sekali penerbit indie menawarkan jasa untuk membantu para penulis dalam menerbitkan karyanya. Ada yang sama persis penawarannya, ada yang berbeda dari segi penawaran jasa dan kemasan yang dibuat. Saya membanding antara dua penerbit indie, ada yang dari kover buku yang biasa mereka cetak saja sudah bisa menunjukkan kualitas dan kreatifitas penerbit. Melihat dari kover bukunya saja sudah bisa menunjukkan ciri khas dari penerbit itu sendiri. Hal ini justru menjadi salah satu daya tarik dan promosi mereka kepada penulis dan pembaca.

 Perlu juga sikap selektif dari penulis dalam menggandeng penerbit indie, karena mencari penerbit yang profesional dan jujur dalam memegang amanah dari karya penulis itu bukanlah hal yang mudah. Mencari tahu dan mempelajari dengan seksama keberadaan sebuah penerbit indie sangat diperlukan sebagai langkah awal untuk bekerjasama.Namun ada patokan saya juga dalam mencari penerbit indie, pengalaman mereka dalam mengelolah penerbitan , kualitas  kejujuran dari tim penerbit indie, kemudian kualitas dari terbitan baik dari kover, isi, lay-out sampai pembagian royalti yang juga menjadi titik acuan penulis.Semua itu hendaknya juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh penulis.

.           Jika hubungan  terjalin dengan manis tentu saja kegiatan ini akan berlangsung lama dan hubungan antara penulis dan penerbit akan semakin awet . Antara penulis dan penerbitpun akan tumbuh rasa saling membutuhkan. Ya, penulis membutuhkan penerbit untuk menerbitkan karyanya sedangkan penerbit membutuhkan penulis untuk menerbitkan bukunya. ( Milda Ini )

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin