Menu

Kamis, 29 Oktober 2015

/


 

 




Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak Yang Terlupa

Milda Ini


Ruang tunggu bandara Adi Sucipto seolah menjadi sempit. Hmmm,  terasa lenggang karena hampir setiap jadwal penerbangan tidak ada yang delay, I love it . Tapi entah jadwal keberangkatanku kelak, kita liat saja nanti ya. Hampir semua ruang sudah aku datangi meski cuma cuci mata. Harga Barang-barang di bandara jauh lebih mahal, aku jarang sekali belanja kecuali kepepet. Oleh-oleh untuk anak dan suami sudah aku borong dua hari lalu di Malioboro  .

Waktu hanya kuhabiskan setengah jam masih ada sisa sembilan puluh menit lagi. Aku sengaja menunggu daripada terlambat. Bakpia Phatok saja hampir tertinggal di mobil. Masih lama Lion Air datang. Kakiku sudah berdenyut minta duduk. Aku mencari tempat yang nyaman di dekat TV. Mau online saja ah, gumamku. Sejenak terlihat batere lowbath. Batal deh.Aku beralih ke hape, setelah update status dan  mengunjungi beberapa lapak teman.

Masih juga bosan dan serasa sepi. Aku berhenti sejenak, celingak-celinguk melihat petugas bandara. Tak ada yang menyapaku, semua serasa semakin asing dan membosankan. Oh,iya aku punya buku yang belum dibaca. Kemarin dapat doorprize di acara kepenulisan di Wisma Eden , Kaliurang. Buku biru itu aku pandangi, mencari sudut yang menarik ada senyum Asma Nadia di sana, manis menyapaku. Jilbab pink dan stelan baju biru kotak-kotak dengan campuran sedikit corak pink, kuning dan hijau. Membuat senyumnya semakin manis semanis coklat Silverqueen kesukaanku.  Waduh, jadi kepengen makan coklat nih.

Aku membaca sebuah tulisan di kover depan ‘ Ketika Cinta Tak Lagi Indah, Saatnya Menelusuri Jejak Yang Terlupa’. Kalimat yang indah, namun aku agak penasaran maksudnya apa ya? Penasaran, aku membuka halaman perhalaman mencari tahu. Semakin membaca seakan aku semakin merasa bahwa itu adalah aku yang sedang membaca tentang diriku sendiri. Aku mengharu .Sungguh lihai Asma Nadia mengolah kata, mengurai makna dengan penuh sopan santun. Sejalan lurus dengan fitrahnya sebagai perempuan yang dihadiahkan Allah sifat lemah lembut penuh kasih sayang.

Sejenak aku membalik buku biru itu, kebiasaanku kalau membaca selalu dimulai dari belakang. Aku meluncur ke baris endorsement. Membaca  biodata kontributornya siapa tahu ada yang kenal,hehehe.

Adalah dia Asma Nadia saudaranya Helvi Tiana Rosa. Membaca setiap karyanya mampu membuatku seolah sedang bersenda gurau bersamanya. Padahal belum pernah bertemu langsung loh, namun serasa dia berada duduk manis di sebelahku. Ah, sosok Asma Nadia memang telah mengisi hampir sebagian dari nadi impianku terutama untuk menulis dan bersyukur menjadi perempuan. Bagaimana tidak melalui tulisannya telah banyak orang yang merasakan manfaatnya. Banyak para ibu yang berubah prilaku dan tutur katanya dengan keluarga dan sesama setelah membaca tulisan beliau. Sebut saja tulisan seri catatan hati, seri La Tahzan dan banyak judul lainnya. Begitu banyak yang terinspirasi termasuk aku yang sangat menyukai tulisan dakwahnya.

Seorang Asma Nadia yang dulunya penyakitan dan divonis oleh dokter sakit jantung, paru-paru dan gegar otak ini. Mampu bangkit berkat perilaku maminya yang sering membelikan beliau buku. Walau untuk itu terkadang si Mami bisa menunda makan siang. Tinggal dan hidup di lingkungan rel kereta api, tidak membuat Asma Nadia miskin untuk berkarya.Hal ini sangat menjadi pelajaran berharga bagiku .Asma Nadia banyak berkarya lewat keterbatasannya. Asma Nadia juga menginspirasiku untuk menulis . Sejalan dengan misi beliau yaitu untuk menciptakan kader penulis terutama ibu rumah tangga. Hal ini menjadi semangatku juga. Meski dalam  keadaan sibuk aku sempatkan untuk menulis dan menulis.

Dari 43 Novel yang udah ditulisnya ada yang sudah difilmkan , buku yang berjudul Emak Ingin Naik Haji salah satunya sudah difilmkan, membuatku  menangis seharian setelah menontonnya. Aku semakin tadzim dengan orang tuaku yang cuma tinggal Emakku. Aku semakin sayang Emak. Alhamdulillah, film itu juga banyak mendapatkan banyak penghargaan. Semoga Film Rumah Tanpa Jendela juga mendapatkan kesempatan yang sama.Dulu aku juga suka menghabiskan serial Aisyah, duh jadi pengen baca lagi. Meski berulang tak pernah bosan, sekarang buku tersebut aku teruskan kepada anakku.

Banyak yang menarik dari sosok Asma Nadia, ternyata dia juga pandai bernyanyi.Pantasan saja tulisannya jadi indah karena ada unsur seni di dalamnya. Darah seni juga mengalir pada wanita memiliki segudang prestasi menulis itu. Aku juga suka menyanyi dan Asma Nadia mampu membiusku lewat lirik lagu yang dia ciptakan. Lagu Bestari dan Snada menjadi sahabat akrabku dalam hiruk pikuk kesibukanku. Mengalun mengisi ruang bosanku yang pitam. Lagu-lagu itu menguras lelahku berganti ceria.

Membaca buku Asma Nadia ini, tak terasa waktu bergulir habis menuju penerbanganku. Namun jangan kuatir aku akan melanjutkannya ketika menunggu di Soekarno Hatta nanti.

 Seperti biasa terminal bandara ini penuh sesak. Jadilah aku sementara seorang ‘gembel  bandara’ diantara penumpang yang lain. Susahnya mendapatkan tempat duduk, apalagi kenyamanan. Bagaimana tidak dalam satu gate ini ada tiga penerbangan yang di delay....Kebayang gak , penuh sesaknya.Waktu bergeser sedikit seiring dengan berkurangnya penumpang menuju Pekan Baru dan Medan. Masih ada enampuluh menit lagi melayang ke bandara Fatmawati. Buku Asma Nadia menyembul keluar minta dibaca.

Oh,iya aku belum selesai tadi. Kulanjutkan mencari makna. Tak terasa waktu beranjak pergi. Idih, ada orang India duduk di sebelahku. Suaranya yang tak ku mengerti membuat konsentrasiku sedikit buyar. Asyik mereka ngobol tanpa menghiraukanku yang berusaha untuk fokus. Dasar Lu...kuch-kuch ho thai, eit apa hubungannya ya!

Entah mengapa setelah tiga perempat halaman buku ini kubaca, membucah rindu yang sangat luar biasa terhadap anak dan suamiku. Awalnya aku sangat merindu dengan Nawra anak pertamaku. Tak berapa lama sosok suamiku pun hadir tersenyum kangen padaku. Biasanya aku tidak begitu merindu apalagi dengan suamiku. Sering juga aku pergi meninggalkannya untuk beberapa hari ke luar kota. Oh, ada apa dengan diriku. Ini bukan hal biasa. Aku segera menelpon, terdengar suara di seberang. Aku hanya bertanya apakah aku dijemput di bandara, apakah Nawra ikut menjemput. Kaku lidahku untuk berkata kalau aku merindukanmu wahai suamiku. Begitu dahsyatnya tulisan di buku biru ini, aku seolah mendapatkan sesuatu yang mewah untuk harga sebuah perkawinanku.

Di ruang kedatangan, aku langsung memeluk mesra suamiku. Mungkin dia heran tapi kubisikkan saja, “ Bi...Umi rindu...!” kontan suamiku langsung tertawa heran.  

“Napa Mi, ketemu siapa di Yogja?” Aku cuma tersenyum geli. Biarlah ini jadi rahasiaku sesaat. Kami pulang tergopong-gopoh dengan Smash meluncur ke peraduan melepas penat hidup.

Sehari dua hari aku semakin menunjukan rasa cinta dan perhatianku kepada suami dan anakku. Memang tipe suamiku sedikit manja karena anak bungsu dan dari keluarga mapan. Awalnya dia heran melihat perubahan sikapku. Aku tahu itu tapi aku cuek saja. Dengan Nawra aku juga semakin care, mendadak aku seolah menjelma sebagi seorang Ratu penyayang di dogeng buku Nawra. Aku menjelma menjadi seorang wanita yang pandai membagi waktu, pekerjaan rumah yang menumpuk segera bisa kuselesaikan. Rumah rapi, masakanku semakin dapat pujian , makin lezat kata belahan jiwaku.

 Amboy, semakin sering mendarat ciuman terima kasih dari anak dan suamiku. Itu memang suatu kebiasaan kami sekeluarga, mengucapkan terima kasih dibarengi dengan ciuman sayang. Semangat menulisku pun semakin membaik, ide fresh juga berhamburan datang. Dalam sekejap aku menang event lomba dan naskahku lolos untuk dibukukan.Dengan perubahan itu suamiku pun semakin mendukung kegiatanku menulis. Aku semakin disayang keluargaku. Aku seakan ingin memeluk sosok Asma Nadia berucap terima kasih. Ku pelajari dia. Si tokoh perubahan yang menginspirasi banyak perempuan untuk menulis. Menulis untuk perubahan, menulis untuk menggulirkan kebaikan kepada anak cucu kita. Menulis untuk membuat kita abadi. Menulis untuk mengisi ruang hidup dengan warna dan cara yang berbeda.

Asma Nadia sekarang adalah brand, laku dijual dan dipatenkan. Mahal untuk dihitung dengan harga bisnis. Sungguh Asma Nadia adalah merk dagang yang laku dipasar. Ini karena kualitas karyanya yang mumpuni dan berjiwa, sehingga mampu menyentuh hati orang lain yang mencari pengobatan. Namun pencapaian ini bukanlah hal yang mudah dan bersukacita. Aku yakin Asma Nadia juga pernah terseok memperjuangkan semua ini. Semua ini bukanlah mudah, butuh berlapis waktu untuk mengerjakannya.Wajar kalau sekarang ia  menikmati apa yang telah ia bangun dan impikan.

Ah, buku biru itu kini semakin menambah koleksi tulisannya dalam rak bukuku. Lebih bersinar dari buku yang lain. Memancarkan kekuatannya untukku. Apalagi tulisan dipembatas buku biru itu begitu memberikan energi untukku. Aku suka membacanya berulang-ulang. Tulisan itu kerap mengiang di telingan dan lobang penglihatanku.

 Cinta menurutku tak berwarna. Ia menjadi jingga sebagaimana engkau memaknainya. Ia pun menjadi kuning, biru dan merah sebagaimana kau menginginkannya . Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi tentang kejujuran dan keberanian. Tentang kemarahan dan kasih sayang. Cinta adalah lukisan yang unik dan tak terkatakan sebab ia menenggelamkan kita pada angan-angan dan mimpi yang abadi. Dan cintaku padamu adalah surga yang tak bisa kumasuki jika tanpamu.

 Aku baru bisa memberitahumu  kalau semua ini kulakukan karena usai membaca buku Muhasabah Cinta Seorang Istri  dalam perjalanan Yogyakarta menuju Bengkulu. Sungguh tulisan itu semakin memutar derajat perubahanku jauh melesat setelah begitu lama sosok itu menginspirasiku. (ILoveMyHusband)




Koleksi Foto Pribadi Pada Saat Acara On Air Sharing dalam acara ' Book List ' dengan tema 'Apa itu buku Antologi dan mengupas buku Antologi Asma Nadia Inspirasiku' di radio SWARA Universitas Bengkulu

Buku Antologi saya bersama teman-teman. Kisah tentang perjalanan saya sepulang menghadiri acara  kepenulisan di Kaliurang, Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat. Menceritakan perjalanan pulang dari Yogjakarta menuju Bengkulu, yang diwarnai dengan cerita lucu namun sarat makna.

Tulisan ini adalah termasuk 10 naskah  terbaik tentang Asma Nadia Inspirasiku. Dibukukan bersama 20 naskah lainnya.


Terinspirasi setelah membaca buku karangan Asma Nadia yang berjudul

 




















                           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 comments

Keren ulasannya apik, semoga selalu samarada ya.

Reply

Aamiin, ma kasih ya Yayuk. Semoga rumah tangganya juga aman jaya dan barokah ya. Salam dengan anak2. semoga selalu sehat. aamiin

Reply

Terima ksih sudah mampir dan komen di blog saya. Semoga makin kece, sehat dan banyak rejeki ya. Aamiin